Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Salah Paham


__ADS_3


Brak!


Gema dentuman hasil dari daun pintu mobil yang dibanting dengan keras, menjalar ke seluruh udara halaman luas kediaman Axton.


Kekecewaan tinggi yang membekam hati, menyulutkan emosi tak terkendali. Axton membawa kaki melangkah lebar dengan rasa tersakiti. Muka garang pun turut mengiringi.


Deru napas beradu dengan detak jantung yang berpacu. Amarah menggebu, menuntut akan sebuah pelampiasan kalbu.


Ingatan akan ucapan Edrich beberapa waktu yang lalu sungguh mematahkan hatinya. Sudah cukup sabar ia menerima sebutan sebagai anak pembawa sial, kendati harus menahan luka yang nyatanya tak pernah mengering. Dan masih harus merasakan kerasnya hantaman batu di dada karena sikap pilih kasih sang Daddy.


Naora! Naora! Naora! Semuanya hanya demi Naora, si wanita benalu itu!


Ditapaki satu persatu anak tangga yang membawanya ke lantai dua. Daun pintu langsung terbuka lebar dengan satu dorongan keras yang tiba-tiba. Membuat satu penghuni di dalam kamar dibuat terkejut oleh ulahnya.


"Honey ... kau sudah pulang?" Lana yang semula masih fokus berbincang dengan seseorang di balik telepon seketika memutuskan sambungan panggilan secara sepihak, lalu menyelipkan ponsel di bawah bantalnya.


Entah gelagat refleknya itu disebabkan oleh kedatangan tiba-tiba Axton hingga membuatnya terkejut atau mungkin ada hal lain yang memang sengaja ia tutupi. Yang jelas, ia terlihat gugup saat ini.


Axton melucuti semua kain bagian tubuh atasnya dan melempar kasar ke sembarang arah. Raut muka mengeras menandakan ia sedang sangat marah. Membutuhkan pelampiasan emosi yang sudah menyusup ke dalam darah.


Lana beranjak dari ranjang dan mendekati Axton, membawa mimik muka penuh tanya. "Honey ... kau kenapa? Kau terlihat sangat marah."


Alih-alih segera mendapat jawaban dari pertanyaannya, wanita itu justru dibuat terkejut karena tindakan tiba-tiba Axton yang mendorongnya hingga terjerembab di atas ranjang. Kemudian menindih tubuhnya dengan posesif. Meski akhirnya ia memilih pasrah dan menikmati semua sentuhan si suami yang saat ini terkesan sangat kasar.


Tidak seperti biasanya Axton memulai permainan terlebih dahulu. Sejak awal menikah, aku yang selalu memiliki inisiatif untuk mengajaknya bercinta di atas ranjang. Lana berkelut dengan batinnya, di sela rasa nikmat yang diterima.


"Honey ... lembutlah sedikit!" Ia memberi sedikit dorongan pada dada telanjang Axton untuk memutuskan pagutan bibirnya.


Namun, amarah yang sudah berkobar di dalam dada seakan menulikan pendengaran Axton. Ia kian bertindak seperti singa liar. Membuang semua benang yang menutupi tubuh Lana dan kembali mencumbunya.


"Aahh ... Honey ... Sstt ...!" desisan tercipta dari sepasang bibir Lana saat indera pengecap Axton mulai menyapu lehernya.


Terbuai oleh nikmat hasrat yang membuat basah, si wanita membuka lebar kedua kakinya, memberi akses bebas bagi tangan yang sedang berkeliaran di atas tubuhnya, sebagai kode dia sudah sangat siap dan menuntut sentuhan lebih intim. "Lakukan sekarang, Honey ...."


Namun, sayangnya Lana harus menelan kecewa. Tubuh yang sudah menggelinjang seperti cacing kepanasan tiba-tiba dianggurin begitu saja oleh Axton. Pria itu menghentikan aksinya secara sepihak.


Lana yang malang. Ahaha ...!


"Errg ...!" menggeram kesal, Axton langsung bangkit, membawa tubuhnya duduk di bibir ranjang.


Frustrasi. Nyatanya sosok Lana tidak cukup ampuh dijadikan tempat pelampiasan emosi. Bahkan tubuh bagian bawahnya sama sekali tak bereaksi. Tiada hasrat yang terpancingi.


Masih dilanda kekecewaan karena hasrat gairah tak tersalurkan, Lana membawa tubuh polosnya mendekati Axton. Melingkari perut berorot si pria dengan kedua tangan, diikuti dagu yang mendarat di pundak kokohnya.


"Honey, sebenarnya apa yang terjadi? Kau sangat aneh hari ini?"


Axton masih enggan menjawab.


"Honey ... bicaralah. Apa kau dan Daddymu kembali bertengkar?" desak Lana dengan sebuah pertanyaan berlandaskan oleh sebuah praduga.


Melirik Lana sekilas sebelum membuang muka bersamaan dengusan kesal. "Daddy sudah tahu semuanya."


Lana tak langsung mengerti. Bagi otaknya yang memang tidak begitu pintar kalimat sederhana Axton terdengar sangat ambigu hingga sulit dicerna.


Mungkin beda lagi, kalau Naora yang menjadi lawan bicaranya.

__ADS_1


"Maksudnya apa, Honey?"


Axton memutar lehernya ke arah wanita yang tengah memasang mode muka bertanya-tanya. "Daddy sudah mengetahui tentang pernikahan kita, Lana. Dia sangat marah besar tadi."


Terkejut, Lana tercekat lirih seiring dengan tangan yang terangkat reflek menutupi bibirnya yang menganga.


"Bagaimana bisa?"


"Daddy memiliki foto pernikahan kita."


"Apa?! Dari mana dia bisa mendapatkan foto itu?"


"Entahlah, aku tidak bertanya."


Lana tampak berpikir sejenak. "Apa mungkin ada orang lain yang sengaja mengirimkan foto kita ke Daddymu?"


Axton mengusap kasar mukanya. "Mungkin saja."


"Siapa orang itu?"


Melempar muka jengah ke arah Lana. Entah mengapa Axton sedikit kesal dengan sikap Lana yang terus melempar pertanyaan yang mana jelas-jelas ia tidak tahu.


"Aku mana tahu, Lana ...."


"Apa mungkin ... istri mudamu itu yang sengaja mengirimkan foto itu ke Daddymu? Bisa saja 'kan?"


"Itu tidak mungkin. Kamu jangan asal menuduh, Lana."


Wanita itu tertegun atas jawaban Axton yang seolah sedang membela Naora. "Apakah kau sadar dengan ucapanmu? Kau membuatku terlihat buruk, Honey." Ia sedkit menjauhkan tubuhnya dari Axton.


Menggeleng cepat, Lana menentang keras atas keinginan Ayah mertuanya itu. "Tidak! Aku tidak ingin kau tidur bersama Naora. Aku tidak rela berbagi suami!"


"Tapi aku butuh pengakuan dari Daddy."


"Kau harus memikirkan perasaanku, Honey. Apa kau tega menyakitiku?"


Axton melayangkan tatapan tajam kepada Lana yang mulai beraksi dengan air matanya. "Apa kau dulu juga memikirkan perasaanku ketika memaksaku untuk menerima perjodohan itu?"


Ucapan Axton membuat Lana sulit untuk menjawab. "Bukan seperti itu, Honey. Waktu itu aku juga terluka."


Axton tersenyum getir. "Andai kau mau mendengarkan perkataanku untuk berjuang bersama mendapatkan restu Daddy, kau pasti tidak akan merasakan terluka."


"Pokoknya aku tidak rela kau tidur bersama wanita menyebalkan itu!"


"Itu sudah konsekuensi dari keputusan kita, lebih tepatnya keputusanmu, Lana. Daddy memintaku menikahi Naora. Dan mana mungkin dia tidak menuntut kami untuk memberikan seorang cucu penerus keturunan keluarga Sanders?"


"Lebih baik aku bunuh diri dari pada harus melihatmu memiliki anak dari Naora!" Lana mulai bermain dengan kalimat ancaman. Sayangnya, tindakan itu tidak mampu menggertak seorang Axton.


"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Lana."


"Kau menyakitin hatiku, Honey! Sepertinya kau benar-benar ingin melihatku mati."


Membuang napas kasar. Bukannya merasa lebih baik, Axton malah semakin dibuat frustrasi akan sikap Lana. "Aku akan menenangkan pikiranku di ruangan kerjaku. Kau beristirahatlah terlebih dahulu."


Tidak ingin berdebat panjang, Axton mengakhiri percakapannya bersama Lana. Saat ini dia lebih menyayangi isi tempurung kepalanya, agar terhindar dari rasa pusing yang bisa membuatnya menggila.


Satu pijakan kaki, membawa tubuh gagah Axton berdiri dan melangkah menuju pintu keluar kamar, meninggalkan Lana yang masih setia dengan sejuta kerisauannya.

__ADS_1


Waktu terus merangkak pelan, mengantar malam yang kian larut. Di ruang kerja pribadi, Axton masih setia dengan layar komputer lipat di depannya. Beberapa kali ia melirik ke arah penunjuk waktu yang tersemat di ujung layar pipih tersebut.


"Sudah pukul 9 malam, kenapa dia belum pulang? Awas saja kalau dia berani melawan perintahku."


Axton meraih benda pipih yang terkapar di sebelah komputernya. Memasukkan enam digit angka yang bersifat rahasia untuk membuka kunci layar. Mencari sebuah nama kontak lalu menekan tombol dial.


Cukup lama pria itu harus menunggu permintaan panggilan diterima, membuatnya menggerutu kesal. Hingga suara lembut terdengar saat panggilan telepon tersambung.


"Halo?"


"Pukul berapa sekarang?"


"Pukul 9, kenapa?"


Axton kesal karena jawaban Naora yang tidak peka dengan sindirannya. "Apa kau tidak tahu sekarang sudah malam?!"


"Aku tahu ...." Suara Naora terdengar jengah dari seberang telepon.


"Kenapa kau belum pulang?"


"Ini masih dalam perjalanan pulang. Sebenarnya kau itu kenapa? Aneh sekali perasaan."


"Aku tidak peduli, lima menit kau harus sampai di rumah."


"Jangan bercanda, Axton! Memangnya kau pikir aku ini jin yang bisa menghilang?"


"Naora, biarkan aku membantumu membukakan milikmu."


Sepasang ujung alis Axton seketika menukik tajam saat mendengar suara seorang pria yang seperti sedang berbicara dengan Naora.


"Aahh!" Naora memekik ringan. "Pelan-pelan saja."


"Maaf, aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut."


"Aahh ...! Sakit ...."


"Apakah ini pengalaman pertamamu?"


Darah di dalam tubuh Axton seketika mendidih. Percakapan ambigu yang terdengar dari seberang telepon sukses mengundang berbagai pikiran negatif yang saling bertumpang tindih.


"Dasar wanita murahan! Ternyata dia sedang bersama pria lain malam-malam seperti ini." gerutunya setelah memutuskan panggilan begitu saja.





Bersambung~~


Terima kasih ya kawan, masih setia mengkawal kisah Axton dan Naora..


Jangan lupa tinggalkam jejak seperti lika dan komen. Sumbangan Vote dan Gift juga sangat Nofi harapkan..


Semoga kalian semua bahagia selalu..


lop yu pul..😘😘

__ADS_1


__ADS_2