
"Biar ku bereskan, Mas!" ucap Kayla saat mereka sudah selesai makan siang. Kayla membereskan peralatan makan yang kotor dan membuang bungkus makanan ka tong sampah di pantry.
"Biar ku bantu!" Kalandra membawakan plastik berisi sampah itu dan berjalan menuju pantry dengan mengikuti Kayla dari belakang.
Mereka masuk ke pantry dan langsung menjadi pusat perhatian beberapa orang yang kebetulan sedang beristirahat disana.
"Bu..." sapa seorang officeboy pada Kayla.
"Hem." Balas Kayla dengan senyum lebarnya. Ia langsung menuju wastafel untuk mencuci piring.
"Mas, sampah itu masukkan saja ke tong sampah, nanti biar Jaka yang membuangnya ke bawah." ucap Kayla.
"Jak, titip yaaa..." Kayla tertawa saat bicara pada Jaka, Office boy yang menyapanya tadi.
"Cuci tangan kamu disini, Mas!" Kayla meminta Kalandra mendekat.
"Itu sabunnya." tunjuk Kayla pada sabun cair berbotol transparan itu.
Bisik-bisik mulai terdengar di telinga Kalandra. Mereka memuji hubungan keduanya yang tampak romantis meski dengan perhatian kecil yang Kayla berikan padanya.
"Pengantin baru, sudah honeymoon ke mana, nih?" tanya salah satu diantara mereka yang merupakan seorang sekretaris manager.
Kayla mengeringkan tangannya dengan tissu. Ia juga memberikan beberapa lembar tissu pada Kalandra.
Kayla berbalik dan menatap wanita cantik dengan rok mini sejengkal diatas lutut. Kemeja ketat yang dua kancingnya dibiarkan terbuka itu mencetak jelas lekuk tubuhnya.
Isu yang Kayla dengar, wanita itu memiliki hubungan khusus dengan managernya sendiri.
Kayla tersenyum. "Baru ke Bali..." jawab Kayla jujur meski ia tahu, disana hanya menumpang tidur di rumah sakit.
"Sekelas Pak Kalandra, harusnya mengajak kamu honeymoon ke luar negeri, dong!"
"Masa kalah sama yang jabatannya hanya manager," lanjut wanita itu.
Kayla melirik wajah Kalandra yang tampak tersinggung. Ia seketika meraih tangan Kalandra dan menggenggam jemarinya.
Kalau dia mengamuk disini, bisa gawat!
"Ayo, Mas!" Kayla tak menanggapi dan malah mengajak Kalandra keluar.
"Kamu tidak ingin jawab?" tanya Kalandra sambil melirik lawan bicara Kayla tadi.
Kayla menggeleng. "Tidak perlu, Mas. Kehidupan kita, bukan untuk dikonsumsi publik."
Kalandra tertawa dan mengusap kepala Kayla. "Sangat cocok jadi istri CEO. Tidak suka pamer."
Mereka keluar dari pantry. "Orang-orang di kantor ini memang seperti itu, Kay?"
"Selalu ingin tahu urusan orang lain," lanjutnya.
"Tidak semua," jawab Kayla. "Mungkin dia sedang punya masalah, makanya mencari hiburan dengan menanyakan hal yang tidak ada kaitannya dengan dia."
Kayla kembali duduk di meja kerjanya. Sementara Kalandra duduk di depannya.
Kalandra memperhatikan wajah Kayla yang tampak kelelahan. "Kalau kamu tidak betah bekerja di kantor ini, katakan saja padaku," ucap Kalandra.
Kayla tertawa, "Aku tidak mau bekerja di kantor kamu, Mas!"
__ADS_1
Kalandra ikut tertawa. "Aku tidak mengatakan kalau kamu akan bekerja di kantorku."
"Lalu, aku akan bekerja dimana?" tanya Kayla.
Kalandra menggeleng. "Ya di rumah saja!" jawabnya.
"Ku beri gaji setiap bulan, tapi kamu tetap di rumah. Bisa menemani mama atau Oma."
"Huuu!" Kayla menghembuskan nafas berat. "Bicara tentang Oma, sampai kapan dia akan tinggal di rumah, Mas?" tanya Kayla.
Kayla sadar, pertanyaannya salah. "Eh, maksudku bukan begitu." lanjut Kayla gugup karena takut Kalandra salah faham padanya.
"Maksudku, Oma tak akan kembali sampai salah satu diantara aku dan Gia hamil."
"Apa Oma tidak akan kecewa jika menunggu lama, tapi yang ia tunggu tidak akan terjadi. Apa lagi dalam pernikahan kita?" Ucap Kayla pelan. Ia berani mengatakan ini karena tidak ada seorang pun disekitar mereka.
Kalandra mengangkat bahunya. "Entahlah, jika oma tahu tentang kita, pasti Oma akan kecewa."
"Harapan kita hanya Gia dan Reyga."
Kayla menggigit bibir bawahnya seperti tengah menahan sakit.
"Kamu kenapa, Kay?" tanya Kalandra yang tidak tahu jika tangan Kayla sudah memegang perutnya di bawah meja.
"Perutku sakit," Kayla meringis kesakitan.
Kalandra mulai panik. "Sakit sekali?"
Kayla mengangguk. "Mungkin karena terlalu banyak makan sambal!"
"Ck! sudah ku katakan, jangan terlalu banyak makan sambal!" omel Kalandra.
"Kayla kenapa, Kal?" tanya Jendra yang baru saja datang bersama Melani.
Kalandra melihat ke arah Jendra. "Sakit perut, Jend!"
"Aku izin bawa dia ke rumah sakit," Kalandra memegang tangan Kayla dan satu tangan lagi ia lingkarkan ke punggung Kayla untuk membantu gadis itu berjalan.
"Bawalah," Jendra mengizinkan.
"Aku tidak apa-apa, Mas." lirih Kayla membuat Kalandra mendelik.
"Tidak apa- Apa dari mana? Kamu kesakitan begini, masih saja mengelak!" Kalandra tetap menuntun Kayla.
"Tasnya, Kay!" Melani mengambil tas Kayla di atas meja.
"Bawa sini, Mel!" Melani melingkarkan tas Kayla di leher Kalandra.
"Thanks, Mel!" Ucap Kalandra.
Melani tertegun, ia tak menduga Kalandra bisa mengucapkan terima kasih dengan begitu santai tapi terdengar tulus.
Biasanya Kalandra akan mengucapkan terima kasih dengan nada datar bahkan tanpa senyum.
"Memikirkan suami orang?" tanya Jendra saat Melani melihat kepergian Kayla dan Kalandra.
"Tidak boleh begitu, Mel. Biar jelek asal single!" Nasehat paling berfaedah dari Jendra.
__ADS_1
Melani mencebikkan bibir. Ia melirik sinis pada Bosnya.
"Loh, benar kan nasehat yang saya berikan?" tanya Jendra bersandar di meja kerja Melani.
"Benar, Pak! Anda selalu benar!" jawab Melani.
Sementara itu, di dalam lift Kayla terus memegang perutnya. "Sepertinya aku cuma butuh ke toilet, Mas."
"Kamu kebelet?"
"Belum." Kayla menggeleng. "Tapi pasti nanti akhirnya juga seperti itu kan?"
Kalandra menghela nafas. "Setidaknya kamu butuh obat untuk mengurangi rasa sakit di perut kamu."
"Aku jalan sendiri saja, Mas! Malu dilihat orang di bawah." Kayla meminta Kalandra untuk tidak menuntunnya seperti tadi.
"Tidak! Kalau kamu jatuh bagaimana?" tanya Kalandra. "Masa iya aku biarkan kamu jalan sendiri dalam keadaan sakit seperti ini."
"Atau ku gendong saja..."
"Sssst!" Desis Kayla meringis menahan sakit. Ia jalan lebih dulu untuk keluar dari lift setelah lift berhenti di lantai bawah.
"Aku bisa jalan sendiri!"
Kalandra memutar bola matanya, jengah. Kayla sangat keras kepala ternyata. Hanya karena malu, gadis itu rela berjalan dengan sedikit membungkuk karena menahan sakit.
Kalandra tetap berjalan di belakang Kayla sambil berjaga-jaga takut jika gadis itu pingsan.
"Tunggu disini, aku ambil mobil dulu!" Kalandra meminta Kayla untuk duduk di kursi di lobby kantor sementara dirinya berjalan menuju parkiran.
"Lain kali, jangan terlalu berlebihan memakan sambal," Kalandra menasehati Kayla saat mereka pulang dari klinik.
Kayla menolak dibawa ke rumah sakit karena merasa dirinya masih kuat menahan sakit.
"Biasanya tidak apa-apa, Mas!" balas Kayla. "Lagi pula, siapa suruh membawa makanan yang menyelerakan seperti tadi," gumam Kayla yang masih bisa di dengar oleh Kalandra.
Kalandra tertawa. "Lain kali akan ku bawakan makan lagi, tapi tidak yang seperti tadi."
"Terserah, lebih sering lebih baik. Lumayan, aku bisa menghemat pengeluaranku," balas Kayla sambil tertawa.
"Kay, malam ini aku punya rencana untuk datang ke rumah Gia dan Reyga," ucap Kalandra. Selama ini mereka belum pernah datang ke sana.
"Aku sudah menghubungi Reyga dan menanyakan apakah dia butuh sesuatu atau tidak."
"Tapi dia tidak butuh apapun katanya."
Kayla mengangguk. "Ya sudah, pergilah!" jawab Kayla.
"Kamu tidak ingin ikut?" tanya Kalandra. "Padahal aku akan mengajakmu, mama dan Oma juga."
Kayla tertawa. "Kalau diajak aku tentu ingin ikut!"
Kalandra tertawa. "Tentu akan ku ajak."
"Ah, ya Mas. Saranku jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Jika Reyga butuh bantuan kamu, dia pasti akan datang!"
"Aku hanya takut, Reyga tidak terbiasa tinggal di rumah kecil itu."
__ADS_1
Rumah dua lantai masih dia bilang kecil? Batin Kayla heran.