
Hari ini, Melani sangat sibuk karena ia harus mengerjakan pekerjaannya sekaligus mengajari Kayla yang sepertinya lumayan cepat memahami apa yang ia jelaskan.
"Kamu pulang dulu saja, Kay!" Perintah Melani saat jam kantor sudah selesai.
"Tapi, sepertinya mbak Melani akan lembur. Saya akan menemani dan membantu, mbak!" ucap Kayla saat Melani masih sibuk dengan komputernya. Wanita itu juga tampak belum bersiap untuk pulang.
Melani tertawa. "Tidak perlu, Kayla. Saya akan pulang sebelum petang. Ini hanya pekerjaan tanggung yang akan saya selesaikan."
Akhirnya Kayla pulang meninggalkan dirinya yang masih menyelesaikan pekerjaan.
Jendra keluar dari ruangannya dan duduk di depan meja kerja Melani. Sesuai dengan pemikiran Melani, Jendra adalah orang yang sulit ditebak.
Pria itu memang lebih ekspresif. Kalau marah menyeramkan, ya. Kalau tertawa selalu lepas, ya. Kalau sedang gelisah suka mengamuk, ya. Kalau sedang lelah bekerja, tak jarang pria itu memilih jalan-jalan di area kantor sambil bercanda dengan karyawannya.
"Sudah ku beri rekan, masih lembur juga, Mel?"
Melani mengangguk. Ia tahu bosnya itu sedang duduk di depan meja kerjanya.
"Sedikit lagi selesai, Pak!" Jawab Melani.
Seketika keduanya saling diam hingga akhirnya Jendra mengatakan hal yang membuat Melani cukup terkejut.
"Terima kasih selama ini kamu sudah membatuku meng-handle para gadis yang datang mencariku," ujar Jendra.
Melani mengerutkan kening menatap pria tampan yang sedang tersenyum menatap meja kerjanya itu.
Seperti remaja sedang puber dan jatuh cinta.Batin Melani geli sendiri.
"Saya harap ini yang terakhir, Pak!" balas Melani. "Jujur saja, tanpa Bu Mona, saya kewalahan menghadapi mereka." Melani menyebut nama seniornya yang sudah resign.
"Ya, ini memang yang terakhir. Aku sudah berniat untuk menikahi pacarku yang sekarang," jawab Jendra senyum-senyum sendiri.
Oh Tuhan. Ku rasa dia memang sudah gil*. Tersenyum dengan meja yang tak ada apapun diatasnya.
"Coba tebak, siapa gadis itu dan apa pekerjaannya?" tanya Jendra pada Melani.
Aku tidak peduli. Bukan urusanku, Pak. Yang terpenting saat ini, aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku dan pulang ke apartemen. Aku rindu tempat tidurku. Gerutu Melani dalam hatinya.
"Semoga tidak sejenis dengan mantan-mantan anda!" balas Melani.
Jendra tertawa. "Jelas bukan Mel!"
"Pacarku ini seorang gadis mandiri. Dia punya kedai kopi di kota X."
Melani melirik sekilas. Tumben dia bisa mencari pacar yang punya pekerjaan selain hanya mondar mandir mencarinya kesini!
__ADS_1
"Aku akan menikahinya!" tekad Jendra.
"Lakukan segera, Pak! Sebelum ada yang melamarnya lebih dulu!" ucap Melani sebagai bentuk dukungan bawahan pada atasannya.
***
Melani masuk ke gedung apartemennya. Sebuah unit apartemen dengan ukuran yang tidak luas itu menjadi tempat tinggalnya sejak satu tahun terakhir. Apartemen ini ia beli dari salah satu karyawan Dewandaru yang kebetulan pindah domisili ikut dengan suaminya.
Melani pernah tinggal di kosan. Tapi ia merasa kosan tidak cukup aman untuk dirinya yang tinggal sendirian.
Akhirnya dengan menguras semua uang dalam rekeningnya ditambah lagi dengan berhutang pada perusahaan, Melani memberanikan diri membeli apartemen ini. Selain untuk tempat tinggal, apartemen ini juga bisa dijadikan investasi. Hunian seperti ini akan terus bertambah nilai jualnya setiap tahun.
Tubuh Melani terasa lelah, tapi matanya belum mau terpejam. Melani menyambar slingbag yang hanya bisa diisi dengan ponsel dan beberapa card. Ia memutuskan untuk jalan-jalan disekitar kawasan apartemen. Hal yang biasa ia lakukan jika sedang bosan.
Melani melangkahkan kaki menuju sebuah toko kue. Ia butuh stok untuk malam hari jika ia merasa lapar saat menonton film dan untuk sarapannya besok pagi.
"Yang ini, empat Mbak!" ucap Melani menunjuk sebuah cake yang diselimuti coklat.
Melani juga memberi beberapa makanan dan minuman yang masih bisa ia simpan di kulkas.
Ia melangkahkan kaki keluar dari toko. "Mel!" Suara yang ia kenal membuatnya menoleh ke asal suara.
"Pak Jendra!" gumamnya pelan. "Mau apa sih? Masa iya, di kantor melihat wajahnya dan di kawasan sini juga wajahnya yang terlihat," keluh Melani.
"Tidak ada!" balas Jendra yang hanya memakai celana pendek dan jaket hoodie itu. "Hanya jalan-jalan saja."
Mengapa Pak Jendra malah terlihat keren begini, sih? Dia sudah 30 tahun, kan? Mengapa dia masih terlihat seperti badge? Batin Melani.
Sementara ia melihat dirinya sendiri yang terlalu cuek dengan penampilannya. Ia hanya memakai celana kulot panjang, kaos pas body dan sebuah cardigan untuk menghalau udara dingin.
"Sedang apa?" tanya Jendra.
"Ini!" Melani mengangkat paperbag di tangannya. "Cari makanan."
Jendra tertawa. "Ku fikir sedang jalan-jalan bersama pacarmu?"
Melani tersenyum sinis. "Jangan mengejek saya, Pak!" Melani tahu, kalau Jendra jelas mengetahui dirinya sedang jomblo. Bukan sedang, tapi memang selalu jomblo.
Jendra tertawa. "Makanya cari pacar!"
Melani tertawa. "Tidak semudah itu, Pak. Saya kalau berhubungan sama orang, selalu pakai hati."
"Tidak bisa asal ketemu, lalu sedikit saja merasa cocok, langsung pacaran!" lanjut Melani tegas.
"Kamu nyindir saya?" tanya Jendra.
__ADS_1
Melani terbahak menutup mulutnya. "Astaga! Maaf, Pak!" ucapnya saat merasa salah bicara. "Maaf!"
"Bukan begitu. Saya tidak sedang menyindir Bapak. Tapi saya memang begitu. Lebih baik saya berteman dengan orang itu daripada pacaran lalu putus."
Melani mengerutkan hidungnya. "Buang-buang waktu!"
Jendra mengangguk. "Lebih seperti seseorang yang pemilih!" sindir Jendra.
Melani mengangkat bahu. "Terserah penilaian Bapak seperti apa. Bahkan saat orang lain berfikir demikian, saya tidak peduli."
"Saya percaya, jodoh saya sudah Tuhan persiapkan."
Jendra mengangguk berkali-kali. "Ya... ya... ya... Mungkin saja jodoh kamu sedang berduaan dengan pacarnya saat ini. Atau mungkin sedang menunggu kamu di club. Atau mungkin belum lahir!" Jendra tertawa.
Jendra tak bisa bayangkan apa jadinya jika jodoh untuk sekretarisnya yang jutek itu belum dilahirkan. Saat ini, gadis itu saja sudah hampir kepala tiga. Umur berapa kira-kira Melani akan menikah?
"Ya Tuhan! Amit-amit, Pak." Melani bergidik ngeri. Tidak bisa ia bayangkan jika saat ini jodohnya tengah berada di club dan memeluk banyak wanita di sisinya.
Jendra tertawa. "Ya sudah, aku duluan, Mel," pamit Jendra.
"Mau video call dengan pacarku," lanjutnya lagi-lagi seperti remaja sedang kasmaran.
Melani mengangguk. "Semoga kali ini langgeng sampai pelaminan!"
Jendra tertawa. "Aku tahu, doa kamu itu pasti karena malas melihat mantanku datang lagi ke kantor kan? Bukan karena tulus mendoakanku?"
Melani nyengir kuda. "Anggap saja sekalian doanya, Pak!"
Jendra berjalan menjauh. Membuat Melani menghela nafas lega karena akhirnya pria menyebalkan itu pergi juga.
Belum lima langkah, tapi Jendra kembali berbalik. "Mel!"
Mau apa lagi? batin Melani.
"Ya..."
"Besok pagi, ikut saya meeting di Perusahan X." Jendra menyebut nama sebuah perusahan yang sedang bekerja sama dengan pekerjaan mereka.
Melani mengangguk.
"Kamu terlihat cantik dengan style seperti itu," ucap Jendra lagi sebelum pria itu berlari menjauh.
Melani terdiam. Ia masih speachless mendengar pernyataan Jendra.
Melani menghentakkan kaki menuju apartemennya. "Dasar buaya! Semua orang di rayu! Aku yang terlihat buluk begini, malah dipuji cantik. Dia memang memuji atau menyindir penampilanku?" Melani kesal.
__ADS_1