Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 135 S3 Hadiah


__ADS_3

Sebagai seorang ayah dan suami yang baik, Kalandra selalu ingin memberikan yang terbaik pada anak dan istrinya. Ia selalu berusaha untuk membagi waktunya, baik untuk pekerjaan maupun untuk keluarganya.


Semakin bertambahnya usia baby Ara, Kayla semakin kewalahan. Gadis kecil itu semakin aktif, semakin sering terjaga dan menyusu. Kayla bahkan nyaris tidak bisa meninggalkan Ara dalam waktu yang lama.


Kalandra merasa ia harus memberikan sesuatu untuk istrinya itu. Ia ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih atas lelah yang Kayla rasa selama merawat anaknya.


Kalandra menatap sahabatnya yang sedang berada di ruang kerjanya. Keduanya baru saja selesai membahas masalah pekerjaan.


"Hadiah apa yang pantas diberikan kepada seorang istri, Jend?" tanya Kalandra. Ia ingin memberikan hadiah yang tidak biasa. Dan ia yakin Jendra pasti tahu.


Jendra seketika menatap Kalandra. Ia yang sedari tadi sedang melamun mendadak memaksa otaknya untuk berfikir.


"Setiap wanita punya keinginan yang berbeda-beda. Mungkin dia butuh waktu untuk diri sendiri, Kal! Bahasa kerennya, me time."


"Apa tidak ada yang lebih istimewa, Jend?" tanyanya. Kayla punya banyak waktu untuk dirinya sendiri karena istrinya itu tidak bekerja sama sekali. Kayla memang sedang menikmati perannya sebagai seorang ibu.


"Lagi pula, Kayla belum tentu mau meninggalkan Ara denganku atau mama."


"Dia mana bisa menikmati waktunya dengan perasaan was-was. Dia pasti takut kalau Ara menangis."


Kalandra bisa saja membiarkan Kayla jalan-jalan, berbelanja atau ke salon, tapi dia tidak yakin Kayla akan mau meninggalkan Ara.


Jendra mengangkat bahunya. "Terserah padamu, Kal! Bertanya, tapi tidak terima dengan jawabanku."


"Cari saja cara lain." Jendra melipat tangannya di dada. Ia menyadarkan kepalanya. Ia ingin santai sejenak di kantor sahabatnya itu.


"Berikan saja emas, permata atau berlian, seperti suami-suami pada umumnya."


"Memangnya Kayla sedang ulang tahun?" tanya pria yang istrinya sedang hamil muda itu.


"Tidak. Hanya ingin memberi hadiah saja."


"Kalau begitu berikan saja bunga, atau cium dia sebanyak seratus kali," balas Jendra asal.


"Aku sendiri saja sedang repot mengurus istriku yang semakin hari semakin banyak maunya."


Kalandra tertawa. Ia sudah pernah melewati masa-masa itu. Meski tidak terlalu repot, tapi namanya ibu hamil pasti ada saja maunya.


"Dia berulah apa lagi, Jend?"


Setelah tahu, terakhir kali Melani ingin melihat Jendra memasak dengan memakai daster, Kalandra jadi semakin ingin tahu apa yang wanita itu mau.


"Pagi tadi dia menangis, Kal."


"Kenapa? Sakit? Kram perut? Mual? Atau ingin makan sesuatu?" tanya Kalandra yang tampak sudah hafal kebiasaan ibu hamil.


"Entahlah. Katanya dia mimpi aku berselingkuh."


"Lalu dia mendiamkan ku sekarang."


Kalandra tertawa lagi. "Sepertinya anak kalian memang benar-benar pintar."


"Dia senang sekali menyusahkan papanya."


Jendra melirik kesal. "Mengapa Melani selalu kesal padaku, ya Kal?"

__ADS_1


"Kami hampir setiap hari berdebat, lalu malamnya saling sayang. Dan paginya kembali berdebat."


"Aku sampai tidak betah di rumah."


Melani mulai jarang bekerja karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Jadi, Jendra akan segera mencari sekretaris baru untuk menggantikan Melani dan Kayla.


"Hati-hati, biasanya saat seperti ini menjadi peluang untuk seorang suami berselingkuh." Kalandra dengan sok bijaknya menasehati Jendra.


Jendra menatap tajam. "Tidak! Aku tidak mungkin melakukannya, Kal!"


Jendra meyakinkan dirinya kalau ia sudah bertobat dan benar -benar tidak ingin melukai hati Melani dengan menduakan wanita itu.


"Aku kan hanya mengingatkan," balas Kalandra acuh.


"Aku takut kamu khilaf dan Melani akan meletakkan kepalamu di meja makan dan tubuhmu di dalam kamar."


Jendra bergidik ngeri. Membayangkannya saja membuat jantungnya berdegup kencang.


Kalandra tertawa melihat reaksi Jendra, padahal ia hanya bercanda.


"Saranku, beri dia perhatian lebih. Pijat kakinya, usap perutnya, kalau perlu ajak dia jalan-jalan, Jend."


"Dia pasti jenuh hanya di rumah terus."


"Kamu melarangnya bekerja, tapi dia tidak punya aktivitas lain di rumah. Wajar jika ia bosan dan akhirnya menyalahkan kamu atas keadaannya sekarang."


"Ia selalu kesal ketika melihat wajahmu."


Jendra mengusap wajahnya. Tiba-tiba, ia punya ide bagus. Ada satu hal yang pasti akan membuat Melani senang.


Sementara itu, Kalandra masih bingung ingin memberikan hadiah apa pada Kayla. Sepanjang jalan pulang, ia kembali memikirkan hal itu.


"Cincin?"


Kalandra menggeleng. "Kayla bisa membelinya sendiri."


Kalandra memang menyerahkan uang bulanan yang cukup banyak pada istrinya. Bahkan tabungannya Kayla yang menyimpan. Sehingga Kayla pasti mampu untuk membeli cincin.


"Buket bunga?"


"Ih...! Seperti Abege saja!" Kalandra merasa aneh saat membayangkan ia akan memberikan buket pada istrinya.


"Me time?"


Kalandra tersenyum puas saat ia tahu harus melakukan apa. Ia mulai menyusun rencana dan akan ia laksanakan hari ini.


Saat tiba di rumah, Kalandra langsung masuk ke dalam kamar mandi sebelum ia menemui anak dan istrinya.


"Sayang, bersiap ya, malam nanti aku akan mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Kalandra sambil menyisir rambutnya.


Kayla yang sedang merapihkan peralatan mandi bayinya menoleh ke arah suaminya.


"Kemana, Mas? Ara sama siapa kalau aku pergi bersama kamu?"


"Ada mama dan Oma. Tenang saja, kita tidak akan lama, kok."

__ADS_1


"Dandan saja yang cantik. Aku sudah siapkan gaun untuk kamu." Kalandra menunjuk sebuah box di meja rias dengan menepuknya beberapa kali.


Kayla tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. "Seperti orang pacaran saja."


Kalandra mendekat dan mendekap tubuh Kayla. "Anggap saja begitu. Kita kan tidak pernah pacaran sebelum menikah."


"Kita kan memang tidak melewati masa-masa seperti itu, Mas."


"Kamu benar, kita menikah lewat jalur udara lalu terjun dan turun di titik itu."


"Kita tidak pernah pacaran bahkan untuk sekedar saling mengenal."


Kayla memukul pelan lengan suaminya. "Itu karena kamu, Mas. Kamu menawariku sebuah pernikahan."


"Jendra yang memilihkanmu untukku."


"Jadi, kamu menyesal?"


Kalandra menggeleng. "Tidak pernah sedikitpun, Kay!"


"Semua memang sudah diatur sedemikian rupa, Kay. Mungkin itu yang dinamakan jodoh dari Tuhan."


Kayla tertawa. "Kenapa kamu setuju begitu saja dengan saran Pak Jendra, Mas?"


"Sebenarnya aku tidak ingin, Kay."


"Tapi ...."


"Entahlah, semua terjadi begitu saja." Kalandra mengeratkan pelukannya. Ia mengirup dalam-dalam aroma sampo Kayla.


Kayla tertawa. "Sebutkan satu hal saja, Mas." Kayla memaksa.


Kalandra diam sejenak. "Serius kamu ingin mendengar alasannya?"


Kayla mengangguk.


"Kamu butuh uang banyak, tapi kamu tidak menerima pemberianku saat kamu berhasil mengambil dompetku yang dijambret."


"Kamu butuh uang banyak, tapi bisa-bisanya kamu memarahi Alif, saat itu."


"Mas ..." Kayla berbalik dan menatap Kalandra. "Kamu tahu kalau yang mengambil dompet kamu adalah Alif?"


Kalandra mengangguk dan tersenyum. "Aku mendengar percakapan kalian."


"Dan aku merasa, kalau kamu adalah gadis yang luar biasa. Kamu bersedia bertanggung jawab atas biaya yang Alif butuhkan untuk ibunya."


"Aku diam-diam menyuruh seseorang untuk mengikuti kamu untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar menggunakan uang itu untuk biaya pengobatannya bu Susi."


Kayla menatap wajah Kalandra lekat-lekat. Selama ini, ia mengira kalau Kalandra tidak tahu akan hal itu.


"Kenapa melamun?" tanya Kalandra.


Kayla terkesiap. "Aku hanya terkejut karena ternyata kamu tahu kalau pelakunya adalah Alif dan kamu tidak menindak lanjuti ...."


"Sssst! Aku memakluminya. Dan aku turut bangga pada mereka berdua. Keduanya saling menyayangi meski terhimpit oleh kondisi ekonomi." Kalandra mengusap kepala istrinya.

__ADS_1


Kayla memeluk Kalandra. "Terima kasih, Mas."


__ADS_2