Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 53 Saling Jujur


__ADS_3

"Oma!" Ucap Kayla dan Kalandra bersamaan. Keduanya saling menatap terkejut melihat selembar kertas di dalam map biru yang sangat mereka kenali.


Kalandra dan Kayla saling mendekat dan keduanya sama-sama melangkahkan kaki mendekati Oma.


"Kalian cari ini, kan?" tanya Oma lagi.


"Ba-bagaimana surat itu bisa berada di tangan Oma?" tanya Kalandra gugup.


Oma masuk ke dalam, takut ada orang lain mendengar pembicaraan mereka nanti. Oma duduk di sofa dan keduanya juga di minta untuk duduk.


"Tidak penting oma dapat dari mana."


Sebenarnya, Oma menemukannya saat melihat bi Marni membereskan kamar Kalandra. Saat itu, tanpa sengaja Oma menjatuhkan tumpukan berkas di meja Kalandra sehingga surat perjanjian itu keluar dari mapnya.


Oma yang membaca surat itu, sempat terkejut. Tapi ia tahu, Kalandra tidak mungkin melakukannya tanpa alasan yang kuat.


"Tapi, yang pasti oma kecewa denganmu!"


"Jika Reyga tidak bahagia dengan pernikahannya, Oma rasa sangat wajar. Karena ia dijebak."


"Dan kamu, malah sengaja menjebakkan diri dalam pernikahan kontrak ini."


Oma menghela nafas. "Melihat kalian yang cepat akrab, Oma berusaha memberi ruang agar kalian akhirnya bisa menerima satu sama lain."


"Tapi nyatanya, keakraban itu tidak membuat kalian mengakhiri permainan ini."


Kalandra dan Kayla menunduk tak sanggup menatap wajah oma yang tampak marah meski bicaranya tidak dengan nada keras sedikitpun.


Tapi dari tiap kalimat yang keluar dari mulutnya, adalah ungkapan kekecewaan.


"Tapi, aku bahagia dengan pernikahan ini, Oma," jawab Kalandra jujur.


Kayla seketika langsung menatap wajah pria itu. Ia tak menyangka Kalandra akan menjawab demikian.


Dia merasa bahagia dengan pernikahan ini? Kayla berdebar mendengar jawaban Kalandra yang tidak mungkin berbohong di depan oma.


Dari jawaban itu, bukankah cukup membuktikan bahwa Kalandra bisa menerima Kayla sebagai istrinya?


"Kamu bahagia?" tanya Oma ragu atas jawaban cucunya itu.


Kalandra mengangguk. "Ya, walaupun pada awalnya aku dan Kayla menikah karena sebuah kesepakatan, tapi semakin kesini, aku semakin berusaha untuk serius menjalaninya."


"Aku terbiasa dengan kehadirannya." Kalandra menatap dalam mata Kayla.


"Aku merasa tidak sendiri lagi, Oma!"


"Sekarang aku punya tujuan hidup, yaitu melihatnya tersenyum." Kedua sudut bibirnya melengkung tanda ia tengah tersenyum.


Kalandra mengulurkan tangan, menggenggam tangan Kayla yang berada dipangkuan gadis itu. Meyakinkan bahwa apa yang ia katakan memang benar dari lubuk hatinya.

__ADS_1


"Aku mencintainya."


Luruh sudah air mata yang sedari tadi dengan susah payah Kayla tahan. Ungkapan cinta yang begitu manis. Tatapan mata itu sungguh tidak menunjukkan keraguan sedikitpun.


"Aku ingin membahagiakannya."


"Melindunginya, menjadi alasan senyum dibibirnya. Aku ingin menjadikannya satu-satunya milikku, Oma."


"Aku, dengan sadar akan membatalkan perjanjian diantara kami." Kalandra menatap Oma dengan serius.


"Kamu yakin, Andra?" tanya Oma lagi.


"Yakin Oma."


"Maksud Oma, kamu yakin Kayla akan menerima kamu?" tanya Oma sedang senyum tipisnya.


Kalandra terkejut dengan pertanyaan oma. Ah, benar juga. Dia mau menerimaku atau tidak.


Kalandra kembali menatap Kayla. "Kamu mau kan, Kay?" tanyanya.


Kayla tersenyum. "Jika jawabannya tidak, genggaman tangan ini pasti sudah terlepas sejak tadi, Mas!" jawabnya dengan air mata yang kembali menetes.


Kalandra langsung memeluk Kayla. "Terima kasih!" bisiknya.


"Maaf selama ini sudah sangat merepotkanmu. Maaf kalau selama ini Aku sudah terlalu jauh melibatkan kamu."


Kalandra mengurai pelukan mereka. Ia menghapus air mata Kayla dengan ibu jarinya. "Pukul aku Oma, jika kelak aku membuatnya menangis sedih karena perkataan ataupun perbuatanku."


Kayla tersenyum. "Terima kasih, Mas."


"Selama ini, kamu sudah sangat baik padaku. Aku merasa seperti dulu lagi, saat ada seorang pria yang menjagaku, mengkhawatirkan aku, menjadi tempatku berkeluh kesah saat aku lelah, menjadi temanku saat senang dan sedih. Kamu juga selalu memberi ruang saat aku sedang mengenang ayahku."


Kalandra mengangguk. "Sama-sama, Kay."


"Jadi, sampai kapan oma harus menjadi penonton seperti ini?" suara wanita tua itu membuat mereka sadar, bahwa mereka sedang berada di meja persidangan.


Keduanya menatap Oma. Kalandra meminta surat perjanjian itu dari tangan Oma. "Berikan surat itu padaku, Oma."


Oma memberikannya pada Kalandra. Pria itu melihat berkas yang mereka tanda tangani lebih dari tiga bulan lalu itu.


Kalandra menggunakan kedua tangannya dan menyobek berkas itu menjadi dua bagian. "Aku membatalkan perjanjian ini, Kay!"


"Dan untuk pertama kalinya aku mengubah keputusanku."


"Aku ingin kita menjalankan pernikahan sebagai sepasang suami istri sungguhan." Kalandra menyobek kertas itu lagi menjadi empat bagian.


"Bukan atas perjanjian dan saling mencari keuntungan." Kalandra kembali menyobeknya hingga beberapa bagian lagi.


"Mas, apa aku masih boleh bekerja," tanya Kayla.

__ADS_1


Kalandra mengangguk. "Aku tidak akan membatasi ruang gerak kamu. Selama tidak melebihi batas wajar."


Kayla menghela nafas. "Aku masih harus membantu bu Susi,-"


"Bantulah sampai saatnya kamu merasa cukup, Kay!"


Kayla mengangguk dan kembali memeluk Kalandra. "Aku hanya ingin membantunya Mas. Aku sangat mengapresiasi perjuangannya membesarkan dan menyekolahkan Alif ditengah-tengah himpitan ekonomi."


"Kalau begitu, Oma keluar dulu. Tetap rahasiakan ini semua meski surat perjanjian itu tidak ada lagi."


"Jangan sampai ada yang tahu hingga hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."


"Baik, Oma. Terima kasih," Kalandra dan Kayla memeluk Oma dan mengantarkan wanita itu ke depan pintu kamar mereka.


"Selamat malam, Oma."


"Selamat malam." jawab Oma.


"Ah, ya. Oma hampir lupa. Segera lepas segelnya." bisik Oma pelan.


Kayla perlahan mundur karena pipinya bersemu merah sekarang. Ia merasa malu dengan ucapan Oma. Benar dugaanku. Oma pasti tahu kalau aku masih pera*wan.


"Hari yang melelahkan!" Kalandra membanting tubuhnya diatas ranjang.


"Sama. Sakitku bahkan sembuh dengan sendirinya, Mas!" balas Kayla yang juga membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Lebih tepatnya disamping Kalandra.


Kalandra tertawa. Mereka saling menoleh ke samping hingga tatapan mata keduanya bertemu.


"Jawab jujur Kay! Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Kalandra.


"Siapa yang mencintaimu, Mas?" tanya Kayla. "Aku tidak mengatakan tadi."


Kalandra mengerutkan keningnya. "Kamu. Bu-bukankah kamu mencintaiku?"


Kalandra berdebar. Apa Kayla hanya bersandiwara di depan Oma. Berpura-pura mencintaiku agar perjanjian itu di batalkan lalu dia- belum selesai batinnya berbicara.


"Tadi aku belum mengatakannya kan?" tanya Kayla.


"Dan sekarang, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku sangat mencintai kamu, Mas!"


"Entah sejak kapan, Mas. Mungkin sejak aku mulai cemburu melihat kamu dan Clara."


Kalandra mendekat dan mencuri satu kecupan di kening Kayla. Membuat si empunya terkejut dan diam mematung.


"Aku mandi dulu. Setelah ini kita buatkan cucu untuk Oma!" Kalandra berdiri dan berlari masuk ke kamar mandi.


Kayla langsung duduk. Ia memegang dadanya yang berdebar hebat saat mendengar Kalandra mengajaknya membuatkan cucu untuk Oma.


Apa itu artinya ia harus melepas keperawa*nanya bersama pria itu? Ah, ya. Bukankah pria yang empat bulan lalu merupakan pria asing baginya itu kini telah menjadi suaminya?

__ADS_1


Dan dengan tidak adanya lagi perjanjian diantara mereka, maka Kalandra berhak atas dirinya. Menyentuhnya dan melampiaskan hasrat padanya.


Ya Tuhan? Apa aku sudah siap untuk melakukannya?


__ADS_2