Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 95 S2 Rumah Sakit


__ADS_3

Akhir pekan menjadi waktu yang paling pas bagi seorang jomblo ngenes seperti Melani untuk me time tanpa ada yang mengganggu.


Ia sudah membuat daftar film yang akan ia tonton selama dua hari ini. Mulai dari yang bergenre romatis, komedi hingga horor.


Tapi, sebelum duduk di depan laptop dengan segudang cemilan, ia harus membereskan apartemennya terlebih dahulu. Mengepel sekali dalam seminggu sudah cukup membuat hunian petak di lantai 7 ini tetap bersih.


"Lantai, beres. Cucian, beres. Sarapan, sudah."


"Waktunya mandi dan berha-ha-hi-hi menonton film komedi!" Melani melenggang senang menuju kamarnya. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak ada bathub, jadi tidak mungkin ia berendam. Ia bahkan mandi masih menggunakan gayung. Shower yang masih menggantung di dinding di atas kepalanya sangat jarang ia gunakan.


Ia segera memakai pakaiannya, celana kulot sepanjang betis dan kaos menjadi outfit paling nyaman saat bersantai.


"Oke, waktunya menikmati hari libur!" Melani menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dimana sudah ada laptop diatas bantal.


"Derrrt... derrt..."


Getar ponsel membuatnya segera mengambil benda pipih itu diatas nakas.


"Ya Tuhan, hari libur begini, mengapa masih harus melihat panggilan dari pak Jendra sih?" Ia mengeluh saat nama atasannya itu muncul di layar ponsel.


"Hallo, Pak!" sapanya malas.


"Mel, segera bersiap! Saya akan menjemput kamu dalam setengah jam. Saya sudah di jalan."


Melani mengerutkan kening. Memang benar pria itu sedang di jalan karena terdengar suara klakson kendaraan di sela-sela ucapannya.


"Bersiap? Bersiap untuk apa, Pak? Untuk apa-"


"Jangan banyak tanya! Kita ke Bali sekarang!"


tut... tut... tut...


Melani melongo melihat layar ponselnya. Jendra sudah mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


Melani menghela nafas. Ia melangkahkan kakinya dengan malas. "Untuk apa pak Jendra mendadak pergi ke Bali?"


"Untuk apa juga mengajakku?" Melani melepar asal kopernya ke atas ranjang.


"Dia memang sesukanya saja memerintahku. Apa dia fikir aku tidak ingin hidup tenang tanpa direpotkan olehnya?"


Melani membawa pakaian yang sekiranya bisa dipakai untuk acara formal dan informal.


Ia melihat dirinya di cermin. Ia menghembuskan nafas kasar. "Mengapa setiap kali ke Bali, aku tidak pernah sempat untuk make up?"


Ia ingat saat liburan beberapa bulan lalu, ia hanya punya waktu sedikit untuk bersiap, dan penyebabnya juga pria itu.


Melani berjalan secepat kilat agar segera sampai di lantai bawah. Pria tampan yang sudah lebih dari tiga tahun terakhir selalu ia lihat setiap hari ini sudah berkali-kali menghubunginya.

__ADS_1


Melani disambut oleh mobil pria itu. Mobil jenis minibus berwarna putih yang sepertinya tidak dikemudikan sendiri oleh Jendra.


"Masuk!" perintah Jendra yang sudah membuka pintu mobil.


Melani dan Jendra segera menuju bandara. Keduanya duduk bersebelahan.


"Pak, sedikit lebih cepat! Saya tidak ingin ketinggalan pesawat!" Perintah Jendra pada supirnya.


Jendra melirik Melani yang masih tampak fresh, apalagi rambut wanita disampingnya itu masih sedikit basah. Aroma samponya pun tercium hingga indera penciuman Jendra.


"Kita akan kemana, Pak?"


"Saya sudah katakan, kita akan ke Bali!"


Ponselnya berdering. Jendra menjawab panggilan dari papanya.


"Ya, Pa. Jendra segera kesana..."


"Tenang, Pa. Mama pasti akan baik-baik saja!"


Melani mengerutkan kening, tapi ia kini tahu mengapa Jendra mengajaknya untuk ikut ke Bali. Ternyata telah terjadi sesuatu pada mamanya.


"Mama saya jatuh dan ditemukan pingsan di dapur, pagi ini. Papa sangat khawatir dan meminta saya segera datang."


"Maaf, saya merepotkan kamu, Mel." Jendra menatap Melani yang mengangguk.


"Saya tidak tahu harus meminta siapa untuk menemani saya."


"Fikiran saya kalut, karena saya takut terjadi sesuatu pada mama saya."


"Dan dalam keadaan seperti ini, saya tidak ingin pergi sendiri."


Melani memang melihat wajah Jendra tampak kusut. Melani tahu, pria itu pasti sedang merasa khawatir pada keadaan mamanya.


"Tolong cek, apakah saya memilih penerbangan yang benar, Mel?"


Melani sedikit terkejut saat Jendra memintanya memeriksa tiket yang pria itu pesan dari ponselnya.


Dia tidak yakin dengan tiket yang ia pesan? Astaga, Pak? Mengapa tidak meminta bantuanku seperti biasanya?


Sudah terlalu sering, Melani yang selalu mengurus keperluan Jendra, termasuk memesan tiket pesawat hingga kamar hotel jika pria itu bepergian kemana saja, bail untuk urusan pribadi atau pekerjaan.


Melani melihat, Jendra memesan dua tiket kelas bisnis di salah satu maskapai.


"Sudah benar, Pak. Kita akan berangkat dalam satu jam."


"Semoga saja, tidak tertinggal pesawat!"


Jendra mengangguk.

__ADS_1


Setelah lebih dari tiga jam, mereka akhirnya tiba disebuah rumah sakit di kota tujuan.


Jendra menarik tangan Melani untuk segera masuk ke dalam gedung rumah sakit. Segala barang bawaan mereka berada di dalam mobil yang menjemput mereka di bandara.


"Pa, bagaimana keadaan mama?" tanya Jendra saat melihat papanya sedang berjalan dari ruangan dokter.


"Mama sudah mulai membaik. Ayo, ikut papa."


Jendra dan Melani berjalan di belakang pria tua yang mereka tidak ketahui tengah tersenyum itu. Surendra tersenyum geli saat melihat tangan Jendra begitu erat menggandeng tangan Melani. Jemari putranya itu bahkan saling bertautan dengan jemari Melani.


Mengapa mereka tidak bisa merasakan kenyamana itu? Aku saja bisa melihat, mereka begitu serasi dan saling melengkapi. Batin Surendra.


Melani dan Jendra masuk ke dalam ruangan rawat itu dan berdiri disamping ranjang wanita yang berbaring dengan posisi agak tegak.


"Mama..." Jendra ingin mencium punggung tangan mamanya, dan saat itulah ia sadar bahwa tangan kanannya masih menggenggam tangan sekretarisnya.


Melani dan Jendra sama-sama menatap kearah tangan mereka. Lalu dengan perasaan canggung, Jendra melepaskan dengan cepat.


"Mama, kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Jendra yang mengusap tangan mamanya.


Jenahara tersenyum kecil. Wajahnya masih tampak pucat. "Mama baik-baik saja, Jend. Tidak perlu khawatir."


"Apa papa yang meminta kamu untuk datang?"


Jendra mengangguk. "Papa menghubungi dan memintaku untuk datang."


Jenahara menatap suaminya. "Mengapa papa meminta Jendra datang? Mama baik-baik saja, Pa."


"Papa panik, Ma. Papa hanya takut terjadi sesuatu pada mama karena ini untuk pertama kalinya papa melihat mama pingsan."


"Sudah, Ma. Jangan berdebat lagi. Aku justru senang karena papa menghubungiku."


"Aku akan mengatur kepindahan kalian ke Jakarta!"


Jendra membuat keputusan yang mengejutkan bagi orang tuanya.


"Aku akan merasa tenang kalau kalian tinggal di dekatku. Aku akan carikan rumah, atau mungkin lahan yang hampir mirip dengan rumah kalian."


"Tidak!" jawab kedua orang tuanya kompak.


"Disini sangat nyaman, Jend. Mama dan papa sudah sangat betah tinggal di sini."


"Tapi, aku tidak suka dengan perasaan khawatir seperti tadi, Ma," ucap Jendra dengan penekanan.


"Aku tidak bisa, jika harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk melihat mama dan papa. Terlebih saat situasi seperti ini."


"Jend, jangan hanya karena mama pingsan, kamu ingin membuat kami pindah dari kota ini."


"Mama... please!"

__ADS_1


Jenahara memejamkan mata, karena kepalanya terasa pusing. Jendra seketika menjadi panik.


"Jangan bahas masalah ini dulu, kalau kamu ingin mama segera sembuh!" ucap Surendra marah pada putranya.


__ADS_2