
Kalandra membuka pintu mobilnya saat ia tiba di rumah. Keluarlah Kayla dan Riana dari kursi belakang mobil.
"Tunggu Andra di ruang keluarga, Ma!" Perintah Kalandra.
"Temani mama, Kay!" Perintah Kalandra lagi.
Kalandra juga masuk ke dalam rumah. Ia segera menuju kamar Oma, partner nya dalam rencana ini.
Flashback On
"Oma tidak setuju kalau kamu datang sendiri, Andra!" ucap Oma saat Kalandra sedang berada di dapur. Ia sedang membuat kopi untuk menghalau rasa kantuk.
"Oma...!" Kalandra berbalik. Ia melihat Oma berdiri dibelakangnya saat ia sedang mengisi cangkirnya dengan air panas dari dispenser.
"Oma tahu, kamu akan pergi, kan?"
Kalandra diam saja. Ia membawa kopi di halaman belakang tepatnya di dapur outdoor di rumah itu. Mereka duduk di meja makan minimalis yang tersedia di luar rumah.
Seluruh asisten rumah tangga biasanya akan istirahat saat siang hari seperti ini. Sehingga mereka leluasa untuk bicara berdua.
"Aku harus menyelesaikan semuanya, Oma. Ini adalah sebuah kesempatan untuk aku kembali bertemu Leo."
Oma mengangguk. "Kamu benar. Riana sepertinya menyembunyikan sesuatu, Andra."
"Oma tidak melarang kamu untuk menemui pria itu. Tapi, kalau bisa jangan menemuinya sendirian.
"Aku tidak mungkin membuatnya kabur sebelum aku mendapatkan jawaban atas banyak pertanyaan dalam benakku, Oma."
Oma tersenyum kecil. "Bawa orang bayaran untuk melindungi kamu."
"Kalau seandainya kamu dalam bahaya, mereka bisa membantu kamu."
Flashback Off
Kalandra perlahan membuka pintu kamar Oma. Ia bisa melihat wanita tua yang duduk di pinggir ranjang tengah menyeka air matanya.
Kalandra duduk di lantai. Ia merebahkan kepalanya di lutut Oma yang sedang duduk di ranjang dengan kaki terulur ke bawah.
"Leo sudah ku tangkap, Oma. Lalu setelah ini aku tidak tahu harus melakukan apa."
"Menghabisi nyawanya lalu menghilangkan jejak, ck! Aku tidak seke*ji itu, Oma."
"Melaporkannya ke polisi, sama saja menyeret mama ke penjara."
Kalandra menatap Oma. Ia menyeka air matanya. Masalah hampir selesai, tapi dia malah berada dalam dilema.
"Andra harus apa, Oma?" tanyanya dengan suara serak. Ia tak sanggup lagi memilih antara keadilan dan nasib mamanya.
"Andra merasa mulai bisa memahami posisi mama. Dan saat Andra mulai berdamai dengan keadaan, Andra mulai bisa melembutkan hati saat berhadapan dengan mama, tapi saat itu pula Andra harus mengadili mama."
"Mama mengaku tidak terlibat untuk setiap kejahatan Leo."
"Tapi, Andra tidak yakin Oma."
Oma memeluk kepala Kalandra dengan sedikit membungkuk. "Leo sudah melenyapkan suami Oma dan membuat putra Oma menderita, Andra." Oma terisak.
Oma mendengar semua percakapan mereka karena earphone Kalandra juga terhubung dengannya. Wanita tua itu menanti kepulangan Kalandra dengan perasaan hancur berkeping.
"Bahkan hukuman berupa kematia*n terlalu ringan untuknya," geram Oma.
"Adili dia, Andra! Bertahun Oma harus hidup dalam kesedihan, sayang!"
"Beri keadilan untuk mendiang Opa dan Papa kamu!"
__ADS_1
Itu artinya Kalandra harus menjeblosknya Leo ke dalam jeruji besi.
Sementara itu di ruang keluarga, Kayla sedang menemani Riana yang tampak syok. Wanita itu hanya menangis dalam diam.
"Mama, tenanglah! Atur nafas mama," ucap Kayla karena nafas Riana begitu cepat hingga dada wanita itu naik-turun.
Riana menatap Kayla. "Kamu tidak mengerti apapun tentangku!"
Kayla tersenyum kecil. "Mama benar. Aku memang tidak mengerti apapun, Ma."
"Aku bahkan menyayangkan sikap mama yang terlalu acuh pada Mas Kalandra."
"Kalian punya hubungan yang begitu buruk. Itu kesan pertama yang ku rasa saat aku masuk dalam keluarga ini."
"Kalian berebut warisan, saling menjatuhkan, dan kalian juga saling menyakiti."
"Dan sekarang aku faham, bukankah orang yang paling sering menyakiti kita, justru orang itu yang sebenarnya sangat menyayangi kita?" tanya Kayla membuat Riana menatap dirinya.
"Kenapa mas Kalandra acuh? Mungkin karena dia takut kecewa saat ia ingin mulai memperbaiki hubungan kalian berdua."
"Itu hanya dugaanku." ucap Kayla kemudian.
"Dia yang tidak bahagia, membuat sikapnya naik-turun. Kadang ia dingin, kadang ia menyenangkan, kadang ia banyak bicara dan kadang ia lebih banyak diam." Kayla mulai mengerti sikap Kalandra selama beberapa hari ini.
Riana menunduk lesu. Semua yang Kayla katakan ada benarnya. Tapi, yang ia pikirkan saat ini adalah, "Mengapa dia lama sekali di kamar Oma?" gumam Riana.
"Biarkan Mas Andra meredam amarahnya, Ma. Dia terlalu terkejut mendengar kenyataan."
Riana menatap Kayla, "Dia mengatakan dia tahu-"
"Mas Andra tidak tahu apapun, Ma."
"Jika dia tahu, Mama tidak akan berada disini sekarang, mama pasti sudah berada di penjara untuk menghabiskan sisa hukuman."
Ceklek! Suara handle pintu yang bergerak.
Oma dan Kalandra keluar dari dalam kamar. Keduanya berjalan perlahan dan duduk di sofa berhadapan dengan Riana dan Kayla.
Kalandra menatap Riana dengan tatapan sayu. Matanya penuh dengan kebimbangan, tapi ia harus mengambil keputusan.
"Tolong jawab dengan jujur, Ma. Apa benar mama terlibat dalam kemat*ian opa dan kecelakaan papa dulu?" Tanya Kalandra.
Riana menggeleng. "Tidak, Andra!" Riana meneteskan air mata. "Mama tidak tahu."
"Semua itu rencana Leo tanpa sepengetahuan mama."
"Mama, Riana harap mama percaya dengan apa yang Riana katakan." Riana terisak menatap Oma.
"Riana memang pernah memberi tahu Leo kalau papa yang akan pergi ke pabrik, saat itu."
Saat itu perusahan Rajaswa berawal dari sebuah pabrik konveksi, yaitu pabrik yang membuat pakaian jadi. Dan kini Rajaswa Group sudah memiliki banyak perusahaan diberbagai bidang, termasuk perusahaan Desain dan penginapan.
"Dan Riana tidak tahu kalau ternyata papa mengalami serangan jantung saat di perjalanan gara-gara Leo, Ma." Riana terisak.
"Entah apa yang Leo katakan pada papa sehingga papa mengalami serangan jantung."
"Dan kejadian yang sama juga terjadi pada Mas Bagas, papa kamu Andra." Riana menatap Kalandra.
"Mama hanya memberi tahu kalau papa tidak di rumah. Mama tidak tahu kalau ternyata Leo sudah menyusun rencana untuk menabrak mobil papa dengan membayar orang lain."
Riana mengusap air matanya berkali-kali.. "Dia baru memberi tahu mama bahwa semua itu adalah rencananya saat kamu berusia 17 tahun. Saat itu ia menghilang dan kembali datang untuk meminta mama kembali bersamanya."
"Dia mengancam mama akan memberi tahu kalian kalau mama terlibat dalam rencana itu."
__ADS_1
"Mama hampir terjebak dalam permainannya. Tapi mama sadar, usia mama semakin tua. Mama tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi, Andra!"
"Dan saat itu mama masih beruntung, dia pergi ke luar negeri karena yang mama dengar, dia terlibat sebuah kasus penculikan, pembunuhan dan penjualan organ tubuh manusia."
Mereka tak percaya mendengar perkataan Riana. Kalau memang begitu, itu artinya Leo masih menjadi buronan.
"Selama ini, dia tetap menghubungi mama. Ia mengatakan akan kembali jika Papa kamu sudah meninggal."
"Mama tidak bisa me-reject panggilannya karen ia selalu mengancam akan menghancurkan anak-anak mama terutama kamu!"
Selama ini, diam-diam Riana masih berhubungan dengan pria itu.
"Dari dulu, dia selalu membawa nama kamu dalam setiap ancamannya, membuat mama tidak berdaya, Andra!" Riana melihat Kalandra dengan tatapan nanar.
"Mama terpaksa menjauh dari kalian, karena mama tidak ingin dia menyakiti mama lewat kalian."
"Belasan tahun mama mencoba untuk lepas darinya, tapi tidak bisa."
"Akhirnya mama mengakali, jika tidak bisa lepas, maka mama harus selalu dekat dengannya agar tidak memancing amarahnya."
"Mama tetap berusaha untuk menjawab panggilannya dan berpura-pura senang mendapat kabar darinya. Percayalah, itu sangat menyiksa, Andra!"
"Berkali-kali ia mengancam akan menjebak kamu dengan wanita yang akan menghancurkan kamu kelak. Itu adalah hal yang mama takutkan."
"Untuk itulah, mama selalu menjodoh-jodohkan kamu dengan beberapa wanita. Agar setidaknya wanita yang menikah denganmu adalah pilihan mama, bukan wanita suruhan Leo."
Kalandra menghela nafas saat tahu alasan Riana kerap kali menjodohkan atau menjebaknya dengan seorang gadis.
"Lalu, bagaimana dengan warisan? Bukankah mama ingin aku segera menikah agar warisan papa bisa dibagikan?" Tanya Kalandra yang sedari tadi hanya diam.
Riana menghela nafas. "Kamu benar. Alasannya karena mama tidak tahu harus kemana, Andra!"
"Mama minta warisan papa dibagikan karena mama juga ingin Gia dan Reyga bercerai."
"Mama tahu, Gia bertahan dengan Reyga karena ia ingin menikmati warisan itu."
"Mama merasa bersalah pada Reyga. Dia pria yang baik, tapi mama malah membuatnya menderita karena memiliki istri seperti Gia."
"Jika warisan itu dibagikan, dan Reyga hanya mendapat sedikit dari harta papa, mama berharap Gia pergi dari Reyga."
"Tapi mama salah!" Riana tertawa. "Mereka malah memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan memberi kesempatan untuk rumah tangga mereka."
Kalandra menatap Oma. Ia berdiri dan memeluk Riana. "Maafkan Andra yang sudah salah menilai mama..." Kalandra terisak.
"Selama ini, Andra tidak mencari tahu mengenai kebenarannya."
Riana mengusap punggung lebar yang bergetar itu. "Maafkan mama juga, Andra."
"Mama menyembunyikan banyak hal dari kamu. Tapi percayalah, mama hanya tidak mau sesuatu yang buruk menimpa anak-anak mama."
"Mama juga menyembunyikan hal ini dari papa." ucap Kalandra. "Hingga papa meninggal tanpa tahu kebenarannya."
"Karena papa sudah tidak pernah melihat mama lagi, Andra."
"Papa bertahan hanya demi kalian. Papa tidak ingin kamu menangis tiap malam karena merindukan mama dan Reyga."
"Papamu mengalah. Menurut maman sangat wajar dia membenci mama karena mama pernah mengkhianati pernikahan kami."
Riana menyeka air mata Kalandra. "Mama yakin, kalau mama tidak terlibat sama sekali, Ma? Apakah yang mama ceritakan itu benar dan bukan karangan mama?"
Riana mengangguk. "Mama bicara seratus persen tanpa dikarang-karang, Andra.
"Kalau begitu, aku akan menjebloskan Leo ke penjara."
__ADS_1
Riana mengangguk. "Mama akan ikuti semua proses hukum yang pasti akan melibatkan mama."