
Bimo masih berdiri di bawah shower ketika Haruka masuk ke kamar mandi lalu Haruka langsung pergi ke bak berendam.
"Kau sangat marah padaku, padahal kita saling mencintai, bahkan kemarin malam kau terus menyebut Namaku tanpa henti. Jadi tidak perlu menyembunyikan perasaanmu," ucap Haruka langsung membuat Bimo menatap ke arah Haruka dan pria itu mengatup erat-erat giginya melihat Haruka yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu menggoda.
Selain itu, tubuh polos perempuan itu membuatnya begitu sulit menahan sendiri.
Harukan merasa puas melihat tatapan Bima sehingga dia kembali berkata, "Kau dan aku sudah menikah, dan kita punya musuh yang sama yaitu Venus, jadi kenapa kita tidak bekerja sama untuk melenyapkannya? Atau kau berpikir bahwa kau masih bisa mendapatkan hatinya?" Haruka terkekeh, "Kau sangat konyol, setelah apa yang kau lakukan padanya, mana mungkin dia masih mau membuka hati untukmu?
"Menurutmu kenapa dia kembali masuk ke agensi tempat kita berada saat dia tahu bahwa kau berkuasa di agensi itu? Kalau bukan untuk menyeret kita jatuh bersama-sama dengannya, menurutmu apalagi yang ia pikirkan?" Ucap Haruka langsung membuat Bimo mengerutkan keningnya menatap perempuan yang ada di bak berendam.
Dia merasa bahwa apa yang dikatakan Haruka memang benar, Tetapi entah kenapa dia tidak ingin mempercayai perempuan licik yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Melihat Bimo yang tampak diam sambil berpikir, maka Haruka kembali berkata, "pikirkanlah, Memangnya hidupmu tidak akan berakhir kalau kau masih terus mengejarnya? Semua orang sudah tahu bahwa kita telah menikah, dan semua orang di agensi juga tahu bahwa aku dan Haruka adalah saudara tiri, Jadi kalau sampai orang-orang mengetahui kau mencampakkanku demi Venus, maka menurutmu apa yang terjadi???"
Bimo yang sedari tadi membelakangi Haruka kini menoleh ke arah perempuan itu, dan dia melihat wajah Haruka yang tampak sungguh-sungguh berbicara dengannya hingga Bimo pun merasa bahwa apa yang dikatakan Haruka itu benar.
Meski begitu, Bimo belum mengatakan apapun dan dia hanya menyelesaikan mandinya lalu keluar dari kamar mandi.
Haruka tersenyum miring menatap kepergian Bimo, "Aku tidak akan membiarkanmu kembali pada Venus, aku akan membuat kamu tetap berada di sisiku!" Ucap Haruka sebelum dia berbalik meraih sabun lalu perempuan itu pun mulai mandi.
Maka Haruka pun cepat-cepat bersiap lalu menyusul suaminya yang telah meninggalkannya.
Dalam perjalanan, tiba-tiba saja ponsel Haruka berdering yang mana saat itu ibunya lah Yang menelponnya.
__ADS_1
"Halo?" Ucap Haruka mengangkat panggilan telepon dari ibunya.
"Apa hari ini kau sibuk?" Tanya Sarah dari seberang telepon.
"Tentu saja sibuk, Ibu tahu sendiri kalau aku adalah seorang modal terkenal, Hari ini aku ada pemotretan dan malam nanti akan ada fashion show," jawab Haruka.
"Ah begitu, ya sudah, kalau begitu Kau jaga diri baik-baik. Jangan lupa, kalau bisa kau harus segera hamil, karena Ibu khawatir mungkin Bimo akan berubah pikiran setelah apa yang sudah terjadi," ucap Sarah dari seberang telepon.
"Aku tahu, Pokoknya Ibu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Ah,, aku lupa, ibu harus lebih berhati-hati pada Venus, apalagi menyangkut urusan perusahaan, karena Sekarang dia sudah tidak seperti perempuan yang dulunya bisa kita bodohi, sekarang dia punya dendam yang begitu besar terhadap kita. Apalagi saat ini Dia memiliki saham di perusahaan, jadi dia pasti bertekad untuk mengambil alih perusahaan." Ucap Haruka yang merasa cemas bahwa ibunya mungkin akan dilengserkan juga dari perusahaan jika mereka terlalu memandang enteng Venus.
"Jangan khawatir, dia hanya seorang bocah, tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sekarang ibu tutup teleponnya, Ibu sedang dalam perjalanan ke perusahaan," ucap Sarah dari seberang telepon lalu panggilan telepon itu pun diakhiri.
__ADS_1