
Melani melangkahkan kakinya menuju gedung perkantoran yang sudah menjadi tempatnya mencari rezeki selama bertahun-tahun ini.
Beberapa orang menyapanya. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk untuk membalas sapaan itu.
Melani belum sembuh benar, tapi ia sudah lebih baik secara fisik, tapi batinnya malah tengah terluka.
Sebenarnya ia belum ingin datang, tapi mengingat kondisi Kayla yang sedang hamil trimester pertama membuatnya tak bisa melimpahkan semua pekerjaan pada temannya itu.
"Mbak Mel? Sudah sehat?" tanya Kayla, bahkan saat dirinya belum duduk.
Melani mengangguk. "Sudah lebih baik, Kay!" Melani meletakkan tas di atas meja dan duduk di kursi kerjanya.
"Bagaimana keadaan kantor kemarin? Apakah aman?" tanya Melani yang tengah menyalakan komputernya.
"Sangat aman, Mbak. Pak Jendra bahkan tidak menerima tamu seharian."
"Beliau pulang lebih cepat dan aku juga diizinkan pulang."
Melani mengerutkan kening. "Pulang cepat? Dalam rangka apa, Kay?"
Kemarin, Jendra memang datang ke apartemennya, tapi pria itu sudah pulang sebelum jam makan siang.
Kayla mengangkat bahu. "Dalam rangka banyak beban fikiran mungkin, mbak!" jawabnya asal.
Kayla hanya tahu bahwa Melani telah menolak tawaran bu Jenar untuk menikahi Jendra.
Melani menghela nafas. Ia bersandar di kursi kerjanya.
"Kamu mencintai suamimu, Kay?"
Kayla seketika menatap Melani dan tertawa. "Tentu, mbak. Jika tidak, mana mungkin aku bisa sampai mengandung anaknya."
"Memangnya kenapa, mbak? Mbak Mel sedang jatuh cinta ya?" tanya Kayla menggoda.
"Apa karena cinta juga yang membuat kamu dan pak Kalandra akhirnya menikah?" tanya Melani lagi.
Deg!
Kayla membulatkan mata. Mana mungkin ia jujur mengapa akhirnya memutuskan menikah dengan suaminya.
"Kay?" Melani menatap Kayla yang sedang mencari jawaban yang tepat.
"He'em." Kayla mengangguk.
"Bagaimana rasanya jatuh cinta, Kay?"
Kayla malah tertawa. "Benar kan apa kataku? Mbak Mel pasti sedang jatuh cinta."
Melani melengos. "Jawab dulu, Kayla!"
__ADS_1
Kayla semakin tertawa. "Siapa pria beruntung yang berhasil dicintai oleh Mbak Mel?" Kayla menaik-turunkan alisnya.
Melani semakin merenggut. "Aku hanya bertanya, Kay. Kalau tidak ingin menjawab, ya sudah!"
Kayla tertawa pelan. Ia menatap Melani yang memang tampak berbeda. Wajahnya memang masih tampak pucat dan tatapan matanya kosong. Kayla yakin ini pasti ada hubungannya dengan cerita Jendra kemarin.
Melani bingung harus bertanya pada siapa. Ia tidak punya teman dekat selain Mona dan Kayla. Mungkin ini salahnya yang selalu berburuk sangka pada orang lain. Ia selalu mengira orang-orang tidak akan tulus saat menjalin hubungan pertemanan.
Suara langkah kaki yang tercipta karena ketukan sepatu dan lantai membuat keduanya menatap ke arah suara itu. Tampak Jendra yang berjalan dengan penuh wibawa.
Melani menunduk pura-pura sibuk. Ia membuka beberapa berkas di atas meja. Jendra melirik gadis itu dan masuk ke ruangannya.
Kayla tersenyum tipis saat melihat keduanya seperti enggan menyapa satu sama lain.
Beberapa hari berlalu.
Hubungan Melani dan Jendra masih tetap dingin. Tidak ada yang ingin menyapa lebih dulu kecuali untuk urusan pekerjaan. Jendra juga meminta Kayla untuk menunda beberapa meeting hingga minggu depan karena Jendra tidak bisa meeting tanpa Melani sedangkan hubungan mereka sedang kurang baik.
Jendra membuka pesan yang ia terima dari Kalandra.
Temani aku makan siang di restoran X. Aku ngidam makan sate kambing.
Jendra tersenyum miris. Dia sudah merasakan ngidam, sedangkan aku menikah saja belum!
"Aku se ... dang si ... buk!" ucapnya saat membalas pesan Kalandra.
Tak berapa lama, pria itu membalas pesannya.
"Cih! Bayi masih dalam kandungan sudah difitnah!" gumamnya kesal. "Bilang saja kalau bapaknya ingin ditraktir!"
"Baiklah! Tunggu aku disana!" ucap Jendra sambil mengetik balasannya.
Ia keluar dari ruangannya karena jam makan siang sebentar lagi. Sudah beberapa hari terakhir, Jendra tidak pernah makan siang bersama Melani karena mereka tidak pernah meeting di luar kantor.
Kayla juga terlihat tidak pernah makan siang bersama gadis itu. Ternyata Melani selalu membawa bekal dari rumah dengan alasan lebih sehat dan terjamin kebersihannya.
Jendra melihat Melani dan Kayla yang masih bekerja. Ia tidak menyapa keduanya dan terus saja melangkahkan kaki keluar dari gedung.
Sementara itu, Melani menghela nafas panjang saat Jendra sudah benar-benar pergi.
"Terasa sesak di dada, saat ingin bicara tapi gengsi lebih mendominasi!" sindir Kayla membuatnya menatap tajam.
"Bukan begitu, mbak Mel?" Kayla tersenyum dengan bibir melengkung maksimal. Jika bisa, mungkin bibir itu melengkung sampai ke telinga.
Melani membuang muka. Jika tidak sedang hamil, ingin rasanya aku mencubit pipinya dan menggelitik perutnya. Bisa-bisanya dia menggodaku!
"Ikut denganku, yuk!" ajak Kayla. "Makan siang di cafe, ada menu baru katanya!" Kayla menyambar tasnya dan berdiri di dekat meja Melani.
"Aku bawa bekal, Kay!"
__ADS_1
Kayla tetap memaksa. Ia harus bicara pada gadis ini. Ia tidak bisa bekerja dengan orang-orang yang sedang tidak akur ini.
Kayla meminta suaminya untuk meluruskan benang kusut di kepala Jendra sementara ia berusaha mengatasi kegundahan Melani.
"Bekal yang mbak Mel bawa pasti tidak enak! Lebih enak makan di cafe, sekalian temani aku!"
"Biasanya kamu makan siang dengan suamimu!" ucapnya kesal karena Kayla mengatakan bekalnya tidak enak. Memang benar, ia hanya membawa roti dengan selai kacang.
"Dia sedang makan siang bersama kliennya, mbak. Makanya aku mengajak mbak Mel!"
Melani tertawa pelan. "Pemain cadangan, heh?"
Kayla tertawa. "Pemain cadangan juga punya potensi mencetak gol. Jangan salah sangka dulu!"
Melani tertawa. Ia mana tega menolak permintaan ibu hamil ini. "Ayolah! Aku juga butuh udara segar sepertinya."
Mereka keluar dari gedung perkantoran itu dan masuk ke dalam taxi online yang sudah Kayla pesan sebelumnya.
Mereka tiba di sebuah cafe yang pernah mereka datangi saat makan siang bersama.
Kayla memesan beberapa menu termasuk menu baru yang menjadi alasannya untuk mengajak Melani.
"Sebenarnya ada masalah apa antara mbak Mel dan pak Jendra?" tanya Kayla.
Melani menatap Kayla dan menggeleng.
"Jangan berbohong, terlihat jelas kalau kalian sedang tidak baik-baik saja."
Melani menghela nafas. Cerita sajalah. Siapa tahu Kayla punya solusi.
"Dia dan mamanya memintaku untuk menikah dengannya."
Kayla terkejut, tapi hanya pura-pura. Karena ia memang sudah tahu mengenai hal itu. "Selamat, mbak Mel!" ucapnya senang.
Melani mencebikkan bibir. "Aku menolaknya!"
"Loh? Kok bisa?" Melani hampir terbahak saat melihat Kayla membuka mulutnya lebar.
"Ya bisa saja. Aku tidak punya alasan untuk menerimanya!"
"Aku tidak ... mencintainya," ucapnya ragu, karena ada rasa sakit di hatinya saat ia mengatakan hal itu.
Kayla tertawa membuatnya seketika melihat ke arah wanita yang tengah hamil itu.
"Memang mudah untuk mengucapkan aku tidak mencintainya. Tapi, tidak mudah untuk bersikap selayaknya orang yang benar-benar tidak saling mencintai, mbak!"
Melani diam saja saat mendengar apa yang Kayla katakan. Ia tidak faham, makanya ia tidak menanggapi dengan sepatah kata pun.
"Jika kalian tidak saling mencintai, mana mungkin kalian saling mendiamkan begini."
__ADS_1
"Itu karena kalian sama-sama tidak ingin saling menyakiti."
Melani tertegun. Apa benar yang Kayla katakan? Dia tidak ingin menyakitiku? Bukankah berkali-kali memaksaku itu sangat menyakitiku dan kini, dia berhenti melakukannya? Dia enggan membahas masalah itu lagi?