Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 75 S2 Ditolak


__ADS_3

Jendra menyemprotkan parfum sebagai sentuhan terakhir untuk menunjang penampilannya.


Jendra menggunakan kemeja batik berlengan panjang yang Kalandra kirimkan spesial untuknya sebagai seorang sahabat.


Tanpa berpamitan dengan siapapun, ia keluar dari rumah. Di rumah besar bak istana itu, dia hanya tinggal sendirian bersama beberapa orang asisten rumah tangga.


Sebagai anak tunggal dari orang tua yang menetap di Pulau Bali, membuat Jendra tak jarang merasa kesepian.


Club malam dan beberapa tempat tongkrongan sering ia datangi. Makanya, malam itu tanpa sengaja ia bertemu Melani yang sedang jalan-jalan di area pertokoan disekitar apartemen.


Jendra mengemudikan mobilnya menuju kawasan apartemen tempat tinggal Melani. Jam hampir menunjukkan angka 8 pagi yang mana akad nikah akan segera dilaksanakan.


Akad nikah Kalandra dan Kayla di laksanakan pada pagi hari dan dilanjutkan dengan resepsi pada siang hingga sore hari.


"Mel, saya sudah dekat dengan apartemen kamu," ucap Jendra dengan mengaktifkan loudspeaker ponselnya saat ia menghubungi Melani.


"Saya sudah di depan, Pak!" Balas Melani membuat Jendra segera mengakhiri panggilan itu setelah menjawab "Oke."


Jendra mencari keberadaan Melani. Akhirnya ia menemukan gadis yang selalu ia lihat beberapa tahun terakhir itu.


Melani pun demikian. Ia berulang kali melihat ke depan agar mengetahui saat mobil Jendra sudah mendekat.


Melani mengerutkan kening saat sebuah mobil yang tidak ia tahu milik siapa berhenti di depannya. Mobil modifikasi berwarna biru metalic itu membuat siapa pun yang melihatnya merasa silau. Bukan hanya dari warnanya, tapi juga dari harganya yang bisa lebih mahal dari harga apartemen Melani.


"Mel, ayo masuk," perintah Jendra dengan membuka pintu mobilnya dari dalam.


Melani terkejut karena ternyata itu adalah mobil bosnya yang sama sekali belum pernah dibawa ke kantor.


Jendra tipe orang yang sedikit aneh. Eits, ralat! Bukan sedikit sih bagi Melani, tapi sangat aneh.


Jendra selalu memakai mobil berbeda tergantung kemana tujuannya. Ke kantor dan meeting dengan klien, ia menggunakan mobil yang sama. Tapi, saat sedang jalan-jalan bersama pacar, ia menggunakan mobil yang lain.


Dan mobil yang ia gunakan ini adalah salah satu dari koleksi mobil mewahnya yang hanya ia pakai untuk sekedar jalan-jalan sendiri.


"Saya di depan, Pak?" Tanya Melani yang mendelik saat menyadari rol kebayanya bercorak sama dengan kemeja batik yang Jendra gunakan.


Akhirnya Melani masuk kedalam mobil setelah melihat Jendra mengangguk. Ia duduk tepat disamping bosnya yang tampak tampan dengan setelan batik dan celana panjang berwarna hitam itu.


Jendra melajukan mobilnya. Ia tertawa tanpa suara. Hanya mulutnya yang terbuka sedikit menampakkan gigi-gigi putihnya.


"Memang kebetulan atau disengaja, Mel? Batik kita sama." Tanya Jendra membuat Melani seketika menatap pria itu.


"Saya tidak tahu, Pak!" Balas Melani. "Kayla yang memberikannya pada saya. Katanya sih titipan dari pak Kalandra."

__ADS_1


"Tapi, mana mungkin pak Kalandra memberikannya khusus untuk saya. Memangnya saya siapa?"


Jendra tertawa. "Mungkin memang dresscode nya seperti ini, Mel."


Sampai di lokasi, Melani dan Jendra tak lantas berpisah. Keduanya tampak duduk berdekatan.


Melani sebenarnya merasa risih saat tak bisa jauh dari Jendra yang memintanya untuk tetap di dekat pria itu dengan alasan Melani tak mengenal siapapun.


Padahal Melani mengenal beberapa staff Rajaswa Group karena sering datang ke perusahaan Dewandaru untuk meeting dengan bosnya itu.


"Kita pamit pulang, Kal, Kay!" Pamit Jendra saat mereka sudah mengucapkan selamat pada pengantin yang sudah sah menjadi pasangan suami istri itu.


"Sudah makan, kan Jend?" Tanya Kalandra.


"Mbak Mel, sudah makan juga kan?" Tanya Kayla.


"Sudah Kay. Sekali lagi, selamat ya... Semoga kalian bahagia sampai tua."


"Amin." Ucap Jendra mengaminkan doa Kayla dan Kalandra sementara pria itu tahu pernikahan keduanya harus berakhir dalam satu tahun.


Ayolah! Jangan menatapku begitu! Bibir kalian tersenyum, tapi lirikan mata kalian padaku itu menusuk hingga ke jantung! Aku hanya bilang amin. Dan ku lihat kalian begitu cocok. Batin Jendra meluapkan apa yang ada dalam pikirannya.


Melani melihat ke arah Jendra dan sepasang pengantin yang tidak mengaminkan doanya secara bergantian.


"Temani saya ke mall sebentar, Mel!" Pinta Jendra mengemudikan mobil berlawanan arah dengan apartemennya.


Melani menghela nafas. "Tapi saya bukan bu Mona yang bisa menuruti perintah anda meski saat weekend sekalipun, Pak!" Jawab Melani sebagai bentuk penolakan.


"Sebentar saja. Hanya membeli kemeja atau jaket. Saya lupa bawa karena saya akan ke rumah pacar saya. Tidak mungkin kan saya memakai batik begini?"


Melani menghela nafas berat. Memakai batik juga tidak masalah. Yang penting masih memakai pakaian. Dia yang mau pacaran, mengapa aku yang direpotkan. Oh rajang, sabarlah sedikit, aku juga sudah merindukanmu untuk rebahan.


"Jangan lama-lama ya, Pak." Pinta Melani.


"Kenapa? Kamu ingin berkencan dengan pacarmu?" Tanya Kalandra.


Melani melengos. "Saya tidak punya pacar."


"Jadi, isu itu benar, Mel?" Tanya Jendra yang seketika langsung diam karena merasa telah salah bicara.


"Isu?" Melani mengerutkan kening. "Isu apa Pak?" Tanyanya lagi.


"Tidak ada yang berani mendekati kamu, karena kamu terlalu kaku jadi perempuan. Sehingga kamu masih menjomblo hingga sekarang."

__ADS_1


Salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman. "Tidak juga, Pak!"


"Apa karena kamu terlalu sombong, Mel?"


Melani menggeleng. "Sombong dari mana, Pak? Saya selalu tersenyum dan menyapa siapapun yang saya kenal."


"Lagi pula apa yang harus saya sombongkan? Kaya tidak, cantik juga tidak," ucap Melani membuat Jendra tertawa.


"Hanya sedang beruntung saja bisa menjadi sekretaris CEO."


Mereka tiba disebuah mall dan Jendra langsung masuk ke sebuah toko pakaian yang menjual pakaian khusus pria.


"Yang mana yang lebih bagus Mel?" Tanya Jendra yang menunjukkan dua hoodie di depan dadanya.


"Yang putih saja, Pak!" Jawab Melani saja melihat jaket hoodie berwarna putih itu tampak cocok jika dipakai oleh Jendra.


"Tapi saya suka yang biru." Ucap Jendra melihat kedua pakaian yang masih melekat di gantungannya itu.


Melani memutar bola matanya. Jika ingin memilih sendiri, untuk apa bertanya padaku? Batin Melani.


Akhirnya Melani bisa bernafas lega saat sudah keluar dari dalam mall setelah hampir satu jam menemani bosnya yang janji hanya sebentar saja.


Jendra menghubungi pacarnya. Hendak memberi tahu kalau ia akan datang sore ini.


Setelah mencoba menghubungi ke dua kalinya, panggilan itu baru di jawab. Membuat Jendra melirik Melani sekilas karena malu merasa diabaikan oleh pacarnya sendiri.


"Hallo, Jend?" sapa gadis itu terdengar ceria di telinganya. Kali ini Jendra menggunakan headset bluetooth sehingga Melani tidak mendengar suara gadis yang ia hubungi.


"Hallo sayang," balas Jendra tak kalah ceria. "Aku akan kesana siang ini," lanjut Jendra.


"Siang ini?" ada nada terkejut dalam pertanyaannya.


"Ya, kenapa?"


"Sebaiknya jangan, Jend!" Tolak gadis itu. "Aku sangat sibuk hari ini karena malam nanti ada yang akan menyewa tempat ini untuk merayakan ulang tahun."


Jendra menghela nafas. "Tidak masalah bagiku," jawab Jendra.


"Lebih baik jangan, karena aku tidak ingin memicu pertengkaran diantara kita jika aku mengacuhkanmu nanti," Balas gadis itu.


"Oh, ya sudah. Jika lelah, istirahatlah. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Jendra sebelum panggilan diakhiri.


Melani yang sedari tadi hanya mendengar ucapan Jendra, bisa menebak bahwa kehadiran pria itu ditolak. Tampak jelas dari ekspresi wajah dan nada bicara Jendra.

__ADS_1


Melani mencoba untuk tidak ikut campur. Apapun yang terjadi dalam hubungan Jendra dengan pacarnya bukan urusannya.


__ADS_2