Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Nasib Lana


__ADS_3


Suara hati terus berbisik, seolah menuntut kaki agar berjalan mendekat. Hingga jarak kian tersikat, memudahkan mata memandang lekat. Perlahan rasa iba yang mulai merambat, menuntun lidah untuk meyapa hingga membuat Jovana tercekat.


"Jovana? Kau baik-baik saja?" sapa Nathan sekaligus melontarkan pertanyaan sebagai bentuk perhatian.


Deg!


Jantung tiba-tiba berdenyut dalam menyisakan perih saat mendengar suara Nathan menyebut namanya. Gegas diseka bulir-bulir air mata yang membasahi pipi. Jovana lanjut memutar leher seraya melempar tatapan sinis ke arah Nathan.


"Bisa nggak sih tidak membuatku kaget?! Kau seperti setan saja kalau jalan tidak ada suaranya!" sembur Jovana karena kesal.


Astaga ... cewek ini memiliki kegalakan yang paripurna. Harusnya diberi rekor muri. Perasaan sejak pertama bertemu belum pernah ia berkata lembut kepadaku. Dia itu seperti singa betina yang sedang PMS, isinya marah-marah terus.


Nathan menggerutu di dalam hati. Meskipun begitu, ia masih berupaya menahan emosi. Bagaimanapun juga, pria itu tidak ingin membuat seorang wanita tersakiti.


"Maaf, aku tidak bermaksud." Nathan mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Jovana. Dipandang paras wanita itu yang masih berhiaskan jejak-jejak air mata. "Kau kenapa?"


"Memangnya aku kenapa?" Si wanita malah balik bertanya. Sebenarnya dia berniat mengalihkan topik saja.


"Kau menangis," jawab Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Jovana.


Kalau sedang menangis seperti sekarang, aku seperti bisa melihat sisi kelembutannya. Dan kenapa saat seperti ini dia malah terlihat ... cantik? Ah! Lagi-lagi aku berkata ngawur. Tapi ... aku hanya memujinya.Tidak ada *yang salah den*gan hal ini bukan?


"Sudah tahu tapi masih pakek nanya!" sahut Jovana ketus.


Nathan berusaha menghela napas kesabaran. "Yang ingin aku tanyakan kenapa kau menangis?"


"Bukan urusanmu!"


"Hei! Kenapa kau selalu bersikap tak bersahabat denganku?" Pria itu menarik tangan Jovana yang sudah berdiri dari duduknya. "Apa aku pernah ada salah kepadamu di masa lalu? Soalnya jika masalah kemarin malam menjadi alasanmu bersikap seperti ini, aku rasa itu tidak mungkin."


Semenjak awal bertemu dengannya, aku merasa sikapnya kepadaku seperti seseorang yang sedang menaruh kekecewaan besar. Terus terang, pertama kali mendengar namanya aku merasa tidak asing.


"Lepaskan tanganmu kalau tidak ingin aku menghajarmu!"


"Kau harus jawab pertanyaanku dulu, Jovana. Baru aku akan melepasmu."


Aksi tarik-menarikpun tak terhindarkan. Jovana yang terus memberontak, sedangkan Nathan masih enggan melepaskan.


"Aahk!" Wanita itu memekik saat sebuah tarikan kuat membawa tubuhnya mendarat ke pangkuan si pria.


Selayaknya potongan adegan di film bergendre romansa cinta romantis. Sepasang anak manusia itu seketika membatu dalam posisi yang terkesan manis. Kedua jantung mereka saling beradu cepat seolah berlomba menuju garis finish. Kuncian pandang pun tak mampu ditepis.


Aroma parfum di tubuhnya seperti tidak asing. Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya? Tapi di mana? Batin Nathan bergejolak.


Aku sangat membencimu, pria brengsek! Jovana pun sibuk dengan jeritan hatinya.

__ADS_1


"Lepaskan!" Jovana menepis tangan Nathan dan langsung loncat dari pangkuannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud." Nathan merasa tidak enak hati.


"Aku sudah bosan mendengar perkataan maafmu itu!"


"Aku minta maaf salah, tidak minta maaf apa lagi?" keluh pria itu, merasa apa yang dilakukan tidak ada benarnya.


"Nona Joe?" Suara Wildan yang tiba-tiba terdengar seketika menarik perhatian kedua penghuni bawah pohon mangga yang sempat berseteru tadi.


Jovana gegas mengatur emosinya yang sempat meletup-letup di rongga dada. Sedangkan Nathan seketika memasang tampang masam karena merasa terganggu oleh keberadaan Wildan.


"Iya, ada apa?" tanya wanita itu.


Berbeda saat bersama Nathan. Kali ini suara Jovana terkesan lebih ramah saat berbicara dengan Wildan. Tentu saja pemandangan seperti itu menciptakan sebuah kecemburuan.


Apa aku cemburu? Hehe .... Meski tetap ada kemungkinan hati ini kembali jatuh cinta lagi, tapi tidak mungkin bisa secepat itu untuk move on. Aku hanya merasa tidak mendapatkan keadilan saja dari sikap Jovana.


"Nona bolehkan aku meminta setiap data diri anak-anak didikmu?"


"Untuk apa?" Joe menyelidik.


Sesaat Wildan melirik ke arah pria yang dianggap rivalnya itu, lalu sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Jovana dan mulai membisikan sesuatu. Tindakannya barusan tentu saja membuat Nathan diserang rasa ingin tahu.


"Benarkah itu, Wildan?" Jovana seketika menunjukkan rasa senang. Binar mukanya juga terlihat lebih cerah. Apa yang baru saja dibisikkan pria itu bagaikan kabar gembira baginya.


Ibarat kata, pria itu sedang menyelam sambil minum air saat ini. Mana mungkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya kini? Diam-diam, Wildan menyeringai puas di dalam hati saat melihat reaksi muka masam Nathan bak perasan air jeruk nipis yang bikin ngilu gigi.


Sialan! Wildan rupanya mengajak perang dingin. Tapi aku rasa aku tidak perlu menanggapinya. Toh, aku juga tidak ada perasaan spesial terhadap Jovana. Jika ia ingin mendekati wanita itu, tidak ada urusannya denganku. Hati kecil Nathan terus saja berceloteh panjang kali lebar hingga menemukan luas persegi panjang.


"Mana mungkin aku keberatan? Baiklah, kita ke rumah kepala desa sekarang."


"Ok."


Kedua manusia itu mulai mengayun kaki bersamaan pergi ke tempat tujuan, meninggalkan Nathan yang sedari tadi hanya dianggap makhluk tak kasat mata. Kesal? Tentu saja. Pasalnya, pria itu masih memiliki urusan dengan Jovana. Akan tetapi kedatangan Wildan mengacaukan semuanya.


"Ahk!" Jovana terkesiap dan reflek menangkap tubuh Wildan yang menimpanya.


"Maaf, Nona Joe, tadi kakiku kesandung batu hingga menabrakmu," jelas wildan.


Nathan yang masih setia mengamati punggung mereka mendadak ingin muntah di tempat karena melihat Wildan yang mulai menggencarkan modus pendekatannya.


"Ck! Aku yang melihatnya saja merasa sangat malu. Bisa-bisanya ia menggunakan modus murahan seperti itu?" Nathan berdecak jengah.



“Menyingkirlah!” Seorang napi wanita berbadan besar mendorong tubuh teman satu selnya hingga tersungkur di lantai.

__ADS_1


“Aaahk! Kurang ajar! Siapa kau hingga berani sok berkuasa di sini?! Dasar babi jallang!” umpat salah seorang napi yang selalu menjadi bahan bulan-bulanan oleh teman satu selnya. Dia adalah Lana.


Perlawanan Lana nyatanya sukses memancing amarah si napi berbadan besar itu. “Kau tidak takut mati rupanya.” Ia langsung menjambak rambut panjang Lana.


“Ahhkk! Lepaskan tangan kotormu itu dari rambutku! Aku sangat jijik denganmu!” Lana tampak memberontak sembari menahan sensasi sakit karena rambutnya ditarik dengan kuat.


“Aku baru akan melepaskanmu setelah mencium kakiku.” Napi wanita itu menekan kepala Lana agar mencium kakinya.


"Tidak sudi! Aku akan buat kau menyesal dan bersujud di kakiku!"


Ucapan Lana yang terlampau berani itu sukses memancing gelak tawa para napi lainnya. Bagi mereka, mantan istri pertama Axton itu tidak lebih dari bahan olokan belaka.


"Aaarrg ...! Sialan kau hah! Arrrggg ...! Lepaskan!" si napi berbada besae itu meraung kesakitan saat Lana menggigit pahanya dengan sangat ganas.


Menemukan cela kelengahan lawannya, Lana langsung membebaskan diri dari cengekeraman tangan si napi lalu balik menjambak rambutnya.


Plak!


Plak!


Plak!


Tidak berhenti dari situ saja, Lana juga beberapa kali menghujani muka si napi dengan tamparan keras. Didorong tubuh besar itu hingga muka memcium sebelah kakinya. Para napi lainnya yang menyadari temannya dalam bahaya, gegas melerai perseteruan di antara mereka.


"Lepaskan! Beranianya kalian bermain keroyok?! Dasar pengcut!" Lana kian membrontak saat kedua orang napi mencekal sepasang tangannya yang masih mengerat erat rambut keriting milik musuhnyan


"Rasakan ini!"


Bug !


Bug!


Tidak pandang bulu, si napi itu menampar dan meninju perut Lana.


"Aahk ...! Sakit sekali." Lana merintih kesakitan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


"Hei! Coba kau lihat! Ini gawat. Dia sampai berdarah," ucap salah napi lainnya yang kini tampak cemas. Bahkan darah yang mengalir di antara kedua paha Lana kian membuatnya ketakutan.





Bersambung~~


Makin hari makin sepi aja ni karya. Padahal sudah menjelang tamat loh ini ...😩

__ADS_1


__ADS_2