
Sang surya sudah terlelap, bergilir sang dewi malam untuk menghiasi langit gelap. Beriringan dengan miliaran bintang yang gemerlap.
Di sebuah ruang kantor pribadi, terletak di lantai 9, tempat kursi tahta tertinggi Sanders Corp berada. Axton masih bertempur dengan berbagai macam berkas dokumen perusahaan.
Tidak seperti biasa, seharian kosentrasi kerjanya terpecah belah, berlarian ke sembarang arah. Membuat pekerjaan yang seharusnya bisa cepat selesai menjadi sebuah tumpukan yang tertunda.
Helaan napas beberapa kali terdengar di sela kegiatan. Ia seakan tampak berusaha mengusir sesuatu yang terus mengusik pikiran. Sebuah sentuhan aneh merayap nakal ke dalam perasaan.
"Errg..! Hentikan Axton! Kenapa kau terus memikirkannya?!"
Tak!
Pria itu mengerang frustrasi dibarengi sebuah bantingan pena di atas meja hingga terpelanting ke lantai. Di raih satu pena yang lain untuk dijadikan korban berikutnya, tapi berakhir pada kuasa remasan jari-jari besarnya.
Pijitan ringan di kedua pelipis, dijadikan upaya berikutnya untuk menepis bayangan sesosok wanita yang selalu menyimpan kerapuhan di balik ketegarannya. Satu-satunya orang yang berani mendeklarasikan perlawanan kepadanya. Siapa lagi kalau bukan istri ke-duanya, Naora Alesha.
Hingga akhirnya, Axton menyerah dan membiarkan otak terlena ke dalam ingatan kejadian kemarin. Pikirannya kembali terbang melayang.
Brak!
Pijakan kaki Axton kehilangan kemampuan keseimbangannya dan terjatuh saat sebelah tangan masih merengkuh tubuh Naora. Bahkan sepasang bibir kissablenya mendarat pada pelipis wanita yang sangat dibencinya itu.
Dia harum sekali .... Tanpa disadari, batinnya mengagumi.
"Aahkk! Sakit ...!" rintih Naora setelah tubuhnya terjerembab ke lantai dengan posisi Axton menindih tubuhnya yang hampir sempurna polos tak berbalut benang.
Wanita itu terlihat lemah tak berdaya, bahkan tubuhnya terlihat susah bergerak. Sakit di tempurung kepala belakang karena beradu keras dengan lantai serta tubuh besar Axton yang memberi beban di atasnya, membuat ia tak berkutik.
"Axton ... beranjaklah dari tubuhku," pinta Naora terlihat lemas.
Hening ... tiada sahutan dari Axton, hanya desisan kesakitan Naora yang terdengar.
Perhatian Naora yang semula masih terfokus pada rasa sakit di tubuh dan kepalanya, perlahan mulai teralih pada sapuan nakal hembusan napas hangat Axton. Wanita itu seketika terkesima saat menyadari tatapan pria di atasnya begitu dalam dan mengintimidasi.
Axton terpanah, bahkan masih setia dengan posisi mengungkung tubuh kecil Naora. Sepasang mata elangnya, memindai setiap inci muka lemah di bawahnya tanpa sopan. Sekali lagi, perasaan aneh kembali menyusup ke hati, saat ia bersiborok dengan mutiara hazel istri ke-duanya itu.
Aku kembali melihatnya. Sorot mata lemah seperti kucing kecil. Dia rapuh dan lembut. Rasanya ingin sekali aku melindunginya.
Naora terkesima, tiba-tiba kerinduan menyesakkan dada. Sepasang mata Axton yang menatapnya tanpa jeda, mengundang bayangan sosok seseorang yang sangat beharga. Namun sayang, ia telah tiada dan kini berada di surga.
Sepasang matanya, mengingatkanku pada seseorang yang sangat kurindukan. Membuatku kesulitan untuk membencinya sampai hati.
Naora gegas mencoba menguasai suasana. Memutus pandangan mata yang sempat saling terpaut. Mengingat kondisi lekuk tubuhnya yang terekspos bebas, menciptakan rona merah di pipi, sebuah kode bahwa dia sedang sangat malu dan canggung sekarang. Berada di bawah kungkungan gagah Axton sungguh membuatnya tidak nyaman.
Dengan kekuatan seadanya, ia menggeliat di bawah tubuh Axton. Kedua tangan dipaksa mendorong dada tak berpenghalang kain karena beberapa kancing sudah terbuka sebelum pria itu memasuki kamar.
Dadanya sangat keras dan bidang. Andai dada ini bisa kujadikan tempat bersandar. Ah ... sudahlah. Aku tidak ingin berharap. Buru-buru Naora menarik kembali perasaannya yang hampir saja terlena.
"Axton, kau sangat berat. Aku merasa sesak! Beranjaklah dari tubuhku!" Naora masih berupaya terbebas dari rengkuhan Axton, tapi sepertinya pria itu sudah tenggelam dalam pikirannya terlampau dalam, hingga gerakan Naora yang masih lemah tak mampu menyadarkannya dengan segera.
Pasrah. Rasa pusing di kepala karena benturan seolah merenggut semua kekuatannya. Kedua tangan dibiarkan terkulai di lantai. "Hah! Sebenarnya kau ini kenapa? Sampai kapan kau akan terus berada di atasku? Aku bisa mati. Sadarlah, Axton!" Ia kembali membalas tatapan lekat suaminya tersebut, hingga sebuah ide muncul di atas kepala.
"Huuuh...!" Axton sontak mengerjapkan mata, saat tiupan angin dari bibir Naora menyapu mukanya. Kembali dari pikiran yang sempat mengawang jauh untuk beberapa detik.
__ADS_1
"Sudah sadar? Ke mana saja kamu sedari tadi? Kau sungguh berat," gerutu Naora.
Terkesiap, sadar akan mimik muka tidak nyaman di bawahnya, pria itu langsung beranjak dari tubuh kecil Naora. Batinnya berkali-kali merutuki kebodohannya.
Glek!
Dan apa lagi ini? Pemandangan yang tersaji menyulitkan tenggorokan mendorong salivanya. Paha putih, perut ramping, pundak mulus, dan ... sepasang buah peach yang sedikit menyembul dari balik bungkus tipis, bagaikan makanan lezat yang sayang jika tidak segera disantap oleh lidah. Bisa mubazir. Haha.
Sial! Kau jangan gila Axton! Pikirkan perasaan Lana. Axton kembali mengutuki dirinya sendiri karena hati sempat tak menampik kekaguman akan tubuh indah Naora.
Hiish..!Kenapa juga aku harus berada di posisi yang sangat memalukan seperti ini?! Ya Tuhan, tubuhku masih sangat terasa sakit. Hati kecil Naora menjerit. Sedikit kepayahan, ia mencoba bangun dan menjangkau selimut dari atas ranjang. Untuk sekarang, segera menghalau pandangan Axton dari tubuh setengah telanjangnya adalah hal yang paling penting.
Srek!
"Kyaak! Apa yang kau lakukan Axton?!" Naora terkejut saat Axton menarik selimut dan membungkus tubuhnya hingga menyerupai kepompong raksasa.
"Diamlah!" tidak berhenti di situ saja, pria itu membopong Naora dan meletakkannya di atas ranjang dengan sedikit melemparnya.
"Ahk! Kau sangat kasar. Tubuhku masih terasa sakit karena ulahmu tadi!" protesnya.
Hening sesaat. Kecanggungan kembali menyelimuti suasana di antara mereka.
"Kau seharusnya mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ke kamar," protes Naora, saat ini suaranya lebih terdengar menyerupai cicitan anak kelinci.
"Aku tidak akan menerima protesanmu. Ini rumahku, jadi terserah bagaimana caraku bersikap di sini." Ternyata setelah peristiwa tumpang tindih beberapa saat yang lalu tak menyurutkan kepongahan Axton.
Naora membuang muka cemberut, bibir mungilnya mengerucut. Disusul suara besungut. Jengkel dengan sikap Axton yang tak patut. "Kau sangat menyebalkan. Katakan apa maumu?"
Puk!
Axton melempar sekotak obat di depan Naora. "Cepat sembuhkan lukamu dengan obat ini. Aku jijik melihat tanganmu yang memerah itu."
Pria berlensa dark grey itu berniat langsung pergi setelah melempar benda tersebut, tapi melihat kepayahan Naora saat membuka tutup obat membuatnya kembali menggeram frutrasi. Ingin sekali ia bersikap masa bodoh. Namun, hal itu tak selaras dengan hati yang mulai tergerak menunjukkan sisi kemanusiaanya.
"Hal seperti ini saja tidak bisa kau kerjakan dengan benar. Dasar lemah!" cibir Axton. Ia menyabet kasar bungkus obat dari tangan Naora lalu membukanya.
"Kau mau apa lagi Axton?" Naora terkesiap di kala tangan besar si pria menarik tangannya.
"Diamlah, kau itu terlalu banyak bertanya."
Naora mendengus. "Iya ... iya ...!" ia terlihat pasrah, membiarkan Axton mengolesi obat luka pada tangannya yang memerah dan hampir melepuh.
"Aw! Pelan-pelan, Axton. Kau itu terlalu kasar."
"Kenapa kau cerewet sekali?!"
"Tapi kau sangat kasar," keluh Naora membuat Axton sedikit iba.
"Terima Kasih, Axton," ucap si wanita setelah si pria selesai mengoleskan obat.
Cepat-cepat Axton beranjak dari atas ranjang. "Ini semua aku lakukan demi Lana, agar dia tidak larut terlalu lama dalam rasa bersalahnya gara-gara kau terluka."
Naora memasang muka malas lalu mencoba turun dari ranjang dengan selimut masih membungkusnya. Sayangnya--
Bruk!
__ADS_1
"Ahhk!"
Naora kembali terjatuh ke lantai. Selimut yang dibuat menutupi tubuhnya tersingkap dan kembali memperlihatkan tubuh setengah polosnya.
Sial! Dia sepertinya sengaja menguji nafsuku! Wanita ini seperti racun.
Tak! Tak! Tak!
"Tuan ... Tuan apa anda baik-baik saja?" Axton seketika terperanjat dan kembali dari lamunannya saat sebuah ketukan meja menyeruak ke dalam indera pendengarannya.
"Tuan." Wildan, sang asisten datang dengan sebuah map kembali menegurnya.
"Eeh? Sejak kapan kau berada di sini?"
"Sejak Tuan seperti berkata 'Sial! Dia sepertinya sengaja menguji nafsuku! Wanita ini seperti racun'," jawab Wildan seraya menirukan mimik muka frustrasi bos besarnya itu.
"Lancang sekali kau!" hardik Axton. Kesal dengan cara menjawab si asisten. Lagian tidak perlu segitunya juga kalau menjawab.
Alih-alih takut, Wildan malah tampak mengulum bibir guna menahan tawa. "Tuan, tolong segera anda tandatangani berkas ini." Wildan menyerahkan sebuah map berwarna kuning di atas meja kerja Axton.
"Tuan, apa yang sedang anda cari?" Wildan keheranan melihat gelagat sang Tuan yang seperti mencari sesuatu tapi tak kunjung ketemu.
"Aku mencari penaku."
"Tuan, apa anda sedang sakit?"
"Kenapa kau sangat kurang ajar sekali, Wildan?! sengit Axton. Pasalnya Wildan bertanya seraya mengetuk-ngetuk kepalanya. Memang dipikir bosnya itu sedang kurang waras? Sangat tidak sopan.
"Tuan."
"Ada apa lagi?! Tuan, Tuan, Tuan, apa kau tidak bosan memanggilku terus?!"
Si Bos sepertinya sedang PMS, sedari tadi mudah sekali meledak seperti petasan cabe rawit. Wildan menggerutu di dalam hati.
"Tuan, benda yang anda cari ada di sana." Pria berparas manis itu menunjuk ke arah tangan Axton seraya memasang mimik muka meledek yang terkesan sangat menyebalkan.
Sementara Axton seketika terlihat bodoh, ternyata pena yang sedari tadi ia cari sudah berada dalam genggaman tangannya sendiri.
Wanita benalu itu memang racun. Kosentrasiku hancur gara-gara dia!
☘
☘
☘
Bersambung~~
Diterjen: Thor ... kok nggak ada adegan cup cup muah basah sih? 'Kan posisinya udah pas itu. Mereka saling tumpang tindih.
Thor: Belooooom. Perasaan lu napsu amat.
Ditergen: 😆
Tolong ikuti terus ya cerita tentang Naora dan Axton. Karya ini akan memiliki bab yang nggak panjang-panjang amat kok.
__ADS_1
Terima Kasih🙏
lop yu pul..😘