Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 37 Berdebat


__ADS_3

Riana memeluk Kalandra dari belakang saat pria itu sudah menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Please, Andra! Mama mohon, jangan temui dia." Riana menangis sejadi-jadinya.


"Mama mohon, Andra! Dia sangat berbahaya. Kamu tidak tahu dia seperti apa. Dia bisa saja melakukan hal nekat diluar dugaan kita." Riana menempelkan kepalanya di punggung Kalandra.


Oma sedikit terkejut melihat kejadian ini. Selama ini, wanita tua itu tak pernah melihat Riana bersikap manis pada anak-anaknya, termasuk Kalandra. Tapi kali ini, wanita itu terisak hanya karena takut Kalandra menemui Leo.


Apa yang kamu rahasiakan, Riana? Mengapa kamu tampak berbeda 180 derajat? Apa yang Leo itu ketahui tentangmu sehingga kamu mati-matian melarang Andra untuk bertemu pria itu?


Andra sudah dewasa, dia sudah jadi pemimpin di rumah ini. Dan dia tidak akan lagi tinggal diam saat kamu dan pria itu kembali bermain api. batin Oma.


Mama? Mama memelukku? Mama menangis untukku? Batin Kalandra. Hatinya menghangat sekaligus bergetar.


Pelukan yang terakhir ku rasakan 20 tahun lalu, saat mama pamit akan pergi dengan membawa Reyga.


Flashback On


"Andra! Mama harus pergi, sayang!" Pamit Riana pada Kalandra yang baru berusia 10 tahun.


Kalandra kecil yang tidak mengerti apa-apa. Kalandra yang hanya bisa menangis saat mamanya pamit pergi dengan membawa sebuah tas jinjing sambil menggendong Reyga yang saat itu baru berusia 5 tahun.


"Mama akan kemana, Ma?" Kalandra terisak. "Mama jangan pergi..." pintanya disela tangisannya.


"Mama harus pergi sayang."


"Andra nurut sama papa, ya Nak." Riana mencium kening Kalandra.


Kalandra berdiri di balkon kamarnya karena Riana menguncinya di dalam kamar sebab ia mengejar wanita yang pamit akan pergi itu.


Kalandra berdiri di balkon dan melihat Leo, pria yang dengan senyum lebar menyambut Riana dalam pelukan lalu mengecup kening wanita itu.


Kalandra menangis sejadi-jadinya. Mamanya pergi dengan pria lain di depan matanya. Dan yang paling membuatnya hancur adalah wanita itu hanya membawa adiknya, dan ia di tinggal sendirian.


Mamanya berkhianat, tapi ia masih terlalu kecil untuk mengetahui alasan mamanya melakukan hal itu.


Tiap malam Kalandra menangis karena merindukan pelukan hangat mamanya dan Reyga yang periang. Adik yang selalu ia ajak bermain setiap pulang sekolah.


Sejak saat itu pula, papanya selalu tampak murung, mudah marah dan sibuk bekerja. Ia kehilangan mama sekaligus perhatian dari papanya.


Menangis tiap malam menjadi rutinitasnya. Ia akan pura-pura tidur tiap kali papanya melihatnya di kamar. Matanya memang terpejam, tapi nafas dan air mata yang belum kering itu pasti membuat papanya tahu bahwa ia habis menangis.


Ia selalu menghembuskan nafas lega, tiap kali Bagas keluar dari kamar lalu menutup pintunya. Kalandra akan kembali terisak karena ia merasakan bagaimana papanya merapikan selimut agar ia tidak kedinginan.


Dua minggu, Riana kembali lagi ke rumah itu. Tapi situasi menjadi berubah. Orang tuanya tidak pernah saling bicara. Dan rumah itu tak terasa hangat lagi.


Dan saat ia pulang sekolah, pria yang bersama mamanya menemui dirinya. "Kamu adalah putraku, Andra!"


"Kamu darah dagingku. Kamu bukan putra Bagas. Mamamu telah menyembunyikan kebenaran ini darimu dan padamu."


Sejak saat itu, hati dan perasaan Kalandra remuk redam. Ia ingin mengatakan pada papanya, tapi takut terjadi lagi pertengkaran dan mamanya pergi meninggalkannya lagi, memisahkan ia dengan Reyga.


Kalandra menyimpan hal itu selama bertahun-tahun. Dan saat ia sudah melakukan tes DNA, dia malah melihat gadis yang ia cintai pergi bersama Leo tanpa penjelasan apapun."


Flashback Off


"Mama mohon, Andra! Jangan pergi."


Kalandra tersentak saat tangan itu semakin memeluknya erat. Ia menyeka air matanya dan melepaskan tangan yang mulai keriput itu secara perlahan.


"Please! Leo hanya ingin membalas dendam. Jangan temui dia."


Kalandra mengangguk. Ia memeluk Riana erat.


Ma, kehangatan ini yang Andra ingin dari mama. Kenapa mama tidak pernah berikan lagi? Kenapa mama menjauh saat Andra marah? Mengapa mama tidak pernah menjelaskan apapun mengenai pria itu? Batin Kalandra.


"Jangan temui dia, Andra!"


Kalandra mengangguk perlahan.


***


"Pak, hari ini saya izin untuk tidak lembur," ucap Melani pada Jendra yang sedang duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


Jendra melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan jam 3 sore.


"Kenapa?" tanya Jendra. Sejak beberapa hari ini, Kayla tidak masuk kerja karena mengalami kecelakaan dan Melani melakukan semua pekerjaan mereka berdua sendirian. Bahkan tak jarang ia lembur hingga jam 8 malam.


"Saya akan ke rumah Kayla untuk menjenguknya, Pak," jawab Melani.


Jendra berdiri dari kursinya. "Kalau begitu, ayo!" Ajak Jendra. Ia langsung merapikan jasnya dan meraih tas laptopnya.


Melani melongo melihat apa yang bos nya lakukan. Ia masih belum mengerti.


"Mel, ayo!" Jendra membuat Melani tersadar dari lamunannya.


"I-ini masih jam kerja, Pak!" jawab Melani gugup.


"Tidak masalah. Sesekali kita pulang cepat," jawab Jendra sambil berjalan meninggalkan Melani.


"Apa kamu tidak bosan terus-terusan bekerja. Aku saja merasa sangat bosan," lanjutnya.


Melani segera menyusul Jendra. Ia juga menyambar tasnya yang ia letakkan di meja kerjanya. Mejanya memang sudah ia rapihkan sehingga ia bisa langsung pergi.


Jendra dan Melani masuk ke dalam lift yang akan langsung membawa mereka ke lantai bawah.


"Pak..."


"Jangan bicara apapun, Mel."


"Kamu mau mengatakan kalau kamu tidak mengajak saya kan?" Jendra menatap Melani yang perlahan mundur karena jarak mereka terlalu dekat.


Melani menatap pria tampan dihadapannya. Tentu ia akan menjawab "ya". Karena ia hanya minta izin, bukan minta ditemani.


"Apa kamu lupa, dia istri sahabatku dan juga sekretarisku."


Melani mengangguk karena tak ingin berdebat lebih lama lagi. "Ya, pak. Maaf karena tidak mengajak anda."


"Kamu saya maafkan." Jendra kembali menatap ke depan.


Pintu lift terbuka. Mereka segera keluar dan Jendra berhenti sejenak di meja resepsionis. "Jika ada yang mencariku, katakan saja aku sedang tidak di kantor."


"Mel..." Panggil Jendra saat merasa Melani tak lagi mengikutinya.


"Ya..." jawab Melani dari jarak 5 meter.


"Mau kemana?"


"Menunggu taxi, Pak."


Jendra menghela nafas. "Kamu ikut saya!"


"Tapi-".


"Ini perintah, Mel!" Jendra kembali berjalan menuju parkiran.


Melani menghentakkan kakinya kesal. "Dasar pemaksa!"


"Saya dengar, Mel!" ucap Jendra membuat Melani mencebikkan bibir.


Mereka segera meninggalkan kantor. Tapi mereka sempatkan untuk membeli buah tangan.


"Bunga saja, Mel!" usul Jendra.


"Buah atau roti lebih baik, Pak."


"Saya rasa bunga lebih mewah."


"Saya sedang menjenguk teman, bukan pacar!"


Jendra menatap Melani sekilas. "Memberi bunga tidak harus kepada pacar, Mel."


"Dasar playboy, kambing pakai lipstick pun mungkin akan ia beri bunga!" gumam Melani yang faham betul tingkah playboy patah hati itu.


"Jangan menyindirku Mel."


"Selalu saja dengar!" keluh Melani.

__ADS_1


***


"Hai Kay! Bagaimana keadaan kamu?" tanya Melani pada Kayla yang sedang istirahat diatas ranjang. Sementara Jendra dan Kalandra duduk di sofa dan kamar itu.


"Baik, Mbak!" jawab Kayla sopan. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang."


"Seharusnya tidak perlu repot-repot."


"Aku harus datang, Kay! Supaya kami lekas sembuh dan segera masuk kantor." jawab Melani.


"Kepalaku hampir pecah dan jemari tanganku..." Melani menunjukkan sepuluh jari tangannya. "Hampir patah karena terus menekan tombol keyboard." Keluh Melani membuat Kayla tertawa.


"Aku akan masuk kerja secepatnya."


"Bagaimana bisa kalian datang bersama?" bisik Kayla sambil melirik Jendra yang malah bermain PS bersama Kalandra.


Melani mengangkat bahu, "Entah, tiba-tiba dia mau ikut, padahal aku hanya minta izin darinya agar tidak lembur hari ini karena ingin menjenguk kamu."


Kayla tertawa. "Bukannya lembur, Mbak malah pulang lebih awal."


Melani tertawa. "Mungkin itu hanya alasannya saja. Sepertinya dia sedang bosan duduk seharian di kursi kebesarannya karena hari ini tidak ada meeting."


Kayla mengangguk setuju. "Lihat saja, mereka malah bermain PS."


Keduanya tertawa.


"Kamu beruntung sekali, Kay. Suami kamu ternyata sangat kaya." puji Melani.


"Aku baru tahu kalau rumah pak Kalandra sebesar ini." Melani melihat sekeliling kamar luas itu. "Kamarnya saja seluas apartemenku."


Kayla tersenyum paksa. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Ia memang beruntung, tapi semua ini hanya untuk setahun. Jika saja Melani tahu, maka Kayla bisa menjamin gadis itu akan melongo dan tidak bisa berkata apapun lagi.


"Sudah rejeki, Mbak."


"Ah, ya. Aku melihat ada nenek tua dibawah. Itu neneknya pak Kalandra?"


Kayla mengangguk. "Ya, dia Omanya mas Kalandra."


"Kami hanya menyapanya tadi."


Obrolan panjang kali lebar itu tak terasa sudah cukup lama. Melani berpamitan karena hari sudah semakin sore.


"Kay, aku pulang dulu. Cepat sembuh, ya!"


"Duduk disana sebentar, Mel." Perintah Jendra.


"Aku akan mengalahkan Kalandra sebentar lagi!" Jendra tetap fokus bermain PS.


"Hahaha... kamu sudah kalah sebanyak 8 kali, Jend!" Kalandra juga tetap fokus meski ia tertawa lepas.


"Ayolah Kal, kamu hanya beruntung tadi." jawab Jendra.


"Mana ada orang beruntung menang hingga 8 kali dari 10 pertandingan, Jend."


"Kayla! Awas jatuh!" Teriak Jendra tiba-tiba.


"Kay?" Kalandra melihat kearah Kayla. Ia khawatir jika Kayla terjatuh saat berjalan. Ternyata itu hanya siasat Jendra. Kayla bahkan masih duduk diatas ranjang.


"Yeeessss! Aku memang kan?" Teriak Jendra kegirangan.


"Hei... itu namanya curang, Jend!" protes Kalandra.


"Aku tidak curang. Aku hanya mengatakan Kay awas jatuh!"


"Tapi dia baik-baik saja, Jend. Dia bahkan hanya duduk di atas ranjang."


"Aku hanya memperingatkan, Kal. Kamu fikir orang yang sedang duduk di atas ranjang tidak bisa jatuh." Mereka berdebat.


"Ayo kita pulang, Mel." Ajak Jendra yang berhasil mengalahkan Kalandra.


"Akui saja kekalahanmu. Hahaha!" Jendra tertawa.


Melani dan Kayla hanya bisa tertawa melihat pertengkaran sepele antara 2 CEO itu.

__ADS_1


__ADS_2