Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 130 S3 Kecurigaan


__ADS_3

Gia turun dari mobil sambil menggendong Raisa, putri kecilnya yang baru berusia 3 bulan lebih. Ia sempat melihat dan bertanya-tanya saat ada wanita berusia sekitar hampir 50 tahunan membawa anak kecil berusia 10 tahun dan kemudian mereka masuk ke dalam salah satu mobil milik Kalandra.


Gia tidak mau ambil pusing. Ia sendiri sedang gelisah tak karuan karena merasa curiga pada suaminya sendiri.


"Gia ..."


Semua orang kaget saat Gia tiba di rumah iti tanpa Reyga. Hari libur tidak menjamin Reyga akan libur bekerja. Justru restorannya akan semakin ramai saat hari libur seperti ini.


Gia mengangguk dan menyapa mereka semua. Wajahnya yang tampak lesu dan lemas membuat mereka semua merasa curiga kalau telah terjadi sesuatu pada Gia.


"Kamu baik-baik saja kan, Gi?" tanya Riana yang duduk di samping Gia. Wanita itu juga mengambil Raisa dari gendongannya.


"Sebenarnya ada sesuatu, Ma. Tapi, aku tidak tahu ini benar atau salah. Atau aku yang berlebihan."


"Katakan saja, Gi." Oma membuat Gia berani untuk mengatakan apa yang ia lihat tadi dan sukses membuat hatinya gelisah.


Flashback On.


Pagi ini, Gia akan membawa Raisa ke salah satu restoran milik Reyga. Suaminya itu mengatakan akan ke salah satu restoran yang memang biasanya akan lebih ramai saat hari libur seperti ini.


Setelah hamil tua dan melahirkan Raisa, Gia tidak pernah lagi datang ke restoran karena ia sendiri merasa kerepotan sebab mengurus putrinya sendiri. Lagi pula, usia Raisa yang baru beberapa bulan, membuat Gia tidak ingin membawa putrinya itu keluar rumah kecuali memang situasinya yang mengharuskan Raisa ikut seperti ke rumah orang tua mereka atau ke dokter.


Gia sengaja ingin memberi kejutan untuk suaminya dengan datang ke kantor pagi menjelang siang ini.


"Papa sama siapa, sayang?" gumam Gia yang membawa Raisa dalam stroller yang sedang ia dorong.


Gia melihat seorang wanita tengah berdiri bersama Reyga. Mereka terlihat terlibat dalam perbincangan yang lumayan akrab.


Dan Gia berhenti melangkah saat wanita itu tampak merapihakan kemeja Reyga dibagian dada dan pundak dengan mengusap perlahan menggunakan telapak tangannya.


Gia memejamkan mata menahan gemuruh hebat di dadanya. Sakit sekali melihat hal itu. Ia tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Gia keluar dari restoran itu. Ia tidak sepercaya diri itu untuk menemui suaminya yang sedang bersama wanita lain di sebuah ruangan VIP berdinding kaca yang bisa terlihat dari luar.


Sepertinya akan ada acara di ruangan VIP itu karena ruangan itu di dekorasi dengan balon berwarna hitam dan gold.


*Mengapa hatiku sesakit ini? Mengapa aku tidak berani berdiri dihadapan mereka dan mempertanyakan apa yang sudah ku lihat tadi?


Tidak! Tidak boleh! Aku tidak mungkin muncul di hadapan Mas Reyga. Bagaimana jika mereka memang memiliki hubungan istimewa? Bagaimana jika Mas Reyga lebih memilih wanita itu dan mencampakkan aku di depan selingkuhannya itu?


Kami masih baru saling menyayangi? Saling? Apa pantas ku katakan saling menyayangi? Bagaimana jika hanya aku yang menyayanginya? Bagaimana jika ia bertahan hanya karena Raisa*.

__ADS_1


Gia masuk ke dalam mobilnya sambil menyeka air matanya beberapa kali. Ia menggendong Raisa dan mendudukkan bayi itu di pangkuannya.


"Pak, tolong lipatkan stroller Raisa," pinta Gia pada supir yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Bu, tidak jadi menemui bapak? Apa bapak sedang tidak disini?"


Gia menggeleng. "Kita ke rumah mama Riana saja, Pak. Nanti Mas Reyga akan menyusul ke sana."


Gia menatap jendela, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya meneteskan air mata yang entah kapan akan berhenti.


*Apa ini akan jadi akhir pernikahan kami? Mengapa baru sekarang ya Tuhan? Mengapa baru sekarang, saat aku sedang menikmati peranku sebagai istri dan ibu.


Apa aku terlalu sibuk mengurus Raisa hingga aku melupakan Mas Reyga? Apa dua mulai bosan denganku? Aku memang terlihat semakin gemuk setelah melahirkan. Aku bahkan lupa memakai parfum karena aku terus berada di rumah.


Dan siapa wanita itu? Dan sejak kapan mereka saling berhubungan*?


Gia benci dengan fikirannya sendiri. Ia menghapus air matanya karena saat ini ada Raisa yang harus ia perhatikan.


Flashback Off.


Riana mengusap bahu Gia yang terus menangis sambil menceritkan apa yang ia lihat tadi. Ia juga menceritakan bagaimana perasaannya saat ini.


"Reyga selingkuh?" Alisnya menyatu lalu Kalandra tertawa. "Kamu salah lihat, Gi!"


"Apa yang harus ku cari tahu, Sayang. Wanita itu dan Reyga tidak ada hubungan apapun," ucap Kalandra yakin karena Reyga adalah tipe pria setia sepertinya.


"Sudahlah, jangan menangis. Itu hanya perasaan kamu saja."


"Andra!" Oma memperingatkan cucunya itu. "Jangan anggap masalah ini sepele."


"Apa yang akan kamu lakukan jika pak Darmo mengelus rambut Kayla!"


"Aku akan langsung menghajarnya!" balas Kalandra cepat. Ia tak rela supirnya itu mengelus rambut istrinya.


"Kurang ajar sekali dia!"


Oma menggeleng. "Seperti itulah perasaannya sekarang, Andra!"


Riana menguatkan Gia dengan terus mengusap punggungnya. "Kamu hanya butuh penjelasannya. Nanti, kalau kalian bertemu. Tanyakan baik-baik. Jangan memancing emosinya karena jika memang mereka memiliki hubungan, biasanya akan mudah sekali marah."


Gia semakin menangis. Ia bahkan sudah menghabiskan beberapa lembar tissu. "Bagaimana kalau memang benar mereka memiliki hubungan, Ma."

__ADS_1


"Aku tidak tega melihat Raisa jika kedua orang tuanya berpisah."


"Ssst! Kamu bicara apa, Gia?" ucap Oma sedikit mengeraskan suaranya.


"Jangan percaya atas apa yang kamu lihat. Jika kamu tidak mendengar dan tidak memahami situasinya, jangan asal menyimpulkan hal yang hanya akan membuat perasaanmu semakin tidak tenang."


"Biar ku hubungi Reyga, dulu."


Kalandra mengambil ponselnya di saku celana lalu mencari nomor Reyga. Tapi sayang, panggilannya tidak dijawab.


"Dia sedang sibuk bersama wanita itu, Kak!" ucap Gia.


"Tutup mulutmu, Gi! Aku sedang mencoba menghubunginya lagi."


"Mas, jangan kasar!" Kayla marah pada suaminya.


"Hari ini, semua hal membuatku emosi terpancing saja. Baru selesai satu masalah, datang masalah baru." Kalandra mengomel meski ia terus mencoba menghubungi Reyga.


Gia tidak berani bicara lagi. Ia hanya menunduk lesu karena ternyata kehadirannya malah membuat Kalandra marah.


Padahal, Kalandra bukan marah padanya. Pria itu masih kesal pada Rosma dan sekarang pada adiknya sendiri.


"Hallo, Rey." Akhirnya Reyga menjawab panggilannya.


"Hallo, kak. Sebentar, aku sedang nanggung. Nanti ku hubungi lagi. Tut... tut ..."


"Brengs*k!" Umpat Kalandra karena Reyga mengakhiri panggilan itu.


"Nangung katanya? Dia ingin ku hajar?" Kalandra segera berlari keluar dari rumah.


Gia dan Kayla panik melihat Kalandra yang pergi dengan perasaan marah.


"Mas, kamu mau kemana?"


"Kak, jangan apa-apakan dia!" teriak Gia.


"Kalian tenanglah. Dia tidak akan berbuat nekat." Riana menenangkan menatu-menanatunya.


"Biarkan dia pergi. Oma ingin melihat mereka bertengkar seperti saat kecil dulu." Oma malah tertawa. Ia rindu melihat kakak beradik itu saling kejar.


"Apa tidak bahaya, Oma? Mereka sudah sama-sama dewasa."

__ADS_1


"Justru itu, Kayla! Andra tidak akan bertindak kelewatan."


__ADS_2