
Byur ...!
"Tuan Axton!" pekik Milah saat Axton melompat ke kolam tanpa aba-aba. Kecemasan kian memenuhi ruang dada kala mengingat bahwa tindakan Axton bisa membahayakan dirinya.
Ya Tuhan, kenapa dia bertindak nekat? Semoga semuanya baik-baik saja. Batin Milah di sela kerisuan hati.
Di sisi lain, Lana tertegun. Antara percaya atau tidak, ia mencoba mencerna perasaan yang bergelut di benak hati.
Aku tidak percaya, Axton mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Naora. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu. Padahal dia 'kan ... Ah! Itu tidak mungkin.
"Tuan Axton, Nak Naora! Ya Tuhan ...!" suara teriakan Milah, sontak mengusir lamunan Lana.
Axton muncul ke permukaan, membawa Naora yang sudah tak sadarkan diri ke tepian kolam.
Tidak mungkin. Axton masih terlihat baik-baik saja. Sekali lagi, Lana mengguman tak percaya.
"Bangunlah, Naora!" Axton memberi beberapa tepukan di kedua pipi Naora, berharap upayanya itu dapat menyadarkan si wanita.
Raut kekhawatiran terias jelas di muka tampannya, seolah kearoganan yang selalu membingkai rasa, terurai entah ke mana, tergantikan seutas sesal tak terkira.
Sungguh, Axton saat ini tengah berperang dengan ketakutan. Sepasang netra Naora yang masih setia mengatup, mengingatkan akan bayangan buruk masa kecil yang terus menghukumnya hingga saat ini.
Entah apakah itu ketukan dari relung hati. Raganya tergerak tanpa ia sadari. Melakukan sebuah tindakan yang tak pernah diduga selama ini. Axton mengikuti bisikan nurani.
Diperiksanya pernapasan Naora yang ternyata tak terasa sedikitpun hembusan hangat dari hidungnya. Lanjut memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan yang terkulai lemah itu, hasilnya pun sama. Axton tidak bisa menemukan denyut nadinya.
Diletakkan sepasang telapak tangan yang bertumpang tindih di atas dada Naora, lalu memberikan beberapa tekanan dengan hati-hati. Namun, belum juga menunjukkan akan tanda-tanda pergerakan.
Ketakutan kian mencekam. Axton seolah sedang berlomba dengan sang waktu. Nyawa seseorang tengah dipertaruhkan, menuntutnya untuk bergerak cepat. Tanpa berpikir panjang, ia membuka mulut Naora dan memberi napas buatan.
Deg!
Ada getaran aneh yang bertabuh. Gelenyar tak biasa menjalar cepat ke dalam kalbu. Sentuhan pada sepasang bibir mungil Naora, sukses menggelitik titik sensitif pada tubuh.
Lagi-lagi aku merasakannya. Sebenarnya perasaan apa ini?
Uhuk! Uhuk!
Axton menghentikan aksinya di kala Naora terbatuk dan mengeluarkan semua air yang memenuhi rongga paru-parunya.
"Nak Naora! Kau sudah sadar?" kelegaan langsung dirasa Milah saat Naora mulai membuka mata. "Tuan, sebaiknya kita langsung membawanya ke kamar," sarannya. Axton pun mengangguk sebagai jawaban.
"Kalungku ... aku harus mengambilnya." Naora menghalau tubuh Axton yang hendak menggendongnya. Kendati tubuhnya masih lemah.
Sebegitu berharganya kalung itu, hingga di saat kondisi tubuh yang masih tak berdaya, ia masih mementingkannya. Hal itu tentu membuat Axton geram. "Apa kau ingin mati?! Kau baru saja sadar!" hardiknya. Sebenarnya pria itu sangat khawatir setengah mati.
"Kalungku ...." Naora tak peduli, meski Axton membentaknya.
__ADS_1
"Dasar wanita keras kepala! Hah!" gerutu Axton, sebelum kembali menjeburkan diri ke dalam air. Selang beberapa waktu, ia mentas dengan sebuah kalung liontin di genggamannya. "Aku sudah menemukannya."
Perlahan Naora mencoba bangkit dari posisi terbaring, meski sangat kesulitan. Beruntung ada Milah yang langsung sigap membantunya. "Berikan kepadaku." Tangan lemahnya dibawa mengatung ke arah Axton.
"Tidak sekarang."
"Ahk! Axton." Naora terkesiap kala tubuhnya tiba-tiba terasa melayang ke udara, kaki tak lagi berpijak pada bumi, melainkan kini ia berada di dalam gendongan Axton.
"Bi Milah, tolong kau antar Lana ke dalam," pinta Axton kepada Milah.
Lana yang sedari tadi ternyata sudah berselimut kecemburuan karena melihat aksi heroik Axton untuk Naora merasa kecewa. Sikap peduli prianya kepada sang madu, merisaukan hatinya. Diam-diam ia merasa gusar, takut hak miliknya atas Axton akan terampas.
"Honey ... kau mau kemana? Kenapa tidak kau saja yang mengantarku?" Lana merengek. Tidak terima kalau sang suami lebih memperhatikan Naora.
"Lana, aku hanya akan mengantarnya ke kamar. Kau segeralah masuk ke dalam." Axton langsung melenggang pergi membawa Naora di dalam gendongannya. Ia bahkan tidak menghiraukan raut muka masam Lana yang jelas sangat terlihat.
Sementara Naora memilih pasrah. Lagian dia sangat tahu, suatu aksi penolakan atau pun pemberontakan adalah hal yang sia-sia dilakukan dengan kondisi tubuhnya yang lemah. Terus terang ia sangat membeci situasi seperti saat ini.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Kedua pasang mata Axton dan Naora tampak beberapa kali saling bertemu meski cepat-cepat mereka akhiri dengan mengalihkan pandangan ke arah lain. Menyibukkan diri dengan batinnya masing-masing.
Jangan sekarang. Harga diriku akan hancur jika pingsan di depannya. Diam-diam Axton mati-matian menahan rasa tidak nyaman pada tubuhnya.
Tubuhnya terasa sangat panas, bahkan mukanya terlihat sangat pucat. Apakah dia baik-baik saja? Naora ternyata menyadari bahwa ada yang salah pada diri pria yang sedang membopongnya tersebut.
"Jangan turunkan aku di atas ranjang, nanti seprainya bisa basah," sergah Naora saat Axton hendak merebahkan tubuhnya yang masih basah di atas peraduan.
"Permintaanmu ditolak." Dia tak mengindahkan perkataan Naora dan tetap meletakkan tubuh kecilnya di atas ranjang.
"Kau masih terlihat sangat lemah. Tetaplah di tempatmu."
"Aku ingin ke kamar mandi, ganti pakaian."
"Jangan mencari masalah, Naora. Tunggu para pelayan membantumu."
"Ayolah, aku cuma ingin ganti pakaianku dengan yang kering. Kenapa kau aneh sekali? Sejak kapan kau peduli kepadaku?"
"Kalau begitu jangan tutup pintu kamar mandinya."
Naora tercengang, bagaimana mungkin ia tidak menutup pintu ketika ingin berganti baju, sedangkan ada Axton di kamarnya. Ya ... meskipun pria itu berhak melihat seluruh lekuk tubuhnya karena sudah berstatus sebagai suaminya. Akan tetapi ... ceritanya 'kan berbeda.
"Pemintaanmu ditolak." Naora melempar balik perkataan Axton.
"Aku tidak menerima penolakan." Axton mendekati pintu kamar mandi dan membukanya. "Cepat ganti pakaian, aku akan mengawasimu."
Menyilang kedua tangan di depan dada sebagai bentuk perlindungan diri. Naora memasang tampang tak percaya. Bisa-bisanya lidah Axton berucap seperti itu dengan sangat ringan. Tanpa memikirkan perasaannya yang mungkin saja saat ini terserang oleh rasa malu.
"Daripada kau repot-repot mangawasiku berganti baju ada lebih baiknya kau kembali ke kamarmu. Bajumu juga basah kuyup." Naora mencoba mengalihkan niat Axton. Memberi saran yang sangat tepat baginya.
"Cepat masuk, Naora. Aku hanya tidak ingin kau kembali merepotkanku karena pingsan di kamar mandi," tukasnya dengan suara yang terdengar kian melemah.
__ADS_1
Naora terkesiap kala kembali menyadari gelagat aneh Axton. Pria itu tampak sedikit membungkuk, dengan tangan diajak berpegangan pada dinding untuk menahan beban tubuh.
"Axton, apa kau baik-baik saja?" kecemasan yang tiba-tiba melanda, menuntun diri Naora mendekati Axton. Teringat beberapa saat yang lalu ia merasakan suhu yang sangat panas pada tubuh si pria, di letakkan telapak tangan pada kening untuk memeriksanya. "Kau sangat panas, Axton!"
Dadaku sangat sesak. Aku tidak boleh tumbang di depannya. keluh Axton di dalam hati.
"Sepertinya kau sedang tidak sehat." Naora beberapa kali memberi sentuhan tangan pada muka Axton yang kini sudah basah karena keringat dingin.
"Jangan sentuh aku." Ditampiknya tangan kecil Naora dari mukanya.
"Hish! Aku hanya mencoba memeriksamu. Aku akan mengantarmu ke kamar Lana."
Bruk!
"Ahk! Axton!"
Belum sempat Naora melaksanakan niatnya, ia harus diserang kepanikan saat tubuh Axton ambruk dan terlihat kesulitan untuk bernapas. Gegas Naora berlari hingga batas pintu kamar.
"Bi Milah ... Ana ... siapa saja, tolong bantu aku," teriaknya mencari bantuan, lalu kembali mendekati dan bersimpuh di sebelah Axton.
"Kau kenapa? Jangan buat aku takut!"
Axton tak mampu menjawab. Sesak yang memenuhi rongga dada membuatnya sangat tak berdaya.
"Ya Tuhan ... apa yang harus lakukan? Dia terlihat kesulitan bernapas. Kenapa orang-orang lama sekali datangnya? Haruskah aku membantunya dengan napas buatan terlebih dahulu?" Naora berpikir sejenak.
"Baiklah, sepertinya aku memang harus melakukannya."
Berbekal ilmu seadanya, wanita berparas cantik itu langsung menempelkan bibirnya ke bibirnya Axton. Meniupkan banyak udara dari mulutnya.
"K-kau ...."
"Ee?" Naora terkesiap, lantas sedikit menjauhkan bibirnya. Hingga menyisakan sejengkal ruang jarak dengan muka Axton. "Ada apa? Kau sudah mendingan?"
"K-kau berani sekali menciumku, Naora ...," suaranya tersendat sesaat karena sesak yang masih menyergap dada. "K-kau harus bertanggung jawab."
"Ee? Tanggung jawab ap--." belum selesai Naora berucap, dia harus dibuat terkejut karena sebuah tangan besar menarik cepat tengkuk lehernya dan merasakan sepasang benda kenyal nan hangat mendarat di bibirnya.
Ya, Axton menciumnya. Bahkan di kondisi tubuhnya yang lemah, ia masih sempat memberi sebuah lum*tan lembut pada bibir ranum Naora. Dan ... ciumannya terhenti saat kesadarannya hilang.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Thor: Maaf ya kemarin nggak bisa up. Kepala barbie pusing ... dan kurang enak badan.
__ADS_1
Ditergen: Ternyata bisa sakit juga?
Thor:👊👊😤