Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 44 Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Kalandra bisa merasakan kasurnya sedikit bergetar karena Kayla terlalu sering mengubah posisi. Saat ini, ia belum tidur. Kalandra masih bermain game di ponselnya.


"Aarrg!" Teriak Kayla sambil mengacak rambutnya. Ia yang sudah berbaring terpaksa segera mengubah posisi menjadi duduk.


Pikirannya carut marut hanya karena perlakuan Kalandra yang membuatnya terbawa perasaan.


Sebelum berangkat ke rumah Reyga, Kalandra merangkulnya. Saat di rumah Reyga, Kalandra beberapa kali menggenggam tangannya. Dan saat sudah di rumah, tanpa sengaja ia malah menubruk tubuh pria itu.


Flashback On


Sepulang dari rumah Reyga, Kayla langsung membersihkan diri ke kamar mandi sementara Kalandra diajak bicara empat mata dengan Oma.


Kayla membersihkan make up dan segera mengganti pakaiannya. Dan saat membuka pintu kamar mandi, ia tidak melihat kalau Kalandra juga akan masuk.


"Dug!"


Keningnya menabrak dagu Kalandra. Kayla sampai mundur ke belakang, tapi Kalandra buru-buru meraih pinggangnya agar tidak jatuh.


"Harusnya lebih hati-hati, Kay!"


Kayla mematung saat merasakan lengan kekar pria itu melingkar di pinggangnya. Tapi, tak urung ia juga mengangguk.


"Kamu sakit?" tanya Kalandra saat Kayla diam saja.


Kayla menggeleng. Ia tengah terhipnotis dengan ketampanan pria yang rambutnya selalu tampak klimis itu.


"Kay!"


"Kay!" berulang kali Kalandra memanggil Kayla, tapi gadis itu tetap diam dan terus menatapnya.


Kalandra hanya takut jika ia melepaskan tangannya, Kayla akan jatuh ke lantai.


"Kay!"


"Huh!" Sambil tertawa, Kalandra meniup pelan wajah Kayla membuat siempunya seketika tersadar bahwa posisi tubuh keduanya sangat dekat bahkan saling menempel.


"Eh, maaf. Maaf Mas!" Kayla gugup.


Flashback Off


"Astaga! Sepertinya aku butuh kopi!" Kayla menggerutu kesal. Ia membuka selimut yang menutup setengah tubuhnya lalu turun dari tempat tidur.


"Sekalian, Kay!"


Jika tubuhnya diibaratkan seperti sebuah kendaraan, maka gerakannya kali ini disebut mengerem mendadak.


Kakinya seketika berhenti melangkah. Lalu tubuhnya berbalik melihat pria yang sedang meringkuk dan bermain game di ponsel.


"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Kayla heran.


"Belum."


"Kamu mau kopi apa? Hitam, putih, atau..."


"Kopi susu."


"Oke."


Kayla keluar dari kamar. "Bisa-bisanya aku tidak tahu kalau dia belum tidur. Mengapa dia bisa bermain game tapi terasa senyap-senyap saja. Berbeda sekali saat bermain PS dengan pak Jendra!" gumam Kayla.

__ADS_1


Kalandra duduk diatas ranjang, ia berhenti bermain game yang sengaja tidak ia aktifkan suara dan getarnya.


Sebenarnya ia sudah mengantuk. Tapi, karena tahu Kayla masih belum tidur, ia jadi tidak ingin tidur juga.


Kalandra hanya berjaga-jaga jika Kayla ingin bercerita dengannya. Apa lagi saat melihat Kayla menangis dalam diam saat di mobil tadi.


Ia tidak tahu, beban apa yang gadis itu pikul. Gadis itu hidup sendirian, tanpa keluarga lagi dan ia merasa iba.


Ia tak keberatan jika Kayla menjadikannya tempat curhat. Tapi ternyata tidak. Gadis itu malah bertahan dalam kegelisahan hingga tidak bisa tidur.


Kayla masuk dengan membawa dua cangkir kopi dan setoples kue nastar.


"Dapat dari mana?" tanya Kalandra menunjuk kue nastar tersebut.


"Mama yang buat," jawab Kayla. "Sebagian mama bawa ke rumah Reyga."


Kalandra mengerutkan kening. "Kenapa aku tidak melihatnya tadi?" tanya Kalandra.


"Ada, di dalam paperbag coklat." jawab Kayla yang memang sempat mempersiapkannya sebelum berangkat.


"Kok aku tidak tahu, ya? Padahal kue nastar adalah kue kesukaanku dan Reyga."


Kayla tersenyum jahil. "Karena takut kamu habiskan."


Kalandra tertawa. Keduanya duduk di sofa yang sama. Hanya ada jarak sejengkal diantara mereka.


"Kamu tahu? Kue nastar ini adalah kue yang paling kami berdua sukai."


Kayla mendengarkan cerita Kalandra sambil menikmati kue kesukaan pria itu.


"Dulu, mama sering membuatnya." Kalandra menatap kosong ke arahnya.


"Aku bisa, tapi Reyga belum. Karena saat itu dia masih sangat kecil."


Kalandra menatap Kayla dengan mata berkaca. Kenangan itu begitu indah hingga dia tidak akan mungkin lupa.


"Tapi, sejak mama pernah meninggalkan rumah, kue buatan mama ini tidak pernah lagi ku sentuh."


"Karena aku tidak ingin makan, mama tidak pernah lagi membuatnya."


"Jadi, ini untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun?" tanya Kayla takjub.


Kalandra mengangguk. "Ya."


"Dan rasanya masih sama. Enak!"


Kayla tertawa.


"Ceritakan tentang ibumu!" pinta Kalandra.


Kayla tersenyum miris. "Dia TKW dan belum pulang hingga sekarang."


"Just it?" tanya Kalandra.


"Masih banyak, Mas. Tapi sudah terlanjur terkubur dengan kenangan bersama ayah."


"Jika ku ingat lagi, maka yang ku temui hanyalah seorang gadis belia yang menangis di sudut kamar karena ibunya tidak kembali lagi setelah ia antar ke terminal."


Kalandra bingung. "Ibumu tidak pamit?"

__ADS_1


Kayla menggeleng. "Ibu hanya mengatakan akan bekerja, merantau. Tapi aku tahu dari ayah kalau ternyata ibu meninggalkan kami untuk bekerja ke luar negeri."


"Kamu tidak pernah mencarinya? Mungkin melalui agen atau dinas terkait?" tanya Kalandra.


Kayla menggeleng. "Tidak. Biarkan saja."


"Dia pasti akan pulang jika ingin," lanjut Kayla.


"Jika dia baik-baik saja. Jika dia disiksa, atau mungkin sudah tiada. Maaf Kay, tapi aku bicara kenyataan."


Kayla menggeleng. "Dia baik-baik saja."


"Dari mana kamu tahu?"


"Temanku melihat akun media sosialnya. Dan dia terlihat bahagia dengan keluarga barunya."


"Kamu tidak ingin menyapanya?"


Kayla menggeleng. "Aku takut malah merusak keluarga barunya."


"Aku sudah bisa menerima semua ini. Ayah saja sudah cukup bagiku," mata Kayla kembali berkaca-kaca.


"Lalu, air mata kamu tadi jatuh karena apa, Kay?" tanya Kalandra karena ia benar-benar merasa penasaran melihat Kayla yang tiba-tiba menangis.


Kayla terkesiap. Ia menatap Kalandra lalu membuang muka, tak tahan dengan mata teduh milik pria yang sebenarnya merupakan suaminya itu.


"Bukan karena apapun, Mas." Jawabnya bohong. Menyangkal kalau dirinya tidak menangis juga percuma. Kalandra sudah jelas-jelas melihatnya tadi.


"Hemm!" Kalandra menarik satu sudut bibirnya. "Tidak mungkin ada orang yang menangis tanpa sebab, Kay."


"Kamu tidak ingin cerita?" Tanya Kalandra.


Kayla menatap Kalandra cukup lama. Pandangan mata keduanya saling mengunci.


Jarak yang lumayan dekat membuat mereka bisa melihat wajah satu sama lain.


Kayla merasa darahnya kembali berdesir, dan jantungnya berdebar hebat.


Ya Tuhan, mengapa aku jatuh cinta padanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya.


Kayla memutus pandangan mata mereka. Ia segera berdiri. "Aku tidur dulu, Mas!" Ucap Kayla.


Saat ia berbalik, tangannya diraih oleh Kalandra. "Tunggu, Kay!" Ucap Kalandra.


Kayla menoleh dan matanya melihat kearah tangan Kalandra yang menggenggam pergelangan tangannya.


"Eh, maaf!" Kalandra refleks melepaskan tangan Kayla karena melihat ekspresi gadis itu sangat tidak ramah.


Kayla mengangguk dan berjalan menuju ranjang.


"Jika tidak ingin cerita, tidak masalah Kay. Tapi, perlu kamu tahu, aku siap mendengarnya jika kamu ingin."


Kayla naik ke ranjang. Ia tersenyum canggung. "Terima kasih, Mas." Kayla merebahkan diri dan tidur meringkuk di ranjang.


"Aku tahu, tangismu pasti karena sesuatu, Kay!" Gumam Kalandra yang masih bisa ia dengar.


Karena aku takut jatuh cinta padamu, Mas. Aku takut kelak, saat aku harus pergi, hatiku sudah terlanjur mencintai kamu.


Aku sudah terjebak dalam keputusanku sendiri. Aku harus membuang perasan ini jauh-jauh.

__ADS_1


__ADS_2