Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 122 S2 Informasi


__ADS_3

"Ma, Pa, kami pulang!" teriak Jendra dari arah pintu depan. Ia menggandeng tangan Melani sementara dua koper milik mereka masih berada di dalam mobil.


Setalah dari rumah Marshella, mereka memutuskan untuk check out dari cottage dan langsung pulang ke rumah orang tua Jendra.


Jenar langsung menyambut kedatangan anak dan menantunya itu. Ia yang sudah mendengar sepenggal cerita dari Jendra mengenai orang tua kandung Melani turut merasa senang. Dan ia menunggu keduanya untuk mendengarkan seluruh ceritanya.


"Kamu bahagia, sayang?" tanya Jenar.


Melani mengangguk. "Sangat, Ma."


Melani mmenggenggam tangan Jenar. Kini keduanya berdiri saling berhadapan. "Aku sangat bahagia. Walaupun akan banyak hal terjadi di luar rencana, tapi semua ini sungguh-sungguh membuatku seperti menemukan diriku yang baru, Ma."


"Aku merasa seperti manusia yang baru dilahirkan," ucap Melani yang tersenyum meski air matanya kembali menetes.


"Sudah, Ma. Matanya sudah bengkak begitu. Jangan pancing tangisnya lagi!" Jendra jengah. Ia melewati tubuh istri dan mamanya begitu saja.


Jendra lebih memilih untuk duduk bersama papanya di ruang tv. Ia memang mengatakan akan pulang malam ini sehingga kedua orang tuanya menunggu kedatangan mereka.


Jenar dan Melani menyusul Jendra dan ikut bergabung di sofa. "Mama juga ikut bahagia, Jend."


"Jadi, apa salah kalau mama bertanya padanya?"


"Ceritanya besok saja, Ma. Biarkan dia istirahat."


Melani menggeleng. "Aku ingin cerita banyak hal pada mama."


Jenar tersenyum melirik putranya. Ia merasa menang.


"Nanti kamu nangis lagi?"


"Menangis itu baik untuk kesehatan, Mas!"


"Kata siapa?"


"Aku baru saja mengatakannya. Mama juga mendengarnya, kan?"


Jenar menahan tawa dan kembali mengangguk. "Ayo, sayang! Biarkan saja dia di sini bersama papanya."


Jenar dan Melani masuk ke dalam kamar yang biasa dipakai Jendra. "Kamu ingin ganti baju, Mel?"


"Nanti saja, Ma."


Mereka duduk di atas ranjang. Jenar duduk bersila dan memangku guling. Melani juga melakukan hal yang sama.


Melani menceritakan banyak hal pada Jenar. Ia menangis, bahkan tertawa. Lalu, sekarang wajahnya ditekuk.


"Menurut mama bagaimana? Apa aku salah jika ingin tinggal bersama bunda?"


"Selama ini, aku membantu biaya untuk kehidupan anak-anak di panti. Tapi, aku tidak tahu ternyata ibuku sendiri hidup dalam kondisi keuangan yang terbilang pas-pasan."


"Tapi, bunda menolak ikut denganku, Ma. Aku ingin mereka tinggal di apartemenku."


Jenar mengusap bahu Melani. "Mama tahu apa yang kamu rasakan, Mel."


"Fakta ini begitu mengejutkan sehingga kamu bersemangat sekali untuk membawa bundamu."


"Tapi, menurut mama, sebaiknya kamu fokus saja pada kesembuhan mama kamu."

__ADS_1


"Jangan buru-buru untuk memutuskan sesuatu hal."


"Jalani saja dulu apa yang ada di depan mata saat ini."


"Jika sakitnya sudah sembuh dan kesehatan mentalnya sudah kembali pulih, dia pasti akan ikut denganmu. Biarkan dia berdamai dengan keadaan dulu, Sayang."


"Percayalah, bundamu pasti akan segera sembuh setelah pertemuan kalian ini. Karena ia sudah menemukan kembali putri kesayangannya." Jenar meraih tangan Melani dan meletakkan kedua tangannya diatas punggung tangan Melani sebagai bentuk rasa pedulinya.


"Besok, mama akan ikut menemuinya supaya mama bisa menemaninya ke rumah sakit." Jenar tersenyum.


"Saran mama, kalian tetap di sini sampai beberapa hari ke depan."


"Tapi, apa Mas Jendra bisa, Ma? Bagaimana dengan urusan pekerjaan, Ma? Mas Jendra tidak mungkin bisa meninggalkan perusahaan dalam waktu yang lama."


"Jendra bisa mengatasi semuanya, Mel. Tenanglah! Kamu percayakan semuanya pada suami kamu."


Sementara itu, di ruang tamu, Jendra dan papanya sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius.


"Bagaimana, Pa? Sudah?" tanya Jendra setelah memastikan kedua wanita itu masuk ke dalam kamar.


Surendra sudah mencari informasi mengenai masalah yang terjadi di keluarga Melani. Ia memang pernah mendengar kabar pembu*nuhan itu. Tapi, karena teknologi komunikasi dan informasi belum secanggih saat ini, berita itu tidak begitu jelas kabarnya.


"Papa sudah mencari tahu mengenai keluarga Mirza Andrean."


"Dan informasi yang papa dapat hanyalah mengenai pembu*nuhan. Dan dari dua keluarga itu, yang selamat hanyalah seorang wanita yang keberadaannya saat itu sangat dirahasiakan."


"Dialah ibunya Melani, Pa."


"Pelakunya dihukum mat*," sambung papanya.


"Lalu, apa masih ada keturunan mereka yang masih tersisa, khususnya dari keluarga Mirza ini, Pa?"


"Kamu ingin tahu mengenai mereka?"


Jendra mengangguk lemah. "Apa mereka memiliki perusahaan juga, atau tidak?"


"Papa rasa tidak ada, karena perusahaan yang diperebutkan itu sudah bangkrut."


Jendra menghela nafas panjang. "Setidaknya, Melani dalam keadaan aman. Karena dari cerita nenek Gayatri, Melani adalah pewaris dari perusahaan itu."


"Aku hanya takut, jika sewaktu-waktu kami membawa ibunya Melani, dan ada yang mengenalinya, lalu ingin melakukan hal yang sama seperti 30 tahun lalu, setidaknya posisi kita lebih kuat dan kita bisa melindungi mereka berdua."


"Papa rasa, hal ini cukup keluarga kita saja yang tahu. Demi kebaikan mereka berdua, Jend."


Jendra mengangguk setuju. Entah mengapa, ia merasa ini adalah takdir yang sudah diatur sedemikian rapinya oleh sang Pencipta.


Ia menikah dengan Melani dalam tempo yang singkat setelah wanita itu menerimanya sebagai pasangan hidup. Mereka juga memilih liburan di kota ini. Dan saat ia berniat mencari tahu mengenai keluarga Melani, kebenaran malah terbuka dengan sejelas ini.


Apa jadinya jika ia tidak menikahi Melani? Mereka pasti tidak akan pergi bulan madu ke sini. Dan mungkin Melani tidak akan pernah tahu siapa ibu kandungnya.


Jendra masuk ke dalam kamar saat Jenar sudah keluar dari kamarnya. Jenar memintanya untuk menemani istrinya yang sedang banyak fikiran.


"Menangis lagi, hem?" tanya Jendra pada Melani.


Melani tertawa tanpa suara. "Tidak," ucapnya bohong. Tidak menangis? Mana mungkin karena air matanya bahkan jatuh tanpa ia minta.


"Jangan berbohong, mata kamu merah, Mel."

__ADS_1


"Ini sisa yang tadi, Mas."


Jendra duduk bersandar di headboard ranjang. Ia menarik Melani dalam pelukannya. Ia mengusap rambut istrinya itu.


"Jangan terlalu banyak fikiran, tidak baik untuk pengantin baru yang sedang program pembuatan manusia baru."


Melani tertawa. Ia bisa merasakan dagu Jendra menempel di atas kepalanya. Ia melingkarkan tangannya di perut Jendra.


"Semoga saja kita bisa segera menyusul Kayla dan Pak Kalandra."


Jendra mengangguk. "Aku juga berharap demikian, Sayang! Tapi, tidak mengapa kalau memang belum diberi titipan oleh Tuhan."


"Setidaknya kamu nikmati dulu kebahagiaan ini."


"Kamu punya semua orang yang menyayangi kamu."


"Tapi, soal ayahku, Mas."


"Sssst!" Jendra mengusap lengan Melani dan mendekap tubuh itu dengan erat.


"Doakan saja, semoga beliau diberikan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan."


Keduanya diam cukup lama. Melani setuju dengan apa yang Jendra ucapkan. Mendoakan mereka semua adalah sesuatu yang paling baik.


"Sempat terlintas di benakku, Mas. Apakah boleh aku membalas perbuatan orang itu?"


Jendra mengusap kepala Melani. "Untuk apa?"


"Untuk mengotori tangan kamu?"


"Lagi pula, pelakunya sudah diberi hukuman mat*, sayang."


"Tapi, aku merasa tidak adil bagiku, Mas. Dia menghancurkan hidupku hanya karena keserakahannya."


"Dan dia sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Dia juga tidak lagi bisa hidup bersama keluarganya. Padahal mungkin tujuan awalnya, ia ingin seluruh kekayaan itu diberikan kepadanya untuk membahagiakan keluarganya."


Melani mengangkat bahu. "Mas, bukankah ayahku sangat tampan?" tanyanya saat ia mengingat wajah ayahnya meski hanya dari sebuah foto yang sudah usang.


Jendra mengiyakan. "Tentu. Putrinya saja cantik begini."


Melani tertawa. "Aku cantik?" Ia menatap suaminya dengan mendongakkan kepala.


"Ya, jika tidak, mana mungkin aku jatuh cinta."


Melani memeluk erat suaminya. "Terima kasih sudah menikahiku karena hal itu akhirnya membuatku bisa bertemu dengan ibu kandungku, Mas."


"Harapan yang tidak pernah ku harapkan untuk menjadi kenyataan sangking tidak mungkinnya bagiku."


"Kamu tahu, sayang. Dia wanita hebat yang bahkan tidak memikirkan keselamatannya demi menyelamatkan kamu."


"Dia bisa saja membawa kamu dalam dekapannya saat kejadian itu."


"Tapi, dengan begitu belum tentu kalian berdua akan selamat."


"Dia meminta suami nenek Gayatri untuk melindungimu, menyebunyikan kamu, atau mungkin menitipkan kamu pada seseorang."


"Kamu benar, Mas. Dia bahkan pura-pura mengikhlaskan kemat*ianku yang jasadnya tidak ditemukan hanya supaya aku tidak dicari lagi."

__ADS_1


"Seandainya ada yang tahu kalau aku masih hidup, pasti aku masih diincar, Mas."


Jendra mengangguk. "Rencana Tuhan memang yang terbaik, Sayang."


__ADS_2