
Pagi ini, Melani berangkat ke kantor dengan perasaan senang, tapi dengan tubuh yang terasa remuk.
Hatinya memang tengah berbunga karena masalahnya dengan Jendra sudah selesai. Bahkan mungkin mereka akan menikah dalam waktu dekat. Tapi, kecelakaan kemarin membuat tubuhnya terasa sakit semua.
Melani melangkahkan kakinya menuju halte bus di depan kawasan apartemennya.
"Tiiiiiinnnn!"
Sebuah klakson panjang membuatnya minggir. Ia melihat siapa yang kurang kerjaan menepikan mobilnya sembarangan.
Seseorang keluar dari mobil. Seorang pria tampan, berjas rapi dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.
"Good morning, Sayang!" sapa pria bernama Jendra.
Melani melihat kesekitar, ia merasa malu dan belum terbiasa diperlakukan seperti itu.
"Hehehe, morning Pak!" balasnya.
Jendra merangkul bahu Melani dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. Jendra membukakan pintu. "Silakan sayang!"
Jendra juga masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kursi kemudi.
"Kenapa melihatku seperti itu, Mel?" tanya Jendra yang tengah mengemudikan mobil.
Melani memang menatap pria itu dalam-dalam. "Ehm, luka di kening bapak sudah sembuh!"
"Mel ...!"
"Eh, maaf. Luka di kening kamu sudah sembuh, Ma ... mas!" ucapnya terbata-bata.
Iiiyyuuu! Lidah Melani rasanya gatal sekali. Ia tidak biasa memanggil Jendra dengan panggilan itu. Padahal, Jendra sendiri yang minta dipanggil begitu.
"Sudah sayang! Hanya luka kecil yang tidak seberapa."
Setibanya mereka di kantor.
"Pasangan baru yang sedang panas-panasnya akhirnya datang juga."
Melani dan Jendra disambut oleh Kalandra yang berdiri bersandar di meja kerja Kayla dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Bagaimana rasanya hari pertama menjadi pacar Jendra, Mel?"
Melani tertawa dan segera duduk di kursi kerjanya. "Banyak maunya!"
"Nah!" Kalandra menjentikkan jarinya. "Ini masih hari pertama. Hari ke dua dan selanjutnya ... banyak-banyak bersabar saja, Mel!"
Jendra menendang kaki Kalandra yang segera menghindar. Ia semakin kesal karena Kalandra malah tertawa.
"Aku hanya memberi tahu pacarmu, Jend! Supaya dia tidak terkejut nanti!"
"Tutup mulutmu, Kal!"
"Aku tidak peduli! Aku tidak ingin pacarmu curhat mengenai sikapmu yang buruk itu pada istriku. Dia sedang hamil. Aku tidak mau dia stres!"
Kalandra tidak serius. Ia hanya suka mengganggu Jendra saja.
"Kurang ajar! Justru Kayla yang selalu menceritakanmu pada Melani!"
Melani dan Kayla saling tatap. Mereka bertanya-tanya, bagaimana Jendra bisa tahu.
__ADS_1
Apa jangan-jangan dia juga tahu kalau aku sering menceritakannya pada Kayla? Batin Melani.
"Sok tahu!" Balas Kalandra tak percaya.
"Terserah jika tidak ingin percaya!" Balas Jendra.
Selama didiamkan oleh Melani, Jendra diam-diam menyadap meja kerja keduanya. Ia memasang alat penyadap suara di sebuah lukisan di dinding di sekitar meja kerja sekretarisnya itu.
"Aku percaya, istriku pasti selalu memujiku!"
Jendra menyeringai. "Tidak juga!"
"Mas, sebaiknya kamu ke kantor sekarang," ucap Kayla yang tidak ingin perdebatan antara suami dan bosnya itu berlanjut.
"Kamu tidak menceritakan keburukanku pada Melani kan, Sayang?"
Kayla berdiri di depan Kalandra. Ia merapihkan jas suaminya. "Tentu saja tidak, Mas!"
"Segeralah ke kantor. Cari uang yang banyak untuk baby kita!"
Kalandra mengangguk. Ia mengakup pipi yang mulai berisi itu dan menciu-m bibir istrinya lumayan lama.
Jendra berlari dan menutup mata Melani. "Pergi sana, woy!" teriak Jendra.
Padaha Kalandra tubuh Kayla membelakangi pasangan baru itu. Tapi, Jendra terlalu berlebihan.
Kalandra mencium kening Kayla dan berpamitan pergi. "Take care, sayang!"
Kalandra menatap Jendra dan menyeringai. "Jika ingin, lakukan saja! Jangan ditahan!"
Jendra melempar Kalandra asal dengan pena di meja Melani. "Dasar gil*a!" teriaknya.
Kemarahannya malah dibalas tawa oleh Kalandra. "Nikahi, Jend! Baru boleh dirasa!"
Melani menahan tawa. "Kenapa marah sampai sebrutal itu? Bukankah kamu terbiasa melakukannya, bahkan yang lebih dari itu."
Jendra membuang muka. Ia salah tingkah meskipun yang Melani katakan memang benar. Adegan yang Kalandra lakukan hanyalah menu pembuka baginya.
"Aku hanya ingin menjaga kamu dan diriku sendiri."
"Aku berjanji tidak akan melakukannya jika tidak di kamar pengantin kita!" Jendra berlalu pergi.
Melani membulatkan matanya. Pria itu pergi dengan mengucapkan kalimat yang membuatnya terkesima.
"Terlalu manis untuk tidak didengar!" puji Kayla.
"Kay, dia bicara apa? Apa dia benar-benar sudah berada di jalan yang lurus?" tanya Melani.
Kayla mengangkat bahu. "Tapi, semua orang berhak untuk berubah kan, mbak Mel?"
"Entah itu ke jalan kebaikan atau semakin tersesat dalam jalan keburukan!"
Melani mengangguk.
Setelah makan siang, seorang pria yang kemarin ditemui Jendra dan Melani datang ke kantor. Pria itu membawa dua gadis di belakangnya yang merupakan asisten pribadi dan sekretaris pria itu.
Melani menghela nafas saat melihat kancing kemeja kedua wanita itu lebih banyak yang terbuka dibanding yang terpasang.
Entah memang sudah terbuka dari awal atau memang baru terbuka saat di dalam lift. Bukankah waktu satu menit bisa saja mereka habiskan untuk bersenang-senang?
__ADS_1
Ah! Melani benci pikirannya sendiri. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke tembok.
"Pak Jendranya, ada?"
Kayla mengangguk. "Ada, Pak! Mari saya antar ke ruang meeting!" Kayla membawa keduanya masuk ke ruang meeting sementara Melani menjemput Jendra ke ruangan pria itu.
"Pak, orang yang anda tunggu sudah datang!"
"Kemarilah!" Jendra meminta Melani mendekat.
Melani berjalan hingga ia berdiri di samping Jendra.
"Lebih dekat, Mel! Jangan jauh-jauh!"
Melani menghela nafas dan ia semakin mendekat dengan kursi Jendra.
"Duduklah!"
Melani membulatkan mata saat Jendra menepuk paha, memintanya duduk di pangkuan pria itu.
"Lama!" Jendra menarik dan mendudukkannya secara paksa.
"Pak, nanti ada yang melihat!"
"Bukan urusanku, Mel!"
"Diamlah! Sebentar saja!"
Jendra menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Melani.
"Sudah." Jendra melepaskan Melani setelah satu menit.
"Aku suka aroma parfum kamu, Mel. Menenangkan!"
"Pria itu sudah menunggu ...."
"Biarkan saja dia menunggu!"
"Mas!" ucap Melani membuat Jendra tertawa.
"Aku harus menenangkan diriku, sayang. Melihat wajah pria itu, membuatku ingin menghajarnya,"
Melani tertawa. "Apa salahnya, Mas? Apa karena dia membuat kamu bertemu dengan mantan kamu, kemarin?"
"Bukan." Jendra menggeleng.
"Lalu apa, Mas?"
"Dia yang sudah menyebabkan kecelakaan itu."
"Dia yang menyabotase mobil kita."
Melani membulatkan mata. "Jangan asal menuduh kalau kamu tidak punya bukti, Mas!"
"Aku punya bukti, Mel!"
Jendra sudah menugaskan seseorang untuk mencari tahu. Ia bahkan meminta hacker untuk meretas cctv di restoran itu.
"Kalau begitu kamu harus berhati-hati menghadapi pria itu."
__ADS_1
"Tentu. Jangan mengajariku!" Jendra menarik hidung Melani membuat gadis itu tertawa.
Melani dan Jendra keluar dari ruangan itu dan menuju ruang meeting di mana pria itu dan sekretaris sudah berada di sana.