
Hana yang keluar dari kamar Bimo dan Haruka langsung masuk ke kamarnya lalu ia memesan sesuatu untuk diantar ke kamarnya.
Begitu seorang pelayan datang mengantarkan pesanannya, Hana pun menyuruh perempuan itu meletakkan anggur yang ia pesan di atas meja.
Setelah itu, Hana berkata, "Aku ingin meminta sedikit bantuanmu."
Ucapan Hana langsung membuat sang pelayan hotel menatap Hana dengan sangat sopan, "tentu saja Nyonya, Apa yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan hotel.
Hana membuka laci di dalam kamar tersebut Lalu mengeluarkan sebuah amplop berisi uang tunai dan meletakkannya di atas meja.
Setelah itu, Hana mengambil sesuatu yang lain yang merupakan sebuah obat lalu ikut meratakannya di atas meja berdampingan dengan amplop yang telah lebih dulu terletak di sana.
"Bantu aku menaruh obat ini di makanan tamu VIP nomor 17," ucap Hana langsung membuat sang pelayan mengerutkan keningnya.
Pelayan itu tahu jelas bahwa tamu VIP di kamar nomor 17 sekaligus merupakan pemilik hotel tersebut, jadi dia tidak mungkin macam-macam pada orang seperti itu.
Oleh sebab itu, pelayan tersebut berkata, "saya akan berpura-pura bahwa kejadian ini tidak pernah terjadi."
Setelah berbicara, pelayan itu pun memberi hormat pada Hana sebelum dia melangkah untuk pergi ketika tangannya tiba-tiba dicekal oleh Hana.
__ADS_1
"Apa kau tidak puas dengan jumlah yang kuberikan?" Hana kembali membuka laci yang ada di sana Lalu mengeluarkan sebuah amplop yang lebih tebal hingga membuat sang pelayan terkejut dengan kegigihan perempuan di depannya.
"Ambil semua uang ini dan lakukan apa yang kuperintahkan!" Ucap Hana langsung menyisipkan dua amplop tersebut ke dalam saku Sang Perempuan bersama dengan obatnya diletakkan di telapak tangan perempuan tersebut.
"Aku ingin kau melakukannya besok pagi saat dia dan managernya sedang sarapannya!" Tegas Hana langsung membuat sang pelayan menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar tersebut.
Hana tersenyum puas melihat pelayan itu keluar, lalu dia kembali duduk diskusinya menikmati anggur miliknya.
Sementara pelayan yang keluar dari sana, dengan menggigit bibir bawahnya ia pergi meninggalkan lantai VIP dengan memasuki lift lalu berhenti di lantai 2.
Setelah tiba di lantai 2 perempuan itu langsung berjalan ke arah ruangan Manager lalu mengetuk pintu ruangan Manager.
"Masuk!" Perintah seorang pria dari dalam ruangan langsung membuat pelayan tersebut membuka pintu ruangan hingga mengejutkan sang Manager.
Dia terkejut bahwa ada pelayan yang masuk ke dalam ruangannya, padahal biasanya para pelayan tidak masuk ke ruangannya, Dan biasanya kalau para pelayan memiliki sebuah keperluan, maka pelayan akan mengatakannya pada asistennya sehingga asistennya lah yang menyampaikan informasi dari pelayan.
"Apakah Ada hal penting?" Tanya Manager saat pelayan hotel sudah berdiri tepat di depannya.
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya sambil mengeluarkan obat dari sakunya lalu meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Setelah itu, pelayan tersebut juga mengeluarkan 2 amplop uang yang ia dapatkan dari Hana hingga membuat manajer hotel mengerutkan keningnya melihat obat dan amplop yang diperlihatkan padanya.
"Apa ini?!" Kata sang manajer mengambil kedua amplop itu dan membukanya, lalu ia sangat terkejut saat melihat tumpukan uang dolar yang terletak dalam amplop tersebut.
"Tamu di kamar VIP nomor 21 meminta saya untuk memberikan obat tersebut pada Nyonya Venus," kata Sang pelayan langsung membuat manajer mengangkat wajahnya menata pelayan di depannya dengan rasa tak percayanya.
"Apa katamu?!" Tanya manajer hotel langsung berdiri menatap pelayan di depannya.
"Benar sekali, Dia menyuruh saya untuk meletakkannya di makanan Nyonya Venus saat sarapan besok pagi," ucap pelayan tersebut langsung membuat manajer mengingat informasi yang ia dapatkan dari Danang.
"Besok adalah hari pemotretan Nyonya Venus dengan LSM, jangan-jangan..." Sang manager mengatup erat-erat giginya lalu mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Venus serta suaminya ketika dia berpikir bahwa tidak mungkin dia mengganggu kedua orang itu hanya untuk masalah kecil.
Oleh sebab itu, Manager tersebut mengurungkan niatnya lalu berbalik menatap pelayan, "tidak perlu melakukan sesuatu, mulai sekarang kau tidak perlu bertugas di ruangan VIP lagi sampai mereka meninggalkan hotel. Ah,,, kau ambil uang ini tapi jangan melakukan apapun!" Kata sama manajer menyerahkan amplop pada pelayan di depannya.
"Ini,, Maaf manajer, tapi saya tidak berhak mengambil uang ini, saya pergi dulu," kata pelayan tersebut langsung berbalik meninggalkan manajernya tanpa berniat mengambil uang yang ada di sana.
Maka, sang Manager hanya bisa menyimpan uang tersebut ke dalam laci dan mengambil obat yang diletakkan di atas meja.
"Apakah ini benar-benar obat atau sebuah racun?" Ucap sang manager melihat pil di tangannya, memang terlihat seperti obat, tetapi Siapa yang tahu bahwa mungkin saja itu adalah racun yang dikemas dalam bentuk obat.
__ADS_1
Maka, Manager tersebut kembali mengambil ponselnya dan menghubungi temannya yang bekerja di laboratorium untuk melakukan penelitian pada pil yang ada di tangannya.