Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 138 S3 Akhir Bahagia


__ADS_3

Kayla bersama Kalandra saling melempar senyum saat melihat Reyga masuk ke dalam rumah mereka dengan saling bergandeng tangan sementara Reyga juga mendorong stroller dengan satu tangannya.


Keributan dalam rumah tangga mereka mengenai masalah orang ketiga bermana Kirana sepertinya sudah selesai. Gia tampak bisa tersenyum lebar karena sudah bertatap muka dengan wanita yang sempat ingin menggoda suaminya.


"Pengantin baru juga tidak seromantis ini," canda Kalandra.


Reyga tertawa. Ia melepaskan tangan Gia dan mereka ikut bergabung di ruang keluarga.


"Bukan hanya pengantin baru yang boleh romantis kepada istri, Kak. Pasangan lawas juga boleh," balas Reyga.


"Hei ...." Kalandra menunjuk adiknya yang baru saja duduk di sofa. "Kamu mengajariku, hah!"


Reyga tertawa lagi. "Kan, begitu saja marah. Aku kan mengatakan apa adanya, Kak."


"Bukan marah, Rey! Aku hanya merasa kamu sok pintar sekarang!"


"Bukannya bagus, Mas? Berarti Reyga banyak belajar selama menjalani pernikahan mereka," balas Kayla yang merasa Kalandra berlebihan.


Kalandra berdecak kesal. Harusnya kamu sadar, Rey! Saat masih jadi pengantin baru dulu, kalian justru tidak romantis. Sama seperti aku dan Kayla. Jadi, kata siapa kalau pasangan pengantin baru harus romantis? Eh, tunggu! Tadi aku bicara apa? Ah, entahlah!


Kalandra menggaruk kepalanya sendiri karena bingung dengan yang tengah ia fikirkan.


"Masalah kemarin sudah selesai, Rey?" tanya Riana yang baru saja ikut bergabung.


Reyga dan Gia kompak mengangguk. "Sudah, ma. Aku sudah bertemu langsung dengannya. Ternyata, wanita itu sangat cantik, ma."


"Kalian sudah bicara?"


Gia mengangguk. "Setelah ini, tinggal terserah padanya dan Mas Reyga, Ma."


"Kalau dia mengerti apa yang ku katakan, pasti dia akan menjauhi Mas Reyga dan hanya menjalin hubungan sebatas rekan kerja saja."


"Dan kalau dia tetap nekat, aku serahkan semuanya pada Mas Reyga. Soal dia tergoda atau tidak, itu terserah padanya, Ma."


"Kamu tidak boleh begitu, Gi. Harusnya kamu pertahankan apa yang memang merupakan milik kamu." Kayla tidak setuju dengan ucapan Gia yang tampak pasrah.


Sementara itu, Kalandra mengu-lum senyum tipis. Ia senang karena sepertinya jika Kayla berada di posisi Gia, istrinya itu akan tetap mempertahankan rumah tangga mereka. Atau mungkin Kayla akan mengha-jar wanita yang berusaha mendekatinya.


"Aku sudah percaya sepenuhnya pada Mas Reyga, Kay. Aku tidak mau berfikir negatif terus-terusan. Aku tidak mau terbebani dengan masalah kecil ini."


"Aku berfikir berlebihan, toh nyatanya bukan hanya Kirana yang bekerja sama dengan Mas Reyga."


"Jika waktu tidurku berkurang 15 menit saja untuk memikirkan satu Kirana, maka akan berapa banyak waktu tidurku yang terganggu untuk memikirkan Kirana-Kirana yang lain?"


Gia mengangkat bahunya. "Aku tidak mau, kalau aku yang tidak bahagia ini juga membuat aku tidak bisa membahagiakan Sasa."


"ASI seret karena banyak fikiran adalah hal yang harus ku hindari, sekarang."


Riana tersenyum kecil. "Kamu harus menjaga kepercayaan itu, Rey! Semua itu ibarat gelas kaca. Kalau sudah pecah, percuma saja segala usaha untuk memperbaikinya."

__ADS_1


"Yang sudah hancur akan tetap hancur. Berusaha memperbaikinya hanya akan membuat tangan kamu terluka."


Riana sudah mengalaminya. Ia pernah berselingkuh. Kehilangan kepercayaan dari suaminya sendiri bahkan hingga mereka terpisah karena maut. Kembali demi anak-anak nyatanya tak membuat Riana kembali memperoleh perhatian dan kasih sayang Bagas.


"Kamu juga begitu, Andra!" Riana menepuk bahu putranya. "Hargai istri kamu. Jangan sakiti dia."


Kalandra mengangguk. Aku tidak akan pernah melukai dan menghancurkan hatinya, Ma. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan membuat Ara bernasib sama sepertiku dan Reyga.


"Maafkan mama yang dulu sudah ..." Riana tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Ia sudah menorehkan tinta, menuliskan kisah pahit untuk putra-putranya di masa lalu.


"Mama, tidak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi. Dan sekarang, dunia sudah berputar. Tuhan sedang memberikan kesempatan dalam keluarga kita merasakan hangatnya kebahagiaan."


"Seperti halnya malam yang berganti dengan pagi. Kegelapan di rumah ini perlahan hilang dan berganti dengan senyum, tawa anak dan cucu mama." Kalandra merangkul bahu Riana.


"Mama bahagia."


"Kami juga, Ma."


"Andra janji, Ma. Kebahagiaan ini akan tetap kita rasakan. Kehangatan ini akan terus menyelimuti rumah ini."


"Rey, sesibuk apapun, kita harus sempatkan untuk berkumpul seperti ini. Terserah mau di rumah kamu atau rumah ini."


Reyga setuju. "Benar kak! Tapi, sepertinya kakak akan jadi orang yang paling sibuk dan sulit mengatur jadwal," balas Reyga meremehkan kakaknya yang memimpin sebuah perusahaan.


Kalandra tersenyum sinis. "Kita lihat saja, nanti!"


"Bukankah restoran kamu akan semakin ramai saat hari libur? Bukankah itu artinya kamu akan semakin sibuk?"


Reyga benar. Bahkan jika dia tidak datang pun, tidak masalah. Selama ini dia datang hanya untuk memastikan kalau tidak ada kendala apapun.


Kalandra tertawa. "Kan, Ma. Lihat dia! Dia mulai sombong sekarang!" ucap Kalandra bercanda.


"Katakan saja kalau kamu sebenarnya ingin mengatakan kalau kamu sekarang adalah seorang Bos besar!"


Semua orang tertawa karena dibalik tuduhan itu, Kalandra hanya bergurau saja.


"Tidak besar, Kak!"


"Kan! Kamu ingin mengakui kalau kamu seorang Bos!"


"Aku tidak merasa seperti itu."


"Alaaah! Katakan saja, sok Bos!"


"Astaga! Kalau aku Bos, lalu kakak apa? Super duper Big-big-big-big Bos?" Reyga mengulang kata big berkali-kali untuk mengungkapkan kalau Kalandra masih jauh diatasnya.


Kayla dan Gia hanya bisa tertawa melihat suami mereka berdebat seperti anak kecil. Untung saja, anak-anak mereka tidak ada yang menangis karena terganggu obrolan orang tua mereka itu.


Mungkin ini yang di maksud Oma. Oma ingin sekali melihat keduanya bertengkar dan saling ejek.

__ADS_1


Riana tak henti tertawa karena hal seperti ini juga ia rindukan. Ia rindu melihat Kalandra yang hangat. Ia rindu melihat Reyga yang selalu pintar membalas Kalandra.


"Mama menangis?" tanya Reyga yang seketika berjongkok di hadapan Riana.


Riana bingung saat Reyga menanyakan hal itu. Ia mengusap pipinya, dan benar saja. Bulir bening membasahi pipinya. Ia sendiri bingung, mengapa bisa terjadi padahal ia sedang bahagia melihat kedua putranya yang tengah bergurau.


Apa ini yang namanya tangis bahagia?


Riana menggeleng. Ia mengusap kepala Reyga. "Mama hanya rindu melihat tingkah kalian saat kecil dulu."


"Saat berebut mainan."


"Saat berebut pangkuan mama."


"Saat berebut suapan dari tangan mama."


Kalandra menyandarkan kepalanya di bahu Riana. Sementara Reyga meletakkan dagunya di lutut Riana.


"Mama perlu tahu, aku juga merindukannya, Ma."


"Apalagi Andra, Ma."


Riana tertawa. "Sekarang, kalian sudah punya istri yang bisa menyuapi kalian."


"Tetap saja terasa berbeda, Ma." Reyga mengerling kearah Gia yang langsung tertawa. Gia tahu, kelakuan Reyga itu karena tidak ingin ia marah.


"Benar kan, kak?" tanya Reyga.


"He'em," sahut Kalandra.


"Kenapa?" Kalandra tiba-tiba menjauh dari tubuh Riana dan menatap Kayla yang kebingungan. Kayla tidak bicara apapun tapi mengapa Kalandra bertanya Kenapa?


"Kamu cemburu? Minta dipeluk?" tanya Kalandra.


Kalandra seketika merangkul bahu Kayla dan Riana yang memang duduk mengapit dirinya.


"Aku juga sayang kamu, Sayang! Jangan cemburu, ya ...."


Mereka semua tertawa. Padahal Kayla masih belum mengatakan apapun.


"Kamu mau dipeluk juga, sayang?" tanya Reyga tiba-tiba.


Reyga berdiri dan memeluk Gia yang tidak minta peluk sama sekali. Untung saja bayi mereka sedang berada di stroller sehingga tidak tertimpa tubuh Reyga.


"Aku juga sayang kamu," ucap Reyga gemas.


Siapa sangka, pernikahan mereka yang dulunya dingin kini terasa begitu hangat. Baik Kalandra dan Kayla ataupun Reyga dan Gia.


Mereka banyak belajar selama pernikahan mereka. Bagaimana untuk bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bagaimana untuk bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

__ADS_1


Dari mereka kita belajar bahwa seseorang yang jahat sekalipun, pasti masih punya sisi baiknya. Tergantung pada kita yang mau memberikan kesempatan untuk mereka menunjukkan sisi baik itu atau tidak.


Pernikahan itu adalah ibadah terlama dalam hidup manusia. Makanya, sesulit itu untuk menjalaninya. Tidak cukup saling percaya dan saling menerima, tapi juga butuh keikhlasan.


__ADS_2