
Sesuai dengan apa yang Kalandra katakan pada mamanya kemarin. Hari ini, sepulang dari kantor ia akan pergi ke restoran Reyga untuk menemui adiknya.
Tapi, sebelum itu, Kalandra akan menjemput Kayla lebih dahulu.
"Singa gil* ada di dalam, Mel?" tanya Kalandra yang baru saja datang kepada Melani yang seketika terbengong. Gadis itu merasa heran, bagaimana Kalandra bisa tahu kalau mereka menjuluki Jendra sebagai singa gil*.
"A-ada di dalam, Pak!" jawab Melani ragu. Ia seketika melirik Kayla yang hanya bisa nyengir menunjukkan gigi ratanya.
Kalandra mengangguk. Ia menghampiri meja Kayla dan mengecup singkat pipi istrinya itu. Kalandra berhasil membuat Melani melongo untuk ke dua kalinya.
Kayla yang terkejut bukannya marah, tetapi malah tertawa. "Mas, malu!" Keluh Kayla.
"Biarkan saja. Ini sudah bukan jam kerja lagi," jawab Kalandra sembari membuka pintu ruangan Jendra.
Jelas bukan lagi jam kerja. Karena mereka tengah lembur termasuk Jendra yang sedang membaca banyak laporan di meja kerjanya.
"Terlalu sibuk juga tidak baik untuk kesehatan, Jen!" ucap Kalandra saat ia baru saja masuk ke dalam.
Jendra tertawa sinis. "Bisa-bisanya seorang workaholic malah sok menasehati!"
Kalandra duduk di depan Jendra. "Aku sudah lebih tenang sekarang." jawabnya jujur.
"Bagaimana tidak tenang jika bisnisnya semua berjalan lancar!" balas Jendra.
Kalandra tertawa. "Semua itu berkat doa orang tua dan istriku!"
Jendra menutup berkas, dan menatap Kalandra dalam. "Sejak kapan kamu mengakui orang tua dan istrimu?"
"Sejak..." Kalandra berfikir ulang. "Sejak beberapa waktu terakhir."
"Ya, tapi Kayla hanya-" sela Jendra.
"Aku sudah membatalkan perjanjian kami!" potong Kalandra.
Jendra membulatkan mata. Ia menegakkan duduknya, terkejut mendengar berita paling spektakuler sepanjang perjalan hidup Kalandra.
Seorang Kalandra mengubah keputusannya?
"Kapan?" tanya Jendra penasaran.
"Beberapa hari lalu."
"Mengapa bisa? mengapa tidak memberi tahuku? Jadi kamu akan menceraikan Kayla dalam waktu dekat?" Jendra mendekatkan wajahnya ke arah Kalandra dengan memberondong banyak pertanyaan.
Kalandra mendorong kening Jendra. "Aku tidak akan menceraikannya!" seru Kalandra.
Jendra merasa semakin bingung alasan apa yang membuat Kalandra membatalkan perjanjian di antara pria itu dan istrinya.
"Jangan katakan kalau kamu sudah mencintainya?" tanya Jendra dan Kalandra mengangguk mantap.
Jendra duduk lemas. Bahunya merosot sudah. "Bagaimana mungkin, Kal?"
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin, Jend. Dia cantik, baik, hampir sempurna dan yang pasti dia juga mencintaiku!"
Jendra menghela nafas. "Kemarin, siapa yang memberi nilai lima koma lima?" sindir Jendra yang kembali teringat saat dulu ia meminta Kalandra menilai Kayla.
Kalandra tertawa. "Sudahlah! Yang penting saat ini aku dan dia sudah memutuskan untuk mengarungi lautan dengan biduk rumah tangga kami. Susah senang akan kamu lewati dengan tangan saling menggenggam."
"Bagaimana kalian akan mengarungi lautan dengan tangan saling menggenggam? Bukankah biduk harus di kayuh dengan dayung?" tanya Jendra sinis.
Kalandra tertawa karena menyadari apa yang Jendra katakan ada benarnya. "Hahaha... maafkan kesilapanku!"
"Apa tujuanmu datang, Kal? Proyek dengan Clara sedang ditunda, jadi tidak mungkin kamu ke sini untuk itu."
Kalandra menjentikan jari. "That's right! Aku datang tidak mungkin tanpa tujuan karena pekerjaanku juga sangat banyak, Jend!"
"Selain ingin menjemput Kayla. Aku akan sampaikan bahwa ia akan izin selama kurang lebih satu minggu karena kami akan ke Amerika!"
"Tidak bisa!" Tolak Jendra. "Tidak ada cuti lagi! Cuti tahunannya sudah habis."
"Kalau begitu, potong saja gajinya!" saran Kalandra.
"Ini bukan masalah gaji, Kal. Tapi Kayla sudah terlalu banyak libur. Kamu tidak kasihan pada Melani? Dia mengerjakan semuanya sendirian."
"Melani bukan pacarmu, kan Jend?" Tanya Kalandra curiga.
Jendra terkesiap. "Jelas bukan!" jawabnya cepat. Dia saja masih sulit move on. Mana mungkin ia sudah bersama gadis lain. Apa lagi gadis itu Melani.
"Ya sudah! Jadi untuk apa kamu khawatir padanya!" balas Kalandra dengan senyum penuh arti.
"Jangan tersenyum bagitu!" Marah Jendra. "Melani hanya sekretarisku!"
"Apa kamu tidak ingin melihat aku menimang anak, Jend?" tanya Kalandra.
"Tentu ingin." jawabnya setelah berfikir sebentar.
"Makanya, beri cuti supaya kami bisa mencetak baby di sana!"
"Mencetak baby tidak harus di luar negeri, Kal. Di dalam mobil pun bisa!"
"Semua bukan tergantung tempat, tapi tergantung benih!" Kesal Jendra.
"Menginap di Cottage selama kamu mau, plus tiket pesawat aku yang tanggung!" penawaran dari Kalandra yang membuat Jendra mulai berfikir ulang.
"Jet pribadi!" tawar Jendra kelewatan. "Take it or leave it!"
"Ck!" Kalandra berdecak kesal. "Ayolah. Kalau hanya sendiri tidak perlu menggunakan jet pribadi, Jend."
"Siapa bilang aku akan kesana sendiri?"
"Kamu sudah bertemu dengan yang baru?" tanya Kalandra tak percaya melihat Jendra yang sudah menemukan pacar baru.
"Belum," jawab Jendra asal.
__ADS_1
"Lalu?"
"Terserah padaku siapa yang akan ku ajak, Kal!"
Kalandra diam saja. Ia memikirkan berapa uang yang akan dihabiskan Jendra hanya untuk ditukar dengan izinnya Kayla.
"Kal?" Jendra menunggu jawaban Kalandra. "Take it or leave it?"
"Oke. Deal!" Kalandra mengulurkan tangan yang langsung dijabat oleh Jendra.
***
Kalandra dan Kayla sudah berada di restoran milik Reyga. Mereka bisa melihat, Gia sedang berada di depan sebuah mesin pembuat kopi.
"Aku tidak salah lihat, Kay?" tanya Kalandra pada Kayla. "Gia membuat kopi?"
"Tidak, Mas. Mungkin dia sudah belajar banyak hal disini," jawab Kayla yang menurutnya itu adalah hal wajar yang bisa dilakukan seorang wanita.
"Aku berharap semoga dia tidak menambahkan garam di kopi itu."
Kayla tertawa tanpa suara. "Tidak ada garam di dekat mesin pembuat kopi, Mas!"
"Ya, siapa tahu saja terjadi human error." jawab Kalandra acuh.
Kayla malas menanggapinya lagi. Keduanya pun menyambut kedatangan Reyga dengan berdiri dari kursi.
"Kak, maaf menunggu. Ada hal penting yang tidak bisa aku tinggalkan tadi."
"Tidak apa-apa, Rey!" jawab Kalandra.
"Duduklah, Kak. Kakak ipar." Ia meminta mereka untuk duduk.
"Ada apa, kak? Mengapa ingin bertemu denganku. Apa ada hal penting?" tanya Reyga.
"Begini, Rey. Bulan depan, aku, Kayla, mama dan Oma akan pergi ke rumah uncle Bagus. Kami akan liburan disana."
"Ku harap kamu dan Gia bisa ikut dengan kami," lanjut Kalandra sambil melirik kearah Gia yang sedang berinteraksi dengan pegawainya.
"Tapi, Kak-"
"Mama juga berharap kalau kamu bisa ikut dengan kami, Rey!"
"Ayolah, Rey! Ini untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama."
"Aku akan coba fikirkan kak," jawab Reyga.
"Aku berharap kamu bisa ikut, Rey. Jangan lama-lama berfikirnya."
Reyga mengangguk. "Dalam rangka apa kak? Mengapa tiba-tiba kakak ingin liburan ke sana?"
Tidak mungkin ku jawab karena aku ingin membuat anak di negara yang sedang memasuki musim dingin itu. Batin Kalandra.
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya ingin liburan bersama dan lagi pula kita sudah sangat lama tidak bertemu dengan uncle Bagus."
Reyga mengangguk meng-iyakan.