
Pada keesokan harinya Setelah tiba di agensi, Venus langsung pergi ke ruangan Indri dan melihat Indri sedang bersiap-siap untuk mengikuti rapat di pagi hari itu.
Terlihat wajah perempuan itu amat bersemangat hingga membuat Venus penasaran Apa yang membuat perempuan itu terlihat lebih bersemangat dari biasanya.
Setelah duduk di sofa Dan meletakkan tasnya, ia pun berkata, "pagi-pagi begini sudah sangat semangat, Apakah ada kabar baik?"
"Ah ya, kau benar sekali, kemarin malam tiba-tiba saja CEO menghubungiku, dan dia mengatakan bahwa dia sudah menghubungi para petinggi perusahaan untuk melakukan rapat pada pagi hari ini. Menurutmu jangan-jangan CEO tiba-tiba saja mengalami sesuatu yang aneh sehingga membuat dia tiba-tiba mendukung kita?" Tanya Indri pada Venus yang mana dia sudah memikirkan jawaban dari pertanyaan itu namun sampai sekarang dia belum menemukannya.
"Benarkah?" Venus mengerutkan keningnya dan mengingat kejadian semalam, dia tidak yakin Bimo akan berubah pikiran karena apa yang terjadi kemarin.
'Padahal kemarin aku baru mengusir pria itu beserta istri dan ibu mertuanya dari rumah, tapi kenapa dia jadi aneh? Jangan-jangan ada udang di balik batu?' ucap Venus dalam hati.
Sementara Indri yang kini duduk di hadapan Venus, perempuan itu menatap Venus dengan penuh semangat, "pokoknya, pagi ini selama CEO berada dalam suasana hati yang baik, kita harus memanfaatkannya dengan sangat baik. Nanti di rapat, kita harus mengajukan semua ini untuk di-acc!!!" Ucap Indri dengan penuh tekad untuk membuat Venus menjadi model terkenal dan sukses.
"Baiklah," ucap Venus menganggukkan kepalanya meski saat itu dia masih bingung tentang apa yang sedang direncanakan oleh Bimo.
Maka, kedua orang itu terus duduk berbincang-bincang selama 10 menit sebelum mereka keluar dari ruangan dan naik ke ruang rapat untuk menghadiri rapat.
__ADS_1
Saat berdiri di dalam lift, Indri terus menghela nafas karena saking semangatnya dia hingga membuat Venus semakin merasa aneh.
Meski begitu, Venus tidak mengatakan apapun hingga mereka tiba di ruang rapat.
Begitu masuk ke ruang rapat, belum ada satupun orang yang ada di sana karena rapat memang baru akan dimulai dalam 10 menit lagi dan biasanya orang-orang baru akan berkumpul pada 5 menit sebelum rapat dimulai.
Setelah 2 menit duduk, pintu pun terbuka lalu Haruka masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintu ruangan tersebut.
"Kenapa kau mengunci pintunya?" Tanya Indri yang merasa heran dengan kelakuan perempuan itu, padahal ada banyak orang yang akan masuk ke ruangan tersebut.
Tetapi Haruka mengabaikan Indri dan hanya berjalan mendekati Venus, lalu perempuan itu pun mengangkat tangannya untuk mendaratkan tamparan di pipi Venus ketika Indri dengan cepat menghalanginya.
Tamparan itu langsung mengenai pipi Indri hingga membuat Indri merasakan rasa perih dan panas yang bercampur jadi satu menggerogoti pipi sebelah kirinya.
"Sial!! Berani beraninya kau menghalangiku!!" Bentuk Haruka langsung mendorong Indri ke samping lalu dia pun melototi Venus yang kini tepat berada di hadapannya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Venus dengan suara tenang menatap perempuan di depannya.
__ADS_1
"Yang ku inginkan?!! Ini yang kuinginkan!!" Ucap Haruka langsung mengulurkan tangannya menarik rambut Venus hingga membuat kedua perempuan itu langsung berkelahi di dalam ruangan.
Indri yang melihat itu dengan cepat memisahkan mereka berdua, tetapi Haruka tidak mau menghentikan aksinya hingga membuat Indri hanya bisa berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.
Di depan ruangan sudah ada Bimo hingga perempuan itu dengan cepat berkata, "cepat hentikan mereka!!"
Melihat 2 perempuan yang sedang berkelahi, Bimo berlari ke dalam ruangan dan segera memisahkan kedua perempuan itu.
"Apa yang kau lakukan?!!" Teriak Haruka pada Bimo dengan suara yang sangat marah
Tetapi Bimo tidak menghiraukan Haruka dan hanya menatap Venus sambil berkata, "kau baik-baik saja?"
Pertanyaan Bimo membuat Venus terdiam di tempatnya karena dia tidak mengerti mengapa pria itu malah memperdulikannya dan mengabaikan Haruka.
Sedangkan Haruka yang melihat Bimo lebih memperdulikan Venus, ia dengan cepat menarik Bimo sambil melototi pria itu, "istrimu ada di sini dan kau malah memperdulikan perempuan menjijikkan seperti dia?!!" Bentak Haruka.
Melihat istrinya yang terus membuat kekacauan, dan melihat di ambang pintu sudah ada para petinggi perusahaan, maka Bimo Hanya bisa menarik Haruka keluar dari ruangan itu lalu membawa Haruka keruangannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?!!" Teriak Haruka ketika mereka sudah tiba di ruangan Bimo dan Bimo telah mengunci pintu ruangan tersebut.
Bimo pun menatap istrinya, "Apa kau sudah gila?! Di mana kau meletakkan otakmu sehingga kau berani menyerang Venus?!! Dia adalah aset perusahaan yang berharga, dia mendapatkan tawaran pekerjaan yang sangat banyak jadi dia harus dijaga dengan baik. Apa kau mau tanggung jawab kalau terjadi sesuatu padanya?!!" Bentak Bimo pada Haruka.