Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 38 Bertemu Leo


__ADS_3

Sepulangnya Jendra dan Melani. Kalandra dan Kayla bergantian mandi karena hari sudah sore.


"Kenapa pura-pura tertawa padahal kamu sedang gelisah, Mas?" tanya Kayla yang sedang duduk di pinggir ranjang menghadap ke cermin rias dimana Kalandra sedang duduk membelakangi dirinya.


Ia melihat bayangan Kayla di cermin. Tatapan mata mereka saling mengunci. Kalandra yang memutus tatapan itu lebih dulu karena tak kuasa melihat mata indah gadis itu.


"Pura-pura apa?" tanyanya.


Kayla tersenyum miring. "Tawa kamu bersama Pak Jendra."


"Sejak siang kamu tampak gelisah dan saat Jendra datang kamu tertawa terus."


"Aku kira tawa itu hanya pura-pura. Kamu berusaha mengalihkan fikiran kamu, kan?"


"Tidak. Aku benar- benar tertawa." bantah Kalandra.


Kayla menyeringai. "Terserahlah. Aku tidak akan memaksa kamu untuk mengakuinya."


"Tapi yang pasti. Aku tahu, ada hal buruk yang terjadi sehingga mama menjerit tadi, kan?" tanya Kayla.


Kalandra berbalik. Ia menatap Kayla dan mengangguk. Ia tidak sanggup menahan sesak di dadanya. Ia tidak sanggup menampik banyak pertanyaan di otaknya. Ia tidak sanggup menghadapi kebingunan ini sendiri.


"Mama... Sepertinya mama punya rahasia yang aku tidak boleh ketahui, Kay!"


Kalandra menceritakan apa yang terjadi pagi tadi. Kayla memang tidak tahu sama sekali karena ia tetap berada di dalam kamar meski ia mendengar samar-samar apa yang terjadi di kamar mertuanya itu.


"Bagaimana menurut kamu, Kay? Apa aku menuruti keinginan mama atau aku tetap menemui pria itu?"


Kayla menghela nafas. "Tidak bisakah kalian bicara bertiga? Setidaknya semua akan selesai dengan cara baik-baik."


Kalandra menggeleng. "Mama mengatakan pria itu sangat nekat dan berbahaya."


"Kamu bicarakan hal ini baik-baik dengan mama kamu. Tanyakan padanya apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu hingga masih berimbas ke masa sekarang."


"Kamu tanyakan, apa sebenarnya tujuan pria bernama Leo itu? Mama Kamu pasti tahu, Mas."


Kalandra menggeleng pelan. "Percuma, mama tidak mau cerita apapun."


Kayla diam sejenak. Ia mencoba menebak sebenarnya apa yang terjadi yang tidak Kalandra ketahui.


"Apa mungkin pria itu marah pada mama karena mama tidak ingin menemuinya, Mas?"


Kalandra menatap Kayla penuh tanya. "Aku pernah melihat dan mendengar mama bicara melalui panggilan telpon. Mama seperti sedang menolak untuk menemui seorang pria. Ya, aku yakin seorang pria karena mama menyebut lawan bicaranya dengan panggilan "Mas"."


"Mama beralasan karena ada Oma di rumah ini."


"Tapi mengapa dia malah meneror mama dengan mengancam akan menyakiti aku?" tanya Kalandra.


"Itu artinya, kamu sangat berarti bagi mama dimata pria itu, Mas!"


Mata Kalandra membulat. Berarti bagi mama? Selama ini hubunganku dan mama tidak harmonis. Bagaimana bisa pria itu berfikir kalau aku sangat berarti bagi mama?


"Itu artinya pria itu tahu kalau mama sangat menyayangi kamu, Mas."


"Tidak mungkin Kay! Kamu tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan mama." bantah Kalandra.


"Mama menangis dengan memeluk kamu, Mas. Mama melarang kamu menemui Leo. Harusnya itu cukup untuk membuktikan kalau kamu sangat berharga bagi mama."


Kalandra tertegun.

__ADS_1


"Lalu, tujuan pria itu apa, Kay?"


Kayla mengangkat bahunya. "Mungkin harta mama... atau... penderitaan keluarga ini."


"Oke jika itu tujuannya. Tapi apa yang menyebabkan dia menginginkan kehancuran keluarga ini?"


Kayla menggeleng lemah. Keningnya berkerut tanda ia sedang berfikir keras. "Sejenis balas dendam, bukan sih?" tanyanya.


"Atau sakit hati..."


"Mungkin saja mama, atau papa pernah menyakiti hati0000 pria itu."


Kalandra diam dan memikirkan perkataan Kayla.


"Akan lebih jelas jika aku menemui pria itu."


"Sebaiknya kamu jangan sendirian, Mas. Terlalu berbahaya." larang Kayla.


"Kamu khawatir padaku, Kay?" Kalandra menelisik wajah Kayla.


Kayla mendadak jadi salah tinggal karena wajahnya diperhatikan oleh Kalandra.


"Bu-bukan. Bukan begitu, Mas." Kayla gugup.


"Kamu harus fikirkan Oma dan juga keluarga kamu. Kalau terjadi sesuatu, pasti mereka juga yang sedih dan kesusahan."


"Pikirkan perusahaan dan ribuan orang yang bergantung pada kamu, Mas."


Kalandra mengangguk. Ia senyum-senyum sendiri saat menyadari Kayla mengkhawatirkannya.


***


"Mama..."


"Oma..."


"Ada apa, Kay?" tanya Riana yang tampak panik karena Kayla memanggilnya dengan berteriak-teriak.


"Ada apa, Kayla!" Oma juga keluar dari dalam kamar.


"Oma, mama... Mas Kalandra pergi."


Dua wanita berbeda generasi itu membulatkan mata. Mereka tidak mendengar suara mobil Kalandra karena sudah tidur nyenyak.


"Maksud kamu, pergi ke mana?" tanya Riana yang mulai panik.


"Mas Kalandra akan menemui Leo, Ma!" Kayla khawatir karena Kalandra pergi sendirian. Pria itu juga tidak terlihat membawa senjata untuk melindungi diri.


"Astaga Andra!" Kesal Riana. "Sudah mama bilang jangan menemui Leo."


"Mama akan susul dia."


"Jangan, Ri!" larang Oma yang tampak lebih tenang.


"Tidak bisa Ma. Aku tidak akan membiarkan Andra menemui Leo." Riana masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian.


Kayla juga kembali ke kamarnya. Ia segera berganti pakaian dan memakai sepatu.


"Kayla ikut, Ma." Kayla mengejar Riana yang akan pergi keluar.

__ADS_1


Sementara itu, Oma sudah tidak terlihat lagi. Mungkin wanita itu sudah masuk ke dalam kamar.


"Kamu di rumah saja."


"Tidak, Ma. Kayla harus ikut!" Paksa Kayla. Ia hanya berharap ilmu bela diri yang ia kuasai bisa membantu Kalandra nanti.


"Terserah kamu saja!" Riana segera keluar dan mereka masuk ke dalam mobil.


"Kamu yakin Andra pergi kesana?" tanya Riana.


Kayla mengangguk. "Yakin, Ma."


"Kenapa kamu tidak melarangnya?" marah Riana.


Ia sudah tidak perlu heran mengapa Kayla tahu semuanya. Ia yakin Kalandra pasti menceritakan semua pada istrinya.


"Kayla tidak tahu, Ma. Mas Kalandra mengatakan akan mencari makanan ke dapur. Tapi, Kayla malah melihat mas Kalandra memakai jaket kulit dan mengendarai mobil."


Kayla melihatnya saat ia berdiri di balkon kamar. Ia tidak bisa tidur malam ini. Ia tahu Kalandra keluar dari kamar dan hanya memakai celana jeans pendek dan kaos. Ia tidak tau darimana pria itu mendapatkan jaket kulit yang dipakai. Mungkin dari garasi di mana terdapat beberapa sepeda motor miliknya.


"Ck!" Riana berdecak.


"Hubungi dia sekarang!" perintah Riana dengan nada ketus.


Kayla faham, itu adalah bentuk rasa panik seseorang karena mengetahui orang yang disayangi sedang dalam bahaya. Sama seperti dirinya yang kerap kali membentak supir taxi atau dokter saat ayahnya sedang kambuh sakitnya.


"Tidak diangkat, Ma."


"Coba terus!" perintah Riana lagi.


***


Kalandra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Waktu tempuh ke gedung tua yang menjadi tujuannya hanyalah 20 menit. Ia sengaja ingin datang terlambat dan melihat apalah pria bernama Leo itu benar-benar datang atau tidak.


Kalandra tidak ingin menunggu. Ia yang harusnya ditunggu oleh orang yang sedang berusaha untuk menyakiti dirinya itu.


Ponsel di sakunya bergetar. " Kayla!" gumamnya. Ia kembali memasukkan ponselnya di dalam saku jaket.


"Maaf Kay, maaf Ma. Aku terpaksa menemui Leo."


"Mencari tahu siapa Leo melalui Clara adalah hal yang sia-sia. Wanita itu pasti akan berbohong. Dan lagi pula, aku tidak ingin memberi kesempatan pada Clara untuk kembali dalam kehidupanku."


Kalandra menggaruk dagunya. "Kalau memang aku berharga bagi mama, mengapa selama ini mama bersikap seperti ini padaku?"


"Apa jarak yang sedang mama ciptakan diantara kami semata-mata hanya untuk melindungiku?"


"Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat lama. Jika ingin, Leo bisa saja sudah menghabisiku." Ia ingat, saat Leo berusaha membuat Kalandra meragukan siapa ayah kandungnya saat usianya 10 tahun.


"Dan tiga belas tahun, yang lalu. Dia kembali muncul. Dan aku melihatnya bersama Clara."


"Apa mungkin Clara adalah putri mama dengannya?" Kalandra menggeleng. "Tanggal lahir kami hanya berbeda 2 bulan. Jadi tidak mungkin Clara juga anak mama."


"Tapi, bukankah tanggal lahir seseorang bisa dipalsukan?"


Kalandra membelokkan mobilnya menuju sebuah gedung yang tidak di gunakan lagi.


Tampak seorang pria berdiri di depannya. Sorotan lampu mobil sama sekali tidak membuat pria itu merasa silau.


Kalandra terus mendekat. "Leo!" bisiknya saat melihat Leo berdiri seolah menantang dirinya.

__ADS_1


__ADS_2