Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 127 S3 Ibu


__ADS_3

Sebagai ibu baru, Kayla cukup kelelahan mengurus bayinya yang sudah berusia dua minggu itu. Baby Ara semakin sering menyusu dan lumayan sering bergadang saat malam hari.


Terkadang Kayla ingin menyerah dan memakai jasa baby sitter, tapi ia takut kalau Ara akan lebih dekat dengan susternya dibanding dengan dirinya.


"Tidurlah! Biar aku yang menggendongnya, Kay." Kalandra menggendong bayinya dari tangan Kayla.


Kalandra merasa kasihan karena tadi malam, Kayla bangun beberapa kali untuk menyusui Baby Ara. Ia juga menemani, tapi sesekali juga ia ketiduran.


"Kamu kan harus bekerja, Mas," ucap Kayla yang masih belum rela putrinya sudah berpindah ke tangan Kalandra.


Kayla melihat jam di dinding sudah menunjukkan angka 7, tapi tampaknya Kalandra belum bersiap.


Kalandra tersenyum menatap wajah istrinya yang tampak lingkar hitam di area mata indah itu. Sebenarnya Kalandra juga menyarankan untuk memberikan susu formula atau ASIP saja pada bayinya. Tapi, lagi-lagi Kayla menolak. Istrinya itu merasa lebih senang menyusui langsung tanpa menggunakan botol dot.


"Mas, bersiap sana!" usir Kayla. Ia berusaha merebut Ara dari suaminya. "Kamu nanti terlambat. Kamu harus memberi contoh yang baik untuk bawahan kamu, Mas."


Kalandra menggeleng pelan sambil tertawa. Ia berdiri dan membawa Ara ke balkon.


"Mas, kamu mendengarkan aku kan?"


Kalandra mengangguk. "Ya, sayang. Tapi hari ini tanggal merah."


Kayla membuka mulutnya. Matanya terbuka lebar. Semenjak sibuk mengurus anak, Kayla memang tidak memperhatikan kalender. Bahkan tanggal berapa hari ini, ia tak ingat.


Kalandra tertawa. "Lupa ya? Itu karena kamu terlalu excited mengurus Ara, Sayang."


"Aku sudah meminta bibi untuk membereskan kamar. Jadi, kamu bisa mandi atau kalau mau berendam juga bisa."


"Aku mau jemur Ara dulu di balkon."


Kalandra berjalan menuju balkon kamarnya. Sedangkan Kayla berjalan ke arah cermin. Ia melihat dirinya yang tampak lusuh.


Daster yang basah karena ASI yang menetes, rambut yang hanya asal dikucir kuda serta wajah yang tampak pucat dan kusam.


Kayla menghela nafas. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin berendam, namun tidak jadi. Ia memilih mengguyur tubuhnya. Ia membasahi rambutnya, dan memakai sampo yang banyak agar wangi.


Ia keluar dari kamar mandi. Tubuhnya memang terasa lebih segar. Ia duduk di depan cermin rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Kalandra meletakkan Ara di box bayi dan turun ke bawah untuk mengambil sarapan untuk istrinya.


Riana sedang di dapur. Ia mempersiapakan sarapan Kayla di atas nampan.


"Andra, kamu mau sarapan di bawah atau mau sarapan bersama Kayla?" tanya Riana.


Kalandra mendekati mamanya dan melihat menu apa yang akan mereka santap untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Aku sarapan disini saja, bersama mama dan Oma." Kalandra duduk bersama Oma di meja makan.


"Sarapan untuk Kayla, biar Andra saja yang bawa nanti, Ma."


"Kayla juga sedang mengeringkan rambutnya dan Ara sedang tidur."


"Kamu harus menemani istri kamu saat ia menyusui pada malam hari, Andra," ucap Oma sebagai nasehat yang sudah entah berapa ratus kali ia dengar.


"Ya, Oma. Aku selalu menemaninya, kok!"


Riana tertawa. "Mengapa mama seperti tidak yakin, kalau Andra ikut bangun, Ma?" tanya Riana pada Oma yang menipiskan bibir.


"Dia pasti bangun, Ri. Tapi, bersandar di bantal, lalu tertidur lagi!"


Kalandra tertawa. "Kadang-kadang memang seperti itu, Oma."


"Kamu harus selalu ada untuknya, Andra! Dia benar-benar ingin menjadi istri dan ibu yang baik," ujar Riana.


"Aku tahu itu, Ma."


"Dia bahkan tidak memanfaatkan uangmu yang banyak itu untuk membayar jasa baby sitter."


"Kamu beruntung mendapatkan istri sepertinya."


Kayla meninggalkan pekerjaan yang ia sukai demi merawat anaknya. Pengalaman ditinggal Ibu membuat Kayla tidak ingin anaknya bernasib sama sepertinya.


Sejak kecil, Kayla ditinggal bekerja oleh ibunya. Ia dititipkan pada tetangga mereka. Meski tidak seharian, tapi tetap saja ia tidak mendapatkan perhatian lebih dari orang tuanya.


Kalandra kembali ke kamar dan menemani Kayla untuk sarapan. Ia harus menggendong Ara yang sudah terbangun. Untung saja, bayi itu tidak menangis.


Ponsel Kayla berdering. Kalandra melihat nama Ibu Susi yang muncul di layar.


Ibu Susi adalah wanita yang dulu pernah ia tabrak dan mengalami kelumpuhan. Tapi, kini wanita itu sudah sembuh. Kayla membuatkan usaha berupa toko sembako untuk wanita itu kelola dengan dibantu Alif, putranya.


Kayla juga meminta mereka untuk tinggal di rumahnya yang selama ini ia kosongkan dari pada ia mengeluarkan biaya untuk membayar asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah itu secara rutin.


"Bu Susi, sayang." Kalandra memberi tahu Kayla yang sudah selesai sarapan dan tengah membereskan meja dari peralatan makannya.


Kayla menjawab panggilan itu.


"Hallo, Bu."


"Nak, disini ada ibu-ibu yang mencari kamu."


"Ibu-ibu? Siapa, Bu?" tanya Kayla penasaran.

__ADS_1


"Dia mengaku sebagai ibu kamu. Kalau Ibu lihat, memang wajahnya mirip seperti wanita yang fotonya ada di dalam lemari."


"Tapi, Ibu tidak tahu harus berbuat apa."


Kayla menghela nafas panjang. Ibu? Ibu pulang? Untuk apa? Mengapa ibu pulang disaat ayah sudah tiada dan di saat aku sudah bahagia?


"Kayla, ada apa sayang?" tanya Kalandra yang merasa heran karena Kayla diam saja.


Kayla terkesiap saat Kalandra menyenggol lengannya. "Eh, Mas."


"Sebentar."


"Hallo, Bu. Katakan saja untuk menunggu di sana. Aku akan kesana sebentar lagi."


Kayla mengakhiri panggilan itu dan menatap Kalandra dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu pulang, Mas."


Kalandra terkejut mendengarnya. Ibunya Kayla? Ibu yang katanya menjadi TKI dan sudah menikah itu?


"I-ibu kamu? Yang bekerja di luar negeri itu?"


Kayla mengangguk. "Aku harus menemuinya, Mas."


"Aku harus pulang."


Kalandra mengangguk. "Bersiaplah. Akan ku antar."


Kalandra turun ke lantai satu. Ia mencari Riana untuk menitipkan Ara. Ia juga meminta Kayla menyusui Ara sebelum mereka pergi.


Kalandra mengeluarkan mobil dari garasi. Ia kembali untuk menyusul Kayla ke dalam kamar.


"Titip Ara, Ma, Oma," ucap Kalandra.


"Ya, jangan terlalu lama, Andra."


"Ya, ma," jawab Kayla. "Tidak akan lama, kok. Kalau Ara menangis, telpon saja Mas Kalandra. Kami akan segera kembali."


Kalandra dan Kayla segera pergi menuju rumahnya. Percuma saja Kalandra mengeluarkan mobil karena Kayla lebih memilih naik sepeda motor matic milik pak Darmo, supir mereka.


"Mas, dari jalan ini saja." Kayla menunjuk jalan pintas dari gang rumah warga agar lebih cepat sampai. Tujuannya adalah menemui ibunya, menyelesaikan urusan lalu pulang untuk kembali menemui putrinya. Ia tidak tenang meninggalkan Ara terlalu lama.


Kayla berdebar hebat saat melihat wanita yang lebih dari 13 tahun tidak pernah ia lihat lagi wajahnya. Melihat wanita itu membawa anak perempuan berusia sekitar 10 tahun itu membuat Kayla merasa muak.


Ibu memilih melahirkan anak perempuan sementara ibu sudah punya anak perempuan, tapi bu tinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2