Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Melepas Rindu


__ADS_3


Langit kelam tanpa kejora. Paras rembulan pucat seketika. Hewan malam seolah bersenandung lara, berteman hawa dingin menusuk jiwa. Di peraduannya, Naora tampak meringkuk menahan sesak di dada. Wanita itu tengah berjuang menahan gulana.


Kecewa di hati memang masih bertamu. Namun, rasa itu seolah bergelut dengan kerinduan yang kian bertalu. Ia mengira gejolak rasa ingin bertemu dengan sang kekasih hati akan berubah semu, seiring dengan waktu yang kian berlalu. Ternyata dia salah dalam hal itu.


"Dia sedang apa di sana? Dan bagaimana dengan keadaannya sekarang? Ingin rasanya aku meyakinkan diri bahwa dia sudah baik-baik saja, tapi kenapa hatiku terus berbisik yang sebaliknya?" Naora meremas dadanya yang berdenyut nyeri. Sepasang mutiara hazelnya pun mulai mengembun.


"Axton, salahkah jika aku berharap jika kau merindukanku seperti aku merindukanmu?"


Kau bodoh, Naora. Apakah kau lupa dengan perkataanku di awal kita menikah? Baiklah aku akan mengingatkanmu jika kau memang lupa, Jangan mengharapkan sebuah kehadiran cinta di dalam pernikahan sialan ini. Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi.


Aku sudah puas dengan tubuhmu dan tidak membutuhkannya lagi.


Bagaikan layar tv hitam putih. Tanpa diinginkan, otaknya tiba-tiba memutar kembali rekaman perkataan Axton yang menyisakan perih. Akhirnya ia kembali meraup ego untuk menepis kerinduan yang sempat merintih. Tapi sayang, desiran pilu malah merenggut hati hingga Naora menangis dalam lirih.


Ceklek!


Di sela kesenduannya, suara daun pintu terbuka terdengar oleh telinga, disusul ketukan langkah kaki yang masuk ke kamar dan mendekatinya. Jujur, Naora sedikit terganggu karena saat ini ia bener-benar ingin memiliki waktu tenang.


"Joe, aku sedang ingin sendiri. Bisakah kau tinggalkan aku sendiri?" ucap Naora yang masih dalam posisi berbaring miring membelakangi. Wanita itu seolah enggan memutar tubuh hanya untuk sekedar melihat siapa yang datang.


"Joe, aku benar-benar ingin sendiri," pinta Naora kembali saat merasa ranjangnya sedikit bergoyang. Ia yakin Jovana baru saja mimpi buruk dan ingin tidur bersamanya.


Namun, Naora tiba-tiba tercekat seiring dengan sebuah tangan melingkari tubuhnya. Sesaat ia hampir lupa cara bernapas saat hembusan napas menyapu lembut ceruk lehernya. Detak jantung bertalu luar biasa seolah tahu bahwa obat kerinduan sudah menyapa.


"Kenapa kau selalu lupa untuk mengunci pintu kamarnya, Naora? Bagaimana kalau pria lain yang masuk?"


Deg!


Dan lagi, detak jantung Naora kian membrutal. Suara bisikan yang menulusup ke pendengaran sangat ia kenal. Bahkan parfum aroma maskulin yang menguar begitu dihafal.


Apakah ini mimpi? Dia benar-benar datang di saat aku sudah sangat merindukannya.


"Naora ... akhirnya aku menemukanmu sebelum benar-benar gila," bisikan seorang pria sembari menghirup dalam dalam aroma tubuh istrinya yang sudah sebulan ini sukses membuatnya gila karena dilanda penyakit rindu.


Segera temui Naora, karena penyembuh sakitmu adalah dia. Istrimulah penawar rasa mual dan pusingmu.


Tuturan Edrich sebelum ia berangkat menemui Naora sempat berkelebat di otaknya. Dan di saat itu juga ia membenarkan akan tuturan daddynya. Naora adalah obat terampuh sepanjang masa. Hanya dengan menghirup aroma tubuh wanita itu, semua rasa tidak nyaman di tubuhnya mendadak sirna.


Sementara Naora masih setia dalam kebisuan. Namun, hatinya menjerit tak karuan. Ingin rasanya ia meluapkan kerinduan ke dalam dekapan sang pujaan, tapi ego sekali lagi merajai perasaan. Jadi, wanita itu hanya membiarkan air mata jatuh di dalam isakan pelan.


"Naora ... apakah kau ingin membunuhku dengan cara menghilang dari pandanganku? Aku bisa mati karena merindukanmu, Sayang."


Sungguh, gebuan rindu sudah tak terbendung lagi. Axton kian mendekap posesif tubuh sang istri. Naora bahkan tak berdaya untuk melepas diri. Semua saraf tubuhnya seolah mati, wanita itu terasa berat untuk berlari.


"Kau bahkan pergi sebelum aku menjelaskan yang sebenarnya?"


Naora seketika merasa tertarik dengan ucapan Axton barusan. Perlahan ia memutar tubuh hingga keduanya saling berhadapan.


"Apa yang harus kau jelaskan, Axton? Perkataanmu waktu itu sangat bisa aku mengerti, jadi tidak perlu kau perjelas lagi," sungut Naora. Ia mencoba mendorong dada bidang Axton agar menjauh, tapi pria itu malah kembali mengunci tubuhnya.


"Dengarkan aku dulu, Naora."


"Lepaskan! Aku tidak ingin mendengarkanmu. Bukankah kau ingin kita bercerai, jadi buat apa kau temui aku lagi?!"


"Naora ... dengarkan aku dulu."


"Tidak!" Naora seolah menulikan telinga, enggan memberi kesempatan kepada Axton untuk meluruskan kesalah pahaman di antara mereka. Wanita itu mulai menggeliat agar bisa terbebas dari kuncian suaminya.


Aku mohon, Naora."


"Aku membencimu, Axton! Aku--"


Naora tiba-tiba terbungkam karena Axton menyerang dengan memagut bibirnya. Dirasa si wanita sudah mulai tenang, ia melepas ciumannya. Dipandang dalam paras cantik yang memenuhi ruang mata. Kemudian mulut kembali berbicara.


"Naora Aku tahu kau memberi tanda tangan palsu di surat pengajuan gugatan cerai itu, dan aku mencoba mengimbangi permaiananmu untuk mengelabuhi Lana. Dan aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku kepadamu waktu itu. Percayalah kepadaku." Axton mencoba meyakinkan.


Dikorek dalam-dalam sorot mata serius di hadapannya. Ingin sekali ia menemukan kebohongan di sana, tapi yang ada malah kejujuran semata. Hingga ia dibuat bertanya-tanya karena perkataan Axton belum sepenuhnya mampu ia cerna.


"Kau mencoba mengelabuhi Lana? Memangnya untuk apa?"


"Agar dia tidak kembali mencelakaimu, Naora."


Raut penuh tanda tanya kian mengulas jelas. "Apa Maksudmu, Axton?"

__ADS_1


"Lana sekarang sudah mendekam di dalam jeruji besi untuk menanggung akibat dari tindakan kejahatannya. Lana adalah otak dari semua kasus kejahatan yang menimpa kita. Dan kau lah yang menjadi incaran utamanya."


Sebelah tangan reflek menutupi sepasang bibir ranumnya yang menganga. Sungguh, Naora tidak pernah menduga bahwa Lana bisa bertindak nekat dengan nyawa yang menjadi taruhannya. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang memancing rasa iba.


"Tapi bukankah, Lana sedang mengandung anakmu? Kalau dia dipenjara, terus bagaimana nasib bayinya kelak? Lana juga butuh perhatian dari suaminya."


Antara rasa tidak percaya dan takjub, Axton merasakan kedua perasaan itu dalam satu bingkai yang sama. Bisa-bisanya Naora masih mencemaskan keadaan orang lain yang sudah jelas sempat berniat mencelakai nyawanya.


Ya Tuhan ... Naora. Sebenarnya hatimu ini terbuat dari apa? Aku rasa emas mata berlian sekalipun belum cukup menyamakan hatimu.


Axton sedikit merenggangkan pelukannya. Dikecup singkat bibir sang istri yang sudah menjadi candu lalu menautkan kembali pandangannya.


"Jadilah pendengar yang baik. Aku ingin memberitahumu apa yang belum kau ketahui." Pria itu berniat mengecup kembali bibir Naora. Melihat ekspresi penasaran si istri membuat ia gemas. Namun, belum sampai ciuman berlabuh, jemari lentik si wanita manghalaunya.


"Jadi kapan kau akan mulai bercerita? Sedari tadi bibirmu ini terus saja menciumku," celetuk Naora yang sudah tidak sabar bercampur kesal. Pasalnya Axton terkesan mengulur-ngulur waktu.


Axton tertawa kecil sebelum akhirnya menceritakan semua kebenaran kepada Naora. Dari awal ia menikahi Lana, perihal perasaan, masalah kasus kejahatan yang menimpa mereka, bahkan sampai tentang dia yang selama ini belum pernah meniduri Lana karena mengalami diafungsi ereksi.


"Aku tidak percaya jika kau tidak pernah melakukannya dengan Lana karena aku pernah beberapa kali mendengar suara kalian saat bercinta," beber Naora dengan suara kecil karena malu dan juga ... sakit hati.


Sepasang mutiara hazelnya bahkan sudah tampak mengembun kini. Bagaimanapun juga ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sempat terbesit rasa tidak rela jika mengingat sang pujaan hati pernah memadu kasih dengan wanita lain, meskipun status mereka adalah suami istri.


"Aku memiliki surat diagnosa dokter tentang kesehatanku itu. Atau kau bisa bertanya kepada Nathan yang sudah tahu semuanya tentangku. Dia ada di luar bersama sahabatmu sekarang."


"Jangan! Apa kau tidak malu memanggil Nathan hanya untuk membahas hal privasi kita?" seru Naora setengah tertahan.


Naora menarik tangan Axton yang hendak menemui Nathan. Sehingga pria itu kembali terbaring di sampingnya dalam posisi miring berhadapan. Disuguhkan raut cemberut karena dibuat gregetan. Namun, kekehan geli si pria yang didapatkan.


Sebelah telapak tangan besarnya diajak merangkum pipi mulus Naora. Axton kembali berusaha meyakinkannya. "Percayalah Naora. Aku hanya melakukannya denganmu. Kau lah wanita pertama yang kusesap madunya saat milikku sembuh."


"Hah! Rasanya aku ingin sekali untuk tidak mempercayaimu, tapi kau terlalu pintar mempengaruhiku," cebik Naora.


Axton mencium hangat kening Naora lalu turun ke bibir mungilnya. "Aku merindukan suaramu, sentuhanmu, wajahmu. Aku merindukanmu, Naora. Jangan menghilang lagi. Aku bisa gila."


Sorot mata teduh Axton menyapu durja cantik terbingkai sendu Naora. "Apa kau tidak merindukanku?"


Tanggul telaga bening Naora akhirnya jebol juga. Ia tak mampu lagi menahan genangan air mata. Isak tangis pun mengalir dari bibirnya. Ditambah lagi beberapa hari ini perasaan sensitif terus bernaung di dalam dada. Sehingga, wanita itu mudah hanyut ke dalam suasana.


"Aku bahkan tidak tahu harus memulainya dari mana untuk memberitahumu betapa aku merindukanmu, Axton. Rasanya sungguh sangat tidak nyaman. Kau selalu saja menyakitiku. Kau itu pria terkejam yang ada di hidupku."


"Saat aku memejamkan mata, aku melihatmu. Namun, saat aku membuka mata, aku merindukanmu. Aku sangat tersiksa." Naora kian sesenggukan.


"Naora, Naora, Dengarkan aku." Axton menangkap kedua tangan wanita itu lalu mengecup buku-buku jarinya. "Aku tahu bagaimana perasaanmu karena aku juga merasakan hal yang sama. Jadi aku harap kau jangan pergi lagi ya. Kau harus tetap bersamaku. Merindu itu sangat tidak mudah."


"Maafkan aku karena sudah kejam terhadapmu selama ini. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi," imbuh pria itu kembali.


Naora kian menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. Salah satu bagian tubuh Axton yang memberi rasa ternyaman dan menenangkan.


"Maafkan aku juga, Axton. Karena aku pergi tanpa pamit," ucap Naora.


"Kau tidak salah, Naora. Jadi tidak perlu meminta maaf. Di sini memang aku lah yang salah."


"Tidak, Axton. Aku juga salah karena kurang peka dengan situasinya waktu itu. Dan membiarkan hatiku menerima kesalah pahaman begitu saja."


"Sstt! Sudah, berhentilah menyalahkan dirimu, karena memang aku yang salah."


Sepasang suami istri itu seolah saling berebutan posisi siapa yang salah tanpa dipaksa. Ucapan maaf pun turut silih berganti terangkai dari bibir mereka. Sehingga keharmonisan kembali merangkul suasana.


Alangkah indahnya jika banyak pasangan di luar sana saling berkaca diri. Melakukan kesalahan sejatinya adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi. Namun hanya segelintir orang yang sanggup mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan bertekad memperbaiki.


Jangan egois, tapi saling memahami. Jangan mau menang sendiri, tapi mulailah introspeksi diri. Niscaya atmosfer di dalam suatu hubungan akan terasa lebih hangat dan berarti.


Suasana berubah hening seketika. Setelah puas berebutan untuk meminta maaf sepasang anak manusia itu saling memandang dengan penuh cinta. Tatapan mendamba merangkai hasrat untuk mencumbu raga. Sehingga keduanya mulai berpagutan bibir berselimut asmara.


"Baru satu bulan aku tidak menjamahnya, sepertinya milikmu bertambah besar," bisik Axton dengan tangan bermain nakal pada si kembar sintal milik istrinya.


"Kau jangan nakal, Axton."


"Aku hanya nakal dengan wanitaku." Pria itu malah semakin asyik bermain dengan puncak imut Naora.


"Akh! Kau harus tahan dulu. Ada Nathan dan Joe di luar kamar 'kan?" Naora memekik ringan. Meski mulut terus menolak tapi tidak dengan tubuhnya yang sudah bereaksi.


"Sebentar saja ya." Axton membujuk. Tangannya bahkan sudah merayap ke bawah. Membongkar bulu-bulu halus yang menghalangi.


Naora menggeleng sebagai tanda penolakan, tapi suaminya sangat pintar merayunya dengan ciuman memabukan. Tidak ada ruang untuk berkilah, ia pun menyambut senang setiap sentuhan yang memanjakan.

__ADS_1


"Axton, kita harus menghentikannya," saran wanita itu di sela permainan bibirnya.


"Tapi kau sepertinya juga ingin."


"Nanti saja ya. Kita temui dulu orang-orang."


"Janji ya?"


"Iya aku janji."


Namun, hasrat keduanya seolah tak terkendali. Bukannya berhenti, mereka malah semakin larut ke dalam pusaran kenikmatan menuju birahi. Pertukaran cairan saliva seolah sulit untuk diakhiri.


"Axton, ini tidak berhasil."


"Iya, aku tahu."


"Kita harus berhenti, Axton."


"Baiklah, kita sudahi setelah menghitung sampai tiga ya."


"Oke."


"Satu." Keduanya mulai menghitung bersamaan di dengan bibir masih saling mensesap.


"Dua."


"Tiga."


"Masih tidak berhasil, Axton."


"Baiklah, kita hitung lagi sampai sepuluh. Setelah itu harus benar-benar berhenti."


"Oke."


Gagal! Rupanya, nafsu sudah menjadi penguasa. Meskipun sudah menghitung sampai sepuluh, hasilnya tetap percuma. Gairah ingin bercinta sudah mencapai di titik sempurna. Kain yang melekat di tubuh mereka sudah hampir terbuka. Hingga pagutan bibir terputus saat suara kegaduhan dari luar kamar tertangkap oleh telinga.


"Dasar kurang ajar!"


Kedebug!


"Aarrggg ...!"


"Kyaaakk ...! Lepaskan!"


"Joe!"


"Nathan!"


Axton dan Naora sontak menyebut nama sahabat mereka masing-masing secara bersamaan.


"Apa yang sedang terjadi dengan mereka?" Tanya Naora seraya mengaitkan kembali tali bra miliknya yang sempat terlepas karena ulah nakal Axton.


"Aku akan memeriksanya dulu."





Beraambung~~


Memang gk baik terlalu berharap ma orang lain,.termasuk berharap ma Mang Atun. Bab ini seharusnya dah up dari pukul 00.00, tapi Mang Atun nggak bisa diharapkan. Babku masih aja belum lulus review.😢


Fhuuuhh ... ! Akhirnya bisa ngetik 2ribu kata lebih.


Maaf ya kemarin nggak bisa up. Lagi stuk ide soalnya. Ini nih akibat Nofi tidak pernah baca karya-karya best seller di NT atau di manapun, jadi ya gini hasilnya, alur ceritanya jadi teralu pasaran.


Oya terus dukung karyaku ini dengan biasakan meninggalkan jejak like dan komen ya🥰


Dan ditunggu gift dan vote gratisannya ya.


Terima.Kasih🥰


Lop you pul🥰

__ADS_1


__ADS_2