
Semua orang yang menunggu di depan ruangan operasi langsung berdiri setelah dokter keluar dari ruangan operasi.
"Bagaimana keadaan menantuku?"
"Bagaimana keadaan istriku?"
"Bagaimana keadaan kakak ipar kami?"
Semuanya bertanya dengan rasa cemas dan khawatir di raut wajah mereka.
"Operasinya berjalan dengan lancar dan satu jam lagi dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap, Jadi kalian tidak perlu khawatir." Kata dokter yang ada di sana yang membuat semua orang merasa sangat lega.
"Syuskulah," Nyonya Del langsung memeluk suaminya karena merasa lega bahwa menantunya baik-baik saja Meski mereka sedang berduka atas meninggalnya calon cucu mereka.
Maka setelah Danang mengetahui keadaan istrinya sudah baik-baik saja, pria itu pun berbalik menatap adik keduanya, "bagaimana penyelidikanmu?" Tanya Danang yang tadinya belum sempat menanyakan masalah itu, Sebab Dia cemas ketika dia telah mengetahui faktanya, Dia mungkin akan bertindak gegabah dan melupakan istrinya yang masih berada di dalam ruangan operasi menjalani proses pembersihan rahim karena keguguran yang terjadi.
"Aku sudah mengurung pelakunya di penjara bawah tanah. Apakah kakak mau pergi melihatnya?" Tanya Gibran.
"Ya," jawab Danang dengan singkat yang merasa bahwa dia perlu memberi pelajaran pada pelakunya.
"Kalau begitu ayo kita pergi," ucap Gibran kemudian berjalan bersama kakaknya untuk pergi melihat Amanda dan pelayan tersebut.
"Aku juga mau pergi, aku akan memberi pelajaran pada perempuan jallang sialan itu!! Beraninya dia menyentuh keliargaku" Ucap April langsung berdiri menyusul kakaknya dengan Amora yang kini mengusap air matanya.
"Aku juga!!" Ucap Amora segera berlari menyusul 3 orang yang sudah berjalan di depannya karena dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memberi pelajaran pada perempuan yang telah membuatnya gagal memiliki seorang keponakan.
Tuan dan nyonya Dell yang melihat itu, mereka tidak mengatakan apapun, Tuan Del hanya menuntun istrinya untuk pergi dari tempat itu supaya mereka bisa beristirahat di kamar sambil menunggu dipindahkan ke ruang rawat.
Sementara 4 orang bersaudara yang kini berada dalam lift, mereka menunggu sampai lift berhenti di lantai bawah tanah barulah keempatnya keluar dari dalam ruangan lalu disambut oleh seseorang yang berjaga di lantai bawah tanah.
__ADS_1
"Di mana kalian mengurung dua bedebah itu?" Tanya Gibran pada petugas di sana langsung membuat sampai tugas menunjukkan jalan pada mereka hingga mereka tiba di penjara yang ditempati mengurung Amanda dan juga pelayan yang telah berkhianat.
Gibran berjalan cepat diantara tiga orang lainnya, sehingga ketika dia tiba di depan sel penjara, Gibran langsung berbalik menatap 3 orang yang hendak mendekat ke arah mereka.
"Kalian berdua para perempuan tetap di situ, pemandangan ini tidak bagus untuk kalian!!!" Ucap Gibran langsung membuat April dan Amora mengerutkan kening mereka karena mereka tidak mengerti mengapa mereka berdua dilarang untuk melihat dua penghianat itu.
Tetapi kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara dari dalam sel yang berada di hadapan Gibran hingga membuat 2 perempuan yang ada di sana melototkan mata mereka.
"Akhh Akh Akhh,, uh,,, enak,, enak!!" Suara kenikmatan Amanda menggelega di ruang bawah tanah hingga membuat pipi April dan Amora langsung merah padam.
April dengan cepat tersadar sambil berkata, "kami akan kembali sekarang, kalian berdua berikan pelajaran yang bagus untuk mereka!"
Setelah berbicara, April langsung menarik Amora meninggalkan tempat itu karena tentunya mereka tidak mau menodai mata mereka dengan sesuatu yang kotor.
Sementara Gibran dan juga Danang beserta salah seorang petugas yang ada di sana, Mereka melihat seorang perempuan yang sedang berada di bawah seorang laki-laki yang berada di dalam pengaruh alkohol.
"Pisahkan mereka berdua dan ikat mereka!" Perintah Danang sambil menggertakkan giginya menahan rasa jijiknya pada dua orang yang berada dalam sel.
Amanda yang ada di sana langsung merapikan gaunnya yang telah basah dan kotor, Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa sebab tangannya kembali diborgol pada sebuah besi yang ditanam ke tembok hingga membuatnya berpisah dengan pria yang baru saja melakukan hal tak senono dengannya.
Meski saat itu Amanda berada dalam pengaruh alkohol, tetapi dia masih memiliki sedikit kesadaran hingga dia menyadari bahwa dia telah tidur bersama pria yang ada di sana.
Hal itu membuat Amanda menjadi sadar dan kalang kabut, dia kebingungan harus melakukan apa, tetapi ketika dia masih kebingungan, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya.
Plak!!
Sang petugas yang menampar Amanda langsung berkata, "kendalikan dirimu dan beri hormat pada tuan muda!"
Tamparan itu langsung membuat Amanda menjadi sadar, lalu dia pun melihat ke arah dua pria yang berdiri di luar sel.
__ADS_1
Hal itu membuatnya langsung gemetar ketakutan, "aku,, a,, aku tidak melakukan apapun!! Semua yang dituduhkan padaku itu tidak benar!!" Ucap Amanda dalam rasa ketakutannya.
"Berikan dia hukuman nomor 5 supaya mulutnya bisa tertutup!" Perintah Danang pada pria yang ada di sana langsung membuat sang petugas dengan cepat pergi dari tempat itu lalu mengambil sebuah alat yang ada dalam daftar hukuman nomor 5.
Amanda yang melihat itu merasa sangat takut dan dia tidak mau sampai dilukai sehingga perempuan itu dengan cepat berteriak, "tidak,, Tolong jangan apa-apa kan aku, Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun!! Pria sialan itulah yang telah memberinya minuman, sama sekali tidak ada hubungannya denganku!"
Sang pria yang dituduh kini menggelengkan kepalanya, dia hendak berbicara Ketika sang penjaga kembali masuk ke dalam ruangan hingga membuatnya tak mampu berkata-kata lagi.
Pria itu membawa sebuah besi panas yang menggunakan energi listrik. Hal itu membuat Amanda kebingungan dengan benda apa yang dimiliki oleh orang itu, tetapi ketika perlahan-lahan ujung besi itu menjadi merah seperti bara, maka Amanda langsung melototkan matanya.
"A,, apa yang akan kau lakukan?!" Teriak Amanda pada pria yang semakin mendekat ke arahnya.
"Ini adalah alat peninggalan leluhur keluarga Del, dulunya digunakan untuk menandai budak keluarga kami dan sekarang kau akan mendapatkan tanda itu juga!!!" Ucap pria tersebut sambil menunggu ujung besi semakin memerah supaya tanda yang dibuat di tubuh seseorang menjadi lebih jelas.
Sementara Amanda yang mendengarkan ucapan pria di depannya, perempuan itu melototkan matanya dan dia bergerak tak karuan sambil berteriak keras, "tidak! Tidak!! Aku bukan budak keluarga ini, aku adalah model dari negara xx, kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!! Akan kubawa masalah ini ke jalur hukum untuk menuntut keluarga ini!!!"
Gibran yang mendengarkan itu kini menggertakan giginya sambil berkata, "Apa yang kau lakukan pada keluarga kami jauh lebih buruk dari ini, karena kau, aku tidak jadi memiliki seorang ponakan, dan sekarang kau berkata akan membawa masalah ini Kirana hukum? Pergilah, lakukan itu dan kita lihat siapa yang akan dihukum mati!!!"
Ucapan Gibran membuat Amanda terkejut, dia tak menyangka Kenapa pria itu menuduhnya seperti itu, tetapi kemudian ketika dia hendak berbicara, Danang mendahuluinya berbicara, "setelah hukuman itu, berikan dia hukuman nomor 8!"
Setelah berbicara, maka Danang bersama dengan adiknya langsung pergi dari tempat itu hingga membuat Amanda semakin kalang kabut.
""Tidak!! Tidak!!! Aku tidak pernah melakukan kesalahan, akhh!!!" Teriak Amanda ketika tubuhnya dengan cepat didorong ke tembok lalu tanpa aba-aba Besi panas yang tadi dipegang oleh penjaga kini menancap di lengan atasnya.
Perempuan itu merasakan sakit yang luar biasa, tetapi belum berhenti di situ, besi panas itu kembali lagi ditancapkan oleh sang penjaga di bagian paha atasnya hingga membuat perempuan itu merasa ingin mati.
Setelah selesai, sang penjaga kemudian mundur beberapa langkah dari Amanda dan memperhatikan perempuan di depannya yang langsung lemas tanpa bisa berkata apa-apa.
"Masing-masing dari kalian akan mendapatkan 4, Tetapi setelah 2 tanda maka besi ini harus dipanaskan lebih panas lagi baru diulang lagi. Ah,, ku beritahukan pada kalian, hukuman nomor 8 itu lebih menyakitkan dari ini, hukumannya adalah hukuman cambuk. Jadi tidak usah mengeluh dengan hukuman ini, karena hukuman berikutnya masih akan membuat kalian menjerit sangat keras!!" Ucap salam penjaga membuat pelayan yang ada di sana semakin ketakutan.
__ADS_1
Wajah Amanda si pucat pasti sambil terkulai lemas dengan gigi giginya menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit pada lengan dan pahanya.