
Kalandra berhenti tepat 3 meter di depan Leo. Ia mematikan mesin mobilnya dan bergegas keluar.
Ia berdiri dan bersandar di depan mobilnya. Kalandra melihat pria lima puluh tahunan itu menatapnya tajam.
Kalandra tersenyum sinis. "Apa kabar, ayah?" Tanya Kalandra membuat Leo tertawa.
"Sengaja memanggilku ayah, heh?"
"Bukankah anda sendiri yang mengatakan bahwa aku adalah putra anda?" Sebuah pertanyaan yang dibalas pertanyaan.
"Tapi... mengapa seorang ayah malah mengancam akan menghabisi anaknya sendiri?"
"Bukanlah itu lebih buruk dibanding seekor hewan sekali pun?" Tanya Kalandra.
Kalandra melipat tangannya di dada. "Sekarang, katakan apa tujuan anda ingin menghancurkan keluargaku?"
"Mencampakkan mama yang anda rusak rumah tangganya..."
"Mengancamnya pagi tadi..."
"Dan ingin menghabisi putra ayah ini?" Kalandra menunjuk dirinya sendiri.
Kalandra berusaha untuk tetap tenang. Ia harus memasang mata dan telinganya dengan baik karena bisa saja Leo menyerangnya dengan melibatkan orang lain.
"Hahaha..." Leo tertawa keras. "Putraku mulai bertanya-tanya ternyata..."
Leo berjalan mendekat dan tak membuat gentar Kalandra. Ia tetap berdiri tegak tanpa ada niat ingin kabur.
Sorot lampu mobil Riana membuat keduanya melihat kearah belakang mobil Kalandra.
Dengan tergesa, dua wanita keluar dari mobil itu membuat Kalandra berdecak kesal. Ia marah karena keduanya malah menyusul dirinya padahal mereka tahu kalau Leo adalah orang yang berbahaya.
"Wow... Kamu membawa pasukan ternyata? Setelah ini siapa lagi yang akan datang, putraku?" Tanya Leo.
"Dia bukan putramu, Leo!" Bentak Riana yang langsung berdiri di samping Kalandra. Sementara Kayla juga ikut berdiri disamping pria itu.
"Wah, akhirnya kamu datang juga, sayang!"
Kalandra menatap Riana saat Leo memanggil wanita itu dengan sebutan sayang.
"Tutup mulut kamu, Leo!" Bentak Riana.
"Huuusstt! Jangan marah-marah sayang. Kamu bisa membuat putra kita ketakutan!" Leo menatap Riana. Jarak keduanya hanya dua meter saja.
Riana membuang muka.
"Karena sudah ada mama disini, katakan apa yang ingin anda lakukan?"
"Bukankah anda selalu mengajak mama untuk bertemu?"
"Sekarang, mama sudah ada di depan mata anda. Maka, katakan anda ingin apa?"
"Hahahahaha..." Leo tertawa keras sampai wajahnya menghadap ke langit.
LEO menatap Kalandra dan Riana. "Kenapa terburu-buru, Kalandra?"
"Apa kamu tidak ingin tahu sebuah rahasia besar yang mama kamu sembunyikan, Nak?" Tanya Leo membuat Riana berdebar.
"Rahasia?" Kalandra mengerutkan keningnya.
"Ya, rahasia besar yang akan membuatmu membencinya seumur hidup."
"Rahasia yang akan membuatmu ingin menghabisi mama kamu sendiri."
Kalandra tidak ingin terpancing. Ia berusaha untuk tetap tenang karena jika ia emosi dan mengajar Leo, pria itu bisa saja membalas dengan lebih kejam lagi.
"Mama menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Kalandra. "Cih!" Ia berdecih. "Itu sudah biasa bagiku!"
"Dijauhi bahkan tidak pernah diberi kasih sayang lagi, itu sudah biasa bagiku."
"Jadi, aku tidak lagi peduli padanya. Ada atau tidaknya rahasia yang ia simpan dariku!" Kalandra tersenyum sinis.
"Jadi, simpan saja rahasia itu untuk kalian berdua!"
"Yakin kamu tidak ingin mendengarnya?"
Kalandra menyeringai. "Sudah ku katakan itu tidak penting."
__ADS_1
"Baiklah... " Leo mendekat dan mengusap rambut Riana.
Riana berusaha mengelak dan menjauhkan kepalanya dari tangan Leo.
"Bagaimana sayang? Kita beri tahu putra kita ini kalau..."
"Leo! Pergilah!" Usir Riana mencegah agar Leo tak mengatakan hal yang mereka anggap sebagai sebuah rahasia.
"Hahaha... Kenapa kamu takut sayang?"
"Takut putra kamu ini membencimu?" Leo tersenyum. "Bukankah selama ini kamu sudah berhasil membuatnya membenci dirimu?"
"Jangan membohongiku dengan pura-pura tidak akur dengannya!" Bentak Leo.
"Padahal kamu sengaja menjaga jarak, seolah dia tidak berarti bagimu agar aku tidak menyerangnya untuk menyakiti kamu!"
Jadi benar, kalau selama ini mama tidak peduli padaku hanya karena tidak ingin pria ini menyakitiku.
Tapi mengapa mama tidak pernah mengatakan yang sebenarnya padaku?
"Hentikan omong kosong ini, Leo!" Geram Riana.
"Kenapa? Takut kalau putramu ini semakin membencimu?"
"Dengar Kalandra!" Leo menatap Kalandra.
"Dia..." Leo menunjuk Riana. "Dia orang yang telah menghabisi nyawa kakekmu, Kusuma Rajaswa!"
Kalandra sangat terkejut. Tapi, ia tak bereaksi sama sekali. Ia bahkan tidak menatap Riana untuk memastikan kebenarannya.
Kayla yang sedari tadi menjadi pendengar dan penonton mendadak membulatkan matanya. Itu berarti, mama Riana sudah menghabisi ayah mertuanya sendiri.
Sungguh aneh, tapi nyata terjadi di hadapannya. Keluarga yang saling menyakiti satu sama lain.
"Andra... semua itu bohong!" Teriak Riana. "Mama tidak mungkin melakukannya, Andra!"
"Leo, kamu keterlaluan!"
Kalandra mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Riana berhenti bicara.
Leo menelisik wajah Kalandra. "Kamu tidak terkejut?"
Kalandra membuang muka dan mentertawakan Leo. "Untuk apa terkejut dengan hal yang sudah ku ketahui?" Ia menatap tajam kearah Leo.
Padahal itu adalah informasi yang membuatnya sangat terkejut. Kakeknya meninggal saat usianya baru sembilan tahun.
Itu artinya, setahun sebelum Riana pergi bersama Leo namun akhirnya kembali lagi ke rumah Rajaswa.
"Kamu sudah memberi tahunya, sayang?" tanya Leo.
Riana diam saja. Ia tidak mengerti mengapa Kalandra tidak bereaksi sama sekali.
"Apa kamu juga sudah memberi tahunya kalau kamu juga yang menyebabkan Bagas kecelakaan hingga pria itu koma selama dua minggu?"
Kalandra lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Leo. Ia kembali menahan wajahnya agar tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Leo!" Bentak Riana. "Jangan mengatakan kebohongan itu kepadanya."
"Kamu keterlaluan, Leo. Semua itu perbuatan kamu dan kamu malah menuduhku!" Marah Riana sambil menunjuk dada Leo dengan telunjuknya.
"Apa katamu?" Leo menatap geram. Tangannya meraih rambut Riana dan menariknya hingga wajah wanita itu menengadah ke atas.
"Kamu juga terlibat, Ri! Apa kamu lupa?" Desis Leo di dekat wajah Riana yang menahan sakit di kulit kepalanya karena rambutnya terlalu keras ditarik.
"Bukankah semua itu adalah rencana kita hahaha..." Leo terbahak. Benar-benar seperti orang gil*. Emosinya naik turun dan berubah dengan begitu cepat.
"Kamu yang merencanakan semuanya, Leo!" Bentak Riana tanpa takut.
"Selama bertahun tahun ternyata kamu memanfaatkanku hanya untuk membalas dendam pada keluarga Bagas!"
"Hahaha... bukan hanya itu, Ri! Aku bahkan berhasil menghancurkan pernikahan kalian."
"Lihat kan? Bagaimana ayah dan ibumu terkena serangan jantung karena kamu kedapatan selingkuh bersamaku?"
"Aku memberi kedamaian setelah mereka menghinaku, Riana! Bukankah itu sangat adil untuk mereka?"
"Kamu keterlaluan, Leo! Aku menyesal pernah bersama kamu!"
__ADS_1
Leo semakin menarik rambut Riana. "Sudah ku katakan sejak lama. Kamu milikku Riana!" Leo menelusuri wajah Riana dengan jari telunjuknya.
"Tubuhmu, darahmu, bahkan nyawamu adalah milikku!"
"Aku bukan barang, Leo! Aku berhak bahagia. Aku berhak melindungi diriku dari psikopat sepertimu."
"Kita sudah tua, Leo! Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Tapi kamu masih saja menggangguku!"
"Aku belum puas jika belum membuat hancur keluargamu!"
"Bisa-bisanya kamu menumpang hidup dengan dua putramu sementara aku sendirian!"
Kalandra dan Kayla melihat pertengkaran itu tanpa melerainya. Kalandra ingin mendapat informasi lebih banyak lagi dari keduanya.
"Leo, ku mohon, berhentilah mengganggu hidup keluargaku!" Riana memohon.
"Berhenti kamu bilang!" Bentak Leo sambil menghempaskan kepala Riana hingga tubuhnya terbentur mobil Kalandra.
Kayla bergerak cepat. Wanita itu membantu Riana untuk berdiri tegak.
"Mama tidak apa-apa?" Tanya Kayla. Riana mengangguk dengan nafas memburu.
Leo dan Kalandra berdiri berhadapan. Leo menarik kerah jaket Kalandra dan membawa pria itu untuk mundur beberapa langkah.
"Leo!" Teriak Riana.
"Mas!" Teriak Kayla.
"Lepas!" Perintah Kalandra.
Leo tidak mendengarkan dan malah menghajar Kalandra dengan meninjunya. Kalandra membalas menghajar Leo.
Leo jatuh tersungkur dan pria itu langsung berdiri. Leo mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya.
"Hati-hati, Mas!" Ucap Kayla.
Kayla menenangkan Riana yang tampak gelisah melihat pertarungan Leo dan Kalandra.
Leo menyerang dan Kalandra berhasil mengelak. Leo berulang kali berusaha menusuknya dengan pisau.
"Pergilah! Atau aku akan menyeret anda ke kantor polisi!" Ancam Kalandra.
Leo tersenyum sinis. "Aku tidak takut pada polisi!"
"Pergilah ke neraka bersama kakek dan ayahmu!" Leo menusuk Kalandra, tapi tangan Kalandra berhasil menahan tangan Leo.
Mata pisau ditangan Leo hampir mengenai matanya. Jarak ujung pisau dengan wajahnya hanya sekitar dua senti saja.
Jika Kalandra terlambat sedikit saja, bisa dipastikan matanya akan tertusuk benda tajam itu.
Kayla menendang kaki Leo dan berhasil membuat pria itu tersungkur.
"Kurang ajar! Jangan ikut campur!" Marah Leo.
Leo yang merasa sudah kehabisan tenaga, terpaksa meminta bantuan pasukannya.
Dengan sekali tepukan tangan, beberapa orang langsung keluar dari dalam mobil miliknya yang terparkir tidak terlalu jauh.
Empat orang pria itu menodongkan pistol kearah mereka bertiga. Kalandra mundur beberapa langkah. Ia mengarahkan Kayla dan Riana agar berdiri dibelakangnya.
"Ini terlalu berbahaya, Mas!" Bisik Kayla.
"Mama sudah mengatakan padamu kalau dia adalah pria nekat yang tidak bisa ditebak, Andra!"
"Diam dan tenanglah!" Perintah Kalandra. "Tetap berdiri di belakangku!"
"Jangan bergerak atau kalian akan mati. Ancam Leo.
"Dor!"
"Dor!" Suara lima tembakan berbunyi secara bersamaan seiring dengan tumbangnya pasukan Leo.
Leo juga jatuh di tanah karena peluru telah menembus punggungnya.
"Amankan mereka!" Perintah Kalandra entah pada siapa membuat Kayla dan Riana terheran.
Ternyata Kalandra sudah terhubung dengan orang bayarannya. Ia memakai earphone sehingga dengan mudah bisa berkomunikasi. Pencahayaan yang terbatas membuat alat ditelinga Kalandra itu tidak terlihat.
__ADS_1