
Setelah dinasehati oleh Kalandra dan Kayla, ternyata Melani dan Jendra masih belum ingin membahas masalah mereka.
Kayla sampai geram karena keduanya justru terlihat seperti anak kecil yang merajuk pada kakak atau adik sendiri.
"Siang ini ada meeting sekalian makan siang di restoran X, Pak!" Kayla dan Jendra baru saja datang dan keduanya berjalan bersama.
"Siang ini?" tanya Jendra.
Kayla mengangguk. "Beliau tidak ingin meeting ditunda lagi, Pak. Saya sudah lebih dari 2 kali mengatur ulang jadwal meeting dengan beliau."
Jendra berhenti dan menatap Kayla. "Kamu saja yang ikut meeting dengan saya."
"Saya tidak bisa, Pak. Perut saya sering kram belakangan ini!"
Huh! Jendra menghembuskan nafas berat. "Siang ini, kan? Akan saya fikirkan nanti!"
Jendra meninggalkan Kayla. "Pak, mereka tidak ingin diwakilkan!"
Jendra mengangguk tanpa berbalik. Ia tahu, meeting kali ini tidak mungkin diwakilkan. Ia berhenti di meja kerja Melani.
Wanita itu tampak sedang tersenyum menatap layar ponselnya. Dia sedang apa? Apa sedang berbalas chat dengan pacarnya?
Melani senyum lagi. Lalu keningnya berkerut, dan kembali tersenyum.
Apa dia mulai gila? Ck! Dia pasti sedang membaca gombalan murahan dari pacarnya. Bapak kamu tukang kebun ya? Kok tau? Karena kamu telah menyirami hatiku yang telah lama tandus. Cih! Jendra kesal dengan fikirannya sendiri.
"Pacaran jangan di kantor!" tegur Jendra membuat Melani seketika menatap pria yang memakai jas itu.
"Dan, kamu ikut saya meeting siang ini!" Jendra segera masuk ke ruangannya.
Melani menatap Kayla dan memberi kode dengan menaikkan dagunya seolah bertanya, "Si singa kenapa lagi?"
Kayla duduk di kursi kerjanya. Ia mengangkat bahu, tanda tidak tahu penyebab Jendra marah.
"Sepertinya dia mulai gila lagi," gumam Melani yang tertawa senang.
Kayla membulatkan mata. Pasangan aneh. Senang sekali kalau saling membuat kesal.
"Dia cemburu! Masa begitu saja tidak mengerti, Mbak!" Geram Kayla. Ia sampai menepuk keningnya sangking salutnya dengan ketidak pekaan Melani.
"Cemburu karena apa? Dan dengan siapa?"
"Mana aku tahu! Memangnya mbak Mel sedang chatan dengan siapa?"
Melani menggeleng. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Kayla. "Aku sedang membaca novel online, judulnya Istri Bar-Bar Sang Pewaris. Kamu mau coba baca?"
Kayla menggeleng.
"Kenapa?"
"Judulnya membuat aku tersindir!"
Melani tertawa keras. "Oh Tuhan, ini cerita fiksi Kayla! Malah baper!"
__ADS_1
Kayla melipat tangannya di dada. "Malah bahas novel online! Fikirkan saja singa gila yang sedang cemburu itu!"
"Jika dia sedang cemburu, biarkan saja!" jawabnya.
***
Melani mengikuti langkah kaki Jendra yang berjalan memasuki sebuah restoran. Mereka diarahkan menuju VVIP Room oleh pelayan.
Melani mengerutkan keningnya karena merasa aneh saat mereka akan meeting di ruangan yang tertutup. Ia sempat meyakinkan dirinya, bahwa mungkin alasannya karena mereka akan bertemu klien penting.
Ini untuk kedua kalinya mereka bertemu karena pertemuan pertama belum mencapai kata sepakat.
"Pak, perasaan saya tidak enak!" bisik Melani yang berharap Jendra bisa lebih waspada.
"Jangan membahas soal perasaan, Mel! Bukan saatnya!"
Melani mengepalkan tangannya geram, karena pria di sampingnya itu malah salah mengartikan ucapannya.
Benar saja. Ternyata mereka disambut oleh lebih dari 6 orang wanita berpakaian sangat minim. Dan Melani tak bisa berfikir jernih lagi karena beberapa dari mereka adalah mantan pacar Jendra yang pernah datang ke kantor.
Pintu ruangan itu sudah di kunci dan Melani mulai panik. Ruangan yang tidak terlalu terang itu membuatnya semakin meningkatkan kewaspadaan.
"Selamat datang, Pak Jendra! Ayo silahkan duduk." Seorang pria buncit yang digelayuti dua wanita menyambut kedatangan Jendra dan Melani.
Jendra meraih tangan Melani. "Jangan jauh-jauh!"
Melani terkejut, tapi tak urung ia mengangguk karena memang sepertinya ada yang tidak beres.
Melani duduk disamping Jenda. Ia bahkan menepel disamping pria itu.
"Silakan diminum!" ucap Pria itu saat seorang wanita sudah mengisi gelas kecil di depan mereka berdua dengan minuman beralkohol.
Jendra mengangguk. "Terima kasih, saya tidak minum."
"Bicara ke intinya saja, Pak! Saya tidak bisa berlama-lama karena harus mengejar jadwal meeting selanjutnya." Jendra menarik ujung jasnya agar terkesan lebih rapi.
"Mengapa terburu-buru? Anda tidak ingin bersenang-senang dulu dengan wanita-wanitaku?"
Jendra menyeringai. "Saya tidak memakai barang bekas!"
Astaga? Apa bibirnya tidak gatal mengatakan semua itu? Batin Melani.
"Kenapa? Apa karena sekarang milikmu tak sekuat dulu?" tanya Wanita yang berdiri di belakangnya.
Jendra malas menanggapinya.
"Atau memang, milikmu sudah tidak berfungsi lagi akibat terlalu sering digunakan!" Semua wanita itu mentertawakan Jendra.
Jendra menyeringai. "Golok akan semakin tajam saat semakin sering diasah! Jangan meragukan kemampuanku! Semantara dirimu pernah mengemis untuk kembali kusentuh!"
Melani mengehela nafas berat. Obrolan yang membuat kepalaku berdenyut.
"Hahaha! Mengapa kalian meragukan pria tangguh ini?" tanya Pria didepan mereka.
__ADS_1
Jendra menyandarkan punggungnya, dan menaikkan kedua kakinya diatas meja. Ia meluruskan kaki dan menyilangkannya.
Dia mau apa lagi? Bukannya berusaha agar bisa segera keluar dari tempat ini, dia malah meladeninya. Batin Melani ketar-ketir.
"Anda ingin membahas apa? Kerja sama kita atau urusan lainnya?"
"Hahaha ... ini hanya sebagai hiburan!"
"Selesaikan sekarang, atau aku akan membatalkan kerja sama kita!" Jendra mode marah.
"Anda tidak tertarik dengan mereka?"
"Selesaikan sebelum aku menarik lidahmu!" potong Jendra cepat
"Baiklah!" Pria itu tertawa. "Besok saya akan ke kantor anda! Kita akan membahas kerja sama ini disana!"
Jendra segera berdiri dan merapikan jasnya. "Saya tunggu!"
"Lain kali, jangan salah taktik saat bermain!" Itu peringatan dari Jendra, karena tidak semua pria senang mendapat hiburan seperti ini.
"Ayo, Mel!" Jendra dan Melani berjalan keluar dari ruangan itu.
"Bisa-bisanya melobiku dengan cara seperti itu," gumam Jendra dengan perasaan kesal. Keduanya sudah masuk ke dalam mobil.
"Apa dia fikir aku akan mudah terbujuk meaki untuk urusan perusahaan?"
Melani duduk bersandar di kursi mobil. Ia menghembuskan nafas lega, karena akhirnya bisa keluar dari ruangan itu.
"Jangan takut, kita sudah aman!"
"Apa tidak menjadi masalah, seorang bos membawa wanita sebanyak itu, Pak?" Melani penasaran karena ini kali pertama seseorang melobi Jendra dengan cara seperti ini. Biasanya hanya sekedar makan siang atau makan malam saja.
"Restoran ini miliknya. Jadi, untuk apa dia takut?" balas Jendra.
"Lalu wanita-wanita tadi, tugasnya apa?"
"Ck!" Jendra melirik kesal mendengar pertanyaan itu. Untuk apa lagi jika bukan untuk memuaskannya dan pria itu.
"Untuk melayani pria itu!" jawab Jendra asal.
"Sebanyak itu?" Melani membulatkan matanya.
Jendra memutar bola matanya. "Jika dia sanggup, tidak masalah juga!"
Jendra mengemudikan mobil dengan perasaan kesal. Melani banyak bicara dan bertanya hanya karena penasaran. Bukan karena perasaan. Ah, lagi-lagi ia teringat masalah mereka yang belum selesai.
Jendra menyadari sesuatu yang tidak beres. "Mel, remnya blong!" pekik Jendra saat tiba-tiba rem mobilnya tidak berfungsi.
"Apa? Bagaimana bisa, Pak?" tanya Melani panik. Ia melihat Jendra berkali-kali menginjak pedal rem tapi mobil mereka tidak berhenti.
"Kita harus bagaimana?"
"Diamlah! Jangan panik!"
__ADS_1