
Krieeet!
Pintu kayu dari sebuah rumah minimalis itu terbuka. Sang pemiliknya mempersilahkan Melani dan Jendra untuk masuk ke dalam.
Kesan sederhana yang pertama kali Melani rasakan saat masuk ke dalam rumah itu. Perabotannya juga tidak tampak modern, sebagian terbuat dari kayu dan catnya sudah tampak kusam.
"Duduklah dulu!" Wanita itu berjalan entah kemana.
Melani dan Jendra duduk di ruang tamu. Mereka sama-sama memperhatikan isi rumah itu.
"Mas, aku mendadak jadi takut begini," bisik Melani yang merasa was-was karena ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Jendra memintanya untuk tenang. "Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sayang!"
"Kita dalam pengawasan," bisik Jendra.
Jendra diam-diam meminta orang suruhannya untuk berjaga di luar rumah namun jangan sampai membuat warga sekitar curiga.
"Silakan diminum," ucap wanita tua itu setelah meletakan nampan yang diatasnya terdapat dua gelas air putih.
"Maaf, hanya ada ini!"
Melani tersenyum canggung. Ia tidak ingin minum sedikitpun karena takut ada sesuatu di dalam air putih itu. Mungkin sejenis racun atau obat yang bisa menurunkan kesadaran.
"Sebenarnya, saya ingin menunjukkan satu hal pada kamu," ucap wanita itu pada Melani.
"Ehm, ya ... Sebelumnya, perkenalkan nama saya Gayatri."
"Saya tidak punya niat jahat sedikitpun. Saya hanya ingin memastikan sesuatu.
"Siapa nama kamu, nak?"
"Melani Agnia," balasnya.
"Jadi, kamu tidak tahu siapa orang tua kandung kamu?"
Melani menggeleng. "Tidak terlalu penting bagi saya, Nek. Saya bisa hidup tanpa mereka."
Wanita itu memejamkan mata sejenak. "Bagaimana jika mereka tidak bisa hidup tanpa kamu?"
"Sebenarnya nenek ingin apa?" tanya Jendra dengan nada tak ramah. Ia agak membentak membuat Melani membujuknya agar lebih sopan terhadap orang tua.
"Apa kamu punya tanda lahir di perut? Tepatnya di area pinggang, Nak?"
Melani dan Jendra sama sama terkejut. Melani memang punya tanda lahir itu. Tanda lahir berwarna coklat di perut bagian samping.
"Seperti ini?" Wanita itu menunjukkan sebuah foto bayi dengan tanda lahir yang sama seperti miliknya.
Melani seketika langsung berdiri. Ia memegang foto itu dan mulai menangis. Itu adalah fotonya saat bayi. Wajahnya tak jauh berbeda dari saat ia ditemukan dulu. Foto yang tersimpan di panti dan ia simpan pula di galeri ponselnya.
Melani memeriksa ponsel dan meletakkan foto itu sejajar dengan ponselnya. Benar, benar-benar sama. Matanya, hidungnya, dan tanda lahirnya juga sama.
Melani menangis tersedu dan menggeleng pelan. *Fakta apa ini ya Tuhan? Puluhan tahun aku tidak mencari tahu, tapi saat aku sudah menikah, semua terkuak begitu saja.
Siapa aku sebenarnya? Apakah aku berasal dari keluarga yang buruk? Apakah jika setelah aku mengetahui asal usulku, Mas Jendra masih mau menerimaku? Lalu mama Jenar, apa dia mau memiliki menantu sepertiku*?
"Sayang!" Jendra memegang bahu Melani. "Kamu baik-baik saja? Mengapa kamu menangis, Mel?"
"Apa arti semua ini, Nek?" tanya Melani yang mengabaikan suaminya.
__ADS_1
"Apa hubungan saya dengan nenek? Apa nenek tahu dimana orang tua saya? Apa nenek tahu siapa saya sebenarnya?" tanya Melani sambil terisak. Ia duduk berlutut dan menggenggam tangan wanita itu.
"Tolong, katakan mengapa saya dibuang?"
"Tolong, pertemukan saya dengan orang tua saya, Nek."
"Saya ingin bertanya, mengapa mereka tidak ingin kehadiran saya di dunia ini?" Melani mulai tidak bisa menahan emosinya. Jendra sampai ikut berlutut untuk menenangkan istrinya.
Melani menangis sesenggukan. Ia marah, kecewa tapi masih mencari alasan yang membuat hidupnya hampa tanpa sentuhan lembut mamanya.
Wanita itu mengusap kepala Melani. "Kamu tidak dibuang, Nak!"
"Kamu hanya sedang berusaha diselamatkkan."
"Tapi, Tuhan berkehendak lain," ucap Gayatri yang juga sedang terisak.
Melani dan Jendra tidak tahu lagi harus berkata apa. Semua ini begitu mengejutkan bagi mereka.
"Kamu ingin bertemu ibumu?"
Melani mengangguk lemah. Ia tidak yakin wanita yang akan di pertemukan dengannya adalah ibunya atau bukan. Tapi, jika tidak mencoba bagaimana dia bisa tahu kebenarannya.
Sepasang pengantin baru itu mengikuti langkah kaki wanita bernama Gayatri itu. Melani berdebar tak karuan saat melihat foto di dinding. Sebuah figura, dengan foto wanita muda yang mirip sekali dengan dirinya. Foto itu sudah tampak usang.
Apakah wanita di foto itu adalah mamanya saat muda dulu?
Krieet.
Gayatri membuka pintu dan tampaklah sebuah kamar yang ukurannya tidak terlalu luas. Wanita itu mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam.
Melani dan Jendra hanya bisa diam saat melihat seorang wanita paruh baya yang berusia sekitar hampir 50 tahun sedang duduk menghadap ke arah jendela.
Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan kehadiran mereka. Melani tidak bisa melihat wajahnya karena ia berdiri tepat dibelakang wanita itu.
"Dia mengalami sedikit gangguan mental."
Melani dan Jendra mulai gelisah. Keduanya mulai menebak apakah wanita ini adalah ibunya Melani.
"Tapi tenanglah, dia tidak akan membahayakan kalian."
"Dulu, dia menikah dengan seorang pria kaya. Seorang pria yang ia kenal di masa-masa sekolah." Gayatri mulai bercerita sebelum Melani atau Jendra bertanya.
"Setelah lulus sekolah, mereka menikah. Saat itu umurnya baru 18 tahun."
"Setelah setahun menikah, dia melahirkan bayi perempuan. Lalu, terjadi kekacauan luar biasa di keluarga suaminya."
"Karena perebutan harta, terjadilah pembantaian habis-habisan yang dilakukan oleh keluarga suaminya terhadap keluarga kecil mereka."
"Suaminya adalah satu-satunya anak kandung dan saat itu sudah punya penerus pula."
"Suaminya tidak selamat. Dan ia berhasil melarikan diri bersama bayinya."
"Dia pun pulang ke rumah orang tuanya. Namun sayang, orang tuanya juga dibantai habis-habisan oleh keluarga suaminya."
"Orang yang tidak tahu menau soal keluarga mereka turut menjadi korban."
Melani tahu, wanita itu menceritakan luka yang sangat dalam baginya. Terbukti dengan tetes air mata yang tidak ada habisnya."
"Dia meminta orang kepercayaan papanya untuk membawa lari anaknya. Dengan harapan, anaknya bisa selamat karena anak itu adalah pewaris yang sah setelah suaminya meninggal."
__ADS_1
"Tapi, takdir berkata lain. Beberapa hari berikutnya, orang suruhan papanya ditemukan meninggal di sungai."
"Sampai sekarang, ia tidak tahu mengenai keberadaan putrinya."
"Lalu, bagaimana dia bisa selamat, Bi?" tanya Jendra.
"Saya dan dia melarikan diri."
"Saya adalah istri dari orang kepercayaan papanya itu."
Melani tersentak. "Ja-jadi, suami nenek juga menjadi korban?"
Gayatri mengangguk. "Lalu kami bersembunyi di kampung saudara saya."
"Keluarga suaminya yang menjadi otak dari pembantaian itu akhirnya di penjara dan di hukum mati."
"Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan mengenai harta mereka. Karena setahun setelah kasus itu selesai, kami pergi jauh. Kami tinggal berpindah dan terakhir, kami tinggal di sini sejak 20 tahun lalu."
Melani menangis. Selama wanita itu bercerita, Melani melihat sebuah tulisan tangan di sebuah sampul buku yang terletak di atas meja.
Mishel Aurora, permata hati bunda.
"Itu miliknya, buku yang menjadi catatan duka baginya."
Melani mengambil buku itu dan membukanya. Banyak sekali coretan tangan berupa curahan hati yang begitu menyentuh.
Melani membaca di lembar pertama. Sebulan, rasanya hampir tidak sanggup hidup dalam kegelapan ini. Mengapa Mirza dan Mishelku pergi meninggalkan Marsella sendirian?
Melani membuka lembar kedua. Sebuah gambar yang dibuat dengan tinta berwarna hitam, gambar dua buah kalung dengan rantai yang berbeda panjangnya dengan liontin yang sama seperti miliknya.
Kalung Mirza Andrean ada padaku. Dan kalung Marshella Anastasya ada pada Mishel Aurora. Apakah mungkin kalung ini akan menyatu lagi?
Melani bingung membacanya. Ia menutup buku itu dan memeluknya. Menempelkannya di dada dan menghampitnya dengan lengan.
Melani mendekati wanita bernama Marshella itu. Ia berlutut di depan wanita yang mulai terusik dengan kehadirannya.
Marshella menatap Melani. Matanya tidak berkedip, namun perlahan air mata menggenangi pelupuk matanya.
Kerutan halus dibawah mata dan disekitar hidungnya menandakan bahwa wanita itu sudah tidak muda lagi.
"Perkenalkan bibi, namaku Melani." Melani meraih tangan Marshella yang terasa lembut.
"Dia siapa, bibi Gayatri?" tanya Marshella tanpa berpaling dari wajah Melani.
"Tidak bisakah kamu menebaknya, Marshella?"
Marshella menyentuh pipi Melani, menelusuri tiap lekuknya, dagunya, dan terakhir pada matanya.
"Mengapa wajahnya seperti Marshella saat masih muda, Bibi?"
"Mengapa matanya ...." Marshella menangis. "Matanya seperti Mas Mirza, Bibi."
Melani mengangkat tangannya dan menunjukkan liontin yang menggantung di pergelangan tangannya.
Marshella tidak berkedip. Ia melihat benda yang mirip dengan miliknya menggantung tepat beberapa senti dari matanya.
"I- ini!" Marshella tergagap. Dengan tangan bergetar, ia memegang liontin itu dan melihat dengan seksama.
Bukan hanya tangannya, bahkan saat ini bibirnya juga bergetar. Ia mulai tidak bisa mengatasi emosinya. Ia membuka liontin itu dan menemukan inisial M.A yang tersembunyi di dalamnya.
__ADS_1
Seketika Marshella menutup mulut dengan air mata yang tak henti menetes. Memori di otaknya berputar berulang seperti kaset.
Melani tidak berani melakukan apapun karena ia tidak tahu bagaimana menghadapi wanita yang sedang sakit mentalnya.