
Gia dan Raisa sedang berada di ruang kerja Reyga di salah satu restorannya. Ia sengaja ikut ke kantor hanya karena Reyga telah membuat janji dengan Kirana.
Reyga juga sengaja ingin mempertemukan Gia dengan wanita itu. Ia merasa apa yang Riana katakan padanya beberapa hari yang lalu itua ada benarnya.
Kirana semakin menyalah artikan kebaikannya. Semakin hari, wanita itu semakin berupaya mendekati dirinya.
Reyga mulai merasa risih, tapi ia harus tetap bekerja sama dengan wanita itu agar restorannya semakin maju dan sukses.
Kirana masuk ke dalam ruang kerja Reyga setelah mengetuk pintu dan Reyga sendiri yang membukakan pintu sambil mempersilahkan dirinya masuk.
Kirana tersenyum lebar dan seketika senyum itu luntur saat melihat Gia duduk di sofa dan tengah menyusui Raisa.
"Ah, maaf bu Kirana, istri saya sedang menyusui putri kami."
Reyga juga saling memperkenalkan mereka berdua.
Kirana mengangguk sungkan. Ia tak menduga kalau ternyata istri Reyga sangat cantik. Barang-barang yang dipakai memang tidak mewah, tapi terlihat sangat pas ditubuh semampai itu.
Gia tersenyum lebar. Ia perlahan meletakkan Raisa di stroller karena bayi cantik itu sudah tertidur pulas. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Kirana.
Reyga duduk di kursi kerjanya sementara Kirana dengan perasaan gelisah duduk diseberang meja Reyga.
Reyga dan Kirana mulai membahas masalah pekerjaan, yaitu tentang sebuah pesta acara ulang tahun yang akan di adakan di ruang VIP.
Gia tidak ingin ikut campur. Ia tetap duduk di sofa sambil terus memperhatikan wajah Raisa. Sesekali ia melihat suaminya dan Kirana.
"Gi, aku tinggal sebentar, ya," pamit Reyga saat salah satu karyawannya memanggilnya karena ada yang ingin bertemu.
"Bu Kirana, saya tinggal sebentar. Ngobrol saja dengan istri saya. Dia juga tidak kalah smart jika membahas mengenai pekerjaan."
Kirana memang belum pernah duduk berdua dengan Gia sehingga ia belum tahu kemampuan istri Reyga itu.
Reyga keluar dari ruangan itu. Kirana berjalan dengan sangat anggun menuju sofa.
"Cantik sekali putri kalian," ucap Kirana basa-basi sambil melihat bayi cantik berbando pink itu.
"Pipinya begitu menggemaskan."
Gia tersenyum lebar. "Terima kasih, Bu Kirana. Dia mirip sekali dengan wajah papanya saat bayi dulu."
Kirana mengangguk. "Saya dengar, kalian menikah karena sebuah accident, ya?"
Pertanyaan yang keluar sangat jauh dari topik pembahasan mereka.
Gia tertawa dalam hatinya. Dia benar-benar mencari tahu mengenai pernikahan kami. Apa dia sedang bersiap untuk merebut Mas Reyga dariku?
"Bisa dibilang begitu," jawab Gia. Ia menatap wanita yang duduk di sofa lain yang jaraknya hanya satu meter dari posisinya duduk.
"Memangnya ada apa, Bu?"
__ADS_1
Kirana menggeleng. "Tapi, kalian terlihat seperti keluarga yang bahagia."
Gia tertawa tanpa suara. "Kami memang bahagia, Bu Kirana."
"Kebutuhan kami terpenuhi, kami sudah punya rumah meski ukurannya kecil, kami sudah punya anak, dan bisnis suami saya juga lumayan lancar. Jadi, bukankah memang sepantasnya kami merasa bahagia?"
"Apa kalian saling mencintai?"
"Tentu. Jika tidak, mana mungkin putri kecil ini bisa hadir di dunia."
"Mengapa anda ingin tahu mengenai kehidupan kami, Bu Kirana?"
"Apa anda datang untuk menawarkan kebahagiaan pada suami saya?"
Kirana terkesiap. Ia belum pernah membahas hal itu pada Gia, tapi ia tahu Reyga tidak membencinya. Bahkan pria itu masih bersikap baik padanya.
"Dia sudah bahagia, Bu Kirana."
"Hidupnya sudah sempurna. Jangan lagi masuk dalam kehidupan kami."
Kirana tertawa. "Saya tidak serendah itu, Bu Gia."
Gia mengangguk. "Jadi, jika memang begitu, tolong profesionallah sedikit saja."
"Tidak perlu merapikan kemejanya, kerah lehernya ataupun mencari kesempatan untuk membuatnya melihat belahan rok anda."
Kirana terkesiap karena apa yang Gia katakan memang benar. Ia beberapa kali berusaha menggoda Reyga. Tapi Sayang, pria itu tidak tergoda sama sekali.
"Suami saya, hanya menganggap hubungan diantara kalian hanya sebatas rekan kerja. Tidak lebih."
"Dan jika anda bekerja sama dengannya hanya untuk mencuri perhatiannya, lebih baik ubah rencana anda itu."
"Percayalah! Anda akan lelah sendiri, nanti."
Kirana tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merasa terpojok. Dan yang paling membingungkan adalah, Gia tidak memarahinya, tidak melukai fisiknya. Wanita itu malah lebih santai menyikapi kesalahannya selama ini.
Ia memang tertarik pada Reyga, terlebih saat ia mulai mencari tahu mengenai pria itu. Ia merasa punya kesempatan karena berbekal informasi kalau pernikahan Gia dan Reyga karena jebakan.
"Anda cantik, pintar, kaya, body oke, apa lagi? Masa iya, mengharapkan suami orang lain?"
"Kalaupun anda berhasil, apa anda tidak punya rasa kemanusiaan?"
"Anda menjandakan seorang wanita, loh."
Kirana tersenyum kecil. "Saya tidak pernah mengharapkan suami anda, Bu Gia. Jangan over thinking, nanti anda bisa stres."
Gia menarik satu sudut bibirnya. "Stres?"
"Anda benar, saya tidak boleh stres. Karena saya harus mengASIhi bayi saya, Bu Kirana."
__ADS_1
"Dan sebaiknya anda jangan pernah membohongi diri anda sendiri."
"Diri sendiri dibohongi, apa lagi orang lain?" gumam Gia sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
"Maaf, menunggu lama."
Keduanya terkejut karena tiba-tiba Reyga masuk. Pria itu juga terkejut saat melihat kedua wanita itu menatapnya.
"Kalian sedang seru mengobrol? Apa aku mengganggu?"
Gia menggeleng. "Tidak, Mas. Masuklah! Dan urus semua masalah kalian. Dan sepertinya aku harus pulang."
"Tidak bisa sekarang, Gi."
"Loh, kenapa Mas?" tanya Gia.
"Supir kamu ku minta untuk mengantar nasi kotak ke kantor kak Andra."
"Ada acara apa lagi kakak kamu, Mas?" tanya Gia.
"Tidak ada. Dia hanya ingin berbagi saja."
Kirana keluar dari ruangan itu setelah lebih dari 15 menit mereka membahas masalah pekerjaan.
"Kalian bicara apa saja, Gi?" tanya Reyga.
"Tidak ada, Mas."
"Kamu memarahinya?"
"Tidak. Untuk apa aku memarahinya, Mas."
"Aku hanya mengatakan kalau percuma saja menggoda kamu. Dia salto dihadapan kamu pun, kamu tidak akan peduli."
Reyga tertawa. "Kamu ada-ada saja, Gi."
"Bagaimana kalau dia melakukan hal yang lebih ekstream lagi?"
"Aku tidak peduli, Mas." Gia tertawa.
"Terus, dia jawab apa?"
"Dia diam saja. Mungkin dia sedang berfikir kalau apa yang ku katakan memang benar."
Gia menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Aku saja yang tidur tanpa busana tidak bisa membuatnya tergoda!" gumam Gia.
Reyga tertawa. "Itu kan dulu, Gi. Sekarang kan tidak begitu."
Gia mendelik karena Reyga mendengar apa yang ia katakan tadi.
__ADS_1
"Sekarang, aku malah tidak ingin berhenti. Hahaha." Tawa Reyga menggema hingga membangunkan bayi mereka.
"Mas!" geram Gia. "Kamu membuat Raisa terbangun!" Gia segera menggendong bayi yang sedang menangis itu.