Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 52 Menghadapi Oma


__ADS_3

Jam 8 malam mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Makan malam tidak romantis dan cenderung diwarnai gelak tawa itu membuat perasaan Kayla sedikit lebih tenang.


Debaran cinta itu masih terasa, tapi keduanya sudah mulai terbiasa. Mereka justru malah menikmati getaran di dada saat mereka berada saling berdekatan.


"Kunci yang benar!" Pinta Kalandra saat Kayla mengunci pintu rumahnya.


"Zaman sekarang maling lebih pintar dari pemilik rumah."


Kayla tertawa. "Disini terbilang aman, Mas. Tiap malam ada yang ronda."


"Mereka tidak mungkin hanya akan menjaga rumah kamu, Kay!"


"Setidaknya mereka tetap berkeliling dan memperhatikan rumahku."


Keduanya masuk ke dalam mobil. Kayla kesulitan memakai safetybelt karena mobil ini bukan milik Kalandra, melainkan mobil perusahaan.


"Susah sekali!" gumamnya sambil menunduk.


"Bisa Kay? Ini memang sedikit lebih sulit. Maklumi saja." Kalandra membantu memasangkannya.


Jarak yang begitu dekat dan aroma parfum Kalandra yang memabukkan membuat Kayla terpaku ditempatnya.


Kalandra menatap mata Kayla yang sedang menatapnya juga. Kalandra menyukai debaran jantungnya karena jarak mereka yang sangat dekat itu. Aroma rambut Kayla membuat adrenalinenya tertantang.


"How about i kiss you now?" tanya Kalandra dengan berbisik.


*Bagaimana jika aku menciummu sekarang?


Kayla sangat gugup saat ini. Ia tak bisa bergerak sama sekali, bukan karena Kalandra yang menahannya, tapi karena tubuhnya yang terasa kaku.


*Ku rasa dia sudah gila! Apa dia selalu meminta izin untuk mencium setiap gadis yang pernah ia cium?


Menjawab tidak, tapi aku ingin. Menjawab ya, tapi itu melanggar perjanjian*.


"Lupakan!" Kalandra menjauhkan wajah mereka dan mulai mengemudi.


"Kamu marah, Mas?" tanya Kayla karena melihat pria itu tampak berbeda. Tiba-tiba menjadi pendiam.


Kalandra menggeleng. "Tidak. Aku hanya suka mengganggumu."


Kayla mencebikkan bibirnya. "Wajah jelekmu itu yang sangat ku sukai," ucap Kalandra lagi sambil tertawa membuat Kayla semakin salah tingkah.


Setibanya mereka di rumah, Riana dan Oma menunggu di ruang tamu. Mereka butuh penjelasan karena Kayla kabur begitu saja.


"Duduklah!" perintah Oma dengan nada dingin.


Melihat ekspresi ketakutan Kayla saat di ruang pemeriksaan tafi menimbulkan banyak pertanyaan dalam fikiran wanita tua itu.

__ADS_1


Jika hanya karena tidak siap melihat alat itu, Kayla seharusnya tidak perlu sampai melompat dari berangkat dan lari tunggang langgang.


Dan kecurigaan oma yang menurutnya paling tidak masuk akal, adalah Kayla masih perawa*n. Cucunya itu belum pernah menyentuh Kayla sama sekali.


Kalandra dan Kayla duduk bersebelahan. Kalandra lebih terlihat tenang sementara kaki Kayla mulai lemas dan tangannya terasa dingin.


Entah sejak kapan Kayla menjadi pengecut begini. Mungkin karena rasa sayangnya pada Oma membuatnya takut mengecewakan wanita tua itu.


"Bagaimana keadaan kamu, Kayla?" tanya Oma.


"Sudah lebih baik, Oma."


"Kamu kemana? Mengapa pergi begitu saja?" tanya Riana.


"Maaf Ma, aku tidak bermaksud untuk berbuat tidak sopan pada mama dan Oma."


"Aku..." Kayla kembali gugup. Sikutnya menyenggol perut Kalandra, sebagai kode bahwa ia butuh bantuan.


"Aku-"


"Kayla kembali ke rumahnya, Ma." Jendra yang menjawab.


"Dia bilang padaku kalau dia belum siap kecewa dengan hasil pemeriksaannya."


"Dia juga takut membuat kalian kecewa jika seandainya ia sedang tidak hamil."


"Sebab mendiang ayahnya selalu keluar masuk rumah sakit karena menderita sakit selama bertahun-tahun."


"Bukan begitu, sayang?" tanya Kalandra menggenggam tangan Kayla.


Kayla mengangguk. "Maafkan Kayla Ma, Oma." Kayla menatap kedua wanita itu.


"Aku sudah membuat kalian malu di hadapan dokter dan suster."


"Maaf juga karena sudah pergi meninggalkan kalian tanpa pamit siang tadi."


Kayla sebenarnya sudah mengirim pesan pada mereka agar tidak perlu khawatir apa lagi sampai mencarinya.


Setelah tidak ada lagi hal yang harus mereka jelaskan. Riana pamit untuk masuk ke kamar lebih dulu. Kalandra dan Kayla juga berpamitan pada Oma.


"Oma kira permainan kalian sudah selesai. Ternyata belum. Oma pernah kecewa pada Reyga karena pernikahannya, tapi ternyata oma lebih kecewa pada kamu, Andra!" gumam Oma dengan nada sedih dan masih bisa Kalandra dengar.


Pria itu tidak menanggapi ucapan Oma karena sepertinya Oma hanya bergumam pada dirinya sendiri. Bukan sedang berbicara dengannya.


"Kay, mengapa hati kecilku mengatakan bahwa Oma sudah tahu tentang pernikahan kita?" ucap Kalandra yang langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan kaki menjuntai. Tas berisi berkas perusahaan sudah ia letakkan di meja kerjanya.


Kayla mengerutkan kening. "Jika memang begitu, oma pasti sudah memarahi kamu, Mas!" balas Kayla yang sedang mengikat rambutnya sebelum ia masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

__ADS_1


"Oma pasti juga sudah mengusirku dari rumah ini!"


"Tapi, melihat reaksi oma, sepertinya Oma tidak percaya dengan penjelasan kita, Kay!"


"Aku kenal Oma dengan sangat baik. Dan terlihat jelas bahwa Oma meragukan jawaban kita tadi."


"Coba kamu tanya pada pak Jendra, apa dia pernah membocorkannya pada orang lain." usul Kayla yang tengah mencuci wajahnya.


"Jendra tidak akan mungkin berani."


"Kalau gitu, pastikan surat perjanjian itu belum sampai ke tangan Oma," balas Kayla enteng.


Kalandra seketika mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kay! Kamu benar! Oma sudah melihat surat perjanjian kita!" Mata Kalandra membulat.


Kayla yang sedang mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil segera keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu yang benar, Mas! Bukankah kamu yang menyimpan surat perjanjian itu?" tanya Kayla panik.


"I-iya. Aku menyimpannya di-" Kalandra coba mengingatnya.


Setelah menandatangani surat perjanjian itu di kantor Jendra, ia menyimpannya di tas kerjanya. Lalu malam harinya ia mengeluarkan berkas-berkas di tasnya ke atas meja kerjanya.


"Mat*ilah aku!" Ia menepuk keningnya. Kalandra melompat dari atas ranjang.


Ia mencari surat perjanjian yang ia simpan di dalam map berwarna biru di antara tumpukan berkas itu.


"Kamu simpan disini, Mas?" tanya Kayla tak percaya melihat kecerobohan Kalandra.


Kalandra tak menjawab, ia malah meminta Kayla untuk membantunya. Mereka mencari di rak kecil diatas meja, di laci dan di beberapa ruang kecil dibagian meja itu.


"Ketemu, Mas?" tanya Kayla dan Kalandra menggeleng.


Kalandra memijat keningnya. "Apa mungkin tercampur dengan surat tanah dan surat wasiat papa?" gumamnya.


Kalandra segera membuka lemari dan berjongkok agar dirinya sejajar dengan brankas miliknya.


Kayla membulatkan mata. Hampir 3 bulan ia tinggal di kamar ini, tapi belum pernah melihat ada brankas di lemari suaminya. Itu karena ia memang tidak pernah melihat isi lemari Kalandra. Dan Kalandra pun tidak pernah membuka brankas saat ada Kayla di dalam kamar. Ia jarang membukanya, tapi ketika membuka brankas pasti Kayla sedang berada di kamar mandi atau di luar kamar.


Kalandra menekan nomor secara acak. Dan Ia bisa membuka brankas itu. Ia mengecek satu persatu.


"Tidak ada, Kay!" dengan jantung berdegup kencang Kalandra menatap Kayla.


Tanpa mereka sadari, dibalik pintu kamar mereka yang tidak tertutup rapat itu, ada seorang wanita tua yang mendengar sebagian pembicaraan mereka.


Wanita itu membuka lebar pintu itu. "Kalian mencari ini?" tanya Oma dengan tangan menunjukkan pada mereka surat perjanjian yang mereka cari sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2