
Beberapa hari kemudian...
Kalandra dan Kayla sudah berada di perjalanan dari bandara menuju rumah. Kesehatan Kayla yang terus membaik membuatnya diizinkan pulang.
"Sejak kemarin, Reyga dan Gia pindah dari rumah," ucap Kayla pada Kalandra.
"Serius, Mas?" tanya Kayla terkejut.
"Kenapa? Apa ada masalah yang terjadi di rumah?"
Kalandra mengangkat bahu. "Reyga menghubungiku kemarin, dan dia pamit padaku. Aku sempat memintanya menunda kepindahan mereka hingga kita pulang. Tapi, Reyga menolak."
"Oma juga memintaku untuk memberi izin pada Reyga."
"Oma juga mengatakan untuk membiarkan Reyga mengambil keputusan untuk hubungan rumah tangga mereka."
"Selama ini, Reyga hanya menerima segala keputusan. Baik yang papa buat atau yang ku buat."
"Kami harus membiarkan Reyga hidup mandiri dan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya."
Kayla mengangguk. Keputusan itu memang jauh lebih baik. Dari pada tinggal di rumah yang sama dengan mereka. Karena rumah tangga mereka akan semakin hancur. Bagaimana tidak, jika Gia terus saja memperdalam cintanya pada Kalandra sementara Reyga yang terus-terusan mengagumi dirinya.
***
Kayla dibantu oleh Kalandra untuk turun dari dalam mobil. Mereka sudah tiba di rumah. Oma dan Riana menyambut kepulangan mereka.
"Bagaimana keadaan kamu, Kay?" tanya Oma.
"Sudah lebih baik, Oma."
"Istirahatlah, kalian pasti lelah," ucap Riana pada pasangan suami istri itu.
Kalandra merangkul pinggang Kayla saat menaiki anak tangga. Kayla memang belum sembuh sempurna. Kakinya masih sakit karena terdapat beberapa luka dan memar karena terbentur aspal.
"Aku ingin ke kamar mandi dulu, Mas!" ucap Kayla saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Kalandra mengangguk dan menuntun Kayla ke dalam kamar mandi. "Ku tinggal ya.."
"Iya..."
"Mas..." Tak lama Kayla menjerit dari dalam kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Kalandra yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Aku ingin ganti baju, boleh minta tolong ambilkan di dalam lemariku."
"Ya, akan ku ambilkan." Kalandra sudah mulai terbiasa diperintah seperti itu oleh Kayla semenjak beberapa hari ini.
Kadang, Kayla minta dibantu untuk ke kamar mandi, kadang juga Kalandra yang menawarkan diri untuk membawa Kayla ke taman rumah sakit jika gadis itu merasa bosan berada di dalam kamar.
"Kamu mau pakai baju yang mana, Kay?" tanyanya.
"Kaos dan celana saja, Mas."
"Tumpukan kaos ada di baris ke tiga, yang paling kanan."
"Dan celananya ada di baris ke dua, yang paling kanan juga," sahut Kayla dari dalam kamar mandi.
Kalandra mengambil kaos dan celana kulot 3/4 dari lemari pakaian. Lalu ia mengetuk pintu kamar mandi.
Kayla membuka sedikit saja karena ia sudah membuka pakaiannya.
Tak butuh waktu lama, Kayla keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih, Mas." Kalandra membantu Kayla duduk diatas ranjang.
"Kamu butuh sesuatu lagi?" tanya Kalandra.
"Tidak, aku hanya ingin istirahat. Kakiku masih terasa nyeri kalau terlalu sering bergerak."
Kalandra mengangguk. "Kalau begitu aku mandi dulu."
Kalandra masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengguyur tubuh lelahnya. Selama beberapa hari ia harus tidur meringkuk di sofa rumah sakit karena menjaga Kayla. Punggungnya terasa pegal tapi semua itu tidak masalah baginya. Ia sudah berjanji akan bertanggung jawab kepada Kayla atas perbuatannya.
__ADS_1
Memang tidak ada yang tahu kapan dan dimana musibah itu akan datang. Dan Kalandra percaya, apa yang terjadi pada mereka beberapa hari lalu murni karena kelalaiannya. Kayla sudah berkali-kali memintanya untuk hati-hati dan jangan terlalu cepat melajukan sepeda motor. Tapi, tidak ia hiraukan.
Kalandra mencari bathrobe yang biasanya diletakkan di gantungan handuk dibelangkang pintu.
"Tidak ada?" gumamnya.
Kalandra memukul keningnya. "Pasti sudah di cuci karena kami tidak ada di rumah selama beberapa hari."
Kalandra mengambil selembar handuk yang hanya menutup bagian tubuhnya dari perut hingga ke lutut.
"Aku juga lupa membawa pakaian ganti," keluhnya.
Kalandra menghela nafas. Aku tidak mungkin bertelanjang dada di depan Kayla. Dia pasti terkejut.
Ah, bukankah dia pernah melihatku berenang hanya dengan menggunakan boxer saja.
Dengan santai, Kalandra keluar dari kamar mandi. Ia sengaja tidak melihat kearah Kayla karena takut gadis itu merasa tidak nyaman.
Sementara Kayla mengulum senyum melihat Kalandra yang sangat kaku. Ia lupa memberi tahu bahwa tidak ada bathrobe di kamar mandi, dan itulah yang menyebabkan dirinya meminta Kalandra mengambilkan pakainanya.
"Jangan lihat jika tidak nyaman Kay!" ucap Kalandra tanpa melihat Kayla.
"Heem," sahut Kayla yang sedang memperhatikan punggung kekar itu.
Pantas saja Gia suka melihat dia berenang. Ternyata tubuh atletis itu sangat meresahkan. Hahaha. Kayla tertawa dalam hatinya.
Kalandra duduk di atas ranjang setelah selesai. "Mulai malam ini, tidurlah di ranjangku."
"Aku akan tidur di sofa." tunjuk Kalandra.
"Tidak. Aku tidak bisa." tolak Kayla.
"Aku tidak mungkin membiarkan kamu tidur di lantai. Karena pesan dokter, kamu harus istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak berjalan."
"Tapi, badan kamu akan sakit jika tidur di sofa."
"Aku tahu, kamu juga tidak nyaman saat tidur di sofa rumah sakit, kan?" tanya Kayla yang selama ini memperhatikan Kalandra yang selalu meregangkan tubuhnya saat merasa pegal tidur di sofa.
"Sudahlah! Aku masih bisa tidur di lantai."
Kayla menghela nafas. "Jadi mau bagaimana? Apa kita harus berbagi ranjang seperti saat di cottage?" tanya Kayla.
"Itu lebih baik menurutku," jawab Kalandra cepat.
"Aku tidak bisa."
"Bisa."
"Tidak bisa, Mas!"
"Bisa, Kayla."
"Mas!"
"Kayla!"
"Turuti saja, minimal sampai kakimu sembuh. Dan setelahnya, terserah kamu."
"Aaaaahhh!" Teriakan Riana membuat mereka terkejut.
"Mama..."
"Mama..."
Kalandra dan Kayla saling tatap. "Tetap disini, aku akan turun sebentar."
Kalandra segera berlari menuruni anak tangga. Dan ia bertemu dengan Oma yang juga baru keluar dari kamar.
"Ada apa, Oma?"
Oma mengangkat bahu. "Tidak tahu. Mama kamu berteriak sangat kencang."
Kalandra dan Oma segera berdiri di depan kamar Riana. Terdengar suara Riana terisak di dalam kamar.
__ADS_1
"Ma..."
Tok... tok... tok... Kalandra mengetuk pintu kamar Riana. "Buka pintunya, Ma. Apa yang terjadi hingga mama berteriak?" tanya Kalandra.
Riana tak menjawab. Riana melihat sebuah paket yang ia terima dari Leo. Dan ternyata isinya adalah seekor merpati yang dipotong lehernya.
Dan selembar surat yang tersimpan di dalam box tersebut.
Temui aku atau aku akan melakukan ini pada putramu.
^^^Leo^^^
Riana menangis. Ia tidak bisa mempercayai Leo lagi. Jika ia menemui pria itu, mungkin saja ia yang akan bernasib seperti merpati itu.
Brak!
Kalandra mendobrak pintu dengan cara menendangnya membuat Riana terkejut. Riana segera menyembunyikan surat dari Leo. Namun, bangkai merpati dan kotak serta darah yang tercecer di lantai tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Andra." Riana berdiri gugup. Ia menyembunyikan tangan yang meremas surat berisi ancaman itu dibelakang tubuhnya.
"Ada apa ini, Ma?" Kalandra terkejut dengan apa yang ia lihat.
Kalandra mendekati Riana dengan melangkahi bangkai merpati itu. Riana semakin gugup.
Kalandra menatap curiga pada mamanya. "Siapa yang mengirim ini semua?" tanya Kalandra.
Riana menggeleng.
"Jawab, Ma." paksa Kalandra.
Riana menggeleng. "Mama tidak kenal."
"Bohong!" teriak Kalandra. "Mama tidak akan menerima paket dari orang yang tidak mama kenal!"
"Katakan, Ma!"
"Segala sesuatu yang terjadi di rumah ini menjadi tanggung jawab Andra!"
"Dan apa yang ada di depan mata kita ini bisa disebut sebagai kejahatan, Ma. Ini teror namanya."
Kalandra tidak ingin orang lain di rumah ini menjadi korban dari masalah yang dibuat oleh Riana. Siapapun yang mengirim paket ini, sudah pasti adalah orang yang sedang bermasalah dengan Riana.
Kalandra menelisik wajah Riana yang terus menunduk. Kalandra semakin mendekat dan menarik tangan Riana ke depan.
Sudah ia duga, ada yang Riana sembunyikan darinya. Kalandra membuka paksa genggaman Riana. Ia mengambil gumpalan kertas yang sudah lusuh itu.
"Andra!" Riana ingin melarang tapi ia tak berdaya.
Kalandra membuka secarik kertas itu dan membaca isinya. Matanya membulat sempurna. Ia bergantian menatap surat itu dan ekspresi Riana yang ketakutan.
Tubuh tua Riana bahkan sampai bergetar. Kalandra merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui selama ini. Melihat reaksi Riana dan ancaman Leo yang sangat keterlaluan bahkan membawa-bawa namanya.
"Mama ingin cerita atau Andra yang akan mencari tahu sendiri?"
Riana menggeleng. "Mama belum bisa cerita."
"Mama harus selesaikan masalah mama dengan dia." Riana bergegas mengambil ponsel dan meraih tasnya. Ia tak ingin Kalandra tahu dan malah menjadi korban.
"Mama tidak boleh pergi kemana pun!" larang Kalandra. Ia menarik tangan Riana dan menahan wanita itu agar tidak pergi.
"Biarkan mama pergi, Andra!"
Ponsel Riana berdering. Ia melihat nama Leo yang muncul di layar.
Kalandra merampas ponsel itu dan menjawab panggilan Leo.
"Bagaimana dengan kejutanku, Riana?" Suara Leo membuat Kalandra geram.
"Kamu suka?"
"Ah, ya... berlari lah dan minta bantuan pada putramu. Ah, maksudku, putraku. Dia sudah kembali, bukan?"
"Agar kami bisa bertemu dan saling berpelukan."
__ADS_1
"Lalu aku akan menusuk punggungnya-"
"Gedung tua di jalan Xx, jam 11 malam. Temui aku disana! Dasar pengec*ut!" Bentak Kalandra. Ia segera mengakhiri panggilan itu.