
Jendra tak bisa berkata apa-apa lagi saat Melani mengatakan butuh lebih dari sekedar alasan untuk memulai suatu hubungan.
Ia tidak mengerti apa yang ada dalam fikiran Melani. Bagaimana bisa, Melani tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya sedangkan mereka sudah bersama cukup lama?
Ia saja bisa sekhawatir tadi saat Melani sedang sakit. Dan Ia mengartikan bahwa memang ada satu perasaan yang ia miliki untuk gadis itu.
Jendra belum mengartikan kalau perasaan itu adalah perasaan cinta, tapi ia yakin kekhawatirannya itu beralasan.
Selama beberapa bulan terakhir, hanya Melani yang menjadi temannya. Bukan untuk bercerita, tapi justu untuk melupakan cerita pahit karena hubungannya dengan Cahaya tidak berhasil.
"Saya pulang dulu, Mel!" Pamitnya sambil berdiri dari sofa setelah keduanya tidak mengatakan apapun lagi.
"Cepat sembuh dan pergilah ke dokter jika perlu!"
Jendra berjalan menuju pintu. Ia berhenti sejenak untuk mengambil satu dari dua access card di dinding samping pintu.
"Besok saya kembalikan!"
Dengan begitu, Melani tak perlu mengantarnya turun. Ia melangkahkan kaki dengan perasaan yang ia sendiri tak mengerti.
Rasanya sangat miris saat melihat sekretarisnya itu hidup sendirian. Dan saat sakit begini, gadis itu harus mengurus dirinya sendiri.
Saat di dapur tadi, Jendra melihat ada sebuah teflon yang masih terletak diatas kompor dan sebuah cangkang telur di tempat sampah. Itu artinya, Melani hanya sarapan dengan telur, tanpa nasi. Mungkin dengan roti karena Jendra tidak melihat lampu ricecooker menyala. Itu artinya tidak ada nasi di dalamnya.
Jendra melihat isi kulkas yang tak banyak bahan makanan karena gadis itu pergi bersamanya kemarin dan tidak sempat untuk belanja bulanan.
Jendra akhirnya masuk ke sebuah supermarket yang masih terletak di kawasan apartemen itu. Ia membeli banyak bahan makanan. Mulai dari yang mentah, hingga yang siap saji. Jendra mengambil asal apa saja, apalagi barang itu pernah ia lihat di kulkas di dapurnya.
Ia tak malu sedikitpun saat banyak mata menatapnya ketika tengah berbelanja. Aneh saja, pria berjas rapi mendorong troli dan membeli banyak bahan makanan.
Sementara itu, Melani duduk termenung di sofa. Ia menekuk lutut, dan menopangkan kedua tangan diatas lututnya. Ia bahkan belum berpindah tempat setelah lebih dari 30 menit kepergian Jendra.
Melani mengingat setiap kejadian beberapa hari terakhir yang selalu membuatnya tidak bisa tidur. Mungkin sebab itulah kondisi kesehatannya menurun.
Dan puncaknya adalah pagi ini, saat dengan begitu mengejutkan, pria itu datang serta ucapan pria itu yang menohok di hatinya.
Lalu bagaimana dengan saya yang berulang kali mengajak kamu menikah. Bukan hanya mengabaikan, kamu malah menolak mentah-mentah!
Lalu, bagaimana dengan perasaan ibu saya yang terang-terangan memohon pada kamu, Mel?
Mengapa kamu tidak memberikan kesempatan itu?
"Mengapa aku tidak memberikan kesepatan itu?" gumamnya pelan.
Dan ia terkejut saat menyadari setetes air membasahi tangannya.
__ADS_1
Melani menatap langit-langit, tapi mengapa pandangannya buram?
Melani mengusap matanya. Basah?
Melani mengusapnya lagi dan benar, matanya basah. Ia tak menduga dirinya menangis karena tak sanggup menerima setiap ucapan Jendra. Ia merasa begitu jahat pada orang-orang yang sudah sangat baik padanya.
Mengapa aku mencari banyak alasan untuk menolaknya? Mengapa aku tidak mencari satu alasan untuk bisa menerimanya?
Cinta? Mengapa aku menggunakan kata itu sebagai alasannya? Apa aku tahu cinta itu seperti apa? Apa aku pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta?
Apa yang membuatku takut untuk bersamanya? Resiko ditinggalkan? Bukankah para pemain di kantor juga awalnya saling mencintai dengan pasangannya, tapi mereka masih bisa bermain api dengan rekannya sendiri?
Apa, apa, apa dan apa yang ku cari?
Mengapa, mengapa aku tidak bisa menerimanya? Apa karena dia bukan pria baik-baik? Lalu bagaimana denganku? Apa aku sudah menjadi wanita baik-baik?
Aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu asal usulku. Aku hanya seorang anak panti yang kebetulan bernasib beruntung.
"Mel ...."
Melani menatap ke arah pintu saat mendengar suara Jendra. Dan benar saja, pria itu masuk dengan membawa beberapa kantung belanjaan.
Melani buru-buru menyeka air matanya. Ia berusaha menjauhkan wajahnya dari pandangan Jendra. Ia tak ingin terlihat lemah di mata pria itu.
Jendra meletakkan belanjaan itu di meja makan. "Ini adalah bahan makanan. Saya membelinya karena saya melihat kulkas kamu kosong."
Jendra segera keluar dari apartemen itu. Ia sempat mendengar gadis itu mengucapkan terima kasih. Ia tak ingin memandang wajah gadis itu.
Ia melihat dengan jelas, Melani tengah menangis. Tapi, Jendra tak ingin Melani malu karena tahu ia melihatnya.
Apakah dia menangis karena ucapanku tadi? Apa yang sedang ia rasakan? Apakah sakitnya parah?
Jendra kembali ke kantornya dan melihat Kalandra sedang duduk di depan Meja kerja Kayla.
"Menjemput untuk makan siang, Kal?" tanyanya. Ia menarik kursi kosong di depan meja kerja Melani dan duduk di dekat Kalandra.
"Tidak juga, aku sedang menemani istriku," balas Kalandra yang masih memperhatikan Kayla bekerja dengan komputernya.
"Aku sudah disini sejak dua jam lalu."
Jendra terkejut. "Kenapa bisa? Kayla yang meminta kamu untuk datang?"
"Tidak!" Kalandra menggeleng. "Aku yang ingin. Tadi, aku menghubunginya dan menanyakan keberadaanmu. Dia mengatakan kalau kamu dan Melani sedang tidak berada di kantor."
"Dari mana?" tanya Kalandra yang mulai jahil. "Menjenguk Melani?"
__ADS_1
Jendra melengos. Mengapa bisa tepat sekali.
"Tidak usah dijawab. Aku sudah tahu."
"Sok tahu!" seru Jendra.
"Aku melihat mobilmu masuk ke kawasan apartemennya!"
Skak mat!
"Ck!" Jendra berdecak
"Mulai tumbuh benih-benih cinta, sepertinya." Kalandra tertawa.
"Cinta?"
"Jangan sok polos, playboy karatan!" Kalandra meninju pelan perut Jendra. Tidak serius, hanya main-main saja.
"Terlihat jelas, kamu mengkhawatirannya."
Jendra mengangkat bahunya. "Mama memintanya menikah denganku." Ia biasa menceritakan masalahnya pada Kalandra meski tidak akan menemukan solusi.
Bukan hanya Kalandra yang terkejut, tapi Kayla juga. Ia sampai berhenti bekerja demi melihat kesungguhan di wajah Jendra.
"Tante Jenar ingin, lalu kamu?" tanya Kalandra. "Kamu dan dia yang menjalani, Jend!"
"Jangan terpengaruh dengan orang lain meski itu mama kamu sendiri."
Jendra menatap sinis ke arah Kalandra. "Apa pantas, kalimat itu keluar dari mulut kamu yang menikah juga karena kesepakatan, Kal!"
Kayla menghela nafas. Memang benar, pernikahan kami awalnya juga bukan karena keingin kami. Tapi karena keadaan.
Kalandra tertawa pelan. "Justru karena itu, Jend. Aku menyesal menikah dengan cara seperti itu. Aku mencintai Kayla dengan cepat, mengapa dulu kami tidak menjalani pendekatan lebih dulu."
"Lalu, dia menolak?" tanya Kalandra kembali ke pembicaraan mereka.
Jendra mengangguk. "Ya, dengan alasan dia tidak mencintaiku."
Kalandra tertawa. "Makanya jangan galak-galak, Jend. Dia itu wanita, perasaannya sangat sensitif."
"Kelihatannya saja bar-bar, tapi hatinya tetap selembut gula kapas."
"Ck!" Decak Jendra. "Suami kamu belajar dari mana, Kay!"
Kayla mengu-lum senyum. "Pengalaman yang mengajarkannya, Pak!"
__ADS_1
Kalandra tersenyum menatap istrinya. Pria itu menunjukkan finger heart dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Hoek! Aku ingin muntah!" Jendra berjalan masuk ke ruangannya meninggalkan sepasang suami istri yang tengah terbahak.