Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Lagi Lagi Naora yang Mampu


__ADS_3


Di bawah guyuran lebatnya air langit, sebuah mobil sedan mewah tengah membelah pekatnya jalanan kota di malam hari. Kerisauan terus saja mengiringi hati. Mengingat seorang sahabat sedang bertarung batin dengan masa lalu suram yang menjerat dengan keji.


Pria itu, Nathan Alexanders. Satu-satunya sahabat yang sudah banyak tahu akan rahasia seluk beluk kekelaman Axton Sanders.


Ia kian menambah kecepatan laju kendaraan, hingga putaran roda berhenti di sebuah halaman luas milik sahabatnya. Tidak peduli dengan rintik hujan yang membasahi pundak, ia melangkah cepat masuk ke bangunan megah di depan mata.


Sangat tahu di mana Axton sedang berada sekarang, ia langsung menuntun kaki menuju ruang bawah tanah. Sebuah tempat yang menjadi langganan pelampiasan Axton saat gejolak batin merembah.


"Nak Nathan ...."


Langkah pria berparas teduh itu melambat saat suara panik Milah menyapa pendengarannya. Ia memutar leher ke samping, hingga sosok Milah yang berjalan mendekat masuk ke dalam pandangannya.


"Nak Nathan, syukurlah kamu segera datang--" Milah menjeda kalimat, mengatur napas yang masih tersengal-sengal.


"Iya, Bi. Aku harus segera menemui Axton, memastikan keadaannya." Nathan memindai wajah Milah dengan seksama. Melabuh tatapan penuh tanya. "Bi, apa ada hal lebih genting yang sedang terjadi?"


"Iya! Nak Naora sedang berada di ruangan yang sama dengan Tuan Axton. Pintu kamarnya terkunci. Bibi khawatir keselamatan Nak Naora terancam." Milah menjawab dengan sekali tarikan napas.


"APA?!"


Keterangan Milah sontak mengejutkan Nathan. Ia sangat tahu bagaimana gilanya Axton ketika gejolak jiwanya kambuh. Pria itu bahkan pernah harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis berupa jahitan luka di kepala karena kemarahan tak terkendali sahabatnya itu.


Suara derap langkah kaki menggema di sepanjang lorong menuju ruang bawah tanah. Sama halnya dengan Milah, kecemasan Nathan sungguh tak terbantah.


Naora ... semoga kau baik-baik saja.


"Kau sedang apa?" tanya Nathan kepada Lana yang baru saja tiba di tempat tujuan.


Wanita itu terkesiap kala Nathan menegurnya yang sedang asyik menempelkan telinga pada daun pintu kamar di mana Axton dan Naora berada. Ia seolah berupaya mengobati rasa penasarannya dengan mencari tahu melalui suara gerak-gerik di dalam sana.


"A-aku hanya ingin memastikan keadaan mereka di dalam. Sungguh, aku sangat khawatir sekarang." Ia memasang mimik wajah sarat akan perhatian.


"Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" tanya Nathan setelah gagal membuka pintu.


Tidak ada tanda-tanda kegaduhan dari dalam sana justru membuat pikiran buruk kian merangkak di pikiran. Apakah Naora terluka atau mungkin pingsan? Itu lah yang dikhawatirkannya.


"Katanya, pintu dikunci dari dalam oleh Nak Naora. Coba kau gebrak saja pintunya." Milah memberi keterangan disertai sebuah saran alternatif.


Namun, pria tampan itu ternyata tak langsung mengiyakan pendapat Milah. "Dari mana Bibi tahu kalau Naora yang mengunci pintunya dari dalam?"


"Nyonya Lana yang bilang, Nak Nathan."


"Itu tidak mungkin."


Ekspresi muka jengah seketika menyelinap di sela kepanikan yang melanda. Pria itu menggiring tampang dinginnya ke arah Lana.

__ADS_1


"Berikan kuncinya kepadaku."


Rupanya ia bisa dengan cepat menebak akal bulus Lana. Lagian, sedari awal mengenal istri sahabatnya itu, tidak pernah sekalipun ada penilaian positif tentang dirinya. Entahlah, hatinya memang selalu berkata bahwa wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah wanita baik-baik seperti Naora.


Keluar dari cara berpikir rasional, adakalanya manusia harus memperhatikan apa yang sebenarnya dirasakan oleh Hati. Memberi kesempatan bagi hati untuk berbicara dan memutuskan sesuatu.


"Cepat berikan kuncinya kepadaku!" sentak Nathan karena Lana masih saja terdiam seolah tak mengerti. Tepatnya ... tidak mau mengakui.


Sorot mata tajam pria itu membuat Lana bergidik seketika. Ia tidak menyangka, Nathan yang terbiasa tampil ramah dan bersahaja bisa mencetak garis-garis tak bersahabat pada paras tampannya.


Tidak ada satu pun bentuk sikap atapun lisan sangkalan dari Lana. Baginya, sikap Nathan yang baru seperti itu saja, sudah cukup menciutkan nyalinya. Pasrah, tangan akhirnya terulur ke arah pria itu dengan sebuah kunci di genggamannya.


Nathan berdecak kesal selaras dengan muka sinisnya. Ia menyabet cepat kunci itu lalu membuka pintu dengan segera.


"Axton! Naora!" teriak pria itu setelah kaki dibawa melewati bingkai pintu, tentunya diikuti oleh Milah dan Lana.


Hingga ketiga anak manusia itu dibuat terperangah. Pemandangan di depan mata seketika mengobati hati yang resah. Kepanikan pun akhirnya patah.


Naora sedang duduk dengan kaki menjulur ke depan.Tangannya tampak membelai lembut kepala Axton yang tengah terlelap di pangkuan.


Pangkuan Naora tepatnya.


Berbeda dengan kondisinya beberapa saat yang lalu, kini pria itu terlihat sangat damai di atas pangkuan Naora. Mungkin karena lelah setelah bertarung dengan gejolak batin, pria itu tampak tenang di tengah dengkuran halusnya.


"Sstt ...! Jangan membuatnya terbangun. Dia baru saja tertidur." Naora berbicara dengan sedikit berbisik. Nathan dan Milah langsung memahami.


Milah tak mampu membendung air mata keharuan saat ini. Dan Nathan tampak beberapa kali menghelas napas lega karena kecemasannya tidak terbukti. Sementara Lana, ia berkali-kali merutuki diri.


Ucapan Milah beberapa menit yang lalu, ternyata terbukti. Tindakan dan ucapannya menjadi bomerang bagi dirinya sendiri. Membuat posisinya sebagai Nyonya besar terancam kini.


Namun, gegas ia mencoba keluar dari pikiran buruk yang mungkin belum tentu terjadi. Dia sangat percaya, bahwa Axton mencintainya sepenuh hati. Menjadikan dia satu-satunya ratu di hati.


"Sekarang biar aku yang mengurus suamiku. kau bisa beristirahat, Naora." Lana mencoba mengambil alih posisi Naora, tapi aksinya langsung disergah Nathan.


"Aku tidak yakin kau bisa mengurusnya Lana. Tadi kau bahkan terkesan angkat tangan dan seolah menjadikan Naora tumbal."


"Aku tidak bermaksud seperti itu, Nathan. Tadi aku sangat ketakutan. Maka dari itu aku meminta bantuan Naora," sanggah Lana lalu kembali mengambil beberapa langkah, mendekati Axton. "Naora, biarkan aku menggantikanmu. Aku ini istrinya."


Wanita berparas bak barbei itu langsung memasang tampang jengah. Ucapan Lana seolah menunjukkan sebuah sikap di mana tidak ingin mengakui status yang tersemat pada diri Naora Alesha.


"Apa kau lupa? Aku juga istrinya, Lana. Bahkan aku seorang istri yang diakui."


"Nyonya, bukankah seharusnya anda mendukung mereka agar lebih harmonis?" sela Milah, melempar balik perkataan yang sempat Lana ucapkan, membuat wanita itu seketika mati gaya.


Merasa posisinya saat ini kian terpojokkan dan sangat tidak nyaman, akhrinya Lana memilih pergi dari sana, dengan menenteng kedongkolan di rongga dada.


"Naora apa kau baik-baik saja?" tanya Nathan setengah berbisk. Tidak ingin mengusik ketenangan Axton. Sedangkan Milah, ia memilih mendengarkan saja.

__ADS_1


Seutas senyuman manis menghiasi bibir. "Aku sangat baik Nathan. Kau bisa lihat sekarang."


"Syukurlah kalau begitu."


"Nathan, bisakah kalian meninggalkan aku dan Axton sendiri?" pinta Naora.


"Tapi, Naora ... apa kau sangat yakin bahwa Axton tidak kambuh lagi setelah kami pergi?"


Wanita itu mengangguk mantap. "Aku sangat yakin, Nathan."


"Baiklah kalau itu maumu."


Nathan melirik ke arah Milah sebagai isyarat dan hal itu tentu langsung dipahaminya. Mereka pun keluar kamar lalu menutup pintu, meninggalkan sepasang suami istri itu.


"Naora ...."


Si wanita seketika menggiring mukanya ke bawah. Mengamati gelagat Axton. "Ternyata dia baru saja memanggilku di dalam tidurnya. Apa dia sedang memimpikanku sekarang?" Ia terus berceloteh seraya mengamati wajah damai Axton. "Kalau sedang tidur, ia terlihat seperti bayi besar."


Helaan napas panjang terdengar dari bibir Naora. Ia tiba-tiba kembali teringat akan kondisi Axton yang terlampau menyedihkan baginya. "Besok aku harus bertanya langsung kepadanya."


Sementara itu di sudut rumah lainnya. Tepatnya di depan pintu rumah utama.


"Kenapa Bibi melihatku seperti itu?" Nathan keheranan.


"Aku tahu kau menyukai Nak Naora."


Nathan tersenyum kikuk seraya menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal. "Ia, aku sudah menyukainya bahkan sebelum tahu kalau dia istri dari sahabatku sendiri," akunya.


Milah seketika melempar tatapan sanksi, dan hal itu membuat Nathan tertawa hambar. "Kau tenang saja Bi, jiwa-jiwa pebinor tidak ada pada diriku. "Pria itu langsung memeluk tubuh Milah dari belakang. "Lagian jika aku tidak bisa bersama Naora, 'kan Masih ada Bi Milah yang bisa ku nikahi."


"Dasar anak kurang ajar!" Milah melayangkan getokan di kepala Nathan yang malah tergelak pecah.





Bersambung~~


Maaf ya ... Nofi belum bisa blas komentar kalian satu-satu. Namun percayalah, Nofi membaca komen kalian dengan perasaan senang. So, jangan lelah untuk meninggalkan komen ya.. juga likenya...


Maaf jika banyak typo, nulis sambil nahan ngantuk soalnya.-


Terima kasih kawan..


Wo ai nimen.

__ADS_1


__ADS_2