
"Apa yang kau lakukan kepada Naora?!" geram pria itu sedikit tertahan. Ia tidak mungkin bersuara lantang saat masih di rumah sakit. Lagian melihat kondisi Axton yang belum sembuh juga membuatnya harus mengontrol amarah agar tidak berlebihan.
Axton tersenyum kecut sebagai tanggapan pertama dari ucapan sang Daddy lalu bibirnya mulai berlisan. "Rupanya wanita itu baru saja mengadu. Menyebalkan."
Sebenarnya, apa yang disangka Axton tidaklah benar. Saat dalam perjalanan menuju ke kamar tempat sang putra dirawat, Edrich berpapasan dengan Naora yang baru saja keluar dari ruang perawatan dalam kondisi menangis seraya menggenggam selembar surat pengajuan cerai. Dari situlah pria itu tahu kalau sedang ada masalah di antara mereka.
"Kau harus ingat, tugasmu membahagiakan Naora dan bukan menyakitinya. Apalagi menceraikannya," tegas Edrich.
"Lagi-lagi demi wanita benalu tak tau diri itu." Axton berdecih kesal seraya memalingkan muka.
Edrich terdiam beberapa detik. Ia terpaku dengan sepasang netra yang membidik. Rupa-rupanya gelagat aneh Axton tak mampu mengelabuhi otaknya yang cerdik. Lantas ia melihat ke arah Lana dalam sekali lirik. Hingga membuat wanita itu merasa bergidik.
"Aku sedang ingin berbicara empat mata dengan putraku. Kau pasti tahu apa yang harus dilakukan bukan?" ucap Edrich yang lebih terkesan sebuah titah bersifat halus.
Entah sejak kapan otak Lana mendadak pintar. Ia langsung bisa memahami maksud dari perkataan yang didengar. Dengan perasaan kikuk ia pun membawa kaki untuk keluar.
Ketika Lana membuka daun pintu, ia sedikit terhenyak, karena di waktu yang bersamaan Wildan muncul dari luar. Sekilas mereka saling bersitatap sebelum melanjutkan langkanya.
Wildan mengangguk hormat kepada Edrich terlebih dahulu sebelum perhatiannya tertuju ke Axton. "Tuan, saya telah selesai mengecek secara kesuluruhan riwayat data diri orang yang Tuan pinta. Dan semua data yang dia pakai dua tahun terkahir ini adalah palsu," lapor pria berparas manis itu lalu menyodorkan sebuah amplop coklat kepada sang majikan.
"Kerja bagus, Wildan. Dan sekarang aku tugaskan kau untuk berjaga di luar pintu. Pastikan tidak ada satu orangpun yang mendengar percakapan kami di dalam," titah Axton setelah memberi sedikit pujian kepada personal assistantnya itu sebagai bentuk apresiasi.
"Tidak satu orangpun? Termasuk saya ya, Tuan?" Baru saja Wildan membuat Axton puas dengan laporannya, dan sekarang pria itu kembali membuat sang majikan geleng kepala.
"Sejak kapan kau suka menguping, Wildan?" Axton tampak gemas dengan kelakuan asistennya itu yang kadang pintar tapi kadang juga berotak udang. Herannya, pria itu memiliki integritas tinggi saat bekerja.
"Ehee ... maaf, Tuan." Wildan malah nyengir kuda seraya menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.
Sementara Edrich, tampak geleng kepala melihat kelakuan asisten putranya itu.
"Dan tunggu apa lagi? Cepat keluar sekarang." Axton masih berusaha menahan kesal.
"Baik, Tuan."
Setelah tubuh Wildan hilang dimakan daun pintu, pria berparas dingin itu langsung menggiring atensinya kepada Edrich. "Daddy ingin membicarakan apa? Aw! Kenapa kau memukulku?" protes Axton yang baru saja mendapat jitakan di keningnya.
Pria itu seolah tak pandang bulu meski kepala sang putra masih berbalut perban. "Kau tidak akan mati meski Daddy menjitakmu sampai ratusan kali. Cepat katakan! Kenapa kau berakting sampai membuat Naora menangis?"
Axton seketika terperangah. "Naora menangis? Benarkah?" ucapnya yang mulai merasa sangat bersalah.
Meski sebelumnya ia sudah memprediksi bahwa sandiwaranya itu berpotensi melukai perasaan Naora, tapi tetap saja hati juga akan terasa teriris saat tahu sang kekasih berderai air mata. Sayangnya, Axton tidak bisa langsung mengakhiri perannya sebelum berhasil mencapai titik tujuan yang sebenarnya.
"Kau ini sungguh-sungguh ya! Cepat katakan apa tujuanmu." Geram bercampur gemas, Edrich hampir saja melayangkan kembali satu jitakan di kening sang putra, tapi diurungkannya.
"Aku hanya ingin melindungi Naora, Dad," jelas Axton yang masih terdengar ambigu di pendengaran Edrich.
"Maksudmu?"
"Dari dua kasus yang terjadi, yaitu kasus pembegalan dan tabrak lari, aku menangkap bahwa Naora lah yang selalu menjadi pusat incaran mereka."
__ADS_1
Edrich masih menyimak dengan seksama, meski dahinya sudah dihiasi garis-garis kernyitan. "Siapa orang yang kau curigai?" Ia bertanya seolah bisa membaca isi pikiran putranya.
"Dan saat ini aku sedang mencurigai Lana sebagai dalang utamanya."
"Dan akhirnya apa yang Daddy takuti terjadi." Perubahan emosi mulai terlihat di wajah Edrich. Marah? Tentu saja!
"Maafkan aku, Dad. Andai aku dulu mendengarkanmu, pasti semua ini tidak akan terjadi," sesal Axton.
"Tidak sepatutnya kau berandai-andai akan sesuatu yang sudah terjadi, karena waktu tidak mungkin berputar kembali dan kau tidak bisa merubah segalanya. Yang bisa kau lakukan sekarang memperbaiki apa yang salah," tutur bijak Edrich.
"Terus apa yang membuatmu yakin dengan kecurigaanmu itu?" tanya Edrich.
"Kecurigaanku sangatlah mendasar. Di saat semua orang menyayangi Naora karena kelembutan dan kebaikan yang ada pada dirinya, hanya Lana lah satu-satunya orang yang terkesan tidak menyukainya. Dan Daddy pasti tahu alasannya."
"Iya, dia merasa cemburu dan tersaingi. Aku tahu wanita itu sangat serakah dan ingin memiliki semua yang ada pada dirimu sendirian saja."
"Aku tidak ingin wanita itu kembali bertindak nekat jika masih melihat hubunganku bersama Naora terkesan baik-baik saja. Setidaknya dengan menjauhnya Naora dariku untuk sementara, itu bisa melidunginya sampai bukti kejahatan Lana terkumpul. Bagaimanapun juga, bahaya akan terus mengancam Naora jika ia masih berada di sekitarku saat ini."
"Tapi apakah harus dengan bercerai? Daddy tidak begitu setuju dengan alternatif yang kau pilih itu, Axton. Naora bilang, dia tidak mengisi surat gugatan cerai itu dengan tanda tangannya yang asli saat Lana mendesaknya dengan iming-iming akan mendonorkan darahnya kepadamu yang sedang kritis kemarin. Putriku itu tidak bodoh asal kau tahu."
"Aku tahu itu, Dad. Itulah sebabnya aku juga mencoba mengimbangi permainan Naora, yaitu dengan menandatangani surat itu dengan yang palsu."
Edrich seketika merasa lega. Rupanya sepasang suami istri itu tidak bertindak gegabah dalam menyikapi masalah mereka. Hanya saja, ada sedikit kesalah pahaman yang harus segera diluruskan, karena Naora menganggap Axton bersungguh-sungguh ingin bercerai dengannya.
"Terus sejauh mana pengembangan kasusnya?" tanya Edrich yang menaruh harapan besar akan segera terungkapnya kebusukan Lana.
"Aku juga masih menunggu kabar gembira dari hasil penyidikannya."
Suara ketokan pintu seketika menyita perhatian kedua pria berbeda generasi itu. Keduanya menoleh ke arah sumber suara, bersamaan dengan itu sosok Wildan menyembul dari sana.
"Sepertinya dia sudah datang. Suruh dia masuk," perintah Edrich dan langsung mendapat anggukan kepala Wildan.
"Siapa, Dad?" Axton rupanya juga penasaran.
"Nanti kau juga akan tahu."
Tidak lama sosok yang dimaksud masuk ke ruangan. Saat ini Axton belum bisa langsung mengenalinya karena tamu itu menggunakan topi dan masker mulut. Hingga suami Naora itu dibuat terkejut kala pria itu membuka semuanya.
"Dia?" Axton seolah bertanya-tanya kenapa pria yang sangat ia kenal itu datang?
"Iya, dia adalah Antony, ayah tirinya Lana yang selama ini sudah kau hancurkan hidupnya, Axton. Tanpa belas kasihan kau menggulung usaha bisnisnya sampai sepeser uangpun tidak ia genggam. Dia bahkan sempat menjadi gelandangan karena kau menggunakan kekuasaanmu untuk mem-blacklist namanya di perusahaan manapun. Hingga ia kesulitan mendapatkan pekerjaan."
"Waktu itu aku terpaksa bertindak seperti itu, karena ia terus mengganggu dan berbuat jahat ke Lana." Axton membela diri.
"Kau salah paham. Waktu itu aku memang sempat ingin memberi pelajaran ke Lana. Aku marah dan kecewa. Karena dia, istriku yang tak lain ibu kandungnya meninggal."
"Bukankah, istrimu itu meninggal karena kau siksa?"
"Bagaimana aku tega menyiksa wanita yang kucintai? Kau sudah terhasut oleh tipu muslihat wanita gila itu, Axton. Justru Lana sendirilah yang menyebabkan ibunya meninggal."
Mimik penuh tanya sudah membingkai posesif paras Axton yang tampan. Sementara Edrich tampak memberi ruang kepada kedua pria itu untuk saling meluruskan kesalah pahaman.
__ADS_1
"Andai dulu aku selalu mendampinginnya saat sakit, mungkin tidak akan ada celah bagi Lana untuk menggencarkan aksinya. Ia menukar obat istriku dengan obat terlarang yang justru membuat penyakitnya kian parah. Dulu aku sempat melaporkannya kepada petugas kepolisian, tapi penyidikan kasusnya dihentikan begitu saja karena tidak memiliki bukti konkret." Antony mulai meratapi. Terlihat jelas kesedihan dan kekecewaan pada dirinya masih menaungi.
Sementara Axton seketika terdiam seribu bahasa. Lidah seolah tak sanggup untuk berkata. Hati terus mengutuki dirinya, karena selama ini sudah bertindak seperti keledai karena Lana.
Sumpah demi apapun, Axton sedang bercermin bangkai sekarang. Ia seakan tidak punya muka untuk dipajang. Hatinya sudah dibuat sesak oleh rasa sesal yang mengekang.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu berlisan di bibirnya saat ini.
"Sebenarnya kenapa wanita gila itu bertindak nekat seperti itu?" Kini Adrich yang mulai bersuara. Ia seolah paham bahwa putranya sedang sulit berkata.
"Lana adalah orang pertama yang akan selalu merasa iri dengan kebahagiaan mendiang ibunya. Apa yang dimiliki mendiang sang ibu, dia juga harus memilikinya, termasuk memilikiku. Wanita itu bahkan pernah mengajakku tidur bersama tapi terus kutolak. Hal itulah yang membuat ia gelap hati. Wanita itu adalah penderita DID, atau biasa kita sebut berkepribadian ganda. Jadi tidak heran jika ia tak segan-segan bertindak hingga membahayakan nyawa orang lain."
Axton dan Edrich seketika tercengang luar biasa. Rasanya tidak ingin mereka mempercayainya begitu saja. Akan tetapi kenyataan menuntutnya untuk tetap percaya.
"Bagaimana putraku, apakah kau terkejut?" Dan satu lagi yang harus kau tahu, bahwa Naora lah yang membantu Antony saat ia menjadi gelandangan yang hampir mati karena kelaparan."
Axton masih terbungkam. Di saat ia tercengang akan Lana, rasa salut justru menjalar hangat di hati karena sosok Naora. Lagi-lagi, wanita kesayangannya itu menampilkan jiwa malaikatnya kepada sesama.
"Iya, di saat aku sudah pasrah dengan ketidak berdayaan, Nona Naora menjadi malaikat penolongku. Dia membawaku ke sebuah yayasan panti asuhan milik peninggalan kedua orang tuanya. Di sana aku bisa berteduh, mengisi perutku yang kosong dan juga mendapat pekerjaan," timpal Antony.
"Yayasan panti asuhan?" Axton menoleh ke arah Edrich seolah meminta kejelasan lebih jauh.
"Iya, mendiang kedua orang tua Naora memiliki yayasan panti asuhan yang cukup besar. Semasa hidup, hampir semua harta dan kekayaan mereka dedikasikan untuk yayasan tersebut. Apakah kau tidak merasa bahwa hati emas Naora diturunkan oleh kedua orang tuanya?"
Masih hanyut ke dalam perasaan kagum, Axton menanggapi pertanyaan Edrich dengan anggukan cepat, sebagai tanda ia sangat membenarkan ucapan sang Daddy.
"Dan kau akan lebih tak percaya lagi tentang betapa mulianya hati mendiang kedua orang tua Naora jika tahu jasa besar apa yang sudah mereka berikan ke kita."
"Apa itu Dad? Cepat katakan," desak Axton yang tak sabaran.
"Daddymu ini tidak mungkin masih bisa menikmati udara segar hingga sekarang jika ayahnya Naora tidak mendonorkan jantungnya kepadaku. Dan di saat kau mengalami kebutaan akibat insiden kecelakaan, ibunya Naora lah yang bersedia mendonorkan matanya untukmu."
Sekali lagi, Axton dibuat terkejut tidak percaya. Kebenaran yang baru diterima sungguh menggetarkan jiwa.
"Kenapa Daddy tidak memberiku dari dulu?"
"Itu karena Naora yang memintanya untuk tetap merahasiakannya darimu. Daddy sangat tahu tujuan Naora itu karena tidak ingin membuatmu terbebani oleh rasa berhutang budi."
Helaan napas terdengar samar di bibir Axton. "Bagaimana caraku membalas budi, Dad? Jasa mereka sungguh tak bisa dinilai dengan nominal."
"Cukup jaga dan cintai Naora."
"Aku sudah berjanji akan menjaga dan mencintai Naora, bahkan sebelum aku mengetahui tentang jasa kedua mendiang mertuaku, Dad."
☘
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1
Semakin membosankan ya? Karena terlalu mendetail Nofi jelasinnya.. Emang sengaja sih🤭 agar konflik yang berhubungan dengan Lana bener2 tuntas sampai ke akar2nya.
Hari ini dobel up ya, untuk ganti yg kmrn karna gk up.. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen di setiap babnya ya..🥰