
Melani keluar dari kamar karena tak bisa tidur. Rumah itu terasa sangat sepi. Bahkan suara kendaraan nyaris tak terdengar karena letak rumah yang agak jauh dari jalan raya.
Melani membuka pintu kulkas, tapi ia segera menutupnya kembali karena tak ada yang bisa ia makan.
"Hanya ada bahan makanan mentah," gumamnya.
Melani menghela nafas karena tidak ada makanan siap santap hasil olahan pabrik. Ternyata orang tua Jendra juga menerapkan kebiasaan hidup sehat dengan memasak sendiri semua makanan mereka.
Berbeda dengan dirinya yang selalu menyiapkan makanan yang bisa langsung ia makan seperti roti dan cemilan lainnya.
Melani memilih untuk kembali ke kamar, tapi ia memundurkan langkah saat melewati jendela. Ia melihat siluet seseorang yang tengah duduk di sebuah gazebo kecil di halaman belakang, dekat dengan kebun.
Melani melihat dengan seksama. "Pak Jendra?"
Sementara itu, Jendra tengah duduk termenung di dekat kebun sayuran papanya. Ia memejamkan mata dengan posisi kepala dan tubuhnya bersandar di tiang gazebo yang lampunya sengaja tidak ia nyalakan.
Mendadak ia tak bisa tidur setelah mamanya menghubungi dari rumah sakit. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Tapi, cukup membuat kalimat itu selalu terngiang-ngiang ditelinga Jendra.
Kalian hanya berdua di rumah, coba bicaralah baik-baik, Jen.
Mama yakin, kalian sama-sama memiliki perasaan yang belum kalian sadari.
Jika kamu pernah mengharapkan Cahaya yang baru kamu kenal selama enam bulan, mengapa kamu tidak berani mengharapkan Melani yang sudah lebih dari tiga tahun menjadi sekretaris kamu?
Jendra menghela nafas. Ia tidak tahu, mengapa matanya enggan terpejam hanya karena permintaan mamanya itu.
"Apa memang sudah saatnya aku untuk menikah?" tanyanya pada diri sendiri.
"Mama bersedia kembali tinggal bersamaku dengan syarat aku harus menikah."
Ia ingat, itulah jawaban mamanya saat ia meminta agar orang tuanya tinggal bersamanya lagi.
Sebagai anak satu-satunya, sudah pasti Jendra merasa terbebani. Dia yang harusnya memberikan cucu untuk orang tuanya, nyatanya belum juga menikah hingga saat ini.
"Lantas, wanita mana yang harus ku nikahi?"
"Kekasih saja aku tidak punya." Jendra membayangkan wajah mantan-mantannya, tapi tidak satupun ia rasa cocok untuk menjadi istrinya.
"Umurku sudah tidak muda lagi, apa masih pantas aku memilih-milih pasangan?"
"Ck!" Jendra berdecak. Ia menegakkan duduknya. Kakinya menjuntai, matanya menatap lurus ke depan di deretan tanaman tomat yang sebagian buahnya mulai tampak menguning. Sorot lampu yang berada di sebuah tiang panel surya membuat tempat itu tak terlalu gelap.
"Aku juga tidak boleh asal-asalan memilih calon istri."
"Menikah itu sekali seumur hidup, bukan hanya untuk satu tujuan tertentu."
"Apa lagi hanya untuk membuat mama dan papa tinggal bersamaku lagi!"
"Tidak memiliki pacar, memang membawa hal positif untukku. Aku jadi lebih fokus untuk mengurus perusahaan."
"Dan selama ini satu-satunya wanita yang dekat denganku adalah ...."
"Sedang bicara dengan siapa, Pak?"
__ADS_1
Jendra melihat ke asal suara. Melani sedang berada sekitar lima meter dari posisinya saat ini. Melani berjalan semakin dekat dengannya.
Apa Melani mendengar semua perkataannya? Jendra menggeleng lemah, Aku hanya bergumam saja, tidak mungkin Melani mendengar dengan jelas semua perkataanku tadi.
"Ti-dak dengan siapapun, Mel," jawabnya sedikit gugup.
Melani duduk di sampingnya. "Boleh duduk disini, kan Pak?"
Jendra tertawa tanpa suara. "Silahkan! Tidak ada larangan, Mel."
Melani duduk bersila, gadis itu menaikkan kakinya di atas gazebo. Mungkin takut di gigit nyamuk karena Melani hanya memakai jeans selutut.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya. "Apa kamar itu tidak nyaman?"
Melani menggeleng. "Bukan karena itu. Hanya belum mengantuk."
"Terbiasa bergadang saat hari libur, ya?" Jendra tertawa pelan. Ia sudah faham kebiasaan sekretarisnya itu.
Melani menaikkan satu sudut bibirnya. Ia tersenyum membenarkan pertanyaan Jendra.
"Kamu bisa menonton film di dalam, Mel."
Melani menggeleng pelan. "Saya ingin disini."
"Kamu mau jalan-jalan? Ayo saya antar." Jendra mengajak Melani.
"Tidak, Pak. Saya sedang tidak ingin jalan-jalan."
Keduanya sama-sama diam dalam waktu yang lumayan lama.
"Mel ...."
Jendra dan Melani tertawa pelan saat mereka memanggil satu sama lain secara bersamaan.
"Bicaralah!" Jendra mempersilahkan Melani untuk bicara duluan.
"Bapak saja."
"Kamu duluan, Mel."
Melani menarik nafas dalam- dalam. Ia menatap wajah Jendra yang menoleh ke arahnya.
"Tolong, jangan berfikir macam-macam mengenai pembicaraan saya dengan Bu Jenar sore tadi, Pak."
"Saya tahu, anda mendengar pembicaraan kami. Entah itu hanya sebagian atau keseluruhannya."
Jendra tertawa. "Kenapa?"
"Karena saya tidak ingin anda salah faham mengenai jawaban saya tadi."
Jendra tertawa pelan. "Mengapa kamu takut mempertanggung jawabkan jawaban kamu tadi, Mel?"
"Saya tahu, kamu memang tidak pernah mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadi."
__ADS_1
"Buktinya kamu tetap membuatkan saya kopi meski saya sedang marah pada kamu."
"Atau kamu tetap tampil maksimal saat kita meeting di luar meski kamu sedang merasa kesal karena ulah saya."
Jendra mengubah posisi duduknya. Ia bersila dan menghadap tubuh Melani. Keduanya duduk berhadapan tanpa ada jarak sedikitpun karena kedua lutut mereka saling bertemu.
"Sekarang saya yang tanya."
"Apa tidak ada satupun dari diri saya yang menarik bagi kamu, Mel?"
Jendra menatap manik mata Melani yang seketika langsung menunduk.
"Sepertinya begitu, Pak."
Melani tak mungkin menjawab, kalau wajah tampan Jendra beberapa kali membuatnya terpesona. Ia juga tak mungkin memberi tahu Jendra kalau dirinya pernah memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Ia juga tidak mungkin mengatakan kalau jantungnya berdetak cepat saat pria itu menatapnya barusan.
Jendra dan Melani diam dalam waktu yang lumayan lama.
"Apa kamu mau menjadi kekasih saya, Mel?"
Pertanyaan Jendra sontak membuatnya mengangkat kepala. Ia menatap pria yang tengah menatap dirinya.
Melani ingin meminta Jendra mengulang pertanyaannya. Tapi sepertinya tidak mungkin karena yang ia dengar begitu jelas.
"Sa-"
"Fikirkan baik-baik, Mel. Jangan gegabah mengambil keputusan!" Jendra hanya takut jika Melani menolaknya padaha ia mengumpulkan banyak keberanian untuk menanyakan hal itu.
"Saya tahu, mama saya tidak akan pernah salah pilih."
"Jika ia menganggap kamu pantas untuk menjadi istri saya, maka saya yakin kalau kamu memang pantas, Mel."
"Saya baru menyadari satu hal beberapa menit yang lalu."
"Satu-satunya gadis yang selalu dekat dengan saya adalah kamu."
"Tapi, Pak. Kita bersama dan selalu dekat karena urusan pekerjaan."
"Saya fikir, anda tidak akan terpengaruh oleh gosip orang-orang mengenai kita."
"Maaf, Pak saya tidak ... "
"Tolong fikirkan lagi, Mel."
"Saya rasa, tidak salah jika kita mencoba menjalani suatu hubungan istimewa, Mel. Toh saya dan kamu sama-sama masih sendiri."
Melani segera berdiri. "Saya permisi dulu, Pak! Beristirahatlah!" Pintanya.
"Sepertinya anda sedang banyak fikiran."
Melani berjalan menjauh meninggalkan Jendra. Pertanyaan pria itu sangat mengejutkan. Selama ini, pria itu yang memintanya untuk tidak menanggapi berita miring soal hubungan mereka.
Namun, kali ini justru pria itu yang memintanya untuk menjalin hubungan istimewa itu hanya karena menganggap pilihan Bu Jenar tidak mungkin salah.
__ADS_1
Melani tidak akan asal-asalan memulai suatu hubungan. Meski orangnya adalah Jendra sekalipun. Baginya, pacaran atau hubungan percintaan bukan untuk dicoba-coba.