Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 62 Bukan Perlombaan


__ADS_3

Kalandra mengajak seluruh anggota keluarga mereka untuk jalan-jalan kecuali Oma. Tidak jauh memang, hanya di sekitar daerah rumah uncle Bagus.


Mereka menempuh jarak beberapa ratus meter untuk sampai di sebuah taman. Salju turun tidak terlalu deras sehingga cukup aman untuk mereka beraktivitas di luar rumah.


Kalandra melihat Kayla begitu senang. Istrinya itu bahkan beberapa kali menatap ke langit seolah bertanya, dari mana benda putih nan dingin itu berasal.


"Lihat dia, Andra! Dia sangat bahagia seperti anak kecil." Riana menunjuk Kayla dengan matanya. Ia duduk di dalam mobil yang dibuka pintunya sementara Kalandra tengah bersandar di mobil.


"Aku tidak salah mengajaknya kesini, kan Ma?" tanya Kalandra.


Riana menggeleng. "Tidak. Buktinya, dia sangat bahagia padahal dia tidak tahan dengan suhu dingin."


"Dia rela memakai pakaian setebal itu dan sarung tangan yang katanya membuatnya tidak nyaman." Riana mentertawakan Kayla yang sempat keras kepala tidak mau memakai sarung tangan.


"Mama melihat cinta dari matamu, Andra!" Riana menatap putranya yang tak mengalihkan pandangan meski hanya sedetik dari istrinya yang sedang bermain dengan Gia.


Kalandra tertawa tanpa suara. "Apa sekentara itu, Ma?"


Riana mengangguk. "He'em..."


"Waktu kita hanya tersisa beberapa hari, Andra! Kamu tidak berencana menikmati liburan hanya berdua dengan istrimu?" tanya Riana.


Kalandra menatap mamanya. "Aku akan menginap disana!" Kalandra menunjuk gedung yang sangat tinggi. Gedung itu adalah hotel berbintang dimana Kalandra sudah memesan satu kamar untuknya dan Kayla.


"Mama mau ikut? Aku akan membuka satu kamar lagi jika mama mau."


Riana tertawa. "Hahaha. Tidak, Andra!"


"Untuk apa mama kesana? Lebih baik mama kesana!" Riana menunjuk pusat perbelanjaan yang terlihat dari posisinya duduk.


Kalandra tertawa. "Mama tidak pernah berubah!"


"Selalu suka belanja."


Riana tertawa. "Mama ingin membeli berlian. Selain untuk kenang-kenangan, untuk investasi juga."


Kalandra mengangguk. "Untuk apa mama mengkoleksi banyak perhiasan, Ma?"


"Bukankah hari tua mama sudah terjamin?" tanya Kalandra yang tahu kalau Riana memilik asuransi.


Riana mengangguk. "Setidaknya ada yang mama tinggalkan untuk kalian kalau mama tiada nanti!"


Kalandra tertegun. Ia tak menyangka kalimat sederhana itu begitu menyentuh hatinya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sudah berkecukupan, tapi wanita itu masih memikirkan untuk meninggalkan warisan untuknya dan Reyga."


"Mas! Kesinilah!" pinta Kayla dari kejauhan sembari melambaikan tangannya.


Riana menyentuh lengan Kalandra. "Andra, Kayla memanggilmu." Riana menunjuk Kayla dengan tangannya.

__ADS_1


Kalandra menatap Riana dengan mata berkaca-kaca. "Pergilah! Kayla memanggil kamu."


Kalandra mengangguk. Ia berjalan mendekati Kayla dengan perasaan sedih bercampur haru.


"Kenapa, Mas?" tanya Kayla saat melihat wajah Kalandra sangat berbeda.


"Kenapa? Aku tidak apa-apa, Kay!" jawab Kalandra bohong. Jika bisa, mungkin air matanya akan menetes detik itu juga.


"Sudah atau belum, Kay?" tanya Gia dari jarak sekitar tiga meter. Adik iparnya itu sudah mengarahkan kamera ponsel untuk mengambil gambar.


"Aku takut, ponsel ini rusak karena terlalu banyak terkena salju!"


"Jadi, kamu memanggilku hanya untuk berfoto?"


Kayla mengangguk. Ia lantas mengarahkan Kalandra untuk bergaya bersamanya.


"Jangan terlalu tegang, Mas. Kamu seperti akan membuat pas foto kalau begitu gayanya!" protes Kayla karena Kalandra dalam posisi siap seperti dalam kegiatan baris berbaris.


"Jangan dengan mengacungkan jempol juga, Mas!" Geram Kayla karena Kalandra malah mengacungkan ibu jarinya. Ciri khas pria jika sedang berfoto.


"Jadi aku harus bagaimana, Kayla sayang!" Kalandra bertanya sambil menangkup pipinya dengan kedua telapak tangan besar itu.


"Sekarang, Gi!" teriak Kayla sebagai kode untuk Gia mengambil foto mereka.


"Serahkan padaku, Kay! Arahkan saja kulkas dua pintu itu untuk bergaya."


Kayla meminta Kalandra semakin mendekatkan wajah mereka. "Lebih dekat lagi, Mas!" pinta Kayla.


Kalandra salah besar. Kayla malah menyatukan kening mereka. Dan Gus kembali mengambil foto.


Ada banyak foto yang berhasil diabadikan termasuk saat Kalandra menggendong tubuh Kayla yang beratnya bertambah hampir 10 kilogram karena pakaian tebal dan sepatu boots tinggi yang ia pakai.


Mereka memutuskan untuk kembali saat salju turun semakin deras. Suhu udara semakin turun sehingga mereka semakin kedinginan.


Sore hari, Kayla dan Kalandara berpamitan pada Keluarga Bagus. Keduanya akan menginap di hotel untuk dua hari kedepan.


"Hubungi aku kalau mama perlu apa-apa," ucap Kalandra sebelum pergi.


Riana mengangguk. "Have fun, yaaaa!"


Kalandra masuk ke dalam mobil dan di susul oleh pasangan lainnya. Kayla sempat bertanya-tanya, tapi ternyata Kalandra juga memesankan kamar hotel untuk Gia dan Reyga.


Mereka berpisah di lift karena menginap di lantai yang berbeda. "Kita berlomba, siapa yang lebih dulu menimang baby, Rey!" Kalandra bercanda. Tapi tidak dengan Kayla.


Saat Reyga dan Gia sudah keluar dari lift dan lift sudah bergerak naik, Kayla segera mencubit perut Kalandra.


"Awwww!" Keluh Kalandra. "Apa salahku, sayang?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Kayla malah meminta agar tidak banyak tanya.


"Mereka program hamil?" Kalandra mendelik saat mendengar apa yang Kayla beritahukan padanya.


Kalandra yang sedang duduk di sofa menggeleng tak percaya mendengar cerita Kayla tentang obrolan di dapur kemarin.


"Makanya, aku mencubit kamu, Mas! Aku tahu, hal yang kamu katakan itu sangat sensitif bagi mereka yang sudah berusaha tapi belum berhasil." jelas Kayla.


"Jangan jadikan masalah anak ini menjadi pemecah hubungan antara kamu dan Reyga."


"Aku juga belum hamil," lirih Kayla pasrah.


"Kamu sudah selesai datang bulan, kan?" tanya Kalandra.


Kayla mengangguk. "Sudah, Mas."


Kalandra berdiri dan menggendong tubuh Kayla. "Kalau begitu, tunggu apa lagi?" tangannya basa-basi.


"Ayo kita segera mulai prosesnya!" ajak Kalandra membaringkan tubuh Kayla diatas ranjang.


"Jangan nekat, Mas!" marah Kayla. "Kamu akan menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk membuka pakaian yang ada di tubuhku."


Kalandra tidak peduli. Dengan kegigihan dan kesabarannya, ia berhasil membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh Kayla.


Hari bahkan belum gelap tapi mereka berdua sudah berkeringat. Udara diluar boleh dingin, tapi di dalam kamar mereka harus tetap panas.


Kayla tertawa saat Kalandra berbaring di sampingnya dan langsung menggelengkan selimut ke tubuh mereka.


"Segitu saja?" tanya Kayla.


"Kamu menantangku, eh?" tanya Kalandra yang kini tengah memeluk tubuhnya.


"Tidak, hanya merasa heran karena lebih cepat dari biasanya," balas Kayla.


Kalandra menempelkan dagunya di bahu Kayla membuat istrinya itu merasa risih. "Janggut kamu kasar, Mas!" Kayla berusaha menjauhkan bahunya karena Kalandra belum bercukur sejak dua hari terakhir. Pasti jenggotnya mulai tumbuh.


Usaha Kayla sia-sia karena pelukan Kalandra sangat erat. Pria itu malah semakin gencar menggerakkan janggutnya di bahu Kayla.


"Kamu jangan menantangku! Aku bahkan bisa melakukannya sampai pagi dan sampai membuatmu pingsan!" Kekeh Kalandra karena Kayla terus berontak sambil tertawa.


Gema suara tawa mereka mengisi seluruh ruangan kamar yang lumayan luas itu. Dua insan yang tidak saling kenal, dan terlibat dalam pernikahan kontrak, kini malah menjadi seharmonis itu hanya karena kedua nya saling mencintai.


"Cepatlah tumbuh di rahim Mami, Nak!" Kalandra mengusap perut rata milik istrinya.


Kayla tertawa. "Mami? Oh God, kok terdengar seperti-" Kayla tidak melanjutkan ucapannya. Maksudnya adalah seperti Ibu bos bagi para kupu-kupu malam.


Kalandra tertawa, pria yang terlalu banyak bergaul dengan Jendra itu mengerti maksud Kayla.

__ADS_1


"Haha... Mom Kay and Dad Kal? How about it?" tanya Kalandra.


Kayla berfikir sebentar. "Not bad!"


__ADS_2