Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Perasaan Tidak Nyaman


__ADS_3


Sepasang kaki gegas diajak menuruni kendaraan lalu melangkah menuju bangunan mewah yang seolah sudah menyambut kedatangannya. Rasa tidak sabar membuat ia ingin segera memeluk tubuh pria yang selama ini sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


"Naora, berjalanlah pelan-pelan. Kau sedang hamil. Harus lebih berhati-hati." Axton menarik tangah istrinya lalu dibawa masuk ke dalam lingkaran tangan besarnya. Melihat Naora berjalan dengan tergesa-gesa tentu membuat calon ayah muda itu cemas dan tidak mungkin membiarkannya begitu saja.


"Aku sudah sangat merindukan daddy, Axton." Entah mengapa, dari kemarin hatiku juga merasa tidak nyaman. Aku ingin segera memastikan keadaannya."


Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Naora. Itulah sebabnya aku meminta Daddy untuk tinggal bersama kita lebih lama. Suara hati kecil Axton berbisik.


"Tapi berjalanlah pelan-pelan." Axton menuntun tubuh istrinya menuju ke ruang baca. Pria itu sangat yakin Edrich berada di sana.


Ternyata benar perkiraan Axton. Edrich saat ini sedang berduduk santai di sofa baca dengan sebuah buku tebal di tangannya.


"Daddy, aku sangat merindukanmu." Naora langsung berhamburan ke pelukan Edrich. Sedetik kemudian ia memandangi wajah tua tapi masih terlihat tampan di hadapannya. "Daddy sehat-sehat saja 'kan?" tanyanya menelisik.


"Tidak seperti biasanya kau seperti ini, Naora? Kau bertingkah seolah kita baru saja berpisah dalam waktu yang sangat lama. Dan lihatlah,


Daddy juga sehat-sehat saja seperti yang kau lihat."


"Tidak ada yang salah dengan tingkahku ini, Dad. Syukurlah kalau Daddy baik-baik saja." Naora seolah terlihat lega, tapi tidak dengan hatinya.


Edrich mengulas senyum di bibir, tangan dibawa mengusap sayang pucuk kepala Naora seiring dengan tatapan hangat. "Tidak terasa, putri kesayangan Daddy ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu."


"Itu berkat putramu ini, Dad. Harusnya kau berterima kasih kepadaku." Axton tiba-tiba menyela.


Edrich seketika menghunus tatapan sinis ke arah putra semata wayangnya itu. "Dasar bocah bodoh! Kalau bukan karena Daddymu yang lebih peka, kau tidak akan tahu kalau istrimu ini sedang mengandung cucuku!"


Axton langsung mengambil posisi siap menangkis saat Edrich hendak melemparinya buku. Dilirik sang daddy dari cela di antara kedua tangan yang menyilang di depan muka, ketika ia tidak segera merasakan benda keras mendarat di tubuhnya. Perlahan diturunkan tangan karena sudah dirasa aman dari serangan.


"Ngomong-ngomong dari mana Daddy bisa tahu kalau istriku tengah hamil? Padahal Naora sendiri tidak menyadarinya." Axton melontarkan tanya seraya mengambil posisi duduk di sebelah Edrich.

__ADS_1


"Itu karena Daddy dulu juga mengalami ciri-ciri yang sama sepertimu saat Areum mengandung dirimu," terang Edrich.


"Dad, apakah dulu kau juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat ibu mengandungku?"


"Percayalah. Waktu itu Daddy merasa sudah menjadi pria paling beruntung dan bahagia di dunia."


"Aku juga merasakan hal yang sama seperti Daddy saat ini," ucap Axton seraya melempar pandangan penuh makna ke Naora.


"Kemarilah." Edrich merentangkan sebelah tangan ke arah Axton agar lebih mendekat dengannya.


Ada rasa hangat yang menjalar di dalam hati saat sang daddy mengusap kepalanya. Bagi Axton, tindakan sederhana seperti ini sangat cukup membuatnya merasa berharga. Memang sudah sangat lama sekali ia tidak merasakan belaian lembut tangan pria yang selalu diharapkan uluran kasih sayangnya. Suasana seperti ini sudah sangat lama ia damba.


Sementara Naora, titik-titik embun pun mulai membingkai mata karena terharu. Hati siapa yang tidak terenyuh ketika melihat pemandangan langka di antara kedua pria yang disayanginya itu.


"Daddy ingin menepati janjiku kepadamu, putraku. Daddy takut Tuhan keburu mengambil nyawaku sebelum aku menepati janjiku itu."


Kedua anak muda yang sebelumnya hanyut dalam suasana haru seketika merasakan denyutan pilu di dada. Sungguh, mereka sangat tidak nyaman akan perkataan Edrich yang baru saja berdenging ke dalam telinga.


"Iya. Mumpung besok hari off kerja, kita pergi memancing."


"Tapi tidak seharusnya Daddy berkata seperti tadi." Sang putra melempar kalimat protes lengkap dengan muka masamnya.


"Aku juga sangat tidak suka mendengarnya, Dad." Naora pun turut melayangkan sebuah protes.


"Semua manusia juga akan meninggal dunia fana ini 'kan? Jadi kenapa kalian bereaksi seperti itu?" Edrich mencoba memberi pengertian.


Ucapan Edrich nyatanya tak mampu membuat mengembalikan suasana hati Axton seperti semula. "Terserah Daddy saja." Pria itu beranjak dari duduk, tapi tak semerta-merta melangkah pergi. "Kita baru saja bisa berkumpul setelah sekian lama Daddy menelantarkanku, apakah sekarang kau juga ingin cepat-cepat meninggalkanku?"


Tanpa menunggu respon lebih banyak lagi dari lawan bicara, Axton berniat melenggang pergi begitu aja. Namun, belum sampai langkahnya meninggalkan ruangan, pria itu kembali memutar tumit lalu menarik Naora agar ikut dengannya.


"Kau jangan jauh-jauh dariku, Naora."

__ADS_1


Edrich mendengus geli seraya memandang punggung sang putra yang kian mengecil di pandangan mata. "Aku seperti melihat potret diriku sendiri saat masih muda."



Di rutan tempat para tersangka kriminal di hukum, salah satu tahanan tengah dilanda kerisauan. Berkali-kali ia raup udara guna menepis rasa tidak nyaman, tapi bayang-bayang akan keselamatan calon buah hati seolah tak mengijinkannya untuk mendapatkan ketenangan.


"Tenanglah, Stefan. Sebaiknya kau banyak berdoa agar istri dan calon bayimu baik-baik saja." Salah satu penghuni rutan tampak menenangkan Stefan yang sedang meringkuk di sudut ruangan seraya menangis dalam bungkam.


Dua hari yang lalu, Stefan menerima kabar buruk dari seorang sipir tentang kondisi Lana yang mengalami pendarahan akibat perkelahian. Kendati bayi yang dikandung masih bisa terselamatkan, tapi istrinya itu harus dirawat di rumah sakit karena hingga sekarang belum juga sadarkan diri.


"Aku lebih memikirkan nasib calon bayiku sekarang. Kata dokter kondisi calon bayiku lemah. Jika sampai terjadi apa-apa dengannya, diriku sendirilah yang paling aku salahkan karena tak mampu melindungi dan menjadi calon ayah yang baik."


Sementara itu, di salah satu kamar perawatan rumah sakit, seorang dokter di dampingi seorang petugas polisi sedang memeriksa kondisi Lana yang belum juga membuka mata. Mereka meninggalkan ruangan setelah selesai memantau perkembangan kesehatan si janin di dalam kandungannya.


Bertepatan dengan menghilangnya tubuh kedua petugas berbeda profesi itu dari balik pintu, sepasang mata Lana perlahan terbuka seiring seringaian licik yang menghiasi muka.


Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaanku.





Bersambung~~


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen setelah membaca ya. Vote dan gift juga boleh banget disumbangkan ke karyaku ini agar tidak sepi, sesepi hatiku yang sedang berada di perantauan. Haha ...!


Terima kasih🥰


 

__ADS_1


__ADS_2