
Arus waktu terus mengalir. Mengikis malam hingga berakhir. Sang mentari telah hadir. Terangnya langit pun mulai terukir.
"Axton, ayo bangun." Naora menggeliat di antara lilitan tangan besar suaminya.
"Hmm, lima menit lagi," gumamnya dengan suara serak.
Alih-alih lekas terbangun, pria itu malah kian mengeratkan pelukannya. Muka dibawa menelusup ke dalam ceruk leher Naora. Ia bahkan lupa, bahwa jarum infus masih bersemayam di pergelangan tangannya.
"Axton, nanti keburu ada yang datang. Malu jika ada yang melihat."
"Biarkan saja."
Naora yang semula berada dalam posisi membelakangi langsung memutar tubuh, hingga muka bantal Axton terpampang di depan mata. "Kenapa kau selalu sulit dibangunkan setiap tidur bersamaku? Apakah kau juga seperti ini saat tidur bersama Lana?"
Muncul denyutan tak nyaman ketika ia menanyakan hal itu kepada sang suami, tapi kemauan hati tak dapat dipungkiri. Hingga ucapan lidah pun tak mampu berhenti. Meski, ada kemungkinan kalau jawaban yang didapat membuatnya tersakiti.
Sepasang kelopak mata perlahan terbuka, memamerkan mutiara bening di baliknya. Pertanyaan Naora seakan menggelitik telinga. Hingga membuat Axton benar-benar terjaga.
"Aku selalu tidur telat tapi bangun lebih awal. Malam ketika Lana tidur aku masih berkutat dengan pekerjaanku. Paginya ...." Axton menjeda kalimatnya. Sesaat ia tampak menikmati mimik penasaran Naora.
Kenapa ia menggemaskan sekali? Kalau begini jangan salahkan aku jika selalu ingin mencicipi bibirnya.
"Paginya kenapa, Axton?" desak Naora menuntut kelanjutan.
"Kau ingin tahu?"
"Iya."
"Tapi sebaiknya kau tidak perlu tahu."
"Kenapa?" muka Naora mendadak masam. Padahal dia sedang deg deg an sekarang. Takut jawaban Axton membuatnya kecewa.
"Nanti kau cemburu."
"Hish! Dasar kepedean. Iya ... aku tahu, setiap pagi kalian pasti bermesraan 'kan?" Wanita itu mencoba menjauh dari pelukan Axton. Suasana hatinya tiba-tiba buruk.
Namun, lagi-lagi ia kembali terkunci. Axton seolah tak mengijinkannya pergi. Pria itu berniat membantah ucapan Naora, tapi akhirnya memilih menahan diri.
Pasti akan sangat memalukan jika Naora sampai tahu tentang rahasianya yang satu itu. Lagian belum tentu istri ke-duanya itu akan mudah percaya begitu saja kalau ia belum pernah bercinta dengan wanita lain, bahkan dengan Lana sekali pun selama ini. Jangankan bercinta, berpacaran saja belum pernah.
Siapa yang menyangka bahwa Axton terbiasa menjaga jarak dengan wanita sebelum bertemu dengan Lana. Sebelumnya, ia memang terlalu hanyut oleh masa lalu kelamnya. Meraih pengakuan sang Daddy adalah tujuannya.
"Naora ... jangan bahas Lana saat kita bersama."
Si wanita tertegun seketika. Ucapan Axton sungguh sulit dipercaya.
Bukankah dari dulu dia selalu melibatkan Lana di setiap pembicaraan di antara kita? Selalu Lana dan semuanya untuk Lana, Lana, Lana. Aku masih mengingatnya.
"Ya ... baiklah!" Naora memilih menyerah. Enggan mencari obat penasarannya lagi. Kendati rasa tidak nyaman masih menggelayut di hati. Terus terang, pikirannya sedang traveling yang aneh-aneh saat ini.
Pria itu diam-diam menahan tawa setelah menyadari raut masam Naora.
__ADS_1
Apa dia sedang cemburu? Tapi ... apa mungkin di memiliki perasaan yang sama denganku? Ah ... entahlah. Yang jelas apapun bentuk perasaannya, aku tidak akan melepasnya.
Axton merasa gemas, tapi dia juga tidak tega melihat ekspresi Naora. Akhirnya ia berniat untuk bercerita.
"Paginya ... aku yang membangunkan Lana setelah selesai mandi dan menyiapkan semua kebutuhan pekerjaanku sendiri. Di saat Lana mandi aku akan menguras banyak waktuku hanya untuk mengenakan dasi dengan benar."
Bagaikan mendapat angin segar, penejelasan Axton seketika membuat wanita itu merasa lega. Lega untuk hari ini saja maksudnya. Dan untuk hari-hari berikutnya tentu ia harus lebih menyiapkan mental sekuat baja. Itu berlaku selama sang suami harus berbagi cinta.
"Pfft!"
"Kenapa?" Axton keheranan melihat gelagat Naora seperti menahan tawa.
"Kau bilang 'mengenakan dasi dengan benar', tapi sering kali aku lihat dasimu selalu berantakan," ledeknya.
"Aku memang payah dalam hal itu."
"Dan aku akan rajin membantumu memakaikannya mulai sekarang."
"Itu yang kuharapkan."
"Itu memang sudah tugas seorang istri, membantu menyiapkan keperluan suami saat akan berangkat kerja."
Axton kembali terpesona untuk kesekian kalinya. Selain dari mendiang Areum, baru kali ini ia mendapatkan perlakuan penuh perhatian dari seorang wanita. Dan wanita itu adalah Naora Alesha.
Dituntun oleh perasaan hangat, Axton menatap paras cantik di depannya penuh damba. Seolah dunianya hanya tertuju kepada Naora. Bayang-bayang Lana bahkan tak lagi ada di kepala.
"Aku mencintaimu, Naora." Axton sekali lagi mengungkapkan perasaannya.
"Maaf, aku belum bisa mempercayai ungkapan cintamu, tuan muda arogan," celetuk Naora yang terkesan gurauan saja. Padahal ucapannya itu benar-benar berasal dari hatinya.
Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayainya dengan cepat, Naora. Biarkan waktu yang membuktikannya.
…
Ufuk timur telah menyambut sang surya. Langit gelap pun kian menjalar seiring dengan memudarnya semburat senja. Di kediaman Edrich, Axton dan Naora sedang berada di sana.
Siang tadi, Axton memang sudah diperbolehkan pulang. Beruntung luka yang diterima dari aksi kerusuhan kemarin tidak menyebabkan cidera fatal. Jadi dia tidak perlu berlama-lama menginap di rumah sakit.
Setelah keluar dari rumah sakit, sepasang suami istri itu tidak langsung kembali ke ibu kota. Keduanya terlebih dahulu singgah ke rumah Edrich dan sekalian makan malam bersama. Untuk pertama kalinya setelah 21 tahun lamanya, ayah dan anak itu bisa menikmati hidangan di dalam satu meja. Ya ... meskipun kecanggungan masih menyelip di antara mereka. Namun, sosok Naora lagi-lagi mampu mencairkan suasana.
"Axton, apa kau yakin ingin menyetir sendiri? Lukamu masih belum sembuh. Kenapa tidak minta tolong sopir saja?"
Naora tak mampu menutupi kecemasannya. Meski, Axton masih bisa berdiri dan berjalan dengan gagahnya. Namun, luka-luka yang ia miliki tidak mungkin diabaikan seolah bukan apa-apa. Wanita itu tidak tahu saja, kalau suaminya sedang ingin menghabiskan waktu perjalanan hanya berdua.
"Kau jangan berlebihan, Naora. Luka-luka ini hanya masalah kecil. Bahkan rasa sakitnya tidak sebanding ketika aku diabaikan seseorang," sahut Axton. Sekilas ia terlihat melirik ke arah sang Daddy.
"Dasar bocah berandalan. Baru sehari kita akur, kau sudah berani bersikap kurang ajar denganku!" sembur Edrich yang sadar dengan sindiran sang putra.
"Daddy! Dia sedang terluka, jangan pukul dia." Naora mencoba menghalau tangan Edrich yang hampir mendarat di kepala Axton.
Edrich langsung mendengus kesal karena Naora terkesan lebih membela putranya. Sementara Axton sontak menampakan seringaian kemenangan, merasa sang istri lebih berpihak kepadanya. Kedua pria berbeda generasi itu tidak sadar kalau sudah membuat Naora kewalahan dalam menanggapi sikap mereka.
"Kau juga, Axton. Bersikaplah lebih sopan kepada Daddy."
__ADS_1
Raut kepuasan Axton mendadak sirna. Rupanya dia juga tak luput dari teguran Naora. Pemandangan seperti itu membuat batin Edrich tertawa. Ia merasa puas tentunya. Setidaknya dia tidak ditegur sendirian, begitu pikirnya. Haha!
Langit kian gelap pekat. Ditambah cuaca sepertinya sedang tak bersahabat. Mengingat jarak menuju ke ibu kota tidaklah dekat. Butuh 2 jam lebih perjalanan untuk sampai dengan selamat. Tak urung membuat Edrich merasa berat. Iya, berat membiarkan Axton dan Naora pulang cepat.
Jujur, pria itu tengah susah karena rasa kesepian yang melanda. Ia sangat merindukan saat-saat bersenda gurau bersama Naora dan juga ... putranya. Andai Axton tidak ada urusan pekerjaan, pasti ia akan tinggal beberapa hari di sana.
"Kalian cepatlah pulang. Ini sudah malam dan sebentar lagi sepertinya akan hujan," tutur Edrich.
"Iya, Daddy," sahut Naora. Sementara Axton tersenyum simpul.
"Berhati-hatilah, sepertinya hujan lebat akan turun," tutur Edrich kembali. Terus terang hatinya sedang merasa tidak enak saat ini.
…
Dan benar apa yang diperkirakan Edrich tadi. Sepanjang perjalanan pulang, hujan lebat mengguyuri mobil yang mereka tunggangi. Bahkan angin kencang turut mengiringi.
"Kau kenapa, Naora?" tanya Axton yang menyadari gelagat anehnya.
"Aku merasa ngeri saja," jawab Naora sembari mengamati pemandangan di luar jendela. Sesekali ia tampak bergidik.
"Kenapa bisa begitu? Kau merasa takut karena kita sedang melewati hutan sekarang?"
"Iya. Di tambah tidak ada kendaraan lain yang lewat sedari tadi, membuatku merinding. Pasti banyak setan yang berkeliaran di luar sana," celoteh Naora dengan tatapan sangsi.
Seutas senyuman menghiasi muka si pria diikuti rentangan sebelah tangan ke arah Naora. "Kemarilah." Ia menarik tubuh wanita itu agar bersandar di pundaknya. "Kau tenang saja, selama besamaku kau aman. Para setan tidak akan berani mengganggumu. Mereka takut kepadaku."
Naora sedikit mendongak, memudahkan netra menjangkau muka Axton. "Kau berkata seperti itu seolah kau itu rajanya dari raja setan," cibir Naora dan Axton malah tertawa dan beberapa kali meninggalkan jejak kecupan di ujung kepala si wanita.
"Axton, fokuslah dengan kemudimu dulu dan berhenti menciumiku." Wanita itu menjauhkan kepalanya dari pundak Axton.
"Iya ... iya, kau itu cerewet sekali."
Naora menjatuhkan tubuhnya di sandaran bangku. Sorot cahaya kendaraan lain yang terpantul di spion depan membuat ia merasa lega. Namun ....
Prank! Prank!
Brak! Brak! Brak!
"Aaahk! Siapa mereka?!" Naora mendadak panik, begitu juga dengan Axton. Sebuah kendaraa asing tiba-tiba menyerang mereka dari arah yang sama.
"Aku juga tidak tahu!"
Ckiiiitt!
"Axton! Awas!"
☘
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1
Sabar ya ... ini novel jalan alurnya memang sedikit lambat tapi diusahakan ada perkembangan cerita di setiap babnya. Nggak mbulet kok, hanya saja Nofi memang harus selesain satu-satu bab permasalahan pada setiap tokoh.
Terima kasih ya atas segala dukungan kalian. Jangan lupa tinggalkan like dan komen setelah baca di setiap babnya🥰 Gift dan Votenya juga Nofi tunggu lo ya.😊