
Semua saran dari Kayla malam itu diterima Kalandra dengan sangat baik. Ia akhirnya membangun 10 unit villa dengan ukuran sedang, menyesuaikan dengan lahan yang ia punya.
Villa berjajar dari arah utara ke selatan itu membuat setiap rumah mendapat view matahari terbit dan tenggelam. Villa minimalis dengan dua tipe itu mulai dibangun. Lima unit memiliki dua lantai dan lima unit lagi hanya satu lantai.
Kalandra berapa kali mengunjungi daerah tersebut. Selama tiga bulan, pembangungan baru selesai sekitar 70 persen. Padahal, pihak Jendra sudah melakukan pekerjaan dengan semaksimal mungkin.
Yayasan untuk pendidikan PAUD dan TK sudah rampung di bangun sehingga bisa digunakan pada tahun ajaran baru berikutnya.
Sebuah perpustakaan lumayan besar dibuka untuk umum. Kalandra juga menyediakan banyak kursi dan meja yang bisa digunakan oleh pengunjung.
Perpustakaan sudah dibuka lebih dulu karena ia menerima masukan dari anak-anak remaja yang meminta perpustakaan segera dibuka. Mereka membutuhkan banyak materi yang harus dipelajari karena akan menghadapi ujian akhir semester.
Hal itu disambut baik oleh Kalandra dan Kayla. Keduanya terjun langsung dalam pembelian buku. Mereka juga menerima sumbangan buku yang masih layak.
Kesibukan dan antusias mereka itu membuat keduanya lupa bahwa pernikahan mereka sudah berjalan lebih dari 6 bulan. Mereka bahkan tidak sedikitpun membicarakan masalah anak karena sampai detik ini, Kayla belum juga hamil.
Oma bahkan sudah kembali ke New Yo*rk karena harus merilis pakaian musim panas di website resmi butiknya.
Kayla dan Kalandra sedang berada di restoran baru milik Reyga. Setelah fokus pada pernikahan dan bertekat untuk memiliki anak, Reyga semakin memajukan restorannya. Ia sadar, ia harus mempersiapkan masa depan anak-anaknya kelak.
"Ini sih, konsep nya masih sama, ya Rey," ucap Kalandra saat melihat restoran yang lumayan luas itu.
Reyga mengangguk. "Memang ini menjadi ciri khas restoranku kak."
"Menunya juga sama. Jadi, pelanggan setia yang tinggal di daerah sini tidak perlu jauh-jauh ke restoran pertamaku."
"Hai Gi!" sapa Kayla pada Gia yang membawa tiga cangkir kopi untuk mereka. Wanita yang memakai dress itu duduk di samping Reyga, tepat di hadapan Kayla.
"Hai, Kay! Minum kopi, kan?" tanya Gia.
Kayla mengangguk. "Ya, aku pemakan segala." Ucapan Kayla memancing tawa.
Kayla menatap tubuh Gia yang tampak sedikit berisi. Bahunya sedikit gemuk dan pipinya juga semakin chubby.
"Kamu tampak sedikit berbeda, Gi!" ucap Kayla. "Seperti...." Kayla membulatkan mata.
"Kamu sudah isi?" tanya Kayla yakin jawabannya ya.
Gia dan Reyga saling tatap. Lalu Reyga mengangguk lemah pada Gia.
"Ya, Kay!"
__ADS_1
Kayla menutup mulutnya tak percaya. Sebagai saudara, Kayla turut bahagia. Ia berdiri di dari kursi dan memeluk Gia.
"Selamat ya, Gi. Aku akhirnya punya keponakan," ucapnya senang.
Kalandra dan Reyga saling tatap meski mereka ikut tersenyum. Keduanya heran saat melihat Kayla dan Gia bisa terlihat akrab.
"Sudah berapa minggu?" tanya Kayla.
"10 minggu," jawab Gia.
"Pantas saja, sudah terlihat dari luar dress," balas Kayla saat melihat perut Gia yang biasanya rata, sekarang tampak membuncit sedikit.
"Oh, ya?" tanya Gia senang. "Padahal setiap hari aku selalu berdiri di depan cermin, menghadap kanan dan kiri melihat perutku yang tidak kunjung membesar, Kay!" jelas Gia.
Ia memang selalu melakukannya karena ia kadang bertanya-tanya apakah bayinya berkembang atau tidak. Kadang ia ingin melakukan USG setiap minggu sangking penasarannya.
Kayla tertawa. "Hahaha.. kamu pasti tidak sabar ya. Apalagi saat mendapat tendangan pertamanya. Astaga! Temanku mengatakan kalau rasanya seperti mendapat jeckpot," ucap Kayla semangat.
"Teman kamu? Siapa sayang?" tanya Kalandra penasaran karena selama ini ia tidak pernah melihat Kayla bersama wanita hamil.
"Temanku di Dewandaru, Mas. Saat aku masih menjadi staff di divisi keuangan."
"Temanku ada yang sedang hamil dan aku tidak peduli dengan ceritanya kala itu. Aku mendengarkannya memang, tapi tidak ku coba untuk pahami. Dan setelah menikah aku malah mencoba mengingat apa yang ia ceritakan dulu." Kayla tertawa. Ia kembali duduk di kursinya.
"Bukan apa-apa sih, setidaknya aku sedikit tahu jika kelak aku merasakannya."
"Benar, Kay. Kata dokter gerakan baby-nya baru terasa saat minggu ke 16 ada juga yang sampai minggu ke 20 tergantung tebal atau tipisnya perut ibunya."
Kayla mengangguk. "Sekali lagi selamat, ya."
"Mama tahu soal ini, Rey?" tanya Kalandra yang memang juga baru mengetahui kabar bahagia ini.
Reyga menggeleng. "Belum, Kak. Kami berencana memberi tahu mama saat kehamilan Gia sudah berusia 4 bulan. Dan saat yang sama, kami akan mengadakan syukuran kecil-kecilan."
"Oh, pantas saja mama tidak memberi tahu kami." balas Kalandra.
"Oma pasti sangat senang, Rey!" jawab Kalandra.
Reyga tersenyum miring. "Tapi, oma dan Gia."
"Ck!" Decak Kalandra. "Jangan bicara hal buruk, Rey! Oma pasti senang."
__ADS_1
"Lagi pula, hubungan antara Oma dan Gia sudah baik-baik saja, Rey." jelas Kalandra.
Reyga tertawa. "Ku harap begitu, Kak."
"Tentu akan begitu!" potong Kalandra. "Kamu jangan membuat bayi dalam kandungan Gia bersedih, Rey! Jangan mengatakan seolah ada yang tidak suka dengan kehadirannya."
"Semua orang pasti bahagia. Semua orang pasti tak sabar menanti kelahirannya."
"Terima kasih kak."
***
"Kamu ingin hamil?" tanya Kalandra saat mereka tengah berada di dalam mobil sepulang dari restoran Reyga.
Kayla mengerutkan alisnya. "Kamu aneh, Mas. Kita rutin membuatnya, aku tidak memakai kontrasepsi apapun. Bagaimana mungkin aku tidak ingin?"
Kalau dia tidak ingin hamil, setidaknya ia pasti mengkonsumsi pil KB. Tapi, Kayla juga tidak melakukan program kehamilan. Ia tidak ingin terburu-buru. Ia hanya sedang menikmati setiap detik perjalanan hidupnya.
"Sabar ya..." Kalandra menggenggam tangannya. "Tuhan belum menitipkannya pada kita."
"Padahal aku sudah berusaha. Mungkin usahaku masih kurang."
Kayla tertawa. "Mengapa jadi kamu yang minta maaf, Mas? Lagi pula aku sudah berpasrah pada Tuhan."
"Kalau Tuhan memberinya cepat, maka akan ku terima. Kalau lambat, ya tidak apa-apa."
Kalandra tersenyum. "Kamu tidak ingin program, sayang?"
Kayla menggeleng. "Tidak, Mas. Kita menikah juga baru hitungan bulan, kan?"
Kalandra mengangguk. "Ya sudah, aku hanya khawatir kalau kamu ingin merasakan apa yang Gia rasakan sekarang."
Kayla menggeleng. "Aku justru bahagia karena diantara kita akhirnya ada yang bisa memberikan mama cucu."
"Aku tahu, mama pasti akan senang jika mendengar kabar ini."
Kalandra menatap lurus ke depan. Banyak hal berubah selama beberapa waktu belakangan.
Gia dan Reyga tampak sudah seperti pasangan suami istri yang saling mencintai.
Sedangkan dirinya? Ah, dia sudah merasa sangat bahagia bersama istrinya. Dan harapannya hanya satu, kelak ia bisa terus membahagiakan Kayla.
__ADS_1