
Di kantor Polres Jakarta. Petugas kepolisian telah berhasil meringkuk preman bertato beserta komplotannya. Mereka disinyalir sebagai tersangka kasus tindak kejahatan yang mengancam keselamatan Axton dan Naora.
Namun, pihak penyidik sedikit mengalami kendala saat melaksanakan proses interogasi kepada para tersangka. Tidak ada satupun dari mereka yang bersedia membuka mulut tentang siapa otak kejahatan utama. Entah berapa banyak bayaran yang diterima, hingga rela memberi sepenuhnya royalitas mereka kepada bosnya.
"Kami sudah memiliki cukup bukti untuk menahan kalian, jadi ini adalah satu kesempatan kalian untuk menjelaskan perbuatan kalian dan memberi tahu kami siapa orang yang sudah membayar kalian." Seorang penyidik masih terus mendesak para tersangka untuk mengakui. Namun mulut mereka masih tertutup rapat.
Kendati, Lana terbukti pernah melakukan transaksi pengiriman uang kepada salah satu preman itu, tapi hal itu belum cukup kuat untuk dijadikan bukti utama bahwa wanita itu adalah otak dari modus kejahatan mereka. Hingga, Kapolres kembali menurunkan surat panggilan saksi yang ditujukan kepada Lana.
Namun, belum sampai kaki para petugas melangkah keluar kantor, Nathan tiba-tiba kembali datang bersama dua orang di belakangnya.
"Tunggu, saya membawa dua orang saksi yang bisa memberi keterangan terpercaya dan bukti kuat," ucap pria berparas teduh itu dengan keyakinan totalitas.
Perlahan seseorang yang sedari berdiri seraya tertunduk di belakang Nathan melangkah maju menghadap beberapa petugas di sana. Dengan bibir bergetar ia mulai bersuara.
"Saya ingin memberi keterangan dan sekaligus mengakui perbuatan saya," ucap pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Stefan. Sesaat ia tampak melirik ke arah Milah seolah sedang mencari sumber keberanian.
…
"Maaf, Nyonya. Pihak bank tidak bisa mencairkan cek milik anda," terang seorang petugas bank bagian front liner seraya mengembalikan lembaran cek kepada Lana.
"Ini tidak mungkin. Kenapa tidak bisa?" garis-garis emosi seketika menghiasi wajah Lana.
"Karena penarikkan dilakukan melewati tanggal efektif. Dengan kata lain tenggang waktu pengunjukan sudah berakhir, Nyonya."
Bukankah cek ini belum lama dibuat? Kenapa cepat sekali jatuh tempo? Sialan! Sepertinya Axton telah menipuku. Pantas saja waktu itu dia bilang kepadaku untuk tidak terlalu lama menunda jika tak ingin menyesal.
Lana berdecak kesal sebelum akhirnya melengos pergi meninggalkan bangunan bank dengan perasaan dongkol. Ia berniat langsung menemui Axton di rumah sakit untuk mempertanyakan perihal cek tersebut.
"Padahal aku sudah memesan sebuah apartemen mewah dan harus melunasi pembayarannya sekarang juga. Ini akan sangat memalukan jika aku tidak bisa membayarnya," gerutu wanita itu yang sudah berada di dalam mobilnya.
Rambu-rambu lampu merah menyalah terang di persimpangan jalan raya. Para pengguna jalan dituntut berhenti untuk mematuhi peraturan lalu lintas tak terkecuali kendaraan yang ditumpangi Lana. Di tengah ketidak sabarannya karena padatnya hiruk pikuk jalanan ibu kota, sepasang netra Lana tanpa sengaja menangkap sosok Edrich yang sedang mengendarai mobilnya dari arah yang berbeda.
"Sepertinya si tua bangka itu sudah pergi dari rumah sakit. Hah! Aku bisa tenang sekarang. Sangat risih sekali jika pria sudah bau tanah itu berada di sekitarku. Hish! Tiba-tiba aku jadi teringat waktu dulu dia menolakku dengan sangat hinanya. Padahal aku sudah menggodanya dengan tubuh telanjangku, tapi dia sok jual maha. Dasar pria munafik!" Lana terus saja menggerutu sampai jeritan klakson kendaraan lain mengejutkannya.
Menyadari lampu merah sudah berganti hijau ia gegas menginjak pedal gas hingga mobil kembali melaju membelah padatnya jalanan raya. Selang beberapa menit, Lana sudah tiba di rumah sakit dan langsung membawa kaki menyusuri lorong yang membawanya ke tempat Axton berada.
"Honey ... apakah kau tahu? Aku baru saja ke bank untuk mencairkan cek yang kau beri, tapi ditolak. Apa kau sengaja melakukannya? Aku sangat malu tadi. Padahal hari ini aku harus melunasi pembayaran apartemen." Lana langsung merengek kepada Axton yang semula tengah sibuk dengan laptop kerjanya sembari bersandar pada headboard ranjang rumah sakit.
"Aku sibuk, Lana."
"Honey, bisakah kau berhenti dengan laptopmu itu? Kau bahkan belum sembuh tapi kenapa terus memaksakan diri untuk bekerja? Kau harusnya banyak beristirahat dulu."
"Mengurus pekerjaanku jauh lebih baik dari pada harus menanggapi rengekkanmu," ucap Axton dengan nada suara terlampau dingin.
"Bagaimana aku tidak merengek coba? Cek yang kau berikan tidak bisa dicairkan. Padahal aku butuh uang sekarang."
Lana seolah sudah tidak peduli dengan tanggapan tidak mengenakan dari pria itu. Bahkan di saat Axton masih dirawat inap di rumah sakit seperti sekarangpun ia sampai hati masih bisa membahas perihal cek. Baginya, uang adalah maha segalanya.
"Aku butuh uang sekarang. Kau harus memberiku uang, Honey," pinta Lana seakan sudah tidak punya muka.
__ADS_1
Berisik! Suara Lana bagaikan puluhan lalat yang merusak pendengaran. Risih! Bahkan keberadaan wanita sudah dianggap tak lebih dari polusi yang merugikan.
Tidak tahan lagi, rasanya Axton sudah sangat ingin meluapkan semua yang mengganjal di rongga dada. Pria itu lantas menatap dingin muka sok innocent di depannya.
"Kau seharusnya minta uang kepada suamimu, Lana."
"Ya tentu, makanya aku meminta kepadamu?"
"Suamimu itu bukan aku! Tetapi Stefan! Kau bahkan sedang mengandung anaknya sekarang. Kau juga merekayasa cerita tentang ayah tirimu hingga aku ikut membencinya. Dan lagi, kau memalsukan semua data dirimu seolah kau ini masih lajang sebelum aku menikahimu." Axton berdecih di sela senyuman getirnya.
Jujur pria itu merasa sudah menjadi manusia terbodoh di dunia. Hanya karena mengikuti rasa iba akan kemalangan hidup di depan mata, ia terjerat begitu saja ke dalam permainan Lana.
"Sudah begitu banyak kebohongan yang kau sembunyikan di belakangku selama ini!" sambung Axton yang mulai meninggikan nada suaranya.
Apa yang terjadi dengan Lana sekarang? Bagaikan ada ribuan cambuk petir yang menyabar di atas kepala, wanita itu dibuat terkejut berkali-kali oleh serentetan kalimat kebenaran dari bibir Axton.
Secepat kilat, ekspresinya berubah sendu seakan merasakan kepiluan di hati. Lagi-lagi wanita itu bermain dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
"Itu semua tidak benar, Honey. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Ini semua pasti karena kau terkena hasutan Naora 'kan?"
Sudah jelas tertangkap basah, tapi masih sempat bersilat lidah. Bahkan ia tanpa malu memutar balikkan fakta dan malah melempar tuduhan kepada Naora yang tak bersalah.
"Semakin kau berkilah, semakin kau terlihat bodoh, Lana. Jujur, aku sangat jijik denganmu saat ini," sengit Axton.
Lana menggeleng cepat seiring dengan isak tangis yang mendadak berhenti. Mimik serius sudah terlukis di muka. Wanita itu tidak ingin menyerah bagitu saja. Saat ini ia harus mempertahankan ladang emasnya yang terancam lenyap dari genggamannya.
"Jangan berpikir untuk meninggalkanku, Honey. Aku tidak suka itu dan tidak akan terima. Kau sangat tahu, aku bisa saja bertindak nekat dengan cara melukai diriku sendiri."
Tidak terpengaruh oleh ucapan Lana yang bersifat mengancam secara halus itu, Axton kembali berseru. "Kau juga tahu, jika aku sudah merasa jijik dengan seseorang, tidak akan kubiarkan orang itu mengotori hidupku."
"Kau tak seharusnya berkata seperti itu, Honey. Aku ini istrimu!"
"Dan mulai detik ini, kau bukan lagi istriku karena kau kutalak!" tegas Axton.
Aneh! Isak tangis Lana kembali berhenti secara tiba-tiba. Selayaknya penyandang penyakit mental berkepribadian ganda, muka sendunya beralih ke seringaian tak terbaca. Axton sampai dibuat tercengang sejadi-jadinya. Perubahan ekspresi wanita itu sungguh diluar nalar normal manusia.
Dirogohnya isi tas, tangan tampak mengobrak-abrik guna mencari sesuatu di dalam sana. Hingga sebuah pisau cutter sudah berada di genggamannya.
"Aku akan bunuh diri di depanmu!" ancam lana dengan mata pisau sudah menempel di leher. Bahkan ia melakukan itu dengan seringaian yang masih setia menghiasi muka.
"Jangan gila, Lana!" sentak Axton yang langsung menarik punggungnya dari sandaran headboard. Ia mana mungkin bisa bersikap santai dan tenang melihat seseorang sedang bermain dengan nyawanya sendiri.
"Turunkan pisaunya, oke," rayu Axton yang mulai menurunkan nada bicaranya.
Bagaikan terkena hipnotis, Lana pun langsung mematuhi perintah Axton di saat itu juga. Namun, rupanya pria itu belum diijinkan merasa lega. Wanita itu malah tergelak lirih dengan mimik yang lagi-lagi sulit terbaca.
"Baiklah, aku tidak akan melukai diriku. Tapi ... pisau ini sudah terlanjur keluar dari tasku. Bukankah sayang jika tidak digunakan?"
"Apa maksudmu?" Axton tidak mengerti karena ucapan Lana masih terkesan ambigu.
"Kau sudah menyakiti hatiku. Kau juga berniat meninggalkanku."
__ADS_1
Seperti yang sudah-sudah. Suasana hati Lana begitu cepat berubah. Saat ini, ia kembali menangis sambil berkeluh kesah. Pipi yang sudah mengering kini sudah kembali basah.
"Ijinkan aku memberimu sedikit hukuman ya. Bukankah hakku memberi hukuman kepada orang yang menyakitiku?"
"Berhenti di sana!" sentak Axton saat Lana mulai mendekatinya.
Namun, wanita itu seolah tuli. Ia bahkan sudah terlihat mengangkat pisau sedikit tinggi, bersiap menghujam Axton yang telihat mencoba berdiri.
"Jika kau tidak bisa kumiliki sebaiknya mati saja!" Lana langsung melesatkan senjatanya ke arah Axton.
Dengan cekatan Axton menahan pisau yang kurang beberapa senti lagi bisa menembus tulang dadanya. Entah dari mana Lana mendapatkan kekuatan, yang jelas wanita itu sudah seperti orang kesurupan setan gila. Kekuatannya bahkan meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Hingga Axton tampak kewalahan dibuatnya.
"Arrgg!" Axton mengerang kesakitan seraya berusaha menahan ujung pisau itu agar tidak menembus dadanya jauh lebih dalam lagi. Bahkan baju pasiennya sudah dihiasi oleh cairan merah.
"Aahhk! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" Aksi Lana seketika berakhir saat dua petugas polisi mencekal tangan dan merampas pisaunya.
"Anda kami tangkap!" ucap tegas salah satu petugas.
"Tidak! Aku tidak melakukan kejahatan apapun! Kenapa aku harus ditangkap?!" Lana terus memberontak.
"Jelaskan nanti di kantor."
"Aku tidak bersalah! Mengapa aku harus ikut denganmu?! Lepaskan aku! Honey ... katakan aku tidak bersalah. Tolong aku, Honey!" Wanita itu kian histeris saat para petugas menyeretnya keluar ruangan.
"Axton, kau terluka." Nathan yang ternyata juga datang bersama para petugas tadi seketika cemas melihat kondisi sahabatnya itu.
"Ini hanya luka kecil," ucap Axton seraya meringis menahan perih di dada. Beruntung lukanya tidak dalam, jadi nyawanya tidak harus melayang sia-sia.
"Tuan, biarkan kami menangani lukamu ya. Silahkan anda berbaring di ranjang," ucap seorang dokter yang juga sudah berada di ruangan.
"Nathan, bantu aku. Cari Naora dan bawa dia kesini." Axton masih sempat mengutarakan permintaannya sebelum mempersilahkan sang dokter mengobati lukanya.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Hah ...! Akhirnya ... konflik utama udah beres! Meski alurnya kurang gereget.🙏
Mbulet ya ceritanya? Kayak sinetron di ikan terbang ya? 🤭
Maaf ya, soalnya Nofi belum mahir buat konflik yang bagus. Tapi percayalah, meski belum mahir, bukan berarti Nofi tidak belajar.
Well! Terima kasih ya atas dukungan kalian..🥰
Jangan lupa like dan komennya ya..
Sumbangkan vote kalian juga dong ... daripada nganggur mending disumbangkan ke othor jelata ini🤣
__ADS_1
Terima kasih..
wo ai nimen🥰😘