
"Sebenarnya ada masalah apa sih, Kay?" tanya Melani yang masih penasaran karena Kayla dipanggil ke ruangan Bos saat ada Kalandra di dalam.
Kayla bingung harus menjawab apa. Bicara jujur rasanya tidak mungkin karena ia dipanggil untuk menandatangani perjanjian kontrak pernikahan antara dirinya dan Kalandra.
Melani menelisik wajah Kayla. "Jangan bilang, kalau dia adalah pacarmu?" tanya Melani. "Pak Kalandra bukan pacarmu, kan Kay?"
Kayla terkesiap. Ia menelan ludah dan mengangguk pelan. "Ya, dia pacarku, mbak!"
Akui saja, toh aku akan menikah dengan pria itu. Batin Kayla.
Melani membulatkan mata. Ia sungguh tak percaya dengan pengakuan Kayla. Saat berita mengenai Kalandra yang dituduh sebagai penyuka sesama jenis, Kayla malah mengaku sebagai pacar pria itu.
Melani semakin mendekat kearah Kayla yang tampak risau dengan tingkahnya. "Jadi, kamu memang pacarnya pak Kalandra?"
Kayla kembali mengangguk. "Ya... Kenapa mbak? Ada masalah?" tanya Kayla yang masih tampak gugup.
Melani menghela nafas. "Apa karena itu makanya kamu yang diangkat menjadi sekretaris pak Jendra?" tuduh Melani.
Kayla membulatkan mata. Ia tak menyangka kebohongannya malah menjadi boomerang untuknya sendiri.
"Tentu tidak," jawab Kayla dengan nada datar karena merasa tersinggung.
"Aku bisa di posisi ini karena kerja kerasku. Karena kegigihanku, bukan karena pria itu."
"Pria itu?" Melani menelisik wajah Kayla lagi karena gadis di depannya itu menyebut pacarnya sendiri seperti orang asing.
"Ya, pria itu." Kayla tahu, Melani menemukan kejanggalan.
"Jangan sebut namanya. Kami selama ini pacaran secara sembunyi-sembunyi, tidak ada yang tahu, Mbak!"
Melani diam saja. Selama ini memang ia tak pernah tahu kalau sahabat bosnya berpacaran dengan salah satu staff di perusahaan ini.
Melani mengangkat bahunya acuh. Ia enggan ikut campur. Kalau Kayla mengatakan mereka pacaran secara sembunyi-sembunyi, itu artinya ada suatu hal yang mendasari keputusan mereka itu.
Entah karena Kalandra yang merupakan seorang CEO atau karena Kayla yang hanya orang biasa.
"Ya sudah, terserah padamu asal tidak mengganggu pekerjaan."
Kayla menghembuskan nafas lega membuat Melani tertawa. "Jangan lupa undangannya kalau kalian menikah nanti," canda Melani.
Aku tidak yakin mereka akan sampai ke jenjang pernikahan. Karena hubungan yang seperti itu ku yakin tidak akan bertahan lama. Bagaimana bisa mereka yang tidak go public akan langgeng sementara yang jelas-jelas terikat pernikahan masih bisa direbut orang. Batin Melani sambil berjalan menuju meja kerjanya.
***
"Apa?" Kejut Melani saat menerima undangan yang diberikan Kayla di meja kerjanya.
__ADS_1
"Belum dua minggu kamu mengakui hubunganmu dengan pak Kalandra, sekarang kamu sudah memberiku undangan?"
Melani tak menyangka semua akan berlangsung secepat ini. Setelah pengakuan Kalandra di depan media, ternyata pernikahan mereka benar-benar segera dilaksanakan.
"Aku tidak menyangka akan secepat ini," ujar Melani.
Kayla tertawa. "Doa mbak Mel memang top. Sekarang aku memberikan undangan yang mbak minta."
Benar juga. Padahal aku hanya bercanda saat itu. Batin Melani.
Melani berdiri dari kursinya dan memeluk Kayla. "By the way, selamat ya Kay."
"Aku tidak menyangka, aku baru mendapat rekan, dan sepertinya aku akan bekerja sendiri lagi," ucap Melani sedih.
Karena sepertinya Kayla tidak akan bekerja lagi setelah pernikahan. Bukankah Kayla tidak perlu bekerja saat ia sudah menjadi istri CEO?
Kayla tertawa. "Aku akan tetap bekerja, mbak! Tenang saja."
"Kamu istri CEO loh Kay?"
Kayla malah tertawa membuatnya mengerutkan kening. Ada yang salah dengan ucapanku?
"Tidak ada yang bisa menjamin masa depan kita, Mbak. Dan bukan tidak mungkin pernikahan kami akan kandas ditengah jalan."
"Setidaknya kalau itu terjadi, aku punya uang sendiri. Jadi, tidak ada salahnya aku menabung untuk hari tuaku kelak."
Hari ini, Jendra meminta Melani me-rescedule jadwal meeting karena pernikahan Kayla akan dilaksanakan pada weekend ini.
Beberapa jadwal meeting dipercepat karena biasanya Jendra akan mengajaknya saat meeting diluar. Sementara tidak ada yang stay di kantor saat Kayla sedang cuti.
Seperti hari ini, Melani dan Jendra sedang berada di dalam mobil menuju kantor setelah meeting sekaligus makan siang di sebuah restoran.
"Kalandra dan Kayla hanya mengundang kita berdua, Mel," ucap Jendra membuat Melani membulatkan matanya.
"Haaa? Hanya kita berdua?" tanya Melani tak percaya.
"Ya, karena sisanya adalah saudara dan rekan bisnis Kalandra."
"Kayla tidak punya keluarga dan ia tidak ingin mengudang anak-anak di divisi keuangan."
"Mengapa begitu, Pak? Bukankah Kayla cukup lama bekerja di divisi keuangan?"
Jendra mengangguk. "Memang benar. Tapi semua itu kan haknya. Dia berhak mengundang atau tidak mengundang siapapun."
Melani mengangguk membenarkan. Jika ia berada di posisi Kayla mungkin ia akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Hubungan yang mereka sembunyikan selama ini sudah cukup menimbulkan pertanyaan. Belum lagi pernikahan mendadak dan resepsi sederhana yang keduanya pilih. Pasti orang yang datang sebagian besar bukan untuk mengucapkan selamat, melainkan mencari bahan gosipan.
Melani tahu, Kayla gadis baik-baik. Ia bisa melihat dari bagaimana sikap Kayla padanya.
"Ehm, sepertinya saya tidak akan datang, Pak!" ucap Melani kemudian.
"Kenapa?" tanya Jendra.
"Sudah bisa dibayangkan, saya akan jadi gembel diantara tamu undangan di pesta itu. Masa iya, saya berbaur dengan para petinggi Rajaswa Group dan ditambah lagi saudara pak Kalandra yang pasti kaya-kaya."
Jendra tertawa. "Selagi kaki kalian masih sama sama menapak di lantai, tidak ada bedanya, Mel!"
"Kamu harus pergi. Temani aku!" Perintah Jendra. "Aku juga tidak ingin berada ditengah-tengah petinggi Rajaswa Group sendirian."
Melani mengerutkan kening. "Pacar Bapak kemana? Mengapa tidak mengajaknya saja!"
Jendra tertawa. "Dia pasti sibuk, Mel. Kedai kopinya selalu ramai saat weekend. Dia pasti tidak akan punya waktu untuk datang. Apalagi perjalanan yang harus ditempuh hampir 2 jam."
"Terlalu banyak waktu yang terbuang diperjalanan."
Melani menipiskan bibir. "Apa dia tidak punya karyawan, Pak? Sampai dia tidak bisa meninggalkan kedai kopinya?"
"Ada, tapi hanya dua orang Mel."
"Bisa kamu bayangkan bagaimana sibuknya dia kan?"
"Kadang aku juga ikut membantunya. Ya, walaupun hanya sekedar mengantar pesanan ke meja pengunjung."
Melani menatap Jendra yang tampak murung. Apa dia tidak bahagia bersama pacarnya? Bagiku terdengar aneh sampai gadis itu tidak bisa meluangkan waktu untuk menemani pacarnya sendiri.
"Ternyata, menjalin hubungan dengan seorang gadis yang mandiri dan pekerja keras itu sulit, Mel!"
Ya ampun! Sepertinya dia benar-benar sedang galau. Batin Melani.
Melani mengangguk. "Ya, itu memang resikonya Pak!"
"Kalau ingin pacar yang punya waktu lebih banyak, ya kembali saja pada mantan- mantan anda, Pak!" Ada tawa kecil diujung kalimat Melani.
Jendra tertawa. "Tidak, Mel. Saya sungguh-sungguh ingin berubah."
"Tapi, salah satu dari mereka pasti tidak akan menolak anda, Pak."
"Mereka tidak mungkin menolak, tapi saya yang tidak ingin. Saya ingin istri yang ekslusif, hanya saya yang sentuh!"
Melani menghela nafas. Dari ucapan Jendra, sudah jelas kalau mantan-mantannya bukan hanya dia yang pernah menyentuh.
__ADS_1
Dan Melani merasa tidak adil rasanya jika Jendra yang sudah ia tahu track recordnya mendapat gadis yang belum pernah tersentuh.
Kasihan gadis itu yang mendapatkan pria playboy seperti Pak Jendra. Batin Melani.