Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 70 Tangis Haru


__ADS_3

Kabar Kayla dirawat di rumah sakit membuat Riana segera datang menjenguk menantunya itu. Ia yang bosan karena hanya sendirian di rumah, akhirnya memilih menginap di rumah sakit.


Kalandra sempat melarang, tapi akhirnya setuju juga. Ia juga merasa kasihan pada mamanya yang kesepian. Saran Kalandra ditolak. Ia meminta agar mamanya menginap di rumah Reyga untuk sementara waktu.


Kalandra cukup terbantu dengan kehadiran mamanya. Setidaknya ada yang menemani Kayla selama beberapa saat. Ia beberapa kali meninggalkan Kayla karena meeting yang tidak bisa ditunda.


Reyga dan Gia juga sudah menjenguk Kayla kemarin meski keduanya sedang sibuk mengurus bisnis.


Kalandra mengambil hasil pemeriksaan di laboratorium. Ia masuk ke ruangan itu dengan lipatan kertas yang sudah ia buka.


Ada dua rencana yang telah ia susun rapi di otaknya. Pertama, jika hasilnya baik, ia akan segera memberitahukan pada Kayla. Tapi jika hasilnya tidak baik dan ada suatu penyakit dalam tubuh istrinya, ia tidak akan menunjukkan hasilnya dan tidak akan mengatakan kebenarannya.


"Mas bagaimana hasilnya?" tanya Kayla yang sedang di suapi oleh mertuanya padahal tangannya sudah tidak diinfus lagi. Sore ini, ia juga sudah diizinkan pulang.


"Kamu makan saja dulu," jawab Kalandra dengan wajah lesu.


Riana juga merasa khawatir. Apalagi saat melihat mata Kalandra yang seperti habis menangis.


"Sudah, Ma." tolak Kayla saat Riana kembali mengarahkan sendok ke mulutnya.


"Kamu masih makan sedikit, Kay! Katanya kamu sangat lapar, tadi!"


Kayla menggeleng. "Aku tiba-tiba kenyang, Ma."


"Makan dulu, Kayla sayang!" bujuk Kalandra pada istrinya.


Kayla menggeleng. "Katakan dulu, apa hasilnya?"


"Kamu ingin tahu?" tanya Kalandra dan Kayla mengangguk mantap.


Kalandra menghela nafas dan memberikan kertas yang tampak lusuh seperti terkena tetesan air. Ya, itu adalah air mata Kalandra.


Kayla membaca hasil pemeriksaan yang membuatnya bingung. Tapi, ia menatap Riana dan Kalandra bergantian saat melihat hasil pemeriksaan menyatakan ia tengah mengandung.


"Maaasss..." Air matanya luruh tanpa diminta.


Riana tampak panik. Ia menatap tajam pada putranya. Riana meletakkan piring di nakas dan menghapus air mata Kayla yang terus menetes.


"Kayla, kamu kenapa? Apa hasilnya?"


Kayla menatap Riana dan masih menangis.


"Andra!" geram Riana. "Istri kamu menangis, kamu malah santai begitu!" Marah Riana.


"Biarkan dia meluapkan perasaannya, Ma!" Jawab Kalandra.

__ADS_1


Riana semakin marah. Ia memukul lengan Kalandra. "Jadi laki-laki harus bertanggung jawab, Andra!"


"Mama akan dapat cucu lagi..." Kayla memeluk Riana.


Riana yang mulai faham seketika menjauhkan tubuh Kayla dan menatap wajah yang tak lagi tampak pucat itu.


"Ka-kamu hamil?" tanya Riana. Ia merebut hasil tes tersebut dan kembali menatap Kayla.


"Oh God! Selamat, sayang! Selamat!" Riana kembali memeluk Kayla dengan berlinang air mata.


Kemarin ia baru tahu kalau Gia sedang hamil saat ia menyadari perubahan pada tubuh Gia.


Akhirnya Reyga dan Gia tidak jadi memberi tahu Riana saat mereka akan syukuran empat bulanan.


Riana sempat marah karena menyembunyikan kehamilan Gia darinya. Tapi, rasa bahagia lebih mendominasi sehingga ia memaafkan putra dan menantunya itu. Dan kali ini, ia kembali mendapat kejutan luar biasa.


"Itu hasil kerja kerasku, Ma. Jadi, ucapkan selamat juga padaku!" ucap Kalandra.


Riana melengos. "Pergilah!" usir Riana. "Sebelum mama menarik telingamu!"


Kalandra terbahak. "Aku mau mengucapkan selamat pada istriku, Ma."


Ia semakin mendekat, dan naik ke atas ranjang dan memeluk Kayla.


"Jaga kesehatan, jangan kelelahan dan selamat menikmati bagaimana rasanya dia tumbuh disini!" Kalandra mengusap perut Kayla.


Ia menunduk dan mencium perut rata itu. "Sehat-sehat dalam perut mama ya, Nak!"


Riana menghapus air matanya. "Seandainya papa kamu masih ada..." Riana sadar apa yang ia katakan akan menimbulkan kesedihan.


Seandainya papa kamu masih ada, dia pasti akan sangat bahagia melihat kedua menantunya tengah mengandung. Batin Riana.


Kalandra mendengar apa yang Riana katakan. Ia menatap mamanya yang sepertinya takut kalau dirinya bersedih.


Kalandra mengecup kening Kayla. "Aku urus administrasinya dulu, ya..."


"Titip Kayla, Ma."


Kalandra keluar dari ruangan itu. Ia tak segera menyelesaikan administrasinya. Ia malah duduk di kursi tunggu.


Ia membenarkan ucapan Riana. Kalau papa masih ada, dia pasti sangat bahagia. Papa pasti akan memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Batin Kalandra.


Tapi, jika papa masih ada, apa mungkin semua akan seperti ini? Mungkin aku belum menikah. Mungkin aku dan mama takkan seakrab sekarang. Mungkin pernikahan Gia dan Reyga tak akan menjadi lebih baik seperti saat ini.


Aku tidak tahu, aku harus bersyukur atau tidak. Tapi, Karena wasiat papa, keadaan jadi sangat lebih baik seperti ini. Terima kasih, Pa. Aku merindukan papa. Aku selalu mendoakan papa semoga papa bahagia dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Amin. Batin Kalandra

__ADS_1


Kayla melihat Riana yang membereskan barang yang akan mereka bawa pulang. Kayla tersenyum melihat wanita yang dulu bersikap buruk padanya.


Menikah dengan Kalandra membuatnya menjadi memilik keluarga. Ia punya mama, saudara, dan Oma.


Ayah, kalau saja ayah ada di sini. Aku sudah bahagia, Ayah. Aku punya mama sekarang. Aku punya saudara, aku punya suami dan sebentar lagi aku akan punya anak, Yah!


Kayla menangis mengusap perut ratanya. Ia tak menyangka, semuanya akan berakhir seperti ini. Ia hanya berharap semoga ia kebagaianan selalu menyertai keluarganya.


"Hei, kamu kenapa Kayla?" ucap Riana terkejut saat melihat Kayla menangis dengan tatapan kosong.


Riana mendekat dan mengusap punggung Kayla. Ia menghapus air mata menantunya.


"Tidak apa-apa, Ma." jawab Kayla. "Aku hanya sedang merindukan ayahku."


Riana mengangguk. "Dia sudah bahagia disana, Kay!"


Kayla mengangguk. "Mama benar, ayahku sudah tidak sakit lagi."


"Dia sudah melihatku bekerja di Perusahan besar. Setidaknya ia meninggal dengan perasaan lega."


Riana tersenyum dan mengangguk. Ia memang tidak pernah mengetahui banyak hal mengenai ayah Kayla.


Ia tidak tega saat tiap kali bercerita, wajah Kayla berubah murung.


"Dan sekarang aku sudah melunasi semua hutang ayah sehingga rumah menjadi milikku lagi."


"Berdoalah, semoga ayahmu bahagia di surga."


Kayla mengangguk. "Pasti, Ma."


"Oh ya, Ma." Kayla menatap Riana. "Terima kasih sudah mau menjagaku disini."


"Terima kasih untuk pelukan sayangnya. Terima kasih untuk setiap suapan yang mama berikan."


"Terima kasih, sudah membuatku merasa memiliki seorang ibu lagi. Aku tidak merasakannya sejak belasan tahun lalu."


Kepergian ibunya membuat dia tumbuh tanpa sosok wanita yang telah melahirkannya itu.


Ia benci, namun bohong kalau dia tidak rindu pelukannya. Bohong kalau dia tidak merindukan masakannya, candaanya dan segala bentuk perhatiannya.


"Anggap saja mama adalah ibu kandung kamu, Kay!"


"Mama sungguh tidak keberatan."


"Terima kasih, Ma."

__ADS_1


__ADS_2