
Jendra melanjukan mobilnya ke sebuah kota yang jaraknya lumayan jauh. Ia memerlukan waktu lebih dari dua jam jika jalanan ramai untuk tiba disana.
Menjelang akhir pekan ini, ia putuskan untuk pergi menemui gadis yang berstatus sebagai pacarnya itu. Jendra sengaja membawa pakaian ganti dari rumah jadi ia tak perlu lagi pulang atau membeli yang baru.
Jendra juga sengaja tidak ingin menghubungi pacarnya karena ia tak ingin ditolak lagi. Ia sudah membulatkan hati untuk melamar dan mendatangi langsung rumah orang tua pacarnya itu.
Jendra sudah menyiapkan satu cincin yang ia beli beberapa hari lalu. Ia merasa ini terlalu terburu-buru, tapi ia benar-benar ingin menjadikan gadis itu sebagai istrinya.
Ia memang playboy, tapi bukankah ia berhak memilih wanita baik-baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak?
Jendra tiba di sebuah rumah petak berdesain minimalis. Ia masuk ke rumah itu dan disambut baik oleh seorang wanita berusia 50 tahunan yang tampak pucat karena sedang menderita sakit.
"Masuk, Nak!" Perintah wanita itu sambil membukakan pintu.
Jendra masuk ke dalam. Wanita tua itu mengenal Jendra dengan baik karena Jendra beberapa kali datang ke rumah ini.
Sebenarnya, ayah dari gadis yang kini menjadi pacarnya itu adalah salah satu buruh yang bekerja di proyek yang ditangani perusahaan Jendra beberapa bulan lalu. Namun sayang, ayah dari gadis itu meninggal karena sakit mendadak.
Jendra untuk pertama kalinya bertemu gadis itu di rumah ini, saat ia menyampaikan belasungkawa.
Terdengar aneh memang, seorang CEO turun langsung melayat ke rumah seorang buruh. Tapi, Jendra malah menganggap itu sebagai jalan yang sudah Tuhan atur agar ia bisa bertemu dengan gadis itu.
"Yaya sedang di kedai kopi, Nak. Kamu tidak mampir kesana?" tanya wanita tua itu.
Cahaya. Gadis itu bernama Cahaya dan biasa dipanggil Yaya. Cantik dan lemah lembut, membuat Jendra terpikat dan membayangkan gadis itu menjadi ibu dari anak-anaknya.
Jendra menggeleng. "Tidak, Bu. Saya tidak ke sana. Sengaja, karena mau menunggu Yaya di rumah, sekalian ingin bicara dengan ibu."
"Tidak apa-apa kan, Bu?" tanya Jendra dan membuat wanita yang duduk dihadapannya itu mengangguk dengan senyum kecil.
"Tidak apa-apa. Tapi mungkin Yaya akan pulang larut malam."
Jendra melihat jam tangannya, masih jam 7 malam. Masih lama untuk menunggu kepulangan Yaya yang biasanya akan tutup sekitar jam 10 atau 11 malam.
"Tidak masalah, Bu. Saya akan menunggu di teras nanti."
"Tidak perlu, Nak. Tunggu saja di dalam karena sepertinya akan turun hujan."
__ADS_1
Jendra mengangguk. Benar saja, angin mulai bertiup agak kencang. Dan udara mulai terasa dingin.
Jendra menolak saat wanita itu ingin membuatkannya teh. Ia tidak ingin merepotkan pemilik rumah ini. Lagi pula, ia sempat membeli kopi di jalan yang ia minum di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah ini.
"Bu, sebenarnya saya datang ke sini, dengan satu maksud baik..." Jendra mulai berbicara serius mumpung Yaya belum pulang. Biar bagaimana pun, ia harus minta izin orang tua gadis itu sebelum benar-benar melamarnya.
"Saya berniat menjalin satu hubungan yang lebih serius dengan Yaya..."
"Assalamualaikum," suara gadis bernama Yaya membuat pembicaraan Jendra terpotong.
Jendra melihat Yaya masuk ke dalam dan seketika wajah gadis itu tampak terkejut saat melihat dirinya sedang duduk bersama ibu gadis itu.
Sementara itu Jendra lebih terkejut karena ternyata Yaya tengah menggandeng lengan kekar seorang pria dengan berewok di sekitar janggutnya.
"Yaya, kamu sudah pulang, Nak." Ibunya Yaya tak kalah terkejut karena melihat putrinya masuk ke dalam rumah bersama pria lain sementara pacar putrinya sedang duduk bersamanya di ruang tamu sempit ini.
"Ma-s Jendra?" tanya Yaya gugup. Ia menatap pria yang ia gandeng. Saking asyiknya bercanda dengan pria disampingnya, Yaya tidak menyadari kalau mobil yang terparkir di tanah kosong tak jauh dari rumahnya merupakan mobil Jendra.
Pria itu tampak mengangguk dan mengeratkan genggaman tangan mereka.
Jendra merasa ada yang tidak beres. Mengapa gadis yang ia akui sebagai pacarnya malah menggandeng pria lain?
Jendra berhenti menebak-nebak, karena dia sudah tahu kemana ending dari kecanggungan ini.
Yaya dengan wajah penuh ketakutan duduk disamping ibunya dan pria itu selalu mendampinginya.
Hal itu semakin membuat Jendra yakin, ia berasa di tempat dan waktu yang salah.
"Bu..." Yaya memegang bahu ibunya.
Suaranya dibuat selembut mungkin agar wanita yang tengah sakit itu tidak panik dan syok. Wanita yang menderita sakit maag yang lumayan parah itu menatap putrinya.
"Ada yang harus Yaya bicarakan dengan ibu."
"Apa hubungan kamu dengan dia, Ya?" tanyanya dengan suara lembut sambil menunjuk pria yang datang bersama Yaya dengan dagunya.
"Dia..." Yaya menunduk tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Saya calon suaminya Yaya, Bu!" pria itu membuat wanita itu terkejut.
Jendra tak mampu berkata-kata lagi. Sebuah dentuman keras memporak-porandakan perasaannya.
Dia, playboy yang selalu dikejar banyak gadis, hari ini terbukti telah diselingkuhi oleh pacarnya sendiri! Ini karma atau ujian?
"Lalu, Nak Jendra? Kamu masih memiliki hubungan dengannya, kan Nak?"
Yaya menatap Jendra dan mengangguk pelan. "Maafkan saya!" Hanya itu yang terucap dari bibir gadis yang sudah meneteskan air mata itu.
"Lalu kenapa dia yang menjadi calon suami kamu, Yaya?" tanya ibunya dengan memegang kedua bahu Yaya dan mengguncangnya pelan.
"Karena... karena..." Yaya tak berani menatap wajah ibunya. Gadis itu terus menunduk dan mere*mas jemari tangannya.
Jendra tak kalah penasaran. Ia menunggu sebuah penjelasan mengapa sampai ia di duakan saat ia sudah berniat serius dalam hubungan ini.
"Karena Yaya sedang mengandung anakku, Bu!"
Duaaarr!
Suara guntur menyambut pengakuan pria itu. Tanda hujan akan turun sebentar lagi.
Suara guntur itu tak membuat Jendra terkejut setelah pengakuan paling mengejutkan itu.
Jendra dan ibu si gadis berdiri dari kursinya. Tak menyangka gadis sebaik dan sepolos Yaya bisa hamil sebelum menikah.
Jendra tak mampu menahan dentuman dasyat dalam hati untuk ke dua kalinya. Kali ini, ia merasa seperti orang bodoh yang mengharap balasan cinta dari gadis yang telah bersama pria lain.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," ucapnya dengan suara bergetar.
"Dan ya, saya rasa setelah ini kita tidak ada urusan apapun lagi," ucap Jendra menatap Yaya sekilas.
Yaya mengangguk lemah. Yaya segera menopang tubuh ibunya karena tubuh wanita tua itu limbung.
Jendra keluar dari rumah itu dengan tangan dan kaki yang terasa lemas. Tapi, siapa sangka pria yang mengaku sebagai ayah dari bayi yang Yaya kandung mengikutinya.
"Maaf atas keadaan ini," ucap pria yang masih berdiri di depan pintu itu.
__ADS_1
Jendra menatap pria itu dan mengangguk. Sebagai pria gentle, ia tak ingin melayangkan sebuah pukulan ke wajah pria itu. Meski tangannya sudah mengepal.
"Aku dan Yaya saling mencintai. Jadi, ku harap jangan pernah kembali lagi."