
Kayla dan Riana baru pulang dari berbelanja saat waktu sudah menunjukkan hampir jam 7 malam. Mereka menghabiskan beberapa jam untuk membeli cukup banyak barang belanjaan.
Kayla perlahan mulai mengenal Riana dengan baik. Ia banyak mendengar cerita dari Riana tentang Kalandra di masa kecilnya.
Kayla meletakkan paperbag di meja yang berada di dalam kamarnya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dinginnya air kran membuat tubuhnya terasa segar kembali.
Ia melihat interior mewah di dalam kamar mandi berukuran 2x4 meter itu. Tidak terlalu luas memang, tapi sangat berbanding terbalik dengan kamar mandi di rumahnya.
Ia merasa beruntung bisa berada di rumah ini dengan status tidak lagi menjadi istri kontak, melainkan istri sungguhan yang diakui oleh suaminya sendiri.
Kayla segera berganti pakaian. Dan satu hal yang baru ia sadari, ia belum melihat suaminya sejak tadi.
"Mas Kalandra kemana? Aku belum melihatnya sejak pulang tadi." gumam Kayla saat menyisir rambutnya.
Ia segera turun ke lantai bawah, tapi tidak menemukan Kalandra di sana. Jika belum pulang dari kantor, tidak mungkin mobil pria itu ada di garasi rumah mereka.
"Mas Kalandra dimana ya, Bi? Bibi melihatnya tidak?" tanya Kayla pada Bi Marni yang kebetulan sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam mereka.
"Oh, Mas Kalandra sedang berada di ruang gym, Non," jawab Bi Marni. "Mas Kalandra juga baru saja menelpon untuk diantarkan air dingin ke sana."
Kayla mengangguk. "Biar saya saja yang mengantar, Bi."
"Bibi persiapkan makan malam ini saja," Kayla mengambil sebotol air dingin dan segera naik ke lantai atas.
Ruang gym ada di lantai dua, tak jauh dari kamarnya. Kayla cukup kagum pada Kalandra yang menyempatkan diri untuk berolah raga disela-sela kesibukan pria itu.
Kayla membuka pintu ruangan yang sudah terdengar musik klasik dengan volume kecil. Kalandra memang selalu menyetel musik klasik untuk menenangkan fikiran.
"Mas, ini minumnya," ucap Kayla sambil meletakkan minuman di sebuah bangku panjang di sisi kanan ruangan itu. Di depannya, hanya jarak 2 meter, Kalandra sedang berjalan pelan diatas treadmill.
"Sudah pulang, Sayang!" tanya Kalandra dengan suara lembut.
Ah, kata manis yang selalu berhasil membuat pipi Kayla bersemu merah.
"Bagaimana girls time-nya. Seru?" Kalandra menatap istrinya.
"Sangat seru. Tapi, kami menghabiskan banyak uang kamu, Mas!"
"Membeli ini dan itu, dari barang-barang yang penting hingga yang tidak terlalu penting menurutku."
Kalandra tersenyum. "Tidak masalah. Yang terpenting, kamu dan mama sama-sama bahagia."
"Kamu tidak marah, Mas?" tanya Kayla.
"Tidak, Kayla. Jika aku marah, aku sudah menghubungi kalian saat sebuah pesan notifikasi penggunaan credit card masuk di ponselku."
"Ck!" decak Kayla. "Aku hampir lupa, kalau aku telah dinikahi oleh pria kaya."
__ADS_1
Kalandra tertawa. "Merasa beruntung, uh?" tanya Kalandra.
Kayla tertawa. "Tidak juga."
"Mengapa begitu? Bukankah menikah dengan pria kaya menjadi impian banyak gadis? Maksudku, tidak semua sih, tapi kebanyakan pasti ingin hidup mapan setelah menikah."
Kayla tersenyum kecil. Ia meluruskan kakinya dan menatap kakinya yang ia gerakkan ke kanan dan ke kiri.
"Aku tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan pria kaya, Mas." ucap Kayla jujur.
"Bahkan menikah saja belum sempat melintas dalam pikiranku." Ya, dia masih sibuk bekerja keras untuk melunasi hutang.
"Tujuan hidupku hanya satu, yaitu berkecukupan," lanjutnya kembali.
"Setelah ayah tiada, aku merasa harus memiliki..." Kayla menjeda ucapannya. "Ya, minimal tabunganlah! Karena suatu saat, jika aku susah nanti, aku tidak punya siapapun lagi yang bisa menolongku."
Kalandra turun dari treadmill. Ia duduk di samping Kayla. Menyeka keringat dengan handuk kecil dan menenggak minuman dingin itu.
"Sekarang, kamu tidak sendiri lagi, Kay!" Kalandra menutup botol minum dan meletakkannya kembali.
Ia merangkul bahu Kayla. "Kamu punya kami sekarang. Ada aku, mama, Oma dan semua keluargaku menjadi keluargamu juga."
"Aku punya harta yang mudah-mudahan cukup untuk kehidupan kita kedepannya."
Kayla merebahkan kepalanya di bahu Kalanda. Ia tidak peduli meski bahu kekar berkekar yang tidak tertutup baju karena Kalandra mengenakan kaos tanpa lengan itu masih berkeringat.
Kalandra mengusap rambut Kayla. "Hidupku juga mengalami banyak perubahan Kay!"
"Tapi aku bersyukur atas perubahan itu."
Banyak hal yang berubah dalam hidupnya. Ia menjadi suami, ia dan mamanya kembali akur. Dan Reyga memilih hidup terpisah bersama Gia,- wanita yang membuatnya sedikit tidak nyaman tinggal di rumah ini.
Keduanya saling diam dan menikmati kebersamaan mereka. Kayla menjauhkan kepalanya dari bahu Kalandra.
"Sebaiknya kamu mandi, Mas. Oma dan mama sudah menunggu kita untuk makan malam."
Kalandra mengusap pucuk kepalanya. "Mandikan aku, Kay. Aku masih capek!"
Kayla mengulu*m senyum. "Jangan manja, Mas!"
"Ayolah, Sayang!" rengek Kalandra.
Kayla tertawa. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan suaminya. "Kamu sudah dewasa, Mas."
"Biasanya juga mandi sendiri."
Kalandra terus merengek yang dibuat-buat. Pria itu mengekor dibelakang Kayla.
__ADS_1
Kayla masuk ke dalam kamar dan mengalungkan handuk bersih yang baru ia ambil dari lemari ke leher Kalandra.
"Masuk kamar mandi, Sekarang Mas!" Kayla mendorong punggung Kalandra pelan.
Pria itu masih merengek. "Lima juta untuk satu kali memandikan!"
Kayla tertawa. "Kamu bukan kucing anggora, Mas. Dan aku bukan pemilik salon kucing!"
"Mandi sendiri!" Kayla mengunci Kalandra dari luar.
"Serius aku mandi sendiri, nih?"
"Kamu pilih aku mandikan dengan konsekunsi libur dua malam, Mas?" Kayla membungkam mulutnya menahan tawa.
Kalandra tak menjawab lagi. Sudah jelas ia menolak syarat itu.
Keduanya baru turun sekitar jam setengah delapan malam. Oma dan Riana sudah menunggu di meja makan.
"Mengapa tidak makan duluan, Oma, Ma?" tanya Kalandra yang merasa tidak enak hati karena membuat keduanya menunggu.
"Kami juga baru saja duduk, Andra."
Mereka makan malam bersama. Menghabiskan setiap suap nasi di piring mereka dengan diselingi obrolan ringan.
***
"Tidak ada," ucap Kalandra dengan lawan bicaranya di ponsel.
Menjelang tidur, ponsel Kalandra berdering dan ternyata ada panggilan masuk dari Jendra.
"Baik. Aku akan kesana setelah makan siang besok." ucap Kalandra lagi.
Kalandra mengakhiri panggilan dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Ada apa, Mas?" tanya Kayla penasaran saat melihat wajah Kalandra tampak serius.
Ia melihat nama Jendra yang muncul di layar ponsel suaminya itu. Tapi ia tidak bisa mendengar, keduanya sedang membahas apa.
"Jendra mengatakan proyek pembangunan rumah Clara akan segera di lanjutkan."
Kayla membulatkan mata. "Clara sudah kembali?"
"Kembali? Memangnya dia pergi ke mana?" tanya Kalandra.
Kayla terkesiap. Ia menggeleng. "Maksudku, dia sudah ada kabar mas? Selama beberapa minggu ini kan dia menghilang entah kemana," jelas Kayla.
Kalandra mengangkat bahunya. "Entahlah, Jendra hanya mengatakan akan mengadakan meeting besok siang."
__ADS_1
Kayla mengangguk. Ia juga akan tahu semuanya besok pagi. Jadi ia tidak perlu banyak tanya lagi.