Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 113 S2 Mama


__ADS_3

Setelah mengakui bahwa mereka memang akan menikah tiga hari lagi, wanita cantik berusia lima puluh tahunan itu membawa Melani keluar dari kantor.


"Ma, mama mau bawa kemana Melani?" tanya Jendra saat mereka sudah berada di parkiran.


Jendra tak bisa tinggal diam saat orang tuanya memaksa Melani untuk ikut. Ia membuntuti mereka hingga masuk ke dalam mobil.


"Ma, dia tidak tahu apapun soal ini, ma. Aku sendiri yang berencana untuk membuat kejutan. Dia sudah memintaku untuk mengatakan pada kalian, tapi aku yang keras kepala."


Jenar melarang Jendra untuk masuk ke dalam mobil. Sedangkan Melani sudah berada di dalam mobil.


"Ma ...." Jendra terus memaksa untuk masuk.


"Diamlah!" Jenar menahan dada Jendra agar tidak maju meski selangkah pun.


"Mama tidak mungkin menyiksanya, Jend! Belum puas kamu mendengar kalau mama dan papa merestui kalian?"


"Tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia akan baik-baik saja bersama mama."


"Tapi, Ma. Melani masih bekerja ..."


"Dasar bos gil*! Calon suami tidak waras!" Jenar menatap tajam putranya.


"Kamu masih membiarkan dia bekerja di hari ketiga sebelum pernikahan kalian?"


"Kamu ingin melihat matanya seperti panda saat akad nikah? Kamu ingin dia pingsan di hari pernikahan kalian?"


"Diamlah. Dan kembalilah bekerja!"


"Berikan kunci mobilmu!" Jenar menengadahkan telapak tangannya meminta kunci mobil putranya.


Jendra mengerutkan kening. Ia masih belum tahu apa yang akan dilakukan mamanya.


"Berikan, Jendra Dewandaru!"


Jendra akhirnya memberikan kunci mobil yang ia ambil dari saku celananya setelah mamanya menyebut nama lengkapnya.


"Pa, papa pulang naik mobil Jendra. Mama dan Melani harus pergi sebentar!"


Surendra mengangguk. Ia sudah tahu, ap yang akan istrinya lakukan. Ia tidak ingin ikut campur dalam urusan perempuan. Lebih baik ia pulang ke rumah. Berkeliling perusahaan juga masih bisa ia lakukan besok.


Jendra mengacak rambutnya kesal. Ia tidak tahu kemana mama dan calon istrinya akan pergi. Sementara mobilnya di bawa oleh papanya.


Jendra menghela nafas berat. Ia melangkahkan kakinya yang terasa lemas menuju ruang kerjanya.


"Semua gara-gara suami kamu!" Jendra duduk di depan Kayla dan bersandar di kursi itu. Bahunya merosot dan ia seperti orang yang kehilangan gairah untuk hidup.


Kayla melirik kesal. Ia tidak mendengarkan semua perdebatan itu dengan jelas. Tapi, ia bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu akibat suaminya yang keceplosan saat berbicara dengan Jenar kemarin malam.


"Saya tidak tahu menahu soal itu, Pak!" jawab Kayla.

__ADS_1


"Aku tidak marah padamu. Aku hanya kesal pada suamimu!" Jendra menganggap Kayla sebagai istri dari sahabatnya. Bukan sebagai sekretarisnya.


"Dia memang suka sekali membuatku dalam masalah. Dia memang selalu memihak pada mamaku."


"Nanti, izinkan aku untuk menceki*k lehernya, Kay! Aku sangat ingin melakukannya."


"Apa anda ingin keponakan anda menjadi anak yatim sebelum lahir, Pak?"


Jendra terkesiap. "Ck! Serius sekali sih, Kay?"


"Tidak mungkin aku menceki*knya sampai ia kehabisan nafas."


"Aku belum mau namaku muncul di semua media karena kasus pelenya-pan terhadap pewaris Rajaswa."


Kayla tertawa. "Masih ada satu pewaris lagi, Pak!"


"Siapa? Reyga?" tanya Jendra menaikkan sebelah alisnya.


Kayla mengangguk.


Jendra tertawa. "Reyga lebih memilih perusahaan itu bangkrut daripada meneruskan perusahaan, Kay!"


"Hahaha ... Kamu harusnya faham akan hal itu. Reyga tidak seperti Kalandra. Dia memang ingin berdiri diatas kakinya sendiri. Ia tidak tertarik dengan warisan Almarhum om Bagas."


Kayla mengerutkan kening. "Anda sepertinya sangat faham mengenai hal itu."


Jendra menghela nafas. "Jika saja kami memiliki wajah yang mirip. Ah, maksudku aku dan Kalandra. Mungkin kami akan bertukar posisi tanpa ada yang tahu siapa kami sebenarnya. Itu karena kami sangat tau tentang kehidupan satu sama lain."


Jendra mengangguk. "Sangat dekat. Hanya saja tujuan kami berbeda."


"Tujuan apa, Pak?"


"Ya tujuan!" Jendra berdiri bersiap masuk ke ruangannya. "Kalandra belok ke tempat gym, aku ke club. Hahahaha."


Sementara itu Melani tak bisa berhenti mere*mas jemari tangannya saat ia sedang di dalam mobil yang sama dengan calon mama mertuanya.


"Mama ingin bicara banyak padamu, Mel!"


Melani seketika menatap wanita anggun yang kini sedang menatap dirinya. Bukan karena Jenar ingin bicara banyak padanya. Tapi kata mama yang membuatnya merasa seperti seorang anak yang diinginkan.


"Mama ...?" desis Melani penuh tanya.


Jenar mengangguk. "Ya, mama. Kenapa Mel? Ada yang salah?"


Melani tertegun.


"Bukankan saya akan menjadi mama kamu?"


"Mama ...." Melani membuang muka menatap kearah luar. Mengapa jadi melow begini?

__ADS_1


Tapi, jujur saja. Panggilan mama tidak pernah sekalipun keluar dari mulutnya untuk wanita manapun, bahkan untuk ibu panti yang mengurusnya. Lalu sekarang, apakah dia akan punya mama?


"Mel," panggil Jenar. Wanita itu meraih bahu Melani dan membuat gadis itu menatapnya.


"Hei, mengapa kamu menangis?" Jenar panik saat melihat pipi Melani sudah basah.


Melani mengusap air mata di pipinya lalu ia menggeleng lemah.


"Kamu kenapa? Saya menyinggung perasaan kamu?"


Melani menggeleng. "Bolehkah aku memeluk ... ma ... ma?" tanyanya yang sedang terisak.


Senyuman lebar terbit di wajah Jenar. Ia mengangguk dan merentangkan tangannya. Seketika Melani masuk dalam pelukannya.


*Ya Tuhan, sehangat inikah pelukan seorang mama? Pelukan ibu panti memang menghangatkan, tapi kali ini begitu menenangkan. Ada rasa aman dan nyaman saat tubuh ini dipeluk seerat ini.


Mama, dimanapun mama berada. Entah masih di dunia atau sudah disisi Tuhan, terima kasih sudah melahirkanku. Terima kasih sudah membuatku tetap hidup dengan meletakkanku di depan gerbang panti. Setidaknya, kini aku bisa merasakan pelukan seorang mama setelah 30 tahun menunggu*.


"Mengapa kamu bersedih, Mel? Menangislah jika ingin, karena mulai detik ini mama akan mendengarkan setiap cerita kamu, setiap keluh kesah kamu, dan setiap tawa kamu."


Jenar merasa bahagia, akhirnya ia bisa memeluk anak perempuan meski tidak terlahir dari rahimnya. Ia menang menginginkan anak setelah beberapa tahun setelah kelahiran Jendra, tapi ternyata Tuhan hanya menitipkan Jendra pada mereka.


"Sudah, ya... Calon pengantin tidak boleh bersedih!" Jenar melepas pelukannya dan menghapus air mata Melani.


Senyum malu-malu Melani tunjukkan saat Jenar menyebutnya sebagai calon pengantin. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah dalam waktu dekat.


"Apa saja yang sudah Jendra belikan untuk kamu? Untuk persiapan di hari pernikahan kalian?"


Melani menyebutkan beberapa keperluan yang sudah mereka beli kemarin. Mulai dari kebaya pernikahan, cincin, sepatu hak tinggi dan beberapa barang untuknya.


"Hari ini, mama akan memberikan lebih banyak untuk kamu."


"Tapi, Mas Jendra ...."


"Mas?" Jenar mengerutkan keningnya. "Oh ... manis sekali ...." Jenar tertawa senang. Jemarinya mengusap rambut Melani.


"Anak gil* itu dipanggil Mas? Ya Tuhan, apa pantas?"


Melani tersipu malu. Wajahnya memerah seketika. "Itu permintaan Mas Jendra sendiri, ma."


Jenar kembali menatapnya. "Dia yang minta?" tanya Jenar yang terkejut.


"Hahaha... astaga! Lucu sekali anak itu! Papa pasti akan tertawa mendengar hal ini."


Melani semakin bingung. Mengapa hal sesederhana itu membuat wanita di depannya tertawa begitu senang.


"Kamu perlu tahu, Mel. Jendra jarang sekali meminta pacarnya memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Selama ini ia lebih nyaman dipanggil nama."


"Makanya mama merasa lucu sekaligus bahagia mendengar Jendra tampak antusias menjalani hubungan dengan kamu. Sampai request panggilan spesial pula."

__ADS_1


Bagi Melani, tidak ada hal yang begitu istimewa dari permintaan Jendra. Panggilan Mas, bukankah sangat wajar dan biasa didengar? Kayla juga memanggil Kalandra dengan panggilan itu?


__ADS_2