
Kayla tidak ikut dalam meeting yang dihadiri oleh Jendra dan Kalandra serta seorang pria yang merupakan suami Clara.
Ia setia menunggu di meja kerjanya, meng-handle setiap staff yang datang untuk bertemu Jendra.
Meeting hanya berlangsung sekitar 40 menit, membuat Kayla memicing curiga. Terlalu cepat untuk membahas proyek bermasalah.
Tampak pria yang merupakan suami Clara itu berjalan tegap dengan ditemani dua orang pria dibelakangnya.
Kayla menarik tangan Melani saat wanita itu sudah kembali ke meja kerja. Sementara Kalandra dan Jendra masih berada di ruang meeting.
Wajah lesu Melani membuat Kayla semakin penasaran. "Mbak, kalian membahas apa sih? Mengapa cepat sekali?"
Melani menghela nafas. "Panjang ceritanya, Kay!" Melani berusaha mengelak saat Kayla menanyakan perihal meeting itu.
Sejak pagi, Melani tidak memberi tahu tentang meeting ini. Gadis itu malah mengaku juga tidak tahu mengenai meeting yang dilakukan secara mendadak itu.
"Kalau panjang, ceritakan sekarang, Mbak!" paksa Kayla yang masih menahan tangan Melani. "Mumpung mereka belum kembali." Yang di maksud adalah Kalandra dan Jendra.
"Kamu mengapa jadi serba ingin tahu begini, Kay?" tanya Melani curiga.
"Hehehe, karena menyangkut suamiku, Mbak!" jawabnya.
Melani tersenyum. "Tidak ada bu Clara, masih cemburu saja!" goda Melani.
"Hahaha... Aku hanya takut ada hal yang tidak aku ketahui karena mas Kalandra enggan bercerita, Mbak!"
Melani duduk di kursi kerjanya. "Intinya, meeting kali ini membawa berita buruk untuk kita."
Kayla membulatkan mata. Berita buruk untuk kita? Apa itu untuknya? atau untuk mas Kalandra juga.
"Berita apa, Mbak?" tanya Kayla makin penasaran.
"Pak Jendra dan Pak Kalandra harus siap dipanggil oleh pihak kepolisian terkait dugaan pencucian uang yang Clara lakukan."
Kayla menghela nafas berat. "Bagaimana bisa, Mbak?"
"Clara melarikan uang suaminya hingga. 30 Milyar."
Kayla kembali membulatkan mata. Bayaran 30 juta perbulan yang mas Kalandra berikan saja belum tahu akan ku habiskan untuk apa. Tapi Clara malah membawa lari uang sebesar itu dari suaminya sendiri.
"Ti-tiga puluh milyar?" Kayla tergagap. "Uang sebanyak itu ia bawa kabur, Mbak?"
Melani mengangguk. "Dan sekarang, Bu Clara sudah berada di dalam penjara."
"Suaminya tadi menceritakan sedikit mengenai dirinya yang terus berusaha mencari Bu Clara. Ternyata selama ini, Bu Clara bersembunyi di sebuah pulau kecil."
"Memang benar, Kay! Uang bisa mengatur segalanya. Bu Clara yang sembunyi di lubang semut saja bisa ditemukan," ucap Melani.
***
__ADS_1
Sementara itu, di ruang meeting masih menyisakan dua pria yang enggan untuk keluar.
"Harusnya aku tidak perlu menerima kerja sama darinya, Kal!" ucap Jendra kesal karena ternyata kemunculan Clara setelah bertahun-tahun malah membuatnya terlibat dalam sebuah kasus.
Meski bukan sebagai tersangka, tapi ia malas berhubungan dengan pihak berwajib.
"Ya, kita juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini, Jend," balas Kalandra yang juga tampak menyesal.
"Sepertinya suaminya itu sangat marah padanya. Kalau tidak, harusnya kan masalah ini bisa mereka selesaikan secara kekeluargaan. Bukan dengan melibatkan pihak kepolisian!"
Jendra mengangkat bahu. "Yang terpenting, aku tidak ingin berita ini membuat citra perusahaan menjadi buruk."
Kalandra menghela nafas. "Semoga kasus ini segera selesai sebelum aku pergi liburan."
Jendra tertawa. "Masih saja memikirkan liburan!"
"Buat saja baby di hotel bintang 5, itu pasti tidak lebih buruk dari pada membuatnya diluar negeri," lanjut Jendra.
"Terserah padaku, Jend!" balas Kalandra kesal. "Aku yang ingin membuatnya, mengapa kamu yang mengatur?"
"Akan ku tunjukkan padamu betapa kerennya baby dengan label made in New Yor*k!"
Jendra tertawa geli. "Sudah bisa ku bayangkan sih, Kal!" Jendra mencoba membayangkannya.
"Baby dengan price tag di kakinya. May be, sekitar 1000 US Dolar." Hahaha... Jendra kembali tertawa.
Kalandra merapihkan jasnya. "Dari pada berbicara denganmu, lebih baik aku menemui istriku!" Kalandra berjalan keluar dari ruang meeting.
"Istri tercinta yang halal disentuh dan membuatku bahagia setiap hari."
Jendra menyusul pria itu. "Apa memang begitu, Kal?"
"Apanya yang begitu?" tanyanya.
"Pria yang tidak pernah pacaran, akan menjadi sebucin ini setelah jatuh cinta?"
Kalandra mengangkat bahu. "Entahlah, tapi yang pasti aku tidak bisa lepas darinya. Aku tidak bisa jauh-jauh darinya."
"Jen, jadwal liburan akan ku percepat seminggu dari jadwal cuti yang ku ajukan."
"Jangan membuatku gil* dengan keputusan yang kamu buat sesuka hati, Kal!" Marah Jendra karena Kalandra sesukanya saja mengubah jadwal cuti Kayla yang sudah ia setujui.
"Aku takut kami kehabisan waktu musim dingin, Jend. Kayla ingin bermain salju dan jika kami terlambat datang, aku khawatir sudah masuk musim semi."
"Terserah padamu!" Jendra mengalah lagi. Bukan karena Kalandra merupakan sahabatnya, tapi karena tidak ada pekerjaan yang menumpuk di jadwal cuti Kayla. Jadi, Ia dan Melani bisa mengatasi semuanya.
"Aku ingin voucher di Bar ternama di Bali!" Jendra tidak ingin menyianyiakan kesempatan.
Bukan tidak mampu membayar, tapi ia hanya ingin Kalandra bekerja keras membayar kerja kerasnya dan Melani selama Kayla cuti.
__ADS_1
"Ck! Dari mana aku mendapatkannya?" tanya Kalandra.
"Dari aplikasi!" Jendra hanya memberi clue. Padahal ia bisa melakukannya sendiri. Mendapatkan voucher makan dan minum di restauran dan bar ternama di pulau Dewata itu.
"Oke. Akan ku urus!"
"Hai sayang!" Sapa Kalandra pada Kayla yang sedang berbicara dengan Melani.
"Sayang!" Kayla mendekati Kalandra dan melingkarkan tangan di perut suaminya.
"Are you okay?" tanya Kayla.
Kalandra mengerutkan kening. "Tentu. Aku selalu oke!" jawabnya sambil mengerling.
Kayla mencubit perut berbalut jas itu. "Genit sekali! Jangan berikan kerlingan itu pada siapapun!"
"Tentu. Karena kerlingan dan seluruh tatapanku hanya akan tertuju padamu."
"Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh! Yang biarkan semua ini permainkanku berulang-ulang kali!" Jendra sengaja melewati tubuh sepasang manusia yang sedang kasmaran itu sambil bernyanyi. Lagu Ada Band yang berjudul Manusia Bodoh. Entah untuk menyindir dirinya, atau pasangan pengantin baru itu.
Yang pasti, saat pintu ruangannya tertutup, Melani tak mampu lagi menahan tawanya.
"Hahaha... Selain singa gil*, ternyata dia mengakui bahwa dia manusia bod*h!" ucap Melani hati-hati takut Jendra mendengarnya.
"Sssst!" Jendra kembali muncul di pintu. "Pelan-pelan, Mel. Saya dengar!"
"Brak!" pintu kaca itu kembali tertutup.
Kali ini Kayla dan Kalandra yang tertawa. "Astaga Melani!" Keluh Kalandra disela tawanya. "Kamu memang yang paling berani!"
"Tapi aku salut! Aku akan berikan acungan dua jempolku untuk sikap bar-bar mu yang tidak melihat situasi dan kondisi!"
Kalandra tertawa puas. Karena baru kali ini Ia melihat ada wanita yang tidak bersikap manis di depan Jendra. Biasanya para wanita akan bersikap manis demi merebut perhatian pria yang merupakan satu-satunya pewaris Dewandaru Group itu.
"Sepertinya hanya kamu, wanita yang tidak terjerat pesona Jendra!"
Melani meringis. Tidak mungkin ia terpesona dengan bos yang mengatur dirinya sesuka hati. Meminta kopi, meminta ditemani makan dan semenjak menjomblo, Jendra sering meminta Melani membelikan pakaian kerja untuknya.
"Tidak juga, Pak. Ada satu wanita lagi!" jawab Melani.
"Siapa?" tanya Kalandra cepat.
"Istri anda!"
Kalandra menatap Kayla dan mengecup keningnya beberapa kali. "Bagus! Jangan sampai kamu terpesona dengan playboy yang suka celup sana sini itu!"
Melani membuang muka. Ia merasa malu sendiri dengan apa yang dilihatnya. Lalu bagaimana dengan Kayla? Wanita itu malah tertawa saat mendapat ciuman berulang dari suaminya.
Apa jatuh cinta bisa membuat urat malu seseorang terputus? Kayla bahkan bisa jadi semanis itu. Padahal selama ini dia sebelas dua belas denganku? batin Melani.
__ADS_1