
Marshella menggeleng pelan. Ia tak percaya dengan apa yang muncul di benaknya. Dia putriku? Putriku sungguh masih hidup?
"Mengapa bibi Gayatri melakukan ini padaku?" tanya Marshella masih dengan menatap wajah Melani yang iba terhadap dirinya.
Ia merasa sakit saat Melani meneteskan air mata ketika menatapnya. Marshella bingung dengan apa yang terjadi dalam dirinya.
"Mengapa bibi membawanya dan memintanya mengaku sebagai Mishelku?"
"Hei, Marshella!" Gayatri juga berlutut di samping Melani.
"Lihatlah wajahnya! Awalnya aku juga tidak percaya kalau dia adalah putrimu."
"Aku masih belum percaya setelah melihat gelang miliknya. Aku bahkan masih belum percaya setelah tahu dia tidak punya orang tua!" Gayatri berbicara selembut mungkin agar wanita di hadapannya itu bisa menerima setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Marshella, aku baru percaya setelah ia mengakui memiliki tanda lahir yang sama dengan Mishel."
"Nak, tolong tunjukan pada kami tanda lahir itu." Gayatri menatap Melani.
Melani mengangguk.
Sementara itu, Jendra tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Ia tahu, situasi ini tidak berbahaya baginya dan Melani. Ia malah berfikir bahwa moment ini begitu berarti bagi ketiga wanita itu.
Ya Tuhan, jika wanita ini memang ibu kandung Melani. Aku sangat bersyukur. Aku akan menjamin kehidupan mereka menjadi lebih layak dari sekarang. Dan satu hal lagi yang ingin ku minta, tolong sembuhkan wanita ini dari sakitnya. Sehatkan dia secara fisik maupun psikis.
"Maaf, ya Nek!" Melani berdiri dan menaikkan bagian bawah kaos yang ia pakai. Tampaklah sebuah tanda lahir tepatnya diatas celana jeans yang ia pakai.
Dada Marshella berdebar hebat. Dengan tangan yang gemetar, perlahan ia mengusap tanda lahir yang tidak timbul itu, hanya saja memiliki warna lebih gelap dari kulit putih Melani.
"Bibi Gayatri ...." Marshella meraung-raung memeluk Gayatri. Ia tahu itu putrinya. Tanda lahir itu meyakinkannya.
Melani berlutut dan Marshella memeluknya erat. Keduanya menangis tersedu-sedu. Gayatri memeluk keduanya dengan erat.
"Ini bunda, sayang! Kamu kembali ke pelukan bunda."
"Bunda tahu, ini semua akan terjadi. Bunda tahu, Tuhan pasti menyatukan kita lagi."
"Setiap hari bunda melihat ke jendela berharap kamu datang dan memanggil bunda."
"Dan hari ini akhirnya datang juga."
Pelukan itu terlepas. Melani menghapus air mata Marshella yang menetes tiada henti. Ia juga menyelipkan rambut wanita yang merupakan ibu kandungnya. Rambut yang tampak mulai memutih.
"Ini seperti mimpi." Melani menangkup pipi Marshella. "Ini benar-benar seperti mimpi."
"Maaf, pernah berburuk sangka pada bunda. Aku mengira bunda sengaja membuangku!"
Marshella menangguk. Bibirnya terkatup rapat berusaha menahan tangis yang sedari tadi tak kunjung berhenti.
__ADS_1
"Menangislah, Marshella! Luapkan semua emosi dalam dirimu."
"Bukankah dokter mengatakan itu sangat baik untuk kesehatanmu?" Gayatri mengusap lengan wanita yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu.
"Setelah ini, ku yakin kamu pasti akan merasa lebih lega."
Tanpa ada yang memperhatikan, Jendra diam-diam menghapus air matanya. Ia bahagia sekaligus terharu dengan apa yang terjadi di depan matanya.
Ia tahu, Melani pasti syok. Tapi, ia yakin setelah ini Melani akan merasa bahagia.
Mereka membawa Marshella menuju halaman belakang. Disana, Gayatri banyak bercerita mengenai hal yang tidak Melani tahu tentang masa lalunya dulu.
Marshella menunjukkan semua foto-foto lawas yang masih ia simpan di album foto. Foto itu diambil dari rumah orang tuanya. Setelah kasus selesai, rumah dan seluruh harta orang tuanya ia jual untuk bekalnya pergi dari kota yang membawa kepiluan baginya.
"Bunda, maukah ikut bersamaku? Kita bisa tinggal bersama," tanya Melani setelah ia memberi tahu Gayatri dan Marshella di kota mana ia tinggal. Kota yang lumayan jauh dari kota tempat tinggal Marshella ini.
Marshella menatap Jendra lekat-lekat. Lalu menatap Gayatri, dan terakhir kembali menatapnya.
Marshella menggeleng beberapa kali. "Bunda tidak ingin kembali!" bentaknya membuat Melani dan Jendra terkejut.
"Ssst!" Gayatri berusaha menenangkannya. "Jangan seperti itu, Marshella, dia putrimu. Dia jadi takut, kan?"
Marshella memeluk Melani. "Maafkan bunda. Maafkan bunda, sayang!"
"Ya sudah, kamu istirahat dulu ya. Aku takut kamu kelelahan dan emosimu menjadi tidak stabil."
"Dia tidak akan pergi. Jika dia pulang, dia akan kembali lagi."
Marshella memegang erat tangan Melani. "Kamu akan kembali lagi?"
Melani mengangguk. "Ya, bunda. Aku akan kembali lagi."
"Kamu janji?"
Melani mengangguk lagi. "Janji."
Gayatri mengantarkan Marshella ke kamarnya. Melani tetap ikut untuk meyakinkan Marshella bahwa ia tidak akan pergi jauh.
"Dia tidak akan mau kembali, Nak," ucap Gayatri pada Melani saat mereka berjalan keluar dan kembali menuju ke halaman belakang.
"Saya lupa memberi tahu kalian bahwa ia masih trauma dengan hal yang berkaitan erat dengan peristiwa itu."
"Ia tidak akan mau kembali ke kota itu, Nak. Biarkan dia tinggal di sini bersama saya."
Melani menghela nafas berat. Ia tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan nenek Gayatri yang telah merawat ibunya selama bertahun-tahun.
Keduanya hidup dengan membuka toko kue yang modalnya di dapat Gayatri dari hasil penjualan seluruh harta orang tua Marshella. Semakin menipisnya tabungan akhirnya bisa teratasi setelah mereka benar-benar menetap di kota ini.
__ADS_1
Alasan mereka berpindah-pindah tempat adalah lingkungan yang membuat Marshella merasa tidak nyaman. Mereka pernah tinggal di desa, tapi omongan orang dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan malah membuat kondisi Marshella kian memburuk.
"Nek, aku dan suamiku akan membawa bunda untuk berkonsultasi di rumah sakit yang lebih besar. Bagaimana menurut nenek?"
Gayatri mengangguk. "Bawalah! Saya setuju saja selama semua itu demi kebaikannya."
"Dia pasti akan punya semangat untuk sehat kembali karena telah bertemu dengan putrinya."
"Huuh! Semua ini seperti mimpi. Penantian Marshella tidak sia-sia. Kayakinan seorang ibu memang tidak pernah salah."
Melani duduk bersama Jendra. Ia kembali membuka buku catatan milik bundanya.
Bunda harus pergi jauh, sayang. Maaf bunda pergi sebelum menemukan dimana kamu berada. Jika kamu telah tiada, maafkan bunda yang tidak bisa menyelamatkanmu. Tapi, jika kamu masih selamat semoga kelak kita bisa bertemu kembali.
Melani membuka lembar demi lembar yang kian menyentuh hatinya. Sakit rasanya. Dia berusaha bahagia dengan hidup bersama keluarga panti. Tapi, bundanya tidak bisa hidup bahagia karena terbelenggu oleh pengalaman terburuk itu.
"Berhentilah membacanya, sayang. Tidakkah kamu lelah menangis terus?"
Melani menatap Jendra. "Jangan bangunkan aku jika ini hanya mimpi, Mas."
Jendra menggeleng. "Kamu akan bahagia, sayang! Bahkan lebih bahagia dari apa yang ada dalam mimpimu."
Melani tertawa sendiri. Selama ini ia menjuluki suaminya sebagai singa gil*. Tapi, ternyata malah ibunya yang .... Ah, sudahlah! Itu bukan hal yang harus ia tertawakan. Justru, itu menjadi PR baginya.
"Mas, kamu tidak malu dengan masa laluku? Dengan kondisi bunda?"
Jendra menggeleng. "Justru aku bangga."
"Sekarang aku tahu, dari mana datangnya wanita kuat sepertimu."
"Ternyata dari wanita hebat seperti bunda Marshella."
Melani tersenyum miris. Ia menatap lurus ke depan. "Apa mama tidak malu memiliki menantu sepertiku, Mas?"
Jendra mengusap rambutnya. "Dia akan turut bahagia mendengar kabar ini, sayang."
"Aku akan bicara pada papa untuk mencari tahu masalah yang terjadi pada keluarga kamu 30 tahun lalu."
"Papa pasti tahu, karena saat itu ia mulai menjalankan bisnis juga."
Melani menggeleng. "Jangan! Aku tidak ingin orang lain akhirnya tahu siapa aku, Mas."
"Aku takut masih ada dendam yang tersisa dari keturunan mereka."
Dalam hal ini adalah orang yang menghabisi keluarganya.
"Aku takut, akan membuat hidupku terusik. Apalagi sampai kehidupan bunda yang sedang berusaha ia tata kembali dengan susah payah."
__ADS_1
Jendra mengangguk lemah. "Baiklah kalau kamu ingin hal itu. Setidaknya kita akan lebih fokus pada kesehatan bunda."