Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Restu Tak Terduga


__ADS_3


"Ma, Pa, Nathan pulang," sapa si pemuda tampan itu kepada kedua orang tua yang sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.


Belum berpindah dari posisi duduk di sofa ruang tamu, Rosa dan Thomi terlihat celingukan seolah tengah mencari sesuatu. Lebih tepatnya menanti kehadiran seseorang yang dikabarkan akan datang bersama putra mereka itu.


"Kau datang sendiri? Di mana singa betinanya?" tanya Rosa yang terlihat harap-harap cemas. Takut, kalau putranya benar-benar bertindak diluar nalar.


"Sayang, mana mungkin putra kita beneran membawa seekor singa? Kau seperti tidak hafal saja dengan sikap tengilnya." Thomi berupaya meluruskan jalan pikiran istrinya yang kadang terlampau lugu itu.


Alih-alih segera menjelaskan, Nathan malah tertawa kecil. Lucu saja melihat reaksi sang Mama yang selalu mudah menjadi korban keusilannya.


"Nathan, sampai kapan kau akan membuat kami berdua menunggu?" Thomi melayangkan protes.


"Ah, iya. Maaf Pa. Tunggu sebentar ya." Nathan memutar tumit dan berjalan menuju pintu masuk. Selang tidak lama, sosok Jovana muncul dari balik sana.


Pria itu menuntun si wanita untuk lebih mendekat dengan kedua orang tuanya. "Ma, Pa ... Nathan datang bersama calon istriku." Ia memberi isyarat kepada Jovana untuk memperkenalkan diri.


"Selamat malam Om ... Tante. Perkenalkan nama saya Jovana," salam wanita itu dengan ramah.


Diulurkan sebelah tangan kanannya dan langsung disambut Thomi dengan senyuman bahagia. Kemudian ia menggiring uluran tangannya ke arah Rosa. Namun, ia harus menelan kecewa.


Alih-alih jabatan tangannya disambut dengan keramahan, Jovana malah harus menerima tatapan merendahkan. Suasana canggung pun seketika menyelimuti ruangan.


Penampilan Jovana yang terkesan terlalu apa adanya ternyata lebih menarik perhatian Rosa. Balutan setelan celana panjang berbahan denim dan kaos over size rupanya menjadi nilai kurang di mata tuanya.


Sebenarnya, Nathan sudah membelikan beberapa setelan gaun untuk Jovana. Akan tetapi, wanita itu menolak pemberiannya begitu saja. Bahkan, tidak ada sebuah alasan yang diterima.


Entah bagaimana jalan pikir kekasih hatinya itu, yang ia tahu Jovana memang sedikit berbeda. Dan dia tidak ingin memaksa apalagi mempermasalahkannya.


"Jovana, ayo duduklah dulu. Jangan terlalu lama berdiri, nanti capek." Nathan menyadari interaksi awal di antara Jovana dan sang mama terlihat tidak terjalin dengan baik. Ia pun mencoba mencairkan suasana.


Mencetak gurat serius di muka, Nathan memandangi kedua orang tuanya secara bergantian. " Ma, Pa. Nathan berniat menikahi Jovana. Aku meminta restu kalian sebagai awal kebaikan dalam membangun hubungan rumah tangga kami."


"Siapapun pilihanmu, Papa akan tetap memberimu restu, Putraku."


Seperti di awal, respon baik memang lebih terlihat pada diri Thomi. Akan tetapi tidak dengan Rosa yang kini justru tengah sibuk menilai Jovana di dalam hati.


Dari penampilannya saja wanita ini terlihat dari kalangan orang biasa. Dia pasti sangat urakan dan nakal. Apa dia bisa menjadi istri yang baik untuk Nathan? Kalau dia menikah dengan putraku, tidak menutup kemungkinan cucuku kelak menurun sifat buruk dari ibunya.


"Mama, kok diam saja sih?" tanya Nathan kepada sang mama yang sempat hanyut ke dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


Rosa berdehem sinis sebelum bersuara. "Apa pekerjaan kedua orang tuamu?"


Pertanyaan tanpa basa-basi Rosa kian menciptakan suasana tidak nyaman di antara mereka. Dari situ, sudah bisa dinilai bahwa tingkat drajat menjadi poin penting jika Jovana ingin menjadi bagian keluarga Alexanders.


Nathan sampai tidak percaya jika sang mama bisa bersikap seperti itu. Bahkan Thomi juga enggan menampik bahwa tindakan istrinya kali ini tak patut ditiru.


"Saya yatim piatu, Tante. Selama ini saya tinggal bersama keluarga tiri," jawab Jovana berusaha tegar.


Siapa sangka, kalau ia tengah melawan sesak di dada. Mengingat perjalanan hidupnya selama ini tidaklah seindah nasib para wanita di luar sana.


"Ow ... yatim piatu," respon wanita tua itu seakan tidak ada yang menarik dari diri Jovana.


Beberapa saat suasana berselimut keheningan. Hingga seorang pembantu datang dengan membawa nampan berisi minuman hangat kembali mencairkan suasana.


"The Cuckoo's? Tante juga membaca novel itu?" Jovana terlihat antusias.


Sebuah buku tebal karya dari author J.K. Rowling yang tergeletak di sofa sebelah Rosa seketika menyita perhatian Jovana. Kecintaannya terhadap novel seolah mengalihkan rasa kecewanya.


"Kau juga suka baca novel?" Rosa bertanya seraya melempar tatapan menelisik.


Benar-benar lupa dengan suasana tidak menyenangkan yang sempat menyudutkannya, bibir Jovana melengkung membentuk senyuman mengembang. "Saya adalah penggila novel, Tante. Saya juga memiliki 5 seri novel Kriminal Cormoran Strike. Dan ini saya sedang berburu novel terbitan terbarunya."


"Benarkah? Ya Tuhan ... akhirnya aku bertemu dengan orang yang memiliki selera baca yang sama."


Senang? Sudah sudah pasti!


"Iya, Tante. Saya sangat suka cara detektif Strike memecahkan kasus kejahatan yang hadir bersama lika-liku kehidupan keduanya. Alur ceritanya sangat keren dan juga menegangkan."


"Dan juga banyak mengandung plot twist yang sulit ditebak," imbuh Rosa yang juga antusias.


"Benar sekali, Tante."


Rosa langsung beranjak dari sofa lalu menarik tangan Jovana. "Ayo ikut, Tante ingin menunjukkan kepadamu novel-novel koleksi Tante."


"Wah ... pasti akan sangat menyenangkan." Jovana berdiri dari duduknya dan Rosa langsung menggamit lengannya.


"Oya suamiku, cepat urus acara pernikahan mereka ya. Kalau bisa minggu ini malah semakin baik," ucap mamanya Nathan itu sebelum melenggang pergi, membawa Jovana menuju ke ruang bacanya.


"Sayang, malam ini kamu menginap di sini saja ya. 'Kan sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami."


Dari kejauhan terdengar Rosa terus mengajak berbicara Jovana. Kedua wanita itu bahkan mengabaikan para pria yang sedang tercengang dengan mulut menganga.

__ADS_1


"Putraku, bersiaplah calon istrimu itu akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama mama mertuanya daripada dengan suaminya," tutur Thomi yang masih belum lepas pandang dari punggung Rosa.


"Itu tidak akan terjadi, Pa."



Kaki tak beralas melangkah tergesa-gesa seolah tengah dikejar waktu. Di sela aksi kaburnya, Lana terus mengajak mata memindai lingkungan di sekitar, berharap keberadaannya tidak diketahui oleh para petugas. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang tengah menatapnya keheranan.


Bagaimana tidak keheranan? Setela baju pasien masih melekat di tuhuhnya.


Dari kejauhan, Lana melihat taksi yang sedang melaju dari berlawanan arah. Gegas ia melambaikan tangan hingga mobil tersebut berhenti.


"Pak antar saya ke perumahan pondok indah."


"Baik, Nyonya."


Tanpa menaruh curiga, si sopir melajukan kembali mobilnya, mengantar Lana ke alamat yang ditujukan. Di saat kendaraan melewati kawasan lengang pengguna jalan, wanita itu meminta mobil dihentikan.


"Apa yang kau lakukan?! Egh! Egh!" Si sopir tampak memekik seraya menahan sakit pada lehernya. "Lepaskan! Egh!" Ia berusaha memberontak di sela sisa napas yang mulai kritis.


"Mati saja kau!" Lana kian menarik kuat tali yang dibuat mencekik si sopir dari belakang.


Untuk beberapa saat, perlawanan sengit di dalam mobil berlangsung. Hingga akhrinya pria itu terkulai lemas tidak bernyawa akibat kehabisan pasokan oksigen di dalam paru-parunya.


Seolah tak takut ataupun merasa bersalah, Lana membuang jenazah ke pinggir jalan lalu membawa kabur mobil taksi.


"Aku tidak ingin menderita sendirian. Kalau aku tidak bahagia, buat apa mereka juga bahagia? Jika aku tidak bisa memilikinya, jangan harap wanita lain bisa hidup bahagia bersamanya."


"Mati saja! Mati! Mati! Mati!" Wanita itu menyeringai jahat. Jiwanya sudah terjebak ke pusaran gelombang hitam. Ia benar-benar sudah kehilangan semua sisi kewarasannya.





Bersambung~~


Insha Allah, 5 bab menuju ending. Please! Jangan tinggalkan Nofi. Kalau kalian pergi othornya menangis😭


Oya, Nofi heran deh. Jumlah viewer setiap harinya masih mencapai 5000 ke atas, tapi kenapa yang ngelike dikit banget. Bahkan mau dapat 100 like aja susah.

__ADS_1


Ya sudah, udah dini hari nih. Waktunya bubuk elegan🤣


Terima kasih untuk segala dukungan kalian ya🥰


__ADS_2