Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Infantile


__ADS_3


Sakit! Rasa panas karena kulit yang terbakar nyatanya tak mengalahkan rasa sakit di hati. Andai yang melukainya bukan suaminya sendiri mungkin gores lukanya tak sedalam ini. Ingin rasanya ia menangis histeris dan berlari. Akan tetapi keinginannya itu harus dipendamnya dalam-dalam hingga terpatri.


"Honey ... redamkan emosimu. Aku tidak apa-apa." Lana mencoba menenangkan Axton.


"Dia memang harus diberi pelajaran untuk kesalahan yang diperbuat!"


"Nak Naora, apa kau baik-baik saja?" sementara Milah menaruh kecemasan pada istri ke-dua Tuan Mudanya yang masih tertunduk dan tenggelam dalam kebisuan, menggigit kuat bibir tak berdosanya guna menyergap isakan yang bisa meledak kapan saja.


"Biarkan dia Bi!" sergah Axton, saat tangan Milah sempat terulur, berniat membantu Naora.


Sungguh, Milah tak tahan melihat kondisi Naora yang tampak menyedihkan, seakan sebentang naluri seorang Ibu mengundang keibaan yang tak terkira, hingga titik-titik air mata pun mulai meninggalkan jejak di muka.


"Tapi Nak Naora, dia--," kalimat Milah terpotong ketika suara lembut Naora tiba-tiba terdengar.


"Kau seperti seorang infantile. Seorang pria dewasa yang bersikap seperti anak-anak, belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk." Kalimat cibiran sekaligus sindiran pedas Naora sukses menyentil amarah Axton Sanders.


"Beraninya kau?!" Axton berang, tapi tak menyurutkan keberanian Naora.


"Apa kau tidak berpikir dulu sebelum membuang makanan yang sudah dimasak dengan sepenuh hati ini? Masih banyak orang yang tidak bisa menikmati sarapan pagi karena mereka tak seberuntung kamu. Dan juga masih banyak perut keroncongan di luar sana yang harus menahan lapar karena tidak mampu membeli makanan. Tapi--," ucapan Naoran terjeda, mencoba menelan emosi yang hampir saja meluap dari pucuk ubun-ubun.


Mata cantiknya menciptakan sebuah tatapan tajam siap menghujam. Naora benar-benar tidak ingin menunjukkan sisi kelemahannya di depan Axton. Tidak akan pernah! Selama pria itu masih berdiri tegap, di puncak tonggak kesombongan, pantang baginya menunjukkan sisi kelembutannya.


"Tapi di sini kau malah menyia-nyiakan nikmat yang diberikan Tuhan hanya demi menuruti kearogananmu. Belajarlah menghargai sesuatu yang kau miliki karena orang lain belum tentu bisa memilikinya juga, Axton Sander!" imbuh Naora kembali, memberi penekanan kuat di akhir kalimatnya.


"Bukan salahku jika nasib orang-orang di luar sana tidak seberuntung diriku!" sarkas Axton dengan sangat pongahnya.


"Jangan sekali-kali mengajak bibirmu itu untuk menasehatiku seperti seorang wanita tua. Dan terserah aku juga, ingin menghargai yang kumiliki atau tidak!" sambung pria itu kembali, menampik keras tuturan dari Naora yang sebenarnya mengandung makna beharga.


Naora tersenyum miris. Baru kali ini ia berhadapan dengan makhluk berhati namun tak memiliki rasa empati. "Jangan menangis seperti bayi jika suatu saat kau kehilangan sesuatu yang ternyata sangat beharga bagimu."


Memang, sesuatu yang semula dipandang sebelah mata dan bahkan dianggap tak berharga, selayaknya hamparan gersang gurun sahara, akan mampu menjadi genangan oase tempat pelepas dahaga kerinduan saat tak lagi ada di pandangan mata.


Itulah golongan manusia yang sudah dibutakan oleh kemudahan duniawi. Menutup hati dengan kesombongan hakiki, hingga lupa untuk bersyukur setiap hari.


Miris!


Tidak berhenti di situ saja. Naora masih gencar melayangkan argumen sebagai bentuk kekesalannya. "Kau tidak akan bisa menuntutku hanya karena istrimu itu tersedak sup yang aku masak. Tapi aku bisa leluasa menuntutmu karena kau telah melakukan tindakan KDRT. Aku yakin kau adalah seorang pebisnis cerdas yang tidak buta hukum, Axton."


Sebuah seringaian tiba-tiba menghiasi muka merah Axton. "Aku tidak buta hukum tapi aku bisa membeli hukum di negara ini dengan mudah."


"Honey ... Naora ... aku mohon, kalian berhentilah berdebat. Ini semua memang salahku. Aku minta maaf ya." Lana mencoba menengahi sepasang manusia yang bagaikan anjing dan kucing itu. Membebaskan air dari pelupuk netra, menyesali keberadaannya yang menjadi sumber pertikaian.

__ADS_1


Naora berdecak lidah, bersamaan dengan senyuman meledek. "Lihatlah, Istri tercintamu itu bahkan sudah terlihat baik-baik saja sekarang. Dia tidak akan mati hanya karena memakan bubuk merica, kecuali ia menelan bulat-bulat botolnya. Hah! Yang benar saja."


Diyakini darah di otaknya akan semakin mendidih dan bisa meledak kapan saja jika tetap berada di dekat Axton, Naora beranjak dari duduk dan memilih pergi meninggalkan ruang makan. Lagian dia juga sudah sangat risih dengan baju kotornya karena kuah sup yang disiram ke tubuhnya.


"Hiish! Pagi ini sungguh menguras kesabaranku. Rasanya ingin sekali aku mencabut satu persatu rambutnya hingga botak! Aku sampai belum sempat mengisi penuh perutku. Jadi kasihan -kan dengan cacing-cacing di perutku? Dasar Axton menyebalkan! Dia sesosok terpandang tapi tingkah lakunya seperti berandalan psycho." Naora terus menggerundel di sepanjang kaki melangkah menuju kamarnya.


Sementara Axton yang juga masih tersulut kekesalan akhirnya memilih menuruti keinginan Lana untuk mengganti santapan paginya yang telah hancur dengan mendatangi sebuah restauran mewah.


Sebenarnya, Axton agak keberatan jika harus meninggalkan pekerjaannya pada hari aktif kerja. Akan tetapi, ia selalu tak kuasa untuk menolak jika Lana sudah merengek manja seperti anak kecil dan tentunya sangat memusingkan kepala.


Sedangkan Milah, tampak membatu dengan tatapan sendu. Menyayangkan sikap kasar Axton kepada Naora. Aku sangat merindukan Axton yang dulu. Ya Tuhan, apa karena beban berat yang dipikulnya selama ini membuat ia berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda? batin Mila mengadu.


Setelah selesai dengan ritual pengisian perut di sebuah restauran, Axton berniat menyenangkan Lana dengan membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan mall terbesar di kota mereka.


"Honey ... bagaimana menurutmu dengan baju ini?" Lana menempelkan sebuah dress dengan panjang sebatas lutut di badannya.


"Bagus."


"Kalau yang ini?" kini Lana menunjukkan model mini dress yang terlihat seperti kekurangan bahan.


"Itu juga bagus, Lana," ucap Axton, Lana pun tersenyum.


"Aku juga ingin membelikan Naora beberapa baju juga, Honey." Wanita itu menyabet dua dress di antara dress lainnya yang tergantung.


"Jangan seperti itu, Honey. Aku hanya ingin menciptakan suatu hubungan baik dengannya. Lagian aku juga merasa bersalah karena kejadian tadi pagi. Nggak apa-apa -kan?" tutur Lana.


"Terserah kamu." Axton mata melirik ke arah dua sexy mini dress di tangan Lana yang rencananya akan diberikan kepada Naora. Tiba-tiba bayangan tubuh seksi berbalut baju tidur tipis istri ke-duanya itu kembali menari-menari di dalam otak. "Jangan beri dia pakaian seksi, Lana. Kasih dia jubah saja. Atau daster yang panjangnya sampai menyapu lantai."


"Tapi Honey--"


"Aku tidak suka dibantah," pungkas Axton.


"Baiklah."


Setelah selesai dengan berbelanja memborong banyak barang mewah, seperti baju, tas, sepatu, dan perhiasan, sepasang suami istri itu keluar dari gedung mall. Di jalan, Lana juga sempat meminta Axton untuk berhenti di sebuah apotik untuk membelikan obat luka. Mengingat sup yang ditumpahkan ke tubuh Naora masih mengebulkan asap karena panas, sudah pasti kulitnya terluka dan harus diobati.


Di salah satu sudut kota lainnya. Naora baru saja keluar dari sebuah gedung pencakar langit yang merupakan perusahaan besar di Ibu Kota untuk melakukan interview kerja.


Sepasang kaki berbalut flat shoes-nya menapaki trotoar di ruas jalan, membiarkan panasnya terik matahari menyapu muka pipinya yang sudah terlihat sedikit memerah.


"Naora, kamu mau kemana?" tubuh Naora terjingkat saat seseorang menepuk punggungnya dari belakang. Ia memutar tumit untuk mencari tahu siapa orang tersebut.


Muka penasarannya seketika berubah datar di kala sepasang anak manusia yang selalu menempel seperti stiker dinding tengah berdiri di belakangnya. "Kalian siapa?" jawabnya dengan malas dan seenak lidahnya. Dia berlagak sok nggak kenal.

__ADS_1


Naora ... Naora. Ada-ada saja.


Lana terkikik karena mendengar ucapan yang dianggap seperti mengajak bercanda. Padahal dari ekspresi muka dan nada suara Naora, sama sekali tak terlihat seperti gelagat yang dia kira. "Apa yang kamu katakan, Naora?"


"Dia sepertinya orang gila yang amnesia, Lana. Sebaiknya tinggalkan saja dia," cemooh Axton yang selalu menyelipkan kata-kata kasar untuk Naora.


"Honey ... jangan berbicara seperti itu," tegur Lana lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah Naora. "Naora, apa kau ingin pulang? Kalau begitu ikutlah bersama kita. Aku dan suamiku juga dalam perjalanan pulang."


Tutur katanya terdengar sangat manis tapi juga sangat menyebalkan. Axton itu suami bersama. Itu yang benar! Naora menggerutu di dalam hati. Kesal karena Lana seolah menekankan sebuah kata 'suamiku' untuk mempertegas bahwa Axton hanya miliknya seorang.


Di sisi lain, ternyata diam-diam sepasang mata Axton mengamati kedua tangan Naora yang terlihat memerah. Apa supnya tadi masih sangat panas? Apa aku sudah sangat keterlaluan? Hah! Ini sungguh membuatku merasa tidak nyaman.


"Aku memang akan pulang, tapi aku memilih naik taksi saja, terima kasih," tolak Naora.


"Masuklah ke dalam mobil sekarang!" sela Axton. Entah itu sebagai bentuk rasa peduli kepada istri ke-duanya atau hanya sebuah titah yang harus dikerjakan.


Sayangnya, Naora memiliki asumsi lain. "Kalau kau berniat menjadikan aku sebagai sopirmu lagi, maaf aku tidak ingin membuat istrimu mual dan muntah di dalam mobil."


Bertepatan di akhir kalimatnya, Naora melambaikan tangan ke arah jalan, hingga sebuah taksi berhenti di depannya. Pergi meninggalkan Axton dan Lana bersama mobil yang membawanya pergi.


Aku sangat benci penolakan. Dan dia terang-terangan berani menolak niat baikku.


APA?! Niat baik kata Axton? Apa kalian mempercayainya?





Bersambung~~


Ditergen: Thor.


Thor: Hm?!


Ditergen: Nggak jadi, muka lu keliatan sensi, dah ngeri duluan gue.


Thor: 👿


Makasih ya, kalian masih setia memberi dukungan ke karyaku lombaku ini ... Jangan lupa tampol tombol like dan tinggalkan komen cantik🥰


Syukur-syukur dapat sumbangan Gift dan Vote dari kalian, pasti akan Nofi terima dengan ucapan Alhamdulilah🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2